
Sraakk.
Ravi membuka pintu masuk gedung bekas pabrik terbengkalai itu dan betapa terkejutnya kala dirinya melihat Anna yang hendak ditembak oleh Renata.
"Menyingkir!"seru Azriel sontak membuat Ravi merunduk seperti yang diperintahkan.
Dor dor.
Azriel lebih cepat dirinya berhasil menembak tepat pada tangan Renata yang memegang pistol itu membuat Renata mengerang kesakitan dan menjatuhkan pistolnya berbalik menatap nyalang pada Azriel yang datang.
"Hah lihatlah, ini yang kumaksud dengan seharusnya sejak awal kau menghilang saja!"kesal Renata mencengkram rahang Anna begitu kuat karena kesal.
"Lepaskan tanganmu jika tak ingin ku tembak!"seru Ravi memperingatkan Renata.
Renata mendengus saja menghempaskan wajah Anna kasar berbalik menatap Azriel dang Ravi yang berjalan mendekatinya dengan Ravi yang siap untuk menembaknya kapan saja.
Menyeringai Renata menatap Azriel yang melihatnya dengan sangat tajam dan menyeramkan itu.
"Sayang aku sakit hati loh dilihat seperti itu"kata Renata merasa sedih namun wanita itu terkekeh.
Azriel mengabaikan Renata, fokusnya tertuju pada kondisi Anna yang dilihat dari mana pun gadis dokter itu terlihat babak belur, dengan kepala yang menunduk mengalirkan darah dan kedua tangan gadis dokter itu benar-benar terluka parah.
Berhenti melangkah dan menatap Renata begitu tajam Azriel bersumpah akan membunuh wanita gila itu.
"Tidak perlu marah sayang, aku disini sedang mengenyahkan pelakor kurang ajar yang mau merusak hubungan kita"kata Renata tidak ada takut-takutnya pada Azriel karena saat ini wanita itu menjambak puncak kepala Anna memaksa Anna yang sudah diambang batas kesadaran itu untuk menengadah memperlihatkan wajahnya yang babak belur seolah menyombongkan hasil karyanya pada Azriel.
"Akh!"
Ravi benar-benar ingin menembak Renata sekarang juga, dirinya pun sangat marah melihat kondisi Anna karena wanita gila itu.
"Lihatlah, pelakor sepertinya pantas mendapatkannya kan–"
Sraat. Stab.
Renata sontak membatu karena barusan saja sebuah pisau melewatinya melukai tulang pipi kirinya sebelum pisau itu berakhir menusuk tiang kayu dibelakangnya.
Renata benar-benar syok karena pelaku pelemparan pisau itu adalah Azriel sendiri, laki-laki itu benar-benar berniat untuk membunuhnya.
"Sayang–"
"Berhenti memanggilku seperti itu sialan! Kau tidak berhak! Sama seperti sepupumu gila mu itu!"bentak Azriel kesal.
Renata terdiam mendengar perkataan Azriel. Sepertinya laki-laki itu sudah mengetahui latar belakangnya.
Melepaskan jambakannya dari rambut Anna Renata mengedikkan bahu santai. "Seperti yang kuduga kau sudah tahu semuanya, dan ingatan mu sepertinya sudah kembali juga"kata Renata santai.
Dirinya sudah tidak peduli lagi.
Sraakk.
Dari pintu lain dibelakang Renata terbuka dan memperlihatkan satu orang bayarannya yang lain yang membawa pasukan nya dengan beberapa membawa senjata mereka.
Membayar orang-orang yang bekerja didunia bawah benar-benar sangat menguntungkan.
"Hey nona laki-laki itu target kita?"tanya si orang bayarannya menyeringai tidak sabar.
"Ya, bunuh saja dia. Aku sudah tidak peduli lagi"kata Renata menatap Azriel.
"Oh ya sayang satu lagi, tenang saja bukan kau sendiri yang mati, j*l*ng ini juga akan mati tenang saja"kata Renata menyeringai membawa Anna yang terikat dikursi itu untuk ia bunuh.
"B*jing*n!"murka Azriel akan mengejar Renata namun satu orang dari pasukan orang bayaran wanita itu mencegatnya dengan mengayunkan samurainya hendak menyerang Azriel.
Dor dor. Bruk.
"Tuan fokus! Aku akan mencoba untuk membuat celah agar kau bisa menolong Anna"kata Ravi yang berhasil melindungi tuannya.
"Cih"Azriel hanya bisa mendecih menatap tajam pada Renata yang membawa Anna pergi lalu melihat pada sekelompok orang yang menyerbu mereka berdua.
Dua orang lawan 100 orang mungkin tidak mungkin tapi Azriel tidak punya pilihan lain, dirinya harus segera mengejar Renata.
"Serang!!!"
Dari belakang Azriel orang-orangnya pun akhirnya datang dan mulai membantu sang tuan dan bos mereka itu.
Sreet.
"Kalian benar-benar lambat!"kesal Azriel pada bawahannya itu setelah menghabisi satu musuh dengan satu sayatan katana nya.
Duak.
"Maaf tuan, anda dan bos terlalu cepat!"sahut bawahannya itu setelah menendang telak musuhnya.
"Sudahlah! Cepat habisi mereka semua! Aku harus menyelamatkan Anna!"kata Azriel memberi perintah.
"Ya!!"sahut para bawahannya itu yang jika dijumlahkan bahkan tidak ada seperempatnya dari jumlah musuh karena mereka hanya berjumlah 20 orang, walau begitu mereka yakin bisa mengalahkan 100 orang musuh.