Millisanna

Millisanna
Bab 9



Azriel menatap kesal Milan yang sedang mengupas buah apel dengan sedikit bersenandung duduk disampingnya yang sedang duduk bersender pada kepala ranjang dengan tangan masih diinfus.


"Napa Lo disini?"tanya sinis Azriel.


Milan menatap Azriel kemudian tersenyum. "Nemenin Lo dong sebagai sahabat sejati, nih"jawab Milan sembari menyodorkan potongan apel yang sudah dikupas.


Azriel melahap potongan apel itu masih menatap sinis Milan. "Lo bolos lagi gitu? Udah berapa Lo bolos?"


Milan terlihat berpikir. "Gak bisa diitung Jiel, saking banyaknya kolom kosong diabsen gue"kekeh Milan.


Azriel hanya menggeleng saja tak habis pikir dengan sahabatnya itu, untung saja Milan sedikit pintar dengan masuk kedalam peringkat 25 besar seangkatan membuat Milan tak akan tinggal kelas karena kepintarannya walau sering membolos.


Tak ada lagi obrolan karena Milan yang fokus menyuapi Azriel potongan apel dan Azriel yang sibuk membaca buku yang dibawa Andari agar anaknya itu tak bosan.


"Jiel. Tadi gue bantuin si Anna masuk sekolah lewat gerbang samping, tuh cewek telat. Tumbenan kan"kekeh Milan mengingat wajah Anna yang seperti menyerah untuk hidup saat didepan gerbang sekolah tadi.


"Dia telat?"tanya Azriel penasaran.


Milan mengangguk. "Telat 15 menti malah"


"Katanya mamanya lagi nemenin neneknya yang lagi sakit jadinya dia yang nyiapin sarapan juga yang ngeberesinnya juga terus dia dapet angkot yang ngetem jadinya telat"cerita Milan.


"Tumben kan"lanjut Milan.


Azriel hanya diam, ia malah membayangkan Anna yang melakukan semua pekerjaan rumah seperti pembantu rumah tangga dengan lap disalah satu bahunya dirumahnya sendiri.


"Lo kebayang gak sih kalo tuh cewek gak terlalu disayang sama orangtuanya gitu kayak kita"kata Azriel tiba-tiba.


Milan kembali berpikir lalu tersenyum menentang. "Enggak lah. Orang dia sering menangin olimpiade ini itu, rangking terus juga ya pasti disayang lah kek Lo"kata Milan.


Azriel hanya diam tak menanggapi, rasanya ia sedikit tak setuju tapi jika dipikir-pikir lagi ya gak mungkin juga Anna gak disayang keluarganya disaat Anna sering membuat mereka bangga dengan hasil lombanya dan rangkingnya.


Milan menatap Azriel yang tiba-tiba terdiam dan ia berdehem untuk menarik atensi Azriel. "Udah gak usah dipikirin, sekarang waktunya Lo makan"kata Milan membuka penutup menu makanan untuk Azriel.


"Gak mau, hambar"tolak Azriel mentah-mentah.


Azriel langsung terdiam saat ia mengucapkan kata-kata keramat untuk Milan karena lihat saja Milan sudah tersenyum lebar sampai matanya terpejam, begitu mengerikan untuk Azriel.


"Nolak nih?"tanya Milan masih dengan senyumannya.


Azriel langsung menggeleng dan mengambil mangkuk bubur itu. "Enggak kok salah denger Lo"bantah Azriel yang langsung memasukan sesendok bubur hambar itu ke mulutnya.


Milan tersenyum. "Nah bagus, abisin ya"


***


Anna pulang kerumah dengan lesu. Saat tadi disekolah ia ketinggalan dua pelajaran karena telat dan untung saja tugasnya masih mau diterima oleh guru dijam pelajaran kedua yang tak ia ikuti itu walaupun harus mendengar dulu omelan dan cercaan guru tersebut.


"Biar aja lah dibilang gak disiplin lah anak nakal lah, terserah, yang penting tugas udah diterima"gumam Anna melepas sepatunya dan membuka pintu rumah sembari menjinjing sepatunya.


Diruang tengah ada mamanya dan adik bungsunya sedang menonton tv. Setelah menyalami mama Anna naik kelantai dua masuk ke kamarnya.


Melepas tas dan duduk dimeja belajar membuka buku untuk mencari apa bagian mana yang ketinggalan tadi dengan menebak-nebak sekiranya bagian mana yang tadi dijelaskan oleh guru disekolah.


Masih memakai seragamnya Anna mulai mencatat materi yang ketinggalan sampai pintu kamarnya terbuka dan memperlihatkan Sarah yang baru saja pulang menatap kesal pada Anna yang melihat adiknya bingung.


"Ada apa?"


Sarah masuk kedalam dan mendekat pada Anna dan berdiri dihadapannya menatap kakaknya dengan kesal.


"Kakak ada masalah apa sih sama si Inggrid Inggrid itu?!"bentak Sarah.


Anna semakin bingung. Siapa Inggrid? Apa Anna punya teman yang namanya Inggrid? Rasanya Anna tak kenal yang namanya Inggrid itu.


"Gak kenal"kata Anna jujur.


Sarah mengeluh kesal. "Hah emang gila tuh kakak kelas! Tapi salah kakak juga kenapa bikin tuh orang marah, terus marahnya dilampiaskan nya ke gue! Kakak yang punya masalah gue yang kena!"bentak Sarah sembari menunjuk-nunjuk Anna.


Anna tidak tahu harus bereaksi seperti apa sampai Sarah keluar dari kamarnya masih dengan marah-marah pun Anna masih terdiam. Anna tak kenal yang namanya Inggrid itu tapi si Inggrid itu mengganggu Sarah karena si Inggrid itu punya masalah dengan Anna.


Anna semakin bingung, ia tak kenal Inggrid tapi si Inggrid itu punya masalah sama Anna, tau mukanya aja enggak kenapa si Inggrid ini merasa punya masalah dengan nya, kan gila si Inggrid itu.


Anna memilih mengabaikan dan kembali mencatat materi yang ketinggalan dengan santai karena ia memang merasa tak punya masalah dengan Inggrid Inggrid itu.


Besoknya Anna masuk sekolah dengan biasa tak ada acara terlambat seperti kemarin yang membuat satpam yang melihat Anna berjalan diantara murid lain mengangguk bangga entah karena apa.


Anna berjalan ke kelasnya dan mendapati anak-anak dikelasnya semuanya berkumpul dimeja Azriel yang ternyata sudah masuk setelah 2 hari tak masuk karena sakit.


Anna duduk di bangkunya membuka buku dengan diam-diam ikut mendengar obrolan mereka yang bergerombol di meja Azriel itu.


"Lo sakit apa? Dirawat Lo? Kok gak bilang-bilang"kata ketua kelas.


"Hu'uh sombong banget Lo gak pengen kita jenguk"sahut yang lainnya.


Azriel memandang jengah anak-anak kelasnya itu. "Gue cuma masuk angin dah lah sana balik ke bangku kalian, dah bel sana"usir Azriel bertepatan dengan suara bel masuk berbunyi.


"Anak-anak sebelum ke pelarajan ada yang ingin ibu sampaikan"kata Bu Erna wali kelas 11-3 itu.


"Soal kemping itu ya Bu?"seru salah satu anak disana.


Ya sebenarnya beberapa hari belakangan banyak sekali desas desus kalau kelas 11 akan mengadakan kemping setelah ujian akhir semester satu nanti.


Bu Erna mengangguk membenarkan membuat anak-anak muridnya berseru senang. "Benar, tapi ada batas nilai agar kalian bisa ikut kemping itu, kalian tidak boleh ada nilai yang remedial agar bisa ikut berkemah"


Perkataan wali kelas membuat suana kelas berisik tak terima dengan persyaratan tersebut.


"Tenang tenang"seru Bu Erna menyuruh anak didiknya diam.


"Jika kalian ingin bersenang-senang makanya belajar biar gak dapet nilai merah. Dah sekarang ke pelajaran, buka buku paket kalian halaman 108"Bu Erna memulai pelajarannya.


***


Istirahat kali ini Azriel habiskan dipinggir lapangan basket indoor melihat timnya sedang pemanasan karena akan melakukan latih tanding dengan SMA Nusa yang membuat beberapa kelas yang menjadi anggota yang main didispenkan karena menjadi tim sorak.


"Padahal gue gak main tapi kelas gue ikut dispen juga"gumam Azriel melihat ke anak-anak kelasnya yang heboh menyanyikan yel-yel, tapi lebih fokusnya Azriel melihat Anna yang terlihat gembira karena senyumannya tak pernah luntur dengan sesekali ikut bertepuk tangan kecil membuat Azriel terkekeh.


Milan dengan seragamnya duduk disebelah Azriel. "Lo baru aja keluar dari rumah sakit langsung main gitu? Ya gak mungkin lah, yang ada kak Bram di D.O karena ngebuat anak pemilik yayasan mati"kekeh Milan.


Azriel menatap tajam Milan. "Kita udah sepakat gak ngomongin soal itu kan?"


Milan terkekeh. "Oke maaf keceplosan. Lagian emang Lo ingin banget main apa? Perasaan di tim Nusa gak ada si Aldo nya"kata Milan membicarakan tentang rival Azriel yang bernama Aldo dari SMA batu bara.


"Gak juga, gue gabut"keluh Azriel menselonjorkan kedua kakinya.


Milan tertawa. "Nikmatilah man, Lo bisa santai sedikit disini, gak ada buku gak ada bola basket. Pulihin dulu aja badan lo dan jangan lupa sorakin nama gue sekencang-kencangnya"kata Milan sembari berlari karena para pemain disuruh berkumpul oleh pelatih.


"Dih najis"umpat Azriel seraya terkekeh.


Permainan dimulai dengan SMA Arya yang mendapatkan bola pertama. Anna benar-benar antusias menyaksikan pertandingan didepannya itu, ia bisa beristirahat sebentar dari rutinitas belajarnya walau nanti setelah ini Anna harus ekstra kerja keras dua kali lipat saat kembali bejalar nanti.


Tak apa, batin Anna tiba-tiba membuat moodnya tiba-tiba menjadi jelek saat berpikir kalau ia tak belajar dan memilih menonton pertandingan ini ia harus bekerja keras untuk belajar nanti.


Tersenyum miris Anna bangkit dan berjalan keluar gedung karena memang moodnya sudah tak ada untuk menonton pertandingan itu dan ia akan pergi kekelas saja untuk membaca materi yang harusnya sedang dijelaskan guru saat ini.


Berjalan menunduk dengan pikiran yang penuh kata umpatan untuk dirinya sendiri karena tak berguna atau tak mampu untuk apapun.


"Mau apa Lo Inggrid?"


Suara itu membuat Anna berhenti dan mengintip kelorong samping dimana pintu masuk lain untuk ke gedung olahraga itu. Dilihatnya ada Azriel dan seorang perempuan dengan seragam berbeda dan ada bet SMA Nusa dilengan pakaiannya.


SMA Nusa? Inggrid? Sarah?


Anna mendekati mereka tanpa pikir panjang dimana si perempuan seperti sedang membicarakan sesuatu dengan Azriel.


"Kenapa lo kasar sama gue sih? Gue kan tunangan Lo"kata Inggrid santai setelah dibentak Azriel.


Azriel menatap Inggrid rendah. "Hah tunangan? Jangan halu Lo!"umpat Azriel.


"Lo gak percaya? Om Arya belum ngasih tau? Apa perlu gue telpon dia?"kata Inggrid menunjukkan ponsel miliknya menantang Azriel.


Azriel masih menatap Inggrid tak minat saat gadis itu menelpon ayahnya itu, Azriel biarkan saja toh ayahnya juga tau menantu yang cocok untuknya dan pastinya bukan si Inggrid ini.


"Halo om?"tanya Inggrid saat panggilannya dijawab.


"Kamu Inggrid?"


Suara lain membuat Azriel dan Inggrid menatap ke sumber suara tersebut dan melihat ada Anna disana.


Inggrid menurunkan ponselnya tanpa mematikan panggilan menatap rendah dan jijik Anna. "Mau apa Lo sama gue?"


Anna menatap Inggrid polos. "Kamu gangguin Sarah disekolah?"


Inggrid mengingat kejadian lampau, saat ia sedang kesal karena ditolak ajakan jalan-jalannya oleh Azriel lalu melihat anak dari kelas sepuluh yang mirip dengan orang yang ada didepannya saat ini dan lansung saja Inggrid saat itu membanjur wajah anak itu dengan es jeruknya dan juga menjambak rambutnya seraya mengucapkan kata-kata kasar.


Inggrid tertawa saat mengingatnya. "Ya emang kenapa? Dia siapanya Lo? Adik Lo? Hahaha kasian banget dia karena jadi pelampiasan karena gue begitu kesal sama Lo"kata Inggrid sembari menoyor beberapa kali kepala Anna membuatnya mundur.


Azriel yang melihatnya tak tinggal diam ia baru saja ingin menghentikan Inggrid tapi Anna sudah duluan memegang tangan Inggrid agar berhenti menoyor kepalanya.


"Lepas!"bentak Inggrid saat ia mencoba untuk menarik tangannya tak bisa karena Anna begitu kuat mencengkram tangannya.


Anna masih menatap Inggrid dengan polos tapi cengkraman tangannya semakin kuat dan bisa dipastikan pergelangan tangan Inggrid akan memar.


"Aku tak kenal kamu. Tapi kalau kamu punya masalah sama aku, datang padaku dan hajar aku jangan Sarah yang kau hajar"kata Anna masih dengan ekspresi yang sama membuang cengkraman nya pada Inggrid sedikit mendorong membuat Inggrid mundur.


Inggrid meringis menatap marah Anna. "Lo berurusan dengan orang yang salah sialan!!"umpat Inggrid akan menampar Anna tapi ditahan oleh Azriel.


Azriel menatap rendah Inggrid dan membuang tangan Inggrid dengan kasar. "Lo yang berurusan dengan orang yang salah"kata Azriel datar lalu membawa Anna pergi meninggalkan Inggrid yang semakin emosi.


Inggrid meremat ponselnya yang memperlihatkan panggilan diakhiri. "Awas aja lo Millisanna"