
Anna berlari cepat keluar rumah yang menjadi tempatnya disekap. Dirinya harus cepat mencari pertolongan, Azriel mengandalkannya dan Anna tidak akan melakukan kesalahan lagi seperti dimasa lalu.
Dirinya benar-benar akan mendapatkan pertolongan agar bisa menyelamatkan Azriel.
Berlari keluar rumah Anna sedikit tersentak terkejut melihat dua mayat yang terlihat mengerikan, satu mayat terlihat terbelah dua dengan sangat rapi dan satu mayat lainnya dalam keadaan penuh lubang dan hancur membuat Anna mual.
Mengabaikan dan mencoba memberanikan diri Anna pun melewati kedua mayat itu begitu saja, dirinya harus lari, dan dengan segera menolong Azriel.
Mengabaikan luka-luka nya yang menjerit kesakitan apalagi kedua kakinya yang luka itu dibawa olehnya berlari membuat Anna merasa setiap berlari sembari menginjak pecahan kaca dan lainnya yang membuat kakinya nyeri.
Tidak masalah, semua luka yang dideritanya tidak ada apa-apanya dengan keselamatan Azriel. Maka dari itu entah sudah berapa kali dirinya terjerembab, Anna akan kembali bangkit berlari dan mendapatkan bantuan.
"Tunggu aja, Anna pasti bisa nyelametin Azriel kali ini, Anna janji"kata Anna bersungguh-sungguh akan menemukan bantuan.
***
Azriel menghela nafas lega melihat Anna yang telah pergi itu, dirinya berharap gadis itu berhasil pulang dengan selamat.
Tidak perlu lagi mempedulikannya lagi karena dirinya sudah tidak perlu dipedulikan, apalagi perlu diselamatkan, dirinya meminta untuk Anna menyelamatkan nya hanya untuk sebuah alasan agar Anna mau pergi dari sini karena jika dirinya mengatakan yang sejujurnya gadis itu pasti tidak akan mau pergi.
Menatap wanita gila itu yang berdiri bersender diambang pintu terlihat tersenyum padanya membuat Azriel mengernyit tidak suka.
"Sebaiknya Lo pegang janji Lo karena gue udah menurutimu, Lo dapet gue sekarang"kata Azriel seraya bangkit berdiri menatap datar wanita itu.
Wanita itu terkekeh mendengarnya lantas mengangguk mengiyakan perkataan Azriel seraya melangkah menghampiri Azriel.
"Kau benar, aku sudah mendapatkan mu pangeranku"kata wanita itu membelai wajah Azriel membuat Azriel merinding ketakutan sontak mengenyahkan tangan itu dari wajahnya dan mundur menjaga jarak.
Wanita itu tertawa terkekeh melihat reaksi yang diberikan Azriel itu. "Tapi tentu saja aku harus memastikan tidak akan ada orang lain yang mengganggu kita nantinya"kata wanita itu menyeringai.
"Apa maksudmu?"tanya Azriel merasa akan datang sesuatu yang mengerikan kala melihat tatapan mata wanita itu.
Wanita itu tersenyum menyeramkan. "Aku akan membunuh cewek sialan tadi"kata wanita itu serius.
Azriel terkejut bukan main. Perjanjiannya tidak seperti itu, karena diperjanjian diantara kedua nya adalah Azriel akan menjadi milik wanita itu sepenuhnya dan balasannya adalah wanita itu melepaskan Anna dan jangan mengganggu orang-orang terdekatnya.
Azriel menggeram marah. "Ini tidak ada dalam perjanjian sialan! Kau– ugh!"
Jleb. Bruk.
Azriel ambruk diatas lantai kotor itu meringis seraya memegangi perutnya yang ditusuk oleh wanita gila itu.
Klang.
Wanita itu melempar asal pisau yang berlumuran darah Azriel itu, berjongkok menatap Azriel tersenyum.
"Cewek sialan itu pengecualian sayang, karena sepertinya kau menyukainya? Kau tidak boleh menyukainya, kau hanya boleh menyukai ku, maka agar kau fokus pada ku aku akan menghabisinya"kata wanita itu santai seraya mengusap-usap puncak kepala Azriel yang senantiasa meringis kesakitan dengan keringat dingin yang mulai keluar banyak.
"Aku akan pergi untuk menghabisi pengganggu, jangan sampai mati hm, karena aku akan sedih"kekeh wanita itu bangkit dan melangkah pergi kelua ruangan itu seraya menutup pintu dan menguncinya mengurung Azriel didalamnya.
Ceklek.
Azriel menggeram kesal. Dirinya benci pada dirinya sendiri yang berpikir wanita gila itu akan memegang janjinya dengan melepaskan Anna.
Betapa bodohnya dirinya percaya pada perkataan wanita gila psikopat itu. Apa yang ia harapkan dari seorang penguntit gila seperti wanita itu?
Maka dari itu Azriel memaksa tubuhnya untuk berdiri dan memaksakan dirinya untuk melangkah meraih handle pintu dan bertumpu padanya karena untuk berjalan mencapai pintu saja rasanya ia hampir mati.
Mengabaikan luka tusukannya yang terbuka dengan darah yang senantiasa mengalir disana Azriel akan menyelamatkan Anna.
Brak. Brak.
Dengan mengumpulkan tenaganya ia mencoba untuk mendobrak pintu tersebut. Berkali-kali ia mencobanya sampai di percobaan keempatnya pintu pun lepas dari engselnya.
Azriel terjatuh kala pintu itu lepas. Tidak membuang-buang waktu untuk beristirahat Azriel kembali berdiri dan mulai berlari untuk menyelamatkan Anna.
Dirinya harus bergegas karena wanita gila itu mengejar Anna dengan sebuah mobil.
***
Sraak. Hap. Bruk.
Anna berhasil keluar dari hutan dengan melompat dan ia sampai dijalanan sepi dengan nafas tersengal-sengal.
Melihat kekanan dan kekiri tak ada tanda-tanda kendaraan yang akan datang atau lewat. Dan dirinya tidak tahu harus mengambil arah mana untuk pergi.
"Hah.. hah.. harus kemana?"gumam Anna merasa bingung tidak tahu harus pergi kearah mana.
Brum bruumm.
Anna tersenyum senang kala mendengar suara kendaraan dari arah kanannya dirinya pun bergegas berlari kearah kanan untuk meminta bantuan dari orang yang berkendara itu.
"Tolong! Tolong!"teriak Anna sembari melambaikan kedua tangannya penuh harap pada si pengendara yang melajukan mobilnya sangat cepat itu agar mau membantunya.
Lambaian tangan Anna perlahan menurun dan teriakan minta tolongnya dengan perlahan pun menjadi hilang karena Anna terdiam.
Menyipitkan penglihatannya karena lampu depan yang menyilaukannya Anna memeriksa si pengendara itu.
Melotot tak percaya kala melihat si pengendara nyatanya adalah wanita gila itu yang terlihat menyeringai dan semakin menambah kecepatan mobil yang sedang dikendarainya itu.
Anna pun sontak berbalik dan berlari kabur dari wanita itu yang sepertinya ingin membunuhnya dengan menabrak dirinya dengan mobil.
"Sial! Kenapa harus kayak gini?!"kesal Anna disela larinya yang sangat cepat, Anna menangis merutuki nasibnya ini, jika seperti ini dirinya tidak akan berhasil menyelamatkan Azriel, kejadian di masa lalu akan terulang karena Anna tidak berguna.
Semakin mempercepat larinya Anna harus hidup, dirinya harus selamat agar bisa menyelamatkan Azriel.
Maka dari itu dirinya harus berlari sekencang mungkin dan kabur dari wanita gila itu.
Melihat kesekitar dirinya tidak bisa pergi kemana-mana kecuali berlari lurus mengikuti jalanan yang hanya cukup untuk satu kendaraan itu.
Dikirinya dipenuhi tebing yang cukup tinggi membuat Anna ragu karena melihat tebing itu tidak bisa ia panjat dan disepanjang jalan bagian kanannya hanya ada jurang membuat Anna benar-benar kekurangan pilihan dan hanya memiliki satu pilihan yaitu berlari sekencang mungkin dan berharap menemukan pertigaan dengan segera.
Bruumm brummm.
Mobil itu semakin dekat akan segera mencapainya membuat Anna mulai kehilangan harapan nya untuk selamat.
Dirinya tidak akan selamat, dirinya akan mati ditabrak dan dirinya pada akhirnya tidak akan bisa menyelamatkan Azriel.
Jika Anna mati disini, Anna berharap ada seseorang yang akan menolong Azriel nantinya, karena laki-laki itu sudah sangat baik menolongnya, walau pada akhirnya Anna tetap mati membuat Anna merasa bersalah pada Azriel karena usaha laki-laki itu telah ia sia-siakan.
Maaf Azriel, sepertinya Anna emang gak berguna, kamu udah susah payah bantuin Anna kabur, tapi Anna malah mati kayak gini, kekeh Anna dalam batinnya.
Anna menggigit bibirnya kuat, dirinya sudah tidak kuat berlari dan kakinya sudah mati rasa sejak tadi.
Dirinya akan mati sekarang.
Sraak.
Dalam penglihatannya semuanya terlihat sangat lambat.
Bagiamana Azriel tiba-tiba muncul mendorong Anna kuat dan membiarkan tubuhnya sendiri tertabrak mobil yang melaju kencang itu.
Dan Anna tidak tahu apa yang dikatakan Azriel sebelum langit malam menjadi sesuatu yang ia lihat dan Anna rasakan tubuhnya terjun dan kemudian semuanya gelap.
Brakkk.