Millisanna

Millisanna
Bab 106



"Anna mau ke toilet dulu"cicit Anna kala mereka telah keluar dari restoran.


"Gue juga ikut dong"kata Mutia ikut Anna ke toilet.


Kiara dan Aldres menatap kedua gadis itu yang pergi ke toilet bersama dengan Aldres yang menjadi tempat penitipan barang dadakan.


"Apa gak wajib buat cewek kalo ke toilet harus berdua?"tanya Aldres pada Kiara.


"Jangan tanya gue, gue juga gak tau"kata Kiara cuek memainkan ponselnya.


Keduanya saling diam beberapa saat sampai Aldres kembali berbicara.


"Perempuan tadi yang nyapa kakak pasien kakak?"tanya Aldres tiba-tiba.


Namun perkataan Aldres itu membuat Kiara sepenuhnya menatap Aldres terkejut.


"Lo tau dari mana?"tanya Kiara sedikit ngeri dengan kepekaan calon adik iparnya itu.


Aldres mengedikkan bahunya. "Entahlah cuma firasat"kata Aldres santai.


"Ya dia emang pasien gue, bisa dibilang pasien prioritas gue"kata Kiara terkekeh.


"Emang dia kenapa bisa sampe jadi prioritas gitu?"tanya Aldres penasaran.


"Menjaga rahasia pasien itu kewajiban tenaga medis seperti gue, tapi untuk Lo pengecualian"cengir Kiara dan itu membuat Aldres terkekeh.


"Gue ketemu dia beberapa tahun lalu dan dia seorang mantan narapidana"kata Kiara tersenyum.


"Dia penjahat?"kaget Aldres.


"Gitulah, dia bilang dia stress banget setelah keluar dari penjara hidupnya ancur banget gitu bahkan hampir berkali-kali nyoba bunuh diri"jelas Kiara.


"Kakak tau kenapa dia bisa dipenjara?"tanya Aldres penasaran.


Mengangguk Kiara menjawabnya. "Karena menabrak orang sampai jadi lumpuh permanen dan dirinya benar-benar kesulitan untuk hidup sejak itu"kata Kiara.


"Tapi dengan dia ditangani oleh gue dia jadi baik-baik aja sekarang ya walaupun akhir-akhir ini dia sering datang lagi dengan keluhan jika orang yang ditabraknya itu sering kali memenuhi isi kepalanya dan membuatnya tidak bisa fokus dalam kegiatan sehari-hari nya"lanjut Kiara menjelaskan.


Aldres mengangguk saja mengerti walau dirinya terkejut jika perempuan tadi adalah mantan narapidana dan juga pasien Kiara yang dimana wanita itu adalah seorang psikiater yang berarti perempuan tadi sedikit rusak.


"Gue kembali"kata Mutia senang saat dirinya telah kembali dari toilet. Seorang diri.


"Mana Mili?"tanya Aldres kala tidak melihat Anna kembali bersama Mutia padahal tadi mereka berangkat bersama.


"Oh toilet penuh jadi dia nunggu giliran"kata Mutia santai.


"Nih pegang gue juga pengen ke toilet"kata Aldres memberikan belanjaan mereka ke Mutia dan pergi ke toilet.


"Kenapa gak pergi bareng aja sih tadi?"kata Mutia bingung sendiri dan Kiara hanya terkekeh saja.


"Oh iya kak, kenapa kakak sama Aldres juga bang Gio manggil Anna Mili?"tanya Mutia karena bingung mendengar panggilan asing untuk teman sekelasnya itu dari orang-orang terdekatnya.


"Gue sih ikut-ikut Gio sama Aldres aja soalnya Gio sering cerita tentang Mili, kalo Mili itu anak kecil yang dulu ditolong orangtuanya Gio, dan Gio jadi jaksa hebat sekarang karena Mili juga, dia bilang dia gak mau dimasa depan ada korban seperti Mili kecil untuk kedua kalinya"kata Kiara panjang.


"Emang dulu Anna kenapa?"tanya Mutia.


"Dari cerita Gio sih, Mili dulu anak korban pelecehan dari oknum-oknum aparat negara"bisik Kiara karena tidak mau ada yang mendengarnya.


Kiara mengangguk saja karena Gio memilih menjadi jaksa karena dirinya muak melihat orang-orang yang memiliki kuasa akan selalu menang walaupun mereka salah.


***


Anna mencuci tangannya setelah dari toilet, sendirian didalam toilet didepan wastafel mencuci tangannya.


Anna terjengit kecil kala merasakan dingin dan juga perih dibagian lehernya dan seperti yang ia duga bisa ia lihat sosok wanita yang sama yang menyerang rumah Azriel kapan hari ada disampingnya mengancamnya dengan pisau kecil yang sedikit menusuk lehernya dan mengalirkan aliran kecil darah dari situ.


"Kau sejak dulu selalu saja merusak segalanya ya"kata wanita serba hitam itu.


Anna mengernyit bingung kala wanita itu seolah sudah mengenalnya sejak dulu, padahal Anna tidak kenal wanita itu. Walau begitu Anna yang tidak kenal itu mencoba mendapatkan informasi agar dirinya bisa melaporkan wanita gila ini pada pihak berwajib.


"Siapa memangnya kau? Sepertinya aku tidak ingat"kata Anna mencoba santai dan sedikit memprovokasi.


Wanita itu terdengar terkekeh dibalik masker hitamnya. "Masih sama seperti dulu, sok jagoan dan sok berani sekali"


Anna semakin mengernyit bingung dan mencoba mengingat-ingat tentang wanita ini karena mungkin saja dirinya sedikit ingat tapi nihil dirinya merasa ini kedua kalinya ia bertemu dengan wanita itu setelah pertemuan pertama mereka dirumah Azriel.


"Peringatan terakhir dari gue, jauhi Alfha dan gue akan berbaik hati untuk tidak membunuh Lo"ancam wanita itu.


Anna mematung ditempatnya. Nama itu, nama yang begitu akrab namun sangat samar karena dirinya tidak bisa mengingat bagaimana rupa sosok yang bernama Alfha itu.


Tapi nama itu begitu membuatnya merasakan perasaan aneh dan dirinya tidak tahu kenapa dirinya bahkan mulai menitikkan air mata.


Anna menatap wajahnya yang terlihat bingung namun kedua matanya mengalirkan segaris air mata yang tidak mau berhenti.


Si wanita yang melihat reaksi yang diberikan Anna membuatnya mendengus dan mendorong Anna sampai terjatuh ke lantai toilet dan berlalu pergi keluar dari toilet karena itu bertepatan dengan seorang wanita yang keluar dari bilik toilet.


"Hei lo oke?! Leher Lo berdarah!"kata wanita itu khawatir melihat kondisi Anna yang lehernya berdarah dan terlihat berantakan bingung itu.


"Hei Lo harus lapor ke polisi soal orang tadi"saran wanita itu pada Anna karena sedikit dirinya tadi melihat sosok tadi.


"Mili!!"


Wanita itu berbalik dan melihat ada seorang laki-laki dengan seragam SMA yang sepertinya teman si gadis ini.


"Lo temennya? Ini temen Lo tadi diserang sama orang aneh serba hitam"kata wanita itu menjelaskan situasinya pada Aldres yang langsung menghampiri Anna dan menutup luka dileher Anna dengan lengan jaketnya.


"Diserang orang serba hitam?!"kaget Aldres karena tadi dirinya sempat melihat sosok yang dimaksud karena melewatinya tadi.


"Sialan"desis Aldres merasa kesal karena jika saja dirinya tahu dirinya akan menangkap orang itu.


"Bawa pulang aja temennya, sekalian obatin lukanya"saran wanita itu.


"Ya mbak, makasih"kata Aldres berterimakasih.


"Hiks.. Alfha.."


Aldres terkejut kala Anna yang semakin menangis dan bahkan gadis itu menggumamkan nama yang tidak terduga.


Menggeleng mencoba meredam emosinya, soal nama rivalnya yang digumamkan Anna tadi akan ia abaikan karena prioritas nya adalah menolong Anna.


"Mili ayo pulang, obatin lukanya"kata Aldres mengajak Anna pulang.