
Minggu UTS telah berakhir dan waktunya pengumuman hasil ujian.
Anna yang dibawa Melisa dengan gugup was was sendiri karena akan melihat mading dimana peringkat dan nilai semua siswa terpampang disana.
"Gue deg degan, berapa ya kira-kira gue dapet sekarang?"kata Melisa takut-takut akan nilainya nanti.
Anna hanya tersenyum singkat saja karena dirinya memikirkan nasib dirinya sendiri yang sepertinya Anna tahu jika dirinya akan kembali menjadi juara dua dan lagi-lagi dimarahi sang ibu, Anna sudah menerimanya dengan ikhlas, sungguh, jika Anna sampai mati tetap menjadi peringkat kedua pun dirinya sudah tidak kaget lagi.
"Kalo gue gak naik-naik amat maafin gue ya kalian, kalian udah usaha buat bantuin gue belajar tapi hasilnya gak terlalu bagus jangan marah ya"sedih Melisa merasa bersalah pada Anna dan Milan bahkan Azriel yang membantunya belajar itu.
Azriel yang berjalan dibelakang keduanya yang dilirik Melisa sambil mengatakan hal tersebut pun mengedikkan bahu tidak peduli.
"Kalo gitu adanya berarti Lo emang bego"celetuk Milan yang muncul-muncul langsung mengejek Melisa dan bergabung bersama mereka berjalan disamping Azriel.
Melisa mencebik sebal pada Milan yang malah memeletkan lidahnya semakin meledeknya membuat Melisa semakin kesal dan akan menghajar Milan kalau Anna tidak menahannya.
Keempatnya pun sampai didepan mading bergabung dengan orang-orang lain disana yang juga ingin melihat hasil ujian mereka disana yang tanpa aba-aba mereka memberikan ruang untuk kelompok mereka yang baru datang.
"Melisa Melisa melisa–"gumam Melisa mencari namanya disetiap tabel yang ada dan menemukannya di angka ke 25 membuat Melisa sontak menjerit senang karena ini rekor terbaiknya dalam mendapatkan nilai.
"Wow gue peringkat 25 cuy!!"senang Melisa benar-benar bangga pada dirinya.
"Ibu sama papa gue pasti bangga punya anak kek gue!!"bangga Melisa membayangkan wajah orangtuanya yang sangat bangga padanya dan memujinya sebagai anak pintar.
"Segitu doang bangga, harusnya kalo Lo dibantuin kita kita minimal ranking 10 besar, ini malah 20an berarti Lo bego"cibir Milan.
"Lo ini gak punya hati apa?! Emang berapa sih peringkat Lo sombong banget! Paling juga Lo dibawah gue"kata Melisa sombong.
Milan menaikkan alisnya mendengus geli mendengar perkataan Melisa. "Kayaknya ada yang buta sama gak tau diri ya"kata Milan sangat menekankan pada kata buta dan tak tahu diri seraya memaksa Melisa untuk melihat pada peringkat teratas.
Peringkat ke- 3 Milaniel Keizo Bagaskara 11-1.
"Geh!"kesal Melisa saat mendapati kenyataan.
"Gimana udah sadar diri hah?"songong Milan.
"Sialan Lo"dengus Melisa tidak mengakui jika orang songong seperti Milan sangat pintar yang mana malah semakin membuat cowok sejenis Milan sombong.
Melisa dan Milan yang melanjutkan adu mulut mereka, sedangkan Anna dan Azriel sedari tadi hanya diam menatap mading.
Keduanya serius dengan nilai mereka yang peringkatnya tidak ada yang berbeda, Azriel tetap peringkat pertama dan Anna peringkat kedua.
Namun yang membuat mereka diam terlebih Anna adalah di pelajaran kimia, nilainya lebih tinggi dari pada milik Azriel.
Anna yang tidak pernah nilainya lebih tinggi dari Azriel merasa sangat senang tersenyum lebar dan sontak menatap Azriel yang ternyata sedang menatapnya juga.
Anna langsung saja mengalihkan pandangannya merasa malu dan juga sangat senang, dirinya bisa mengalahkan Azriel, walau hanya di satu pelajaran tapi dirinya mengalahkan Azriel.
Azriel memperhatikan ekspresi yang diperlihatkan Anna yang begitu terlihat sangat bahagia itu mengetahui gadis itu mengalahkannya.
Azriel tersenyum ikut merasa senang. "Ibu Lo pasti suka liat nilai Lo itu"kata Azriel.
Anna yang mendengarnya mengangguk antusias, ya dirinya juga berpikiran sama dengan Azriel jika sang ibu pasti akan senang mengetahui dirinya mengalahkan Azriel.
Walau hanya satu pelajaran tapi Anna yakin ini awalnya, membuat Anna jadi kembali memiliki keyakinan jika dirinya suatu hari nanti akan benar-benar mendapatkan peringkat satu secara keseluruhan.
"Eh keknya si Michelle kayaknya emang cuma beruntung doang pas tes percobaan olimpiade waktu itu"
"Kayaknya, liat aja tuh nilainya bahkan gak nyampe ke 50 besar"
"Pantes aja dia gak bisa juara pas olimpiade"
"Mending si Anna gak sih? Walau kedua terus tapi dia konsisten, bikin sekolah kita jadi juara umum terus kan karena menangin banyak piala kayak Azriel"
"Eh iya juga ya gak mungkin kan si Anna pas itu langsung anjlok nilainya jadi peringkat bawah tiba-tiba"
"Gue mendadak lapar nih, heh Mel traktir dong itung-itung biaya les gue bantuin Lo jadi pinter"kata Milan tiba-tiba membuat Anna yang tadi sempat terfokus pada bisikan-bisikan gosip disekitarnya jadi beralih pada Milan.
Melisa berdecih menatap Milan sebal. "Tadi ngolok-ngolok sekarang Lo minta bayaran dari tidak bergunanya Lo jadi tutor? Ogah, mending gue traktir Anna sama Azriel"kata Melisa sewot mengalihkan wajahnya tak minat menatap Milan dan membawa Anna pergi dari sana juga Azriel.
"Anjir si Jiel emang bantuin? Tuh orang cuma ikut duduk-duduk doang gak ngapain-ngapain tapi dia di traktir? Ini tidak adil!"seru Milan keberatan seraya mengikuti mereka.
"Adil karena gue yang memutuskan!"balas Melisa kukuh.
"Dasar cewek!"kesal Milan.
"Gue emang cewek, cantik pula tuh, huh"balas Melisa santai bahkan mengibaskan rambutnya memperlihatkan jika dirinya cantik seperti yang dikatakannya.
Anna hanya bisa terkekeh saja melihat tingkah laku teman-temannya itu. Merasa terhibur dengan tingkah mereka yang ada ada saja.
***
"Ngomong-ngomong Anna besok kan akhir pekan, kita jalan-jalan yuk? Kayaknya masih belum cukup gue ngerayain kemenangan gue yang peringkatnya naik"kata Melisa benar-benar membanggakan nilainya yang naiknya sangat banyak.
"Lo libur les kan di waktu itu?"kata Melisa penuh harapan.
Anna jadi merasa tidak enak karena harus menolak permintaan Melisa itu. "Maaf, emang Anna libur les hari itu tapi Anna udah ada janji duluan sama orang bahkan sebelum Minggu UTS dimulai"kata Anna benar-benar tak enak.
Melisa yang mendengarnya sangat terkejut dan penasaran dengan siapa Anna membuat janji. "Siapa nih cowok ya? Azriel ya?"tanya Melisa semangat.
Namun melihat Anna yang terlihat terkejut bingung dan syok membuat Melisa ikut terdiam karena sepertinya perkiraan nya salah besar.
"Kok Azriel?"bingung Anna kenapa Melisa jadi berpikir Azriel.
"Oh bukan ya?"kekeh Melisa kikuk.
"Bukan"kekeh Anna tertawa kecil merasa lucu.
Melisa semakin penasaran siapa yang membuat janji itu dan membuat Anna terlihat sangat tidak sabar untuk janji yang dibuatnya itu.
"Jadi siapa?"tanya Melisa penasaran.
"Aldres"jawab Anna senang.
"Mili!!"
Yang disebutkan menampakkan diri seraya memanggil nama Anna dengan semangat seperti biasa.
Aldres datang dengan motornya seraya melepas helm melambai-lambaikan tangannya menyambut Anna.
"Lo pulang bareng Aldres?"tanya Melisa tidak menduga.
"Iya tadi Al kirim chat katanya mau jemput, Anna duluan ya, Melisa hati-hati pulangnya"kata Anna ceria seraya menghampiri Aldres disana.
Melisa melihat dalam diam kedekatan Aldres dan Anna disana keduanya benar-benar sangat akrab, seperti benar-benar teman masa kecil kebanyakan, tapi dari pandangan Melisa, dirinya menduga jika Aldres menganggap Anna lebih dari teman masa kecilnya.
Lihat saja bagaimana laki-laki itu menatap dan berekspresi dihadapan Anna.
Bruum brumm brummm.
Melisa terperanjat karena suara deruan mesin motor yang sepertinya sengaja digas kuat-kuat dan melihat bagaimana seseorang dengan motornya melesat kencang diikuti seorang lagi dibelakangnya seolah mengejar melewati mereka semua juga melewati Anna dan Aldres disana.
Melisa terkekeh saja melihatnya, tak habis pikir jika dirinya akan disuguhi dengan drama percintaan SMA yang sering dijadikan kisah novel atau drama drama tv.
"Masa SMA emang terbaik"gumam Melisa kesenangan.