Millisanna

Millisanna
Bab 6



Azriel masuk kelas saat jam pelajaran berganti, ia habis dihukum ditengah lapang dengan harus mendengar ocehan guru BK yang tak akan didengar olehnya dan teman-temannya yang tadi dihukum juga.


Duduk dikursinya Azriel langsung disuguhi satu buku catatan dari orang yang duduk didepannya itu.


"Ini catatan pelajaran yang gue yakin Lo ketinggalan gara-gara persiapan olimpiade kemarin"kata cowok itu dengan senyuman bangga.


"Oke thanks"Azriel tentu saja menerimanya karena dengan begitu ia hanya tinggal nyalin yang sudah ada tanpa harus merangkum sendiri karena guru akan mengatakan apa yang ia jelaskan saja tidak dengan materi yang berupa tulisan tangan itu.


Azriel memasukan buku catatan itu ke tasnya dan digantikan dengan buku pelajaran yang akan diajarkan.


***


Waktu istirahat Azriel memilih berdiam diri menikmati angin diatas atap gedung kelas sembari mengemut permen susu melonnya dan ditemani Milan yang sibuk memakan gorengan dan lontong yang ia bawa sebelum kemari saat mereka mampir kekantin untuk Azriel membeli permen.


Azriel bersender ke pagar pembatas yang setinggi dadanya itu menatap kebawah melihat kegiatan siswa siswa yang berlalu lalang dibawah sana, sampai satu sosok yang sangat ia kenali disana terlihat berjalan kesalah satu bangku duduk disana sembari menulis sesuatu dan tangan satunya yang lain memegang roti.


"Kelas mungkin terlalu ramai disaat begini"gumam Azriel menebak alasan Anna memilih bangku diluar gedung untuk mencatat sesuatu itu.


Milan melihat Azriel yang membelakanginya dan Azriel terlihat asik melihat sesuatu disana. "Bro Lo gak makan apa gitu? Masa cuma permen doang, gak baik buat lambung Lo"kata Milan mengingatkan kalau Azriel harus memakan sesuatu juga.


"Gak laper gue"jawab singkat Azriel.


"Lo liat apa sih anteng banget sambil ngemut permen segala"kata Milan yang bangkit berdiri disebelah Azriel penasaran dengan apa yang dilihat sahabatnya itu.


Milan mencari-cari yang sekiranya menjadi fokus Azriel sampai cewek yang duduk dibangku taman itu melihat keatas dan langsung membuang muka.


"Oh si juara kedua"kata Milan saat tahu apa yang menjadi pusat perhatian Azriel.


"Kenapa lo panggil dia begitu?"tanya Azriel tak senang Milan memanggil dengan sebutan tersebut yang sering Azriel dengar dari anak-anak yang tak suka dengan Anna.


"Yang lain pada manggil itu ya gue ikutan toh gak tau namanya"kata Milan enteng.


"Anna namanya"


"Oke"


Mereka saling diam memperhatikan Anna yang masih asik mencatat sesuatu itu. Membuat Milan bertanya.


"Dikelas Lo emang sering banget dapet tugas apa? Perasaan tiap kemari gue liat tuh cewek disitu mulu sambil nyatet sesuatu lagi, selalu begitu"kata Milan yang kesal karena yang ia lihat Anna kerjaannya hanya mencatat setiap Milan melihat Anna.


"Enggak, dia lagi ngerangkum materi yang ketinggalan"jawab Azriel.


"Dia juga suka cabut?! Wah gila diem-diem gak bener juga tuh cewek"kekeh Milan mengetahui kelakuan tersembunyi Anna.


"Bukan lah. Kalo ada olimpiade dia terus ketinggalan pelajaran buat persiapan olimpiade"kata Azriel.


"Tapi kok Lo gak gitu tuh? Karena gue yakin Lo tuh kalah jauh sama tuh cewek, cuma keberuntungan Lo nya aja yang kebanyakan"kata Milan.


"Gue dipenjemin catatan sama orang"


Milan mengangguk. "Jangan bilang tuh cewek gak minta kek Lo? Sombong bet. Hidup tuh harus sosial, saling melengkapi"kata Milan sok tahu mengenai ilmu pengetahuan sosial.


"Gue pernah liat dia nyamperin temennya buat minta dipenjemin catatan tapi kagak ada yang ngasih, lebih sedihnya lagi tuh cewek diabaikan sama mereka"kekeh Azriel miris mengingat kejadian tersebut.


"Dan gue yakin itu berlangsung bahkan sejak sebelum gue sekelas sama dia, pas kelas 10 pun kayaknha sama"lanjut Azriel.


"Kesini-sini gue gak pernah lagi tuh liat dia minjem atau minta ini itu sama anak anak dikelas kecuali disuruh guru"tambah Azriel.


"Hahaha tuh cewek trauma, kesian amat ya, mana masih muda udah dikasih ujian kek begitu, kek disinetron banget idupnya"kekeh Milan setelah mendengar perkataan Azriel.


"Gue jadi merasa bersalah, gue bilang tuh cewek pembunuh gara-gara Lo jatuh dan luka, padahal tuh cewek juga jatuh karena kesenggol orang gak guna"kekeh Milan lagi.


Mengingat dirinya yang saat itu sedang kesal dan menunjuk Anna sebagai pembunuh karena mencelakai Azriel dan lusanya Milan bertemu dengan dua orang laki-laki penyebab utamanya dibelakang sekolah saat ia sedang bolos.


Kedua orang itu bercerita sambil tertawa disela merokok mereka, mereka bercerita karena tak sengaja menyenggol anak cewek jelek sampai terjatuh dan berikutnya membuat kejadian sampai gempar karena Azriel yang jatuh dari motor untuk menghindari si cewek yang jatuh dan orang-orang menuduh cewek itu yang bersalah.


Dan mereka berdua tertawa terbahak saat mengingat seluruh murid disekolah menyebut cewek itu pembunuh bahkan cewek itu dibully sama Vanesa and the geng semakin membuat kedua orang itu tertawa terbahak.


Sedangkan Milan disamping mereka menyiapkan kepalannya dan langsung menghajar kedua orang biadap itu membuatnya diskors tiga hari karena tak mengakui kesalahannya.


"Toh gue gak salah kan mukulin mereka, gue salahnya sama tuh cewek"kata Milan mengakhiri ceritanya pada Azriel.


Azriel menepuk punggung Milan yang meluruh tak bertenaga bersender pada pagar pembatas. "Sana minta maaf"


Milan menggeleng. "Malu gue"cicit Milan membuat Azriel tertawa keras.


"Badan aja yang keker hati kek puding. Tinggal bilang maaf dan gue yakin dengan wajah lugu si Anna bakal maafin Lo"kekeh Azriel.


***


Anna menatap polos Milan. Anna mengingat kejadian sebelum ini. Anna baru saja melangkah satu langkah keluar kelas langsung ditarik Milan kesamping taman sekolah dan Milan meminta maaf padanya tiba-tiba.


"Huh? Oke? Udah gak apa-apa, Anna maafin"kata Anna sedikit bingung kemudian saat mendapatkan maksudnya Anna langsung memaafkan Milan lahir batin toh cowok itu tak salah.


Milan melongo melihat Anna yang persis seperti yang dibilang Azriel diatap tadi siang membuatnya blank.


"Yaudah Anna pulang, duluan ya"


Milan menatap kepergian Anna masih dengan pandangan tak paham dengan keadaan sampai Azriel tiba-tiba muncul dan menepuk bahunya menyadarkannya.


"Kan apa gue bilang"kata Azriel bangga.


"Keknya tuh cewek udah gila"kata Milan.


Azriel terkekeh. "Dahlah ayo balik, masalah dah selesai"


Anna berjalan menyusuri trotoar depan sekolahnya. Anna berniat mampir ke suatu tempat sebelum ke tempat lesnya.


Masuk kedalam gedung itu dimana pintunya dibukakan oleh security yang berjaga yang tersenyum menyambutnya. Berjalan kesisi untuk menulis sesuatu dikertas pink sana dan mengambil nomer antrian.


Duduk manis dikursi tunggu menatap layar yang ada di langit-langit dilihatnya nomornya akan segera dipanggil setelah seseorang yang berada didepan sedang mengurus masalahnya.



Itu nomor antrian miliknya Anna berdiri dan berjalan kearah wanita yang tersenyum manis kearahnya.



"Mau nabung lagi nona?"tanya petugas bank tersebut.


Anna mengangguk dan memberikan kertas pinknya beserta buku tabungannya. Petugas bank itu menerima dengan baik dan mengurusnya dengan cepat meminta uang yang akan ditabungkan.


Anna mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan uang sejumlah hadiah uang yang ia dapat dari juara olimpiade dan bonus dari sekolah.


Petugas bank menerima uangnya dengan baik dan memprosesnya. Menatap Anna masih dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


"Maaf lancang, dilihat dari nona yang masih memakai seragam SMA, anda menabungkan uang sebanyak hampir sebulan sekali bahkan dua kali, dapat darimana ya?"tanya petugas bank itu.


Anna mengedip memang harus ia jawab.


"Atasan saya curiga kalau mohon maaf ya sebelumnya, nona mencuri atau lainnya karena nona pun KTP belum punya"kata petugas bank tersebut.


Anna diam dan dilihat security juga mendekat dan berdiri disampingnya menatapnya karena diam-diam sedari tadi si security mendengarkan dengan jelas, dimana gedung itu diruangan itu hanya ada mereka bertiga.


"Saya sering ikut lomba olimpiade Bu, dan saya sering juara juga"kata Anna.


Petugas bank itu mengangguk dan semakin tersenyum lebar. "Ya memang nona juga terlihat sepeti anak baik-baik. Kurang ajar memang atasan saya itu"kekeh petugas bank itu.


"Ingin membuat ATM?"tanya petugas bank itu menawarinya untuk kesekian kalinya setiap ia datang ke bank cabang ini untuk menabung.


"Buat jaga-jaga mau ambil uang, jadi gak perlu isi ini itu dulu, tinggal pencet dan uang keluar"kata security.


Anna berpikir, selama ini ia tak pernah mengambil uang ia selalu menabung tak pernah membutuhkan uang banyak sampai ia harus mengambil tabungannya.


"Untuk siswa seperti nona, kami memiliki kartu ATM dengan gambar karakter di kartunya"kata petugas bank itu mencoba merayu Anna.


Diperlihatkannya macam macam gambar karakter yang tersedia sampai matanya melihat sesuatu yang ia kenali.


"Gratis?"tanya Anna.


"Tentu saja, tinggal isi data dan akan diproses"kata petugas bank itu memberikan sebuah formulir pada Anna.


Anna mengambilnya lalu melihat jam yang dimana setengah jam lagi waktunya ia les dan Anna harus naik angkot kesana, ia takut akan telat karena angkot yang ia tumpangi suka diam lama menunggu penumpang.


"Boleh dibawa pulang? Saya akan mengisinya dirumah dan akan dikembalikan besok, hari Sabtu. Saya ada les setengah jam lagi"jelas Anna.


"Tentu saja silahkan, dan ini buku tabungannya, uangnya sudah masuk. Terimakasih"kata petugas bank itu.


"Terimakasih"Anna buru-buru keluar dari bank dan langsung naik angkot yang hampir lewat.


"Aku yakin anak itu dimasa depan akan sukses, jumlahkan saja uang yang tiap kali tabungkan kemari tiap bulan"kata petugas bank itu tak percaya.


"Ya sukses juga butuh proses dan prosesnya cukup sulit, lihat saja tadi"tambah security itu dan mereka kemudian mengangguk paham seolah mereka mengerti penderitaan Anna sebagai siswi SMA.