
Anna mulai masuk sekolah setelah libur dua hari dan karena ibunya yang menyuruhnya untuk sekolah, yang katanya untuk apa tidak sekolah jika dirinya tidak berguna dirumah.
Padahal semua pekerjaan ibunya Anna yang kerjakan.
Yah setidaknya Anna tidak marah dan hanya menerima dibilang seperti itu juga lagipula dirinya memilih untuk sekolah saja daripada dirumah.
Pergi ke sekolah dengan leher nya yang masih terpasang plester sejujurnya lukanya belum terlalu pulih karena sesekali plesternya berdarah karena rembesan darah yang lukanya memang belum terlalu kering, tapi tidak masalah karena Anna pandai memperbaiki balutan lukanya.
Berjalan menuju kelas mengabaikan orang-orang yang melihatnya, orang-orang yang melihat kearahnya pastinya heran dan aneh dengan plester yang ada di lehernya tapi mau bagaimana lagi dirinya kan memang sedang terluka.
Sampai dikelas dirinya benar-benar menjadi pusat perhatian orang-orang yang sudah berada dikelas itu.
Berjalan kikuk menuju mejanya Anna benar-benar tidak nyaman dengan kondisi saat ini.
"Anna Lo sekolah? Astaga, gimana luka Lo baik-baik aja?"tanya Melisa yang bergegas menghampiri Anna yang sudah terduduk di kursinya.
"Anna baik-baik aja kok tenang aja"kata Anna.
"Masih sakit gak?"tanya Mutia yang ikut mendekati mejanya seperti Melisa.
"Sedikit"kekeh Anna tidak bohong dan tidak berlebihan.
"Harusnya Lo masih dirumah kalo masih sakit"kata Melisa yang diangguki Mutia tidak mengerti dengan Anna yang malah pergi ke sekolah itu.
"Udah gak apa-apa Anna, omong-omong Mutia kamu deket sama Al ternyata kenalannya Al ya?"tanya Anna mengalihkan pembicaraan dan menanyakan hal lain Mutia.
Mutia yang ditanya mengangguk saja seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bisa dibilang kita bakal sodaraan? Kakaknya dia bakal nikah sama kakak gue"kata Mutia.
"Oh kak Kiara kakak kamu?"tanya Anna antusias karena mendengar fakta baru.
Mutia mengangguk saja mengiyakan.
Duk.
"Awas minggir!"bentak Michelle yang mengenyahkan Melisa dan Mutia karena mereka menghalangi jalan dirinya yang akan pergi ke kursinya.
"Apaan sih Lo? Udah minta maaf belom Lo sama Anna"kesal Melisa membalas tingkah kurang ajar Michelle itu.
Michelle yang dikatai seperti itu pun melirik kearah Anna dengan tidak minat dan jijik.
"Buat apa bego? Salah dia sendiri yang tiba-tiba muncul sok jadi pahlawan, mana pahlawan buat cewek tukang ngadu lagi, beraninya di media sosial, lawan gue dari depan sialan!"bentak Michelle pada Melisa juga Mutia.
Melisa menatap emosi Michelle yang dengan cuek dan tidak tahu dirinya berkata seperti tadi dan dengan santainya duduk dikursinya tidak merasa bersalah sama sekali.
"Dasar cewek gila!"umpat Melisa benar-benar kesal pada Michelle.
"Gue denger ya dasar j*lang!!!"balas Michelle mengumpat sangat kasar.
"Hei Michelle mulutmu dijaga!"seru guru wali kelas mereka yang masuk kedalam kelas tepat Michelle mengumpat tadi.
Tidak meminta maaf dan tidak merasa bersalah sedikitpun Michelle mengabaikan peringatan sang guru seolah makiannya tadi tidak pernah ada.
Sang guru pun menghela saja melihatnya dan berdiri didepan kelas untuk melakukan home room, karena dirinya dan guru lain memutuskan untuk mengubah susunan kursi kelas 11-3 karena insiden sebelumnya yang terjadi.
"Anak-anak kita akan mengubah kembali susunan kursi kalian, tidak keberatan kan?"tanya wali kelas yang tentu saja beragam macam ekspresi dan pendapat ada yang setuju dan ada yang tidak, namun keputusan sang wali kelas sudah bulat.
"Tidak ada penolakan, ini adalah perintah pihak sekolah dan juga kepala sekolah sendiri"kata wali kelas.
Mau tak mau mereka pun mulai mengambil undian untuk mendapatkan dimana mereka akan duduk.
Seperti dejavu Anna dan Azriel bersamaan tangan mereka masuk untuk mengambil undian dan tidak jadi karena tangan mereka yang tidak cukup itu dan Anna pun mempersilahkan Azriel dan laki-laki itu tanpa bicara dan lainnya langsung mengambil undian miliknya dan pergi kembali ke mejanya.
Semuanya telah mendapatkan undian masing-masing dan wali kelas pun menyuruh mereka untuk segera pindah sesuai dengan denah yang telah diaturnya dipapan tulis.
Anna melihat kertas undian nya dan mendapatkan nomor 14 dan itu ada di barisan kedua dari jendela dan mejanya ada di paling belakang barisan itu.
Anna hanya bisa menghela saja menerima jika dirinya akan duduk dibelakang, ingin meminta bertukar dengan temannya yang lain dipastikan tidak ada yang ingin bertukar dengannya.
"Azriel tempat kamu beneran masih disitu terus? Gak rubah-rubah?"kata wali kelas melihat Azriel yang terlihat cuek tidak memindahkan kursi dan mejanya seperti anak-anak lain.
Azriel mengangguk saja dan memperlihatkan kertas undian nya yang berisikan nomor 7 dan nomor 7 memang berada di tempatnya sekarang.
Anak-anak berseru heboh karena sepertinya Azriel memiliki sesuatu kemujuran karena lihat saja walau nomornya berbeda dari terakhir kali mereka merubah susunan tempat duduk laki-laki itu tetap pada tempatnya tidak berubah sama sekali.
Dan disebelah nomor 7 adalah nomor 14 nomornya Anna yang membuat Anna jadi duduk disampingnya Azriel.
Melihat Azriel yang sepertinya tidak bisa diganggu Anna mengurungkan niatnya untuk menyapa Azriel dan berbasa-basi karena saat ini dirinya duduk disebelah laki-laki itu.
Jika begitu adanya, Anna berpikir akan menanyakan sesuatu pada Azriel nanti saja karena laki-laki itu benar-benar terlihat tidak ingin diganggu.
***
Jam istirahat dimulai, tidak hanya Melisa saja yang mengajak Anna ke kantin tapi Mutia juga ikut bergabung.
Apalagi saat mereka mengetahui jika Mutia satu tahun lebih muda dari mereka dan juga seorang influencer yang sedang merintis karirnya Melisa benar-benar sangat bersemangat dan terlihat sudah sangat akrab dengan Mutia.
Anna jadi berpikir kemana saja Melisa tidak tahu menahu padahal gadis itu sering kali membagikan update terbaru dari anak-anak sekolah yang dirinya ketahui pada Anna, tapi ternyata latar belakang teman sekelasnya saja dirinya melewatkannya.
Sampai di kantin Anna terlihat matanya menyusuri kantin karena ingin mencari seseorang yang tadi langsung melesat pergi keluar kelas begitu bel istirahat berbunyi.
Tidak menemukan sosok itu dan hanya menemukan sosok sahabat orang itu Anna pun bergegas menuju ke suatu tempat yang dipastikan sosok yang dicarinya berada disana.
"Melisa, Mutia, Anna gak jadi ke kantin ya, kalian aja"kata Anna terburu-buru dan langsung melesat pergi sebelum Mutia dan Melisa menanyakan alasannya.
Anna berlari menaiki tangga yang menuju rooftop sekolah dan begitu dipuncak tangga dirinya membuka pintunya membuat angin menerpa tubuhnya dengan lembut, dan Anna mendapati sosok yang dicarinya disana.
"Azriel"panggil Anna pada sosok yang bersender pada pinggiran rooftop itu dan membelakanginya.
Azriel yang namanya dipanggil pun membalikkan tubuhnya dan mendapatkan sosok Anna dipintu masuk rooftop membuat dirinya bingung dan terkejut jika gadis itu akan datang menghampirinya, padahal sedari tadi dirinya menunggu gadis itu disini untuk memperhatikan si gadis yang biasanya ada ditaman samping sekolah itu tapi gadis itu malah muncul dibelakangnya.
"Leher Lo kenapa?"tanya Azriel tiba-tiba sambil ikut melangkah mendekati Anna yang juga berjalan menghampiri nya.
Anna yang mendengar pertanyaan Azriel itu mendadak terdiam menatap laki-laki dihadapannya yang sekarang serius menatap luka dilehernya.
"Leher Lo kenapa?!"tanya Azriel lagi serius dan sedikit menaikkan suaranya karena Anna tidak menjawab pertanyaannya.
Anna masih diam. Bukan nya Azriel tahu bagaimana dirinya bisa terluka, laki-laki itu bahkan sedang dalam perjalanan ke kelas bersamanya saat itu lalu kenapa laki-laki itu malah bertanya seolah laki-laki itu tidak tahu apa yang telah terjadi.
Menggeleng Anna tidak akan memikirkannya, mungkin saja Azriel sedang menanyakan kondisinya namun dirinya salah menggunakan kata-kata nya.
"Leher Anna gak apa-apa"kata Anna pada akhirnya menjawab pertanyaan Azriel.
Namun saat Azriel akan kembali bersuara karena merasa tidak puas dengan jawaban Anna, oleh Anna dipotong.
"Anna mau nanya soal jepit rambut, Azriel ini dapet dari mana?"tanya Anna sembari memperlihatkan sepasang jepit rambut yang ia bawa namun tak ia pakai pada Azriel.
Azriel yang melihat sepasang jepit rambut itu pun sangat terkejut dan mendadak gemetar.
"Dari mana Lo dapet itu?"
Lagi, pertanyaan itu membuat Anna merasa aneh dengan Azriel.
"Azriel sendiri yang ngasihin ke Anna pas minjemin handuk waktu itu"kata Anna.
Azriel merasa kepalanya nyeri, dirinya merasa tidak ada yang beres dengan kondisinya.
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa ini? Kenapa dirinya merasa melewatkan sesuatu? Tapi apa?
"Azriel mau kemana?"seru Anna yang terkejut melihat Azriel berlari pergi begitu saja meninggalkan Anna.
Pada akhirnya memang sepertinya Azriel tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang ia duga. Mungkin saja Azriel memiliki jepit yang sama tapi bukan jepit yang menjadi miliknya yang hilang saat kecil yang satunya disimpan oleh Aldres dan satunya lagi memang hilang saat dirinya mencari Sarah waktu itu, tidak ada hubungannya sama sekali dengan Azriel.
***
Azriel ingin memastikan sesuatu, sesuatu yang dikatakan oleh Anna tadi.
Dirinya berlari ke loker para siswa menuju lokernya yang ia buka dengan keras karena terburu-buru, mencari-cari sesuatu yang seharusnya ada didalam lokernya selama ini namun tidak ada.
Benda itu tidak ada dan Azriel tidak tahu bagaimana bisa benda miliknya yang paling penting untuknya itu tidak ada.
"Jepit itu? Apa benar gue udah ngasih ke Anna?"gumam Azriel tidak mengerti.
Perlahan tubuhnya meluruh dan berakhir terduduk dilantai dengan pandangan kosong.
"Tapi kapan?!"geram Azriel merasa kesal pada dirinya ini yang terasa sangat aneh.
Sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya?!