Millisanna

Millisanna
Bab 61



Besoknya Azriel diantar ke sekolah oleh pak Tono suaminya mbak Mirna, karena kejadian semalam dan orangtuanya sudah tahu jika dirinya hampir kecelakaan saat berkendara sendiri membuatnya mau tak mau harus menerima jika dirinya akan selalu diantar jemput sampai kondisinya kembali normal.


Mobil berhenti didepan gerbang sekolah membuat Azriel mengambil tasnya disamping bersiap turun.


"Makasih pak Tono"kata Azriel hendak membuka pintu disampingnya namun pak Tono menginterupsinya.


"Nanti pulang saya jemput ya den, aden harus ketemu dokter Dinda"kata pak Tono memberitahu apa yang diamanatkan oleh tuan besar padanya.


Azriel mengangguk dengan patuh membuka pintu mobil dan keluar dari mobil. Berdiri sebentar memakai tas ranselnya dengan benar seraya menghela nafas Azriel pun melangkah memasuki area sekolah.


***


"Sebelum memulai kelas, ibu ingin memberi selamat pada Azriel karena lagi-lagi menjadi juara utama di olimpiade dan juga menyabet seluruh penghargaan yang ada, semuanya tanpa terkecuali"kata Bu Erna disana sangat bangga dan anak-anak yang lain pun berseru dan bertepuk tangan meriah iktu bangga karena mereka berada dikelas yang sama dengan si jenius Azriel.


Azriel yang disoraki meriah itu hanya mengangguk datar karena sudah biasa.


Anna sendiri menatap Azriel kagum sekaligus iri, benar-benar sangat iri, disaat dirinya mendapati kegagalan laki-laki itu dengan mudahnya mendapat peringkat tertinggi yang sangat sempurna.


Azriel memang berada di level yang berbeda.


"Untuk Michelle jangan berkecil hati, ini pengalaman pertamamu jadikan motivasi untuk kedepannya karena siapa tau di olimpiade selanjutnya pasangan emas olimpiade SMA Arya kembali lagi"kata Bu Erna pada Michelle.


Michelle mengangguk saja tersenyum berterimakasih.


"Iya Michelle gak apa-apa, masih ada kesempatan lain"tambah temannya menyemangati dan membuat yang lain pun mulai menyemangati Michelle.


Melisa yang berada di mejanya mendengus sebal melihat tingkah teman-teman sekelasnya. Reaksi mereka benar-benar berbeda antara Anna dan Michelle.


Michelle gagal disemangati, Anna mendapat juara dua dan orang yang menjadikan nyata pasangan emas olimpiade SMA Arya malah direndahkan sebagai loser nomor dua.


Melisa rasanya ingin mencongkel dan mencuci seluruh otak milik murid-murid disini agar mereka tidak kentara sekali begonya.


"Baiklah kita mulai pembelajaran hari ini"kata Bu Erna memulai pelajarannya.


***


Anna membereskan barang-barangnya karena jam istirahat berbunyi, dirinya akan pergi untuk bertemu Bisma, seniornya itu benar-benar membantunya dalam seluruh urusan persiapan pertandingan yang akan datang.


"Anna kantin yuk"ajak Melisa karena Melisa pun telah selesai dengan perlombaan melukisnya dan sayang sekali dirinya hanya mendapatkan juara harapan.


Anna menggeleng tersenyum merasa tak enak menolak ajakan Melisa karena dirinya sudah ada janji dengan Bisma.


"Maaf Melisa Anna gak bisa, Anna mau ketemu kak Bisma, kak Bisma ngebantuin Anna biar bisa turun bertanding nanti"kata Anna.


Melisa jadi teringat Anna ini sejak awal memang mengikuti ekskul bela diri namun tak pernah berkesempatan turun bertanding entah karena apa namun melihat keseriusan Anna untuk turun kali ini mungkin temannya itu memang akan turun.


"Kalo gitu gue ikut dong"kata Melisa semangat.


Anna terkejut mendengarnya. "Tapi kata kak Bisma kita cuma mau ngomongin soal siasat siasat untuk meraih kemenangan"kata Anna ragu karena takutnya Melisa jadi bosan.


Melisa tertawa mendengar pemilihan kata Anna itu. "Cielah siasat, udahlah gue ikut, gue juga penasaran sama siasat siasat yang mau diobrolin kalian"kekeh Melisa.


Anna jadi malu sendiri namun mengangguk saja membiarkan Melisa ikut bersamanya.


Anna dan Melisa berjalan menuju salah satu lapangan basket indoor yang Bisma bilang akan menjadi tempat mereka berbicara.


Membuka pintu gedung yang ternyata agak ramai dengan siswa-siswa yang sedang bermain basket dan ada juga yang duduk disana.


"Ini tempat biasa tim basket latihan ya?"tanya Melisa.


Anna mengangguk saja karena memang biasanya tim basket latihan disini dan ekskul bela diri latihan di gymnasium utama yang sering digunakan saat ada pertandingan persahabatan entah tim basket atau voli.


Anna dan Melisa dengan ragu masuk kedalam dan langsung saja nama Anna terdengar menggelegar digedung tersebut karena ulah Bisma disana yang memanggil Anna.


"Anna oy!! Disini kiw kiw!!"teriak Bisma kelewat semangat dan malah terlihat seperti memanggil burung merpati.


"Goblok dia orang bukan merpati"balas salah satu siswa yang sepertinya juga senior yang sedang bermain basket disana membuat anak-anak disana tertawa karenanya.


Anna dan Melisa berjalan malu menghampiri Bisma yang duduk-duduk dipinggiran gedung bersama sahabatnya Rio.


"Melisa kak temen sekelas Anna"kata Anna memperkenalkan Melisa pada Bisma dan Rio.


"Hallo"sapa Melisa malu tak menyangka Anna yang dirinya kira kuuleun nyatanya memiliki kenalan kakak kelas.


"Halo halo, santai aja gue gak ngapa-ngapain Lo, tapi gak tau kalo dia"kata Bisma santai menunjuk Rio disebelahnya yang langsung memberikan pukulan sayang pada Bisma yang suaranya sangat renyah.


Bletak.


"Kalo ngomong yang bener sialan"kesal Rio.


Bisma tertawa saja menikmati kekesalan Rio lantas menyuruh Anna untuk duduk disampingnya dan berakhir kedua cewek itu duduk diantara Bisma dan Rio.


Bisma serius memberikan saran dan masukan mengenai pertandingan pada Anna dan Rio sendiri membuka camilannya dan menawari Melisa yang diterima dengan senang oleh gadis itu membuat mereka memakan camilan bersama sambil menonton permainan anak-anak yang sedang bermain basket.


***


Anna merasa gugup karena hari ini sepulang sekolah adalah pertandingan untuk penentuan siapa yang akan turun di pertandingan yang akan datang nanti.


Anna gugup bukan main karena dirinya selalu kalah tipis berbeda satu poin disetiap latihan pertandingan membuatnya pesimis jika dirinya akan kembali gagal karena kalah satu poin dari lawan.


Tak.


Anna meringis saat seseorang memukul puncak kepalanya yang ternyata adalah Bisma pelakunya.


"Pikiran negatif dilarang, Lo harus fokus"kata Bisma mengingatkan.


Anna cemberut mendengarnya, ingin fokus namun sulit dirinya terlalu takut akan kembali gagal.


"Adududuh aw!"ringis Anna saat pipi kirinya ditarik oleh Bisma.


"Liat gue, gue berpikir positif percaya akan usaha gue dan gue bakal menang"kata Bisma melangkah memasuki gelanggang karena gilirannya.


Anna memperhatikan Bisma disana sembari mengusap-usap pipi kirinya yang berdenyut nyeri karena ulah Bisma itu.


Namun Anna benar-benar dibuat terpana, seniornya itu benar-benar melakukannya dengan sangat baik disana, dirinya menang telak dengan mudah membuat Anna merasa minder sendiri.


Kak Bisma kan emang Ace ya pasti menang mudah, lah Anna– stop!! Berpikir positif Anna, positif!!


Kau pasti bisa, usahamu tidak akan mengkhianati, kau akan turun di pertandingan nanti memenangkan penghargaan dan membuat mama bangga, batin Anna bertekad.


Iya dirinya harus positif agar dirinya berhasil membuat sang ibu bangga.


Berdiri saat namanya disebut untuk bertanding berikutnya Anna siap untuk membuat ibunya bangga.


Bisma yang melihat kesungguhan Anna dari pinggir gelanggang dibuat tersenyum merasa senang jika dirinya berhasil dalam membantu Anna.


***


Azriel berjalan dilorong rumah sakit bersama pak Tono juga Milan, tadi sahabatnya itu memaksa untuk ikut padahal sudah dilarang oleh Azriel namun sahabatnya itu bebal dan mengikuti mobil pak Tono dari belakang.


"Lo pulang aja sana"kata Azriel merasa tak nyaman dengan keberadaan sahabatnya itu disaat dirinya sedang seperti ini.


Milan mendengus mendengarnya. "Heh kunyuk pas dulu siapa yang gak mau pergi sebelum gue ikut hah? Sekarang Lo mau ngusir gue gitu? Jangan munafik deh Lo sebenarnya bahagia banget kan gue ikut"kekeh Milan menyindir Azriel.


"Dulu sama sekarang beda bego, gue udah gede sialan"kata Azriel tak mau kalah.


"Yaelah gedean mana punya gue sama Lo hah? Coba sini ukur!"kata Milan hendak mengukur milik Azriel yang tentu saja membuat Azriel sontak menghindar dan menatap ngeri sahabat nya itu.


"B**sat Milan!"teriak Azriel menatap tajam Milan.


Milan tertawa saja melihatnya. "Gak boleh berkata kasar Jiel"kekeh Milan semakin tertawa terbahak mengingat reaksi Azriel.


Pak Tono yang memperhatikan hanya dibuat terkekeh oleh tingkah kedua remaja laki-laki yang berjalan didepannya itu, dirinya jadi rindu dengan masa-masa remajanya.


Dan tak hanya pak Tono saja yang memperhatikan tingkah kedua remaja laki-laki itu karena ada satu sosok disana yang memperhatikan dengan senyuman sangat lebar dengan mata tajamnya fokus melihat Azriel.


"Akhirnya aku bertemu denganmu pujaan hatiku"