Millisanna

Millisanna
Bab 60



"Hari ini Jiel sudah bekerja keras, jadi bunda bikin makan malam spesial buat merayakan keberhasilan Jiel kali ini"kata bunda menaruh makanan yang dibuatnya diatas meja makan saat Azriel bergabung dengan mereka untuk makan malam.


Azriel menatap lapar semua makanan buatan bundanya itu, berterimakasih karena bundanya terlah bekerja keras membuat semua makanan enak ini.


"Makasih bunda"kata Azriel.


Andari tersenyum senang mendengarnya mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk anak dan suaminya dan mereka memulai makan malam bersama.


Aryan memperhatikan anaknya itu yang makan dengan tenang ditempatnya tanpa bersuara sedikit pun, bertukar pandang dengan Andari yang memberi isyarat untuk mengajak bicara anak mereka itu.


Azriel memang anak yang pendiam namun diamnya Azriel kali ini membuat mereka bertanya-tanya dan sedikit khawatir, entahlah ini hanya firasat dari mereka sebagai orang tuanya Azriel.


"Jiel partner olimpiade kamu hari ini beda ya bukan Millisanna, ayah diberi tahu pak Sugeng kalau kali ini Millisanna tidak mewakili sekolah bersamamu"kata Aryan memulai percakapan.


Inginnya membuat anak mereka mulai mengobrol dengan mereka namun malah Andari yang terlihat sangat tertarik dengan topik pembicaraan yang Aryan pilih karena wanita itu memang tidak tahu.


"Bukan Millisanna yah? Kok bisa bukannya siswi itu yang selalu bersama Jiel ikut olimpiade?"tanya Andari penasaran.


Aryan terkekeh saja melihat betapa antusiasnya istrinya itu soal hal ini. "Iya guru disana berinisiatif untuk membuat semua siswa kelas 11 mengerjakan soal latihan olimpiade dan yang menduduki dua teratas yang akan mewakili sekolah di olimpiade"jelas Aryan.


"Jadi Millisanna itu bukan dua teratas sama Jiel?"tanya Andari tak menyangka.


Aryan mengangguk saja. "Iya entah kenapa siswi itu bahkan mendapatkan peringkat pertengahan kebawah padahal anak itu sudah berpengalaman dalam soal-soal olimpiade seperti Jiel"bingung Aryan juga jadi merasa ada yang salah.


Sreek.


Obrolan Aryan dan Andari terinterupsi oleh anak mereka yang terlihat sudah selesai makan itu membuat mereka tersadar bukan kah mereka bertujuan untuk membuat anak mereka berbicara tapi mereka malah jadi asik sendiri.


"Jiel gak nambah?"tanya Andari buru-buru ingin mencoba menahan anaknya itu untuk tetap bersama mereka.


Azriel menggeleng. "Gak usah bunda, terimakasih atas makanannya"kata Azriel yang berlalu begitu saja menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya dilantai dua.


Aryan dan Andari menatap kepergian anaknya itu dengan menghela.


"Sebaiknya kita tidak usah ikut campur dulu, anak itu sepertinya sedang sensitif karena sesuatu"kata Aryan pada Andari.


Andari mengangguk patuh namun dirinya sebagai ibunya Azriel tak bisa menutupi rasa khawatirnya pada sang anak, apalagi sejak kejadian seseorang yang mengirimkan mawar biru itu membuatnya semakin dibuat khawatir akan kondisi anaknya.


***


Azriel berbaring diatas ranjangnya menatap langit-langit kamarnya dengan melamun.


Moodnya hancur saat tadi saat di perjalanan pulangnya dirinya hampir saja kecelakaan karena tak sengaja dirinya melihat seorang wanita dengan pakaian serba biru dan membuatnya hampir mati tertabrak truk.


Saat itu dirinya sedang berkendara biasa dan tak sengaja melihat seseorang dengan pakaian berwarna biru ditrotoar sedang berjalan membuat Azriel sempat merasa sesak dan traumanya mendadak menyerangnya ditengah dirinya menjalankan motornya dan tak menyadari dirinya terlalu kesamping hampir ke jalan yang berlawanan arah dan disana secara bersamaan ada sebuah truk besar melaju dan hampir saja terjadi tabrakan dahsyat jika Azriel tidak menghindar dan tersadar saat itu.


Merubah posisinya menjadi menyamping kearah pintu jendela kamarnya yang terhubung ke balkon Azriel menatap bulan diatas sana.


Traumanya kembali dan bertambah parah hanya karena sebuket mawar biru yang pernah datang sebelumnya.


Berpikir apa dirinya akan kembali seperti saat SD sampai awal masa SMP nya yang selalu diantar kemana pun dirinya pergi keluar.


Menghela Azriel tak mau seperti itu terus, dirinya sudah dewasa bukan kah dirinya harus melawan traumanya ini?


Tidak mungkin dirinya sampai ia mati akan selalu ketakutan dengan kegelapan juga hal-hal yang berwarna biru.


Pssat.


Kamarnya mendadak gelap membuat Azriel sontak bangkit beringsut mundur-mundur sampai menempel pada kepala ranjangnya dengan nafas tersengal.


Cahaya bulan yang merangsek masuk kedalam kamarnya lewat celah tirai yang tak tertutup rapat semakin membuat ketakutan Azriel semakin menjadi-jadi.


Azriel mencoba menenangkan diri berpikir ini hanya mati lampu biasa, sebentar lagi lampu akan menyala dan kamarnya akan kembali terang, dirinya hanya perlu bersabar dan menunggu.


Tidak akan ada apa-apa, semuanya baik-baik saja, ini kamarnya dirinya baik-baik saja.


'Alfha~ Alfha~'


Azriel meremat kuat seprainya nafasnya semakin memburu dan tersengal kesulitan bernafas, tubuhnya mulai menggigil basah karena keringat dingin.


Azriel ditengah kegelapan bisa merasakan seorang yang mendekatinya, dirinya bisa mendengar suara nyaring heels yang beradu dengan lantai keramik membuatnya semakin ketakutan.


'Alfha nakal harus dihukum~'


"Ukh!"Azriel merasakan lehernya terikat kuat membuatnya tercekik.


"Argh!!!"teriak Azriel saat merasa cekikan itu semakin membuatnya tak bisa bernafas.


"Bunda!! Akh! Tolongin Alfha!! Bunda! Ayah!!!!"teriak Azriel benar-benar sangat keras terdengar sangat kesakitan dan ketakutan.


Azriel bergerak gelisah, rasa cekikan dilehernya tidak kunjung menghilang karena sosok itu semakin kuat mencekiknya. Azriel tidak bisa bernafas.


"Akh"Azriel meringis kesakitan dirinya menangis tak bisa bernafas.


Merasakan sentuhan-sentuhan ditubuhnya membuat Azriel semakin bergerak gelisah ingin terlepas dari tangan sosok itu.


"Akh lepas! Lepasin Alfha!"Azriel berontak ditengah kesulitan bernafasnya itu dirinya ingin terlepas dari sosok itu.


"Jiel!! Alfhazriel! Sadar nak! Ini ayah!!"


Pssat.


Kamar Azriel kembali terang benderang lampu kembali menyala dan dari pandangan buramnya karena air mata Azriel bisa melihat bundanya yang menangis sesegukan ditenangkan oleh mbok Mirna dan suaminya.


Dan dirinya melihat sang ayah yang kentara sekali terlihat sangat khawatir menatapnya sambil memeluknya menahan pergerakannya.


Nafas Azriel masih tersengal-sengal dirinya mengerti apa yang telah terjadi, dirinya kembali mulai berhalusinasi.


Kepalanya mendadak sangat nyeri dan mendadak juga Azriel merasa sangat mengantuk dan perlahan dirinya jatuh pingsan di dekapan sang ayah.


Aryan menghela nafas melihatnya, melepaskan suntikan yang ia gunakan untuk menenangkan sang anak yang sekarang telah tenang karena pingsan.


Merebahkan tubuh sang anak menyamankannya diatas ranjang seraya menghapus peluh yang terlihat cukup banyak keluar dari tubuh Azriel.


"Sayang kau kembali ke kamar biar aku yang mengurus Jiel, mbok Mirna tolong"kata Aryan menyuruh Andari kembali ke kamar duluan.


Mbok Mirna mengangguk mengerti dan membawa nyonya pergi ke kamar untuk ditenangkan.


Aryan menatap kasihan anaknya yang kembali mengalami hal-hal sulit seperti ini, ia kira sudah hampir 12 tahun terlewati sejak kejadian itu dan anaknya baik-baik saja namun nyatanya Azriel tidak sepenuhnya baik-baik saja.


Menyentuh miris luka cakaran dileher sang anak karena ulah anaknya sendiri itu yang sepertinya mencoba melepaskan sesuatu disana walau nyatanya tak ada apapun disana.


"Sepertinya Jiel belum benar-benar pulih"gumam Aryan merasa kasihan pada sang anak.


"Perketat keamanan dirumah ini, saya tidak mau kecolongan seperti waktu itu kembali terulang dan hubungi kembali dokter Dinda"kata Aryan memerintah suami mbok Mirna yang mengangguk mengerti dan mulai melaksanakan perintah sang tuan.