
Anna menikmati angin yang berhembus membuat poninya bergoyang. Menaruh dagunya diatas lipatan tangan diatas pagar pembatas atap sekolah dimana Azriel membawanya kesana.
Azriel menyenderkan punggungnya menatap pintu masuk atap membelakangi pemandangan atap yang sedang dilihat oleh Anna.
Azriel tidak tahu kenapa ia membawa Anna pergi kesini, ketempat yang biasa Milan dan dirinya untuk menghabiskan waktu sekolah mereka.
Azriel melirik Anna yang melamun menatap kedepan membiarkan poninya bergerak-gerak tertiup angin.
"Lo kenal Inggrid?"kalimat pertama yang terdengar setelah beberapa saat mereka saling diam.
Anna menggeleng. "Enggak"
"Terus kenapa dia kayak punya masalah sama Lo?"tanya Azriel tapi ia menjadi ingat sesuatu saat mereka datang ke SMA Nusa untuk mengikuti olimpiade.
"Ah. Dasar cewek gila"umpat Azriel saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Anna tak menyahut, ia sibuk dengan pikirannya mengabaikan Azriel yang sekarang sibuk memainkan ponselnya seperti sedang mengetik sesuatu yang serius terlihat dari raut wajahnya.
"Anna bodoh ya"
Azriel memberhentikan ketikan mengirim pesannya saat mendengar suara Anna.
"Kenapa coba Anna kayak tadi? So' jagoan banget, bisa-bisa Sarah makin aja diganggu sama Inggrid itu, Anna kan bukan siapa-siapa. So' so'an mau jadi pahlawan yang ada malah malu-maluin"kekeh Anna miris.
Menegakkan tubuhnya lalu menatap sebentar Azriel. "Anna mau ke kelas"setelahnya Anna meninggalkan Azriel disana sendirian.
Azriel menatap pintu yang kembali tertutup itu lalu mengirim pesan tersebut kemudian menelpon seseorang.
"Lo bisa kan bantuin gue?"kata Azriel berbalik menatap pemandangan gedung-gedung tinggi didepannya.
***
Beberapa hari setelah dirundung Inggrid tanpa sebab, Sarah bersyukur karena tak pernah bertemu atau hanya sekedar melihat pun tak pernah membuat Sarah menghela nafas lega, tapi kekesalan pada kakaknya masih belum hilang walau tidak sekesal saat kejadian.
Berjalan sendiri ke kantin untuk membeli sebotol air mineral lalu kembali ke kelas jika saja dikoridor menuju kelasnya ia tak bertemu Inggrid.
Inggrid ada disana melihatnya dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya saat tiba-tiba merundungnya tanpa sebab, berjalan pasti menuju kearahnya yang entah kenapa tak bisa bergerak.
Inggrid tersenyum seram menatap Sarah yang ketakutan. "Gue beberapa hari yang lalu gue izin untuk meredam emosi gue karena kakak Lo itu, tapi pas liat muka lo yang mirip sama tuh orang gue jadi makin muak"
Sarah menutup matanya bersiap menerima tamparan dari tangan Inggrid yang terangkat itu tapi tak ia rasakan, yang membuatnya semakin aneh karena mencium aroma mint segar yang begitu pekat di penciumannya.
Membuka mata ada seorang laki-laki yang berdiri diantara Inggrid dan Sarah dimana si laki-laki menahan tangan Inggrid.
Inggrid tertawa remeh melihat laki-laki itu sembari menarik paksa tangannya. "Mau apa lo Ar-ju-na?"kata Inggrid dengan menekan nama laki-laki didepannya itu.
Laki-laki bernama Arjuna itu hanya tersenyum tak peduli, mengedikkan bahunya lalu memasukan kedua tangannya kedalam saku celana menghela nafasnya.
"Cuma numpang lewat? Mungkin?"kata Arjuna seolah tak peduli.
Inggrid menggeram kesal dengan adik kelasnya itu. "Awas gak Lo! Gue gak ada urusan sama lo"bentak Inggrid.
Arjuna tertawa kecil. "Memang gak ada. Tapi orang yang nelpon keknya ada urusan sama kakak"
Sedetik kemudian ponsel inggird berdering dan ada panggilan masuk dari ayahnya membuat Inggrid bingung.
Mengangkat panggilan itu lalu mendengarkan apa yang dibicarakan ayahnya itu dan langsung berbalik pergi dengan ekspresi wajah yang kusut dan Arjuna menikmati setiap ekspresi yang Inggrid berikan itu.
Berbalik dan menghadap Sarah yang masih diam kebingungan. "Mulai sekarang tuh orang gak akan ngerundung Lo lagi, berterima kasihlah ke kakak Lo yang gara-gara dia gue jadi disuruh buat ngurusin Lo"kata Arjuna pada anak kelas sebelah itu yang tak ia kenal sebenarnya.
Sarah menatap kesal pada Arjuna si most wanted boy kelas 10 itu. "Gak usah Lo sebutin kakak gue yang gak berguna itu, ini cuma kebetulan gak ada sangkut pautnya sama kakak gue selain dia yang bikin gue di bully sama tuh kakak kelas"cerca Sarah dan meninggalkan Arjuna disana.
Arjuna menatap kepergian Sarah dengan datar. "Gue kira nasib gue bakal kayak dinovel-novel sebab bang Jiel suruh gue buat ngelindungin tuh cewek tapi ngeliat ceweknya begituan ogah gue"gerutunya berjalan dengan arah yang berlawanan dari Sarah yang pergi.
"Adik yang benci sama kakaknya bukan tipe gue banget"gumamnya sembari membuka permen yupi dan melahapnya.
***
Plak.
Inggrid terdiam memegang pipinya yang tiba-tiba ditampar ayahnya itu. Baru saja ia berdiri dihadapan sang ayah di ruang kerja rumahnya, sang ayah langsung berdiri berjalan kesal menatapnya lalu begitulah tamparan itu ada.
Ardi menatap anaknya itu begitu murka dan tanpa rasa bersalah karena sudah menampar anak semata wayangnya itu.
"Apa yang kau lakukan anak manja?!"bentak Ardi kesal. Inggird menunduk menahan tangisnya agar tak membesar.
"Gara-gara kelakuan mu perusahaan papa hampir bangkrut! Pak Aryan ayah dari Azriel yang kamu puja-puja itu hampir membuat kita miskin! Dan itu semua karena mu anak manja!"bentak Ardi kesal.
Beberapa hari kebelakang tiba-tiba perusahaan nya diujung tanduk karena database perusahaannya dihack membuat beberapa data kacau dan lagi para investor tiba-tiba menarik investasi mengundurkan diri dari perusahaannya dan beralih ke perusahaan milik Aryan dan itu penyebabnya adalah anaknya ini yang tidak bisa menjaga sikap dengan percaya dirinya merundung teman dari anaknya Aryan Azriel yang bernama Anna saat Inggrid menelpon Aryan yang dimana Aryan mendengar dengan jelas apa yang dilakukan Inggrid.
Untungnya saja Aryan orang baik, Aryan memberikan kesempatan padanya walau para investor sebelumnya tidak mau bekerja sama lagi dengan perusahaan nya tapi Aryan dengan baik hati membantunya dengan beberapa pinjaman dana membuat perusahaannya kembali berjalan.
"Soal kamu ingin dijodohin sama Azriel itu jangan harap terjadi!!"bentak Ardi membuat Inggrid menatap ayahnya tidak percaya dan tidak terima.
"Kok gitu pah? Papa kan udah janji sama aku pah!"seru Inggrid tak terima.
Ardi menatap marah anaknya yang tak tau diri itu. "Apa kamu gak punya malu hah?! Siapa yang mau nikah sama orang yang ngerundung teman dekatnya didepan matanya hah?!"
Inggrid terdiam. Sepertinya ia salah membully orang, ia kira orang itu tak ada apa-apa dengan Azriel hanya sekedar partner olimpiade hanya orang yang sekedar lewat tapi dilihat apa yang terjadi dengan perusahaan ayahnya itu, Anna sepertinya cukup berpengaruh.
"Dari awal juga orangtua Azriel tak menyetujui anaknya nikah sama kamu, tapi karena papa sayang sama kamu papa lakuin apa aja, tapi apa?! Kamu sendiri yang ngehancurin semuanya! Jadi terima saja dan jadilah anak baik"kata Ardi masih marah pada anaknya berjalan keluar ruangan meninggalkan sang anak yang masih terdiam.
Inggrid mengepalkan kedua tangannya, ia merasa semakin jengkel pada Anna karena ia pikir ini salah Anna. Semuanya salah Anna, jika tak ada perempuan itu Inggrid tak akan begini. Dengan tekad dan tak belajar dari pengalamannya Inggrid bersumpah akan melenyapkan Anna bagaimanapun caranya.
***
Disebuah ruang tengah yang luas dengan televisi besar yang menayangkan film kartun kungfu panda Milan tiduran diatas sofa panjang yang empuk memakan ciki setoples sembari menonton televisi.
"Yang gue sialan"umpat Milan dengan mata fokus pada televisi.
"Haaah seger. Isi lagi aja nanti apa susahnya"sahut Arjuna tak merasa bersalah.
Beberapa saat kemudian mbok Marni membawa nampan yang berisi mie jjappagetti dengan beberapa potong daging yang sudah dipanggang.
"Nah silahkan den, moga rasanya sama ya, pertama kali buat soalnya ini juga masaknya sambil liat video YouTube"kata mbok Marni menaruh makanan buatannya dimeja antara sofa dan televisi.
Milan berseru heboh melihat makanan yang diinginkannya sudah jadi dan visualnya serupa, mbok Marni memang jago memasak.
"Woah sama mbok kek yang di film parasite itu, tinggal dagingnya aja campurin ke mienya"kata Milan semangat menumpahkan sepiring penuh tumpukan daging itu kedalam wajan yang berisi tumpukan mie dan mencampurnya.
Arjuna ikut duduk disamping Milan menatap lapar mie diatas meja pendek itu, bahkan ia sudah membawa piring dan sumpitnya bersiap mengambil makanan itu.
"Mbok bikin 6 bungkus moga cukup ya buat kalian bertiga"kata mbok Marni karena mengingat ketiga tuannya itu nafsu makanya begitu besar apalagi kedua tuan dihadapannya itu.
"Cukup kok cukup, kalo kurang nanti bang Milan bikin lagi"kata Arjuna memakan suapan pertamanya lalu melotot dengan dramatis seperti vlogger pencicip makanan.
"Enak banget mbok"seru Arjuna semakin bersemangat makan dan Milan berkali-kali memberi jempol dengan mulut penuh.
Mbok Marni terkekeh melihat para remaja itu. "Yaudah mbok balik kedapur ya mau beres-beres. Itu den Jiel nya dipanggil keburu abis nanti sama kalian"
"Bang Jiel/Jiel!!!!! Makan mie!!!"teriak Arjuna dan Milan berbarengan tanpa bergerak sedikitpun dengan mulut penuh.
Mbok Marni tertawa kecil melihat kelakuan para remaja itu berjalan kedapur bersamaan dengan Jiel yang turun dari lantai dua berjalan kearah teman-temannya itu.
"Sekarang dari film apa?"tanya Azriel yang duduk disamping lain Milan mengambil mie bagiannya.
"Parasite, namanya jjappagetti, enak kan"kata Milan.
Azriel hanya mengangguk saja menikmati makanannya sambil menonton televisi.
"Enak itu gara-gara mbok yang masaknya. Coba bang Milan yang masak, bikin nasi pake telur sama daun bawang aja jadinya kek arang bukan nasi goreng"kata Arjuna menandakan akan ada kegaduhan yang terjadi.
Dan benar saja Milan langsung menerjang Arjuna sampai mereka terjatuh dikarpet disamping Azriel yang menikmati makanannya mengabaikan.
"Diem Lo bocah"kata Milan yang menduduki Arjuna dibawahnya.
Arjuna hanya tertawa karena begitu senang saat melihat Milan yang marah karena keusilannya. "Emang bener kan? Gak bisa masak tapi so' so'an masak, untung aja dapur mbok Marni gak sampe hangus"
Milan semakin kesal ia tarik kedua pipi tembam Arjuna membuat Arjuna tertawa. "Diem Lo gak usah banyak omong"
"Hahahaha"Arjuna hanya bisa tertawa sembari mencoba menghindari serangan Milan.
Azriel melihat kedua sahabatnya itu sembari tersenyum karena mereka yang seperti anak kecil itu selalu bertengkar karena Arjuna yang sering mengolok Milan dan Milannya yang masih kekanakan.
Mbok Marni yang ada didapur tersenyum mendengar suara tawa yang selalu terdengar dirumah tersebut saat ketiga remaja itu kumpul bersama, rasanya rumah ini kembali hidup.
"Bahagia terus ya aden aden semua"
Setelah makan dan suit untuk menentukan siapa yang harus mencuci bekas mereka makan dan Arjuna yang kalah harus mencuci piring, Azriel dan Milan bersantai diatas sofa dengan Milan yang menonton tv dan Azriel sibuk dengan ponselnya.
Mbok Marni sedang keluar untuk membeli beberapa keperluan rumah yang habis diantar suaminya yang juga supir keluarga Milan.
Arjuna bergabung setelah selesai mencuci piring dan mengganti bajunya yang ada dikamarnya dirumah tersebut.
Rumah tersebut dibuat oleh ketiga orang tua mereka yang sejak awal memang sudah saling bersahabat sejak jaman awal SMP, dimana ayah Azriel dan Milan sudah berteman sejak SD dan mereka mengenal ayah Arjuna saat masuk ke SMP yang sama dan sampai sekarang mereka masih berhubungan bahkan mereka adalah pemegang saham terbesar dibeberapa perusahaan terkaya dibeberapa negara dan juga pemilik banyak perusahaan besar yang ada didunia yang tergabung dalam Aryan Ltd.
"Bosan~"keluh Milan saat televisi semua salurannya tak ada yang menayangkan kartun lagi.
Meregangkan tubuhnya membiarkan kedua kakinya yang berada dipangkuan Azriel tak terganggu yang bersila diatas ujung sofa panjang sedangkan Arjuna duduk disalah satu sofa single menatap kedua abangnya itu.
Milan balik melihat Arjuna. "Si inggird Inggrid itu gak gangguin adiknya si Anna lagi?"tanya Milan random.
Arjuna menggeleng. "Enggak tuh walau masih suka melotoin gak jelas gak lebih"kata Arjuna tak peduli.
"Tumbenan Lo sampe segitunya nyuruh om Aryan buat ngasih pelajaran ke Inggrid"kata Milan pada Azriel dengan sedikit menghentak kakinya yang dipangkuan Azriel agar laki-laki berhenti memainkan ponselnya dan beralih mengobrol dengan mereka dan berhasil dengan pelototan kesal Azriel menyimpan handphone nya disampingnya dan melihat Milan.
"Ayah udah tau sendiri sebenarnya, dari awal juga ayah gak suka sama keluarga si Inggrid itu ditambah ayah ngedenger sendiri si Inggrid ngerundung Anna jadinya begitulah, ayah cuma nyuruh kita buat ngebuat para investor mereka jadi punya kita kan"kata Azriel mengingat betapa sibuknya mereka beberapa hari belakangan mendatangi beberapa investor tersebut agar bekerjasama dengan perusahaan Aryan.
"Gak nyaman gue pake setelan jas mulu kemarin-kemarin, badan gue sesek"keluh Milan yang selalu mengikuti Azriel saat bertemu para investor tersebut.
Arjuna terkekeh melihat kakak tertuanya itu. "Itu artinya bang Milan harus diet"kekeh Arjuna.
Milan mendelik. "Diem Lo bocah, Lo yang cuma duduk didepan komputer doang gak usah sombong"tunjuk Milan kesal yang dibalas Arjuna dengan juluran lidah.
Azriel hanya tertawa kecil saat kembali melihat mereka adu mulut karena hal tak berguna. Arjuna menyerah dan ia menatap Azriel serius.
"Omong-omong bang, gue gak suka sama si Sarah itu, jadi gue bakal udahan ngawasin tuh cewek, bodo amat gue mah"kata Arjuna yakin.
Milan terkekeh. "Jangan bilang gak suka nanti suka baru tau rasa Lo"cibir Milan.
Arjuna mendelik. "Gak akan pernah terjadi! Siapa orang yang mau sama tuh anak yang benci sama kakaknya sendiri, bukan tipe gue banget"kata Arjuna seyakin yakinnya.
Milan hanya mengangguk saja mengiyakan meremehkan sedangkan Azriel ia terdiam memikirkan sesuatu yang membuat pikirannya mengingat perilaku Anna.
"Omong-omong lagi nih ya bang, kalian jadi bakal ikut kemah?"tanya Arjuna.
"Yoi dong kapan lagi kita berkemah, ye gak Jiel"kata Milan menyombongkan diri.
"Cih nyesel gue nanya"kata Arjuna memberengut.
"Makanya masuk ke Arya dibilang, malah masuk Nusa sih Lo"kata Milan mengingat Arjuna yang tak ingin bersekolah di Arya karena ia ingin bersekolah di SMA ibunya dulu, SMA Nusa.
"Gak, nanti kalo masuk bisa-bisa kita jadi terlalu tampan cs"kekeh Arjuna yang kemudian membuat mereka bertiga tertawa.