Millisanna

Millisanna
Bab 22



Selepas kepergian Andari dari ruang kerjanya untuk pergi tidur, Aryan masih diruang kerjanya dengan alasan masih ada yang harus ia kerjakan.


Duduk dikursi kerjanya menatap kosong kedepan senantiasa berdoa untuk keselamatan putra satu-satunya yang kata sang sahabat dari putranya itu, Azriel hilang saat ikut mencari teman mereka yang hilang.


"Ya Tuhan Jiel, anak ayah kenapa bisa ceroboh gini sih"kesal Aryan tak habis pikir dengan Azriel.


Sudah tahu takut gelap tapi tetap kukuh ingin ikut kemah, padahal sahabatnya sudah was-was mengkhatirkannya tapi diabaikan yang berakhir Azriel hilang, sendirian ditengah kegelapan yang membuat Azriel menggila.


Azriel memiliki sebuah trauma parah soal kegelapan karena kejadian dulu membuat Aryan dan Andari begitu berat membiarkan sang anak ikut kegiatan tahunan sekolah untuk anak kelas 11 itu karena takutnya sang anak mendadak kumat yang bisa saja membahayakan nyawanya.


Tring.


Aryan melirik ponsel disamping diatas meja kerjanya melihat sebuah pesan dari nomor yang dirahasiakan membuat perasaan tak enaknya semakin menjadi.


Lantas sebelum membaca pesan itu ia mengambil ponselnya yang lain mengatur sesuatu disana membuat komputer dihadapannya menyala menampilkan semacam peta dan radar juga lainnya dengan titik merah yang tak berkedip.


Membuka pesan tersebut, seketika mengeratkan gigi menatap nyalang sebuah pesan yang berupa foto dari Azriel yang terlihat berantakan terikat disebuah kursi usang tak sadarkan diri.


Segera saja Aryan mendial nomor privat itu memanggilnya dengan emosi yang siap dikeluarkan kapan saja.


Dilain tempat si ketua pemburu itu tertawa senang saat menerima sebuah panggilan dari nomer yang ia kirimi pesan tadi yang nomornya ia dapat dari ponsel Azriel yang masih tak sadarkan diri disana.


Mengangkat panggilan masuk itu dengan senang. "Selamat malam tuan CEO"kekeh ketua pemburu itu sembari mengangkat wajah tak sadarkan diri Azriel yang mulutnya sudah ia tutup dengan lakban.


"Apa yang kau lakukan pada anakku hah?! Apa mau mu?!"


Bentakan dilawan panggilan semakin membuat ketua pemburu itu terkekeh. "Wo wo wow tenang sebentar tuan CEO yang terhormat"


"Aku hanya memberi sedikit pelajaran pada anakmu yang sok sok'an melepaskan buruan ku"


"Kau masih memburu?! Kurang ajar dasar pemburu biadap! Harusnya aku jatuhi hukuman mati untuk orang gila seperti mu!!"


Umpatan disana hanya dianggap angin lalu oleh sang ketua pemburu. "Hahaha coba saja kau lakukan tuan dan putramu akan berakhir di black market dengan keadaan terpotong-potong"


"Jangan kau berani menyentuh putraku sialan!!!"


"Kalau begitu kita buat kesepakatan tuan, anakmu selamat dan kau membiarkan kami memburu hewan langka disetiap hutan diseluruh negeri ini dan juga menjaga setiap transaksi yang kami lakukan tetap aman tak terlacak aparat negara, bagaimana penawaran yang menggiurkan bukan?"tawa gila sang ketua pemburu membayangkan semua kegiatan ilegal yang ia lakukan berjalan lancar karena dilindungi oleh orang terbaik atas dunia atas maupun bawah.


"Sialan"


Ketua pemburu semakin tertawa keras merasa menang karena mendapat geraman kekalahan disambungan panggilannya. "Bagaimana tuan? Ah satu lagi kami juga meminta tebusan sebesar 100 miliar dengan batas waktu fajar nanti jika ingin anakmu benar-benar dalam keadaan baik"kekeh sang ketua pemburu yang kagum dengan pemikiran gila tentang uang tebusan tersebut, toh ayah dari anak yang ia sekap ini sangat kaya raya uang segitu pasti hanya segelintir dari kekayaannya yang lain.


"Bedebah!!! Kau–"


"Kami tunggu di hutan bagian selatan tempat berkemah anak anda, jangan lapor polisi dan kesini sendirian!"potong si ketua kemudian mematikan panggilan lalu membanting ponsel Azriel sampai tak berbentuk dan menonaktifkan ponselnya sendiri mencegah ayah dari anak yang ia sekap itu mengetahui lokasinya.


Menatap bangga pada bocah SMA yang masih tak sadarkan diri dengan wajah pucat karena kehilangan banyak darah.


"Ckckck Lo emang tambang emas"kekeh si ketua pemburu itu menepuk-nepuk pipi pucat Azriel yang masih tak sadarkan diri.


Aryan menggeram keras menatap panggilan diakhiri itu.


"Kurang ajar! Tikus pemburu itu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa"geram Aryan menatap serius pada layar komputernya memperlihatkan lokasi yang ia dapat sebelum tanda merah keberadaan putranya itu menghilang.


"Hallo?"


"Herald kau masih mencari tikus pemburu itu?"sahut Aryan pada panggilan yang dijawab orang disebrang panggilan.


"Ya, saat ini juga tim milikku akan menangkap mereka, kami sudah menemukan lokasi mereka walau masih samar tapi kami yakin–"


"Aku tahu dimana mereka! Aku akan kesana menemuimu dengan uang 100 miliar yang diminta mereka"potong Aryan cepat.


"Aku sampai dalam 15 menit. Aku harus menyelamatkan anakku dari tikus pemburu itu"


"Apa?!!"


***


"Akh"ringisan kecil keluar menandakan Azriel sadar.


Melihat kesekitar ia yakin saat ini ia sedang disekap dilihat dari kondisinya yang terikat dikursi disalah satu ruangan dimarkas para pemburu jelek itu.


Sial badan gue sakit semua, batin Azriel merasakan nyeri dibeberapa bagian dan melotot memberontak meminta lepas dari ikatannya saat melihat hal yang tak ingin ia lihat dihadapannya.


"Hfffmmhh!!!!"


"Wah wah lihat tambang emas kita sudah sadar"kekeh sang ketua menyadari kegaduhan dibelakangnya dan melihat Azriel sudah sadar sedang menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Bagaimana hm? Bukankah pemandangan yang indah?"kekeh ketua pemburu itu berjalan menghampiri Azriel.


Melepas lakban yang menutupi mulut Azriel dengan kasar.


"Bangsat!!!"


Bugh!


"Lo emang tambang emas gue tapi kelakuan Lo bikin gue gedeg!"umpat ketua pemburu itu setelah meninju Azriel sampai wajah bocah SMA itu beralih.


"Cuih!"


Bugh brak.


"Ngelunjak Lo hah?! Kalo bukan karena 100 miliar udah gue bunuh Lo sialan!"umpat ketua pemburu itu menginjak-injak tubuh Azriel yang masih terikat dikursi yang jatuh ke lantai.


"Lepas ikatan juga bajunya! Lo pada pake sekarang didepan bocah sialan ini!"perintah ketua yang kembali membenarkan posisi Azriel menghadap pada 2 orang bawahannya disana.


Azriel berontak keras. "Bangsat!! Jangan pegang Anna sama tangan haram kalian sialan!!!!"umpat Azriel menggila.


Dihadapannya Anna masih tak sadarkan diri dengan mulut yang sama sepertinya sebelumnya dilakban. Kedua anak buah ketua pemburu itu menarik kasar lakban penutup mulut Anna seraya melepaskan ikatan Anna sekaligus pakaiannya.


"Anjing lo semua!!! Gue bunuh Lo pada sialan!!!"teriak murka Azriel melihat jaket Anna sudah lepas dan semua kancing kemeja yang dipakai gadis itu sudah terlepas semua memperlihatkan bra yang menutupi aset atas sang gadis.


"Nikmati boy. Gue tau Lo juga suka yang beginian"kekeh ketua pemburu menahan Azriel agar tak berontak dan tak memalingkan muka.


"Setan"desis Azriel menatap nyalang ketua pemburu yang menahan wajahnya.


"Hahaha gue tau Lo lebih setan dari pada gue boy"kekehnya.


Azriel menatap nyalang dua orang disana yang terlihat kesetanan melucuti sisa pakaian yang masih melekat ditubuh Anna.


Gue bunuh Lo satu-satu sialan.


"Gila! Badannya gila bos"kekeh salah satu diantara keduanya.


"Jadiin ****** aja bos, duit ngalir terus"tambah yang lainnya mengacungkan jempol pada ketuanya.


Si ketua mendekati kedua bawahannya itu ikut mematai tubuh gadis yang tergeletak tak sadarkan diri yang masih menggunakan ********** itu.


"Jangan coba-coba Lo sentuh dia sialan!!!!"murka Azriel melihat ketua pemburu itu berjongkok hendak menyentuh perut rata Anna yang polos.


Ketua pemburu itu terkekeh. "Pacar Lo boy? Sampe segitunya"katanya mengabaikan amarah Azriel dibelakangnya.


Menyentuh tubuh mulus itu yang memiliki beberapa luka goresan dan memar yang terlihat baru.


"Lo yang pertama gue bunuh"desis Azriel tajam dengan wajah memerah dan mata memerah menahan air mata yang entah kenapa ingin keluar.


Ketua pemburu itu mengabaikan ancaman Azriel, ia lebih memilih menatap tubuh elok di hadapannya tersenyum membayangkan dirinya mencicipi tubuh molek tersebut.


"Gue duluan yang pake"kekeh ketua pemburu itu menurunkan ****** ***** yang membungkus aset paling berharga untuk si gadis.


Brak.


Pintu tiba-tiba terbuka memperlihatkan anggota yang lain membuat ketiga pemburu itu menatap kesal rekan mereka itu karena merusak suasana.


"Apa?!"bentak si ketua kembali berdiri melupakan tubuh gadis yang telanjang tak sadarkan diri dibawahnya.


"Kita dapet boss! Anak beruang madu yang dicari-cari!"seru anggota itu senang.


Rasa senang itu menular pada ketiga pria disana membuat ketiganya keluar melupakan kedua sekapan mereka lantas mengunci pintu agar kedua sekapan mereka tidak bisa kabur.


Air mata Azriel lirih begitu saja begitu orang-orang gila itu pergi. Menatap nanar Anna yang masih tak sadarkan diri tergeletak dilantai kotor disana tanpa busana.


"Anna"lirih Azriel terisak merasa bersalah karena Anna mengalami hal seperti ini.


Kalau saja ia tak melepaskan harimau muda itu mereka tak akan bertemu dengan para pemburu gila itu.


"Maafin gue. Anna bangun, dingin, cepet pake baju Lo"isak Azriel buntu karena tak bisa menolong gadis itu karena dirinya terikat.


Ingin sekali rasanya segera menutupi tubuh polos itu kembali dengan pakaian si gadis yang berserakan disana.


"Anna–"


Azriel mendadak diam, tubuhnya terasa dihantam kembali ke masa lalu sesaat melihat sesuatu ditubuh polos Anna.


Air mata semakin mengalir, isakan semakin keras dengan raungan rasa bersalah yang semakin menggunung.


'Siapa namanya?'


'Ii''


"Ii'!!! I' bangun i'!!! Ii' Afha suruh kamu bangun Ii'! Ayo kita kabur!! Orang jahat itu sedang tidak ada!! Ii'!!!!"


Raung Azriel menggila memberontak ingin menggapai gadis yang tergeletak disana.


"Ii'!!! Ayo bangun kita pergi!! Ii'!!!"


Bruk.


Kursi Azriel jatuh membuat tubuh Azriel kembali menghantam lantai masih dalam keadaan terikat.


Nyeri di kepala mendadak menyerangnya membuat pandangan Azriel berputar dan seketika gelap menyerangnya.