Millisanna

Millisanna
Bab 21



Aryan, ayah Azriel sudah lebih dari 10 menit berjalan kesana kemari didalam ruang kerjanya dengan ponselnya dalam genggaman.


Pintu diketuk dan memperlihatkan sang istri dengan wajah cerah tapi wajah cerah istrinya tergantikan dengan pandangan bingung melihat sang suami terlihat khawatir membuatnya ikut khawatir.


"Ada apa?"tanya Andari menghampiri sang suami mengusap sayang bahu sang terkasih agar tenang.


Aryan menatap sang istri dengan bimbang kentara sekali terlihat gusar tapi seulas senyum ia berikan pada sang istri seraya mengusap puncak kepala sang istri mengatakan kalau ia baik-baik saja.


Menggeleng Aryan menjawab pertanyaan sang istri. "Ada sedikit masalah di kantor, tapi sudah diatasi"kata Aryan tenang.


Andari mengangguk mempercayai perkataan Aryan karena memang sebelumnya juga perusahaan Aryan sedikit ada masalah seperti para investor yang tiba-tiba bergabung padahal perusahaan Aryan sedang tidak ada proyek atau melakukan pemasaran yang menarik untuk para investor.


Andari tersenyum. "Kalau begitu kau ikut ke sekolah besok? Mengambil rapot Jiel"kata Andari cerah.


Aryan tersenyum terlihat tak enak seraya menggeleng membuat Andari menatap kecewa.


Aryan melingkarkan kedua tangannya dipinggang Andari membuat Andari menempel padanya, menatap Andari menenangkan.


"Maaf tapi aku ada urusan dikantor besok, kau sendiri saja hm?"pinta Aryan.


Andari mencebik kesal. Kalau begitu besok bisa-bisa ia diserang sendiri oleh orang-orang penjilat itu.


"Tapi bagaimana dengan 'orang-orang' itu? Aku malas meladeni mereka"keluh Andari memilin salah satu kancing piyama yang dipakai Aryan, merajuk.


Aryan terkekeh melihat nya, membawa sang istri dalam pelukan karena gemas.


"Kamu kan istrinya Aryan, Nyonya Aryan harus keren dong"yakin Aryan.


"Harus swag?"tanya Andari dengan mata belo nya membuat Aryan gemas sendiri.


Keduanya sudah tak cocok lagi untuk berpacaran seperti anak SMA karena umur, tapi melihat Andari yang tak ada perubahan sejak mereka bertemu awal SMA membuatnya selalu ingin mengajak Andari keluar kencan setiap malam Minggu.


Aryan mengangguk gemas menciumi wajah sang istri dengan gemas, dahi pipi dan bibir lalu keduanya tertawa bersama.


Tanpa mengungkapkan sesuatu yang membuat sang kepala keluarga yang resah karena mendapat kabar yang tak mengenakkan.


***


Azriel dan Anna masih terus berjalan di hutan gelap, masih belum menemukan jalan untuk kembali ke area perkemahan, sejauh mata memandang hanya gelap yang mereka dapat membuat keduanya kesusahan.


Azriel sesekali melirik Anna yang ditariknya terlihat kelelahan membuatnya berpikir untuk beristirahat.


Anna menatap Azriel yang tiba-tiba melepaskan pegangannya dan berdiri mematung melihat kearahnya.


"Kenapa?"tanya Anna.


"Cape?"tanya balik Azriel.


Anna berkedip. Lelah pasti tapi ia sedang ingin cepat-cepat keluar dari hutan gelap ini kembali ke area kemah dan tidur didalam tenda, lantas menggeleng untuk mengatakan bahwa ia tak lelah.


Azriel diam saja, tapi kemudian satu tangannya terulur untuk menyentuh luka yang melintang disamping leher Anna yang mengering yang sepertinya terlewat oleh gadis itu.


Anna meringis kecil saat tangan Azriel menyentuh lehernya, sepertinya disana ada luka yang tak ia sadari.


Jika diperhatikan lagi penampilan Anna seperti seseorang yang habis terjatuh dari jurang. Pakaiannya banyak yang sobek juga kotor, banyak luka sayatan dan goresan tak teratur, juga sepertinya beberapa diarea tubuhnya yang lain yang tak terlihat memiliki banyak memar yang sudah menjadi ungu.


"Lo kenapa bisa jatuh ke jurang?"tanya Azriel menarik kembali tangannya yang tadi terulur menatap Anna intens.


Azriel berpikir Anna seperti ini adalah kelakuan kurang ajar Vannesa cs yang lain selain meninggalkan Anna dan membiarkannya tersesat.


"Ulah Vanessa?"tanya Azriel lagi.


Anna diam. Vanessa cs memang biang keroknya. Jika saja mereka tak membuatnya tersesat mungkin saja Anna tak akan bertemu dengan cewek psiko seperti Inggrid, tapi karena Vanessa cs juga ia bisa menemukan Melisa yang sedang gawat saat itu.


Lantas Anna hanya diam menatap balik Azriel tanpa mengiyakan atau membantah pertanyaan pria itu.


Azriel menghela melihat Anna yang hanya diam dan malah membalas menatapnya, jika sudah seperti itu Anna dipastikan tak akan mengatakan apapun.


Seperti dulu, saat Anna dituduh tentang gelas ukur yang hilang dari lab kimia yang harganya cukup mahal karena ulahnya, Anna hanya diam balas menatap guru tersebut saat itu-karena merasa tak bersalah- yang berakhir dengan Anna yang dihukum membersihkan lab bekas praktek kelas mereka dan kelas Vanessa yang saat itu digabung sendirian dan juga suruh mengganti gelas ukur yang hilang saat itu.


Padahal saat itu adalah kelakuan Vanessa cs yang sengaja menyembunyikan gelas ukur tersebut dan menuduh Anna yang mencurinya yang saat itu Vanessa kesal karena Anna bisa naik ke boncengan motor Azriel dimana Vanessa atau cewek lain tak pernah diperbolehkan oleh Azriel.


"Istirahat dulu aja"putus Azriel mendekati sebuah pohon besar yang sedikit diterangi cahaya bulan.


Anna mengikuti saja karena rasanya lelah mulai menghampirinya, bahkan jalan pun sampai tersandung kakinya sendiri sampai terjatuh.


Azriel berbalik membantu Anna untuk kembali berdiri dan mendudukkan Anna bersender pada batang pohon besar tersebut.


Saling tatap dengan Anna yang kalah karena pertama yang mengalihkan pandangannya. Sedangkan Azriel yang berjongkok dihadapan gadis itu mematai seluruh tubuh Anna yang gemetaran, sepertinya tubuh gadis itu sudah diambang batas.


"Istirahat aja disini sampai pagi, Lo nya udah gak kuat"kata Azriel serius.


Anna menyutujui karena rasanya ia memang sudah diambang batas.


Azriel berdiri menatap sekitar waspada karena sepertinya mereka sudah benar-benar jauh masuk kedalam hutan yang sebenarnya dilarang oleh para pembina kemah dan beberapa warga desa yang sempat mengunjungi mereka saat pertama kali sampai mengenai beberapa larangan tentang hutan lindung ini yang bersebelahan dengan hutan yang belum terjamah sama sekali.


Sing krak!! Grrr!!


Azriel merapatkan tubuh pada Anna yang tiba-tiba berdiri karena suara barusan. Keduanya merapat pada batang pohon dengan waspada melihat kearah sekitar.


"Apa itu?"tanya Anna takut-takut.


'Ngikk ngikk auukkk'


Azriel mengernyit mendengar suara yang sangat dekat dengan mereka. Seperti suara sesuatu yang sedang kesakitan.


Dengan sedikit keberanian Azriel berjalan menuju suara itu diikuti Anna yang takut-takut dibelakang.


Dibalik semak tak jauh dari tempat mereka tadi Azriel dan Anna terkejut melihat harimau muda yang kaki kiri belakangnya terkena jebakan yang membuat kakinya itu terluka dan mengeluarkan darah kesakitan.


"Ada harimau disini?"tanya Anna takut dan bingung.


Bukannya tempat kemah mereka itu hutan streril yang sering dipakai berkemah tanpa ada hewan buas yang berkeliaran, tapi sekarang Anna melihat langsung salah satu hewan buas yang dalam bayangannya tentang hutan.


Anna kembali ke dunia dari khayalannya karena terkejut melihat Azriel yang sudah dekat dengan harimau muda itu yang terlihat waspada pada Azriel yang mendekatinya.


"Kamu mau apa?"tanya Anna refleks karena melihat perilaku Azriel yang membuatnya berpikiran yang tidak-tidak, seperti Azriel yang mencoba untuk melepaskan jebakan dari kaki si harimau muda.


Benar. Azriel mendekat hati-hati memberikan aura aman dan tenang untuk tak membuat harimau muda itu ketakutan dan malah menyerangnya karena bentuk perlindungan diri.


"Gak apa, tenang cuma mau nolong"kata Azriel tenang dengan tangan terulur pada jebakan yang menjerat melukai kaki harimau muda.


Klak.


Harimau muda itu lepas berlari menjaga jarak pada kedua manusia yang menyelamatkannya. Berhenti disana menatap kedua manusia disana seolah berterimakasih kepada mereka lalu berlari hilang dibalik semak.


Anna menatap Azriel kagum. Pria itu benar-benar pemberani dan luar biasa.


"Pemburu ilegal"celetuk Azriel membuat pandangan kagum Anna berhenti dan menatap Azriel tak mengerti.


Azriel menunjuk jebakan lain dibalik semak lain dan jika diperhatikan ada banyak disekitar mereka jebakan seperti itu.


"Tapi kan ini hutan lindung"kata Anna tak mengerti.


Azriel mengedikkan bahu. "Mau hutan lindung atau apalah orang jahat selalu ada, apalagi gak ada yang jaga"


Anna mengangguk mengerti.


Hendak menghampiri Azriel yang didepan sana membelakanginya tapi tak bisa karena seseorang membekapnya hendak melawan dan berteriak tapi ia merasakan dingin dan perih dilehernya dan sesuatu mengalir dilehernya.


"Cari tempat lain, disini bisa-bisa kita yang ditangkap pemburu"kata Azriel berbalik dan terdiam melotot melihat Anna disana.


"Anna!!"


Bugh bruk!


"Hffmmh!!!!"berontak Anna seketika saat melihat Azriel disana mengabaikan lehernya yang semakin luka.


Azriel meringis merasakan sesuatu yang lengket mengalir dari kepalanya dan seseorang menginjak punggungnya menahannya untuk tetap berada ditanah.


"Ckckck bocah kayak kalian beraninya melepaskan buruan yang ketangkep"decak seseorang yang sedang menginjak Azriel.


Beberapa pria yang diyakini Azriel sebagai pemburu ilegal berkumpul disekitar mereka. Kurang lebih ada lima orang dengan senjata api dan lainnya yang sepertinya digunakan untuk berburu.


Satu menahan Anna dan satu lagi yang sepertinya pemimpin dari yang lainnya yang sedang menginjak Azriel adalah ketuanya.


"Bosen hidup hah?"tanya si ketua pada Azriel yang berjongkok membuat tekanan kaki pada punggung Azriel semakin kuat dan ditambah jambakan pada rambut Azriel yang basah karena darah dari luka pelipis yang tadi ia hantam dengan besi yang selalu ia bawa untuk berburu untuk mendongak menatapnya.


Anna benar-benar kalap, terus berontak tak tahan melihat Azriel yang dibegitukan. Anna harus menyelamatkan Azriel.


Si ketua pemburu itu berkedip sekali saat menyadari sesuatu saat melihat wajah dari bocah SMA yang berani melepaskan buruannya.


"Ah Lo itu anak pengusaha sultan kaya raya itu kan? Gue sering liat bokap lo di tv, siapa sih?"tanya sang ketua pada anak buahnya.


"Herion corp bos. Dia anaknya CEO yang hampir masukin kita ke penjara"jawab salah satu diantara ketiga bawahannya.


"Nah iya! Si sultan tukang ikut campur itu"geram si ketua semakin keras menjenggut rambut Azriel yang semakin kesakitan diambang kesadarannya karena luka di pelipis.


Bugh bugh!


Si ketua berbalik lantas terkekeh saat melihat bocah SMA lain yang ternyata seorang gadis lepas dari sekapan salah satu rekannya dan sedang mencoba untuk melawan.


"Sepertinya teman Lo itu cukup mahir berkelahi"kekeh si ketua saat melihat keempat rekannya kesulitan melawan gadis itu tanpa membunuhnya karena jika mereka menggunakan senapan yang senantiasa ada pada tubuh mereka bisa dipastikan gadis itu akan langsung tiada.


Anna mengerahkan seluruh kemampuan bela dirinya. Mengabaikan dirinya yang terkena serangan balik dari keempat lawannya. Anna dan Azriel harus bisa kabur dari lima pria jahat itu bagaimana pun caranya.


Bugh bugh.


"Argh!!" Azriel memekik kesakitan saat dengan tak berperasaannya si ketua pemburu ilegal itu menusuk lengannya dengan pisau yang sampai tembus menancap ke tanah.


Teriakan kesakitan Azriel memecah konsentrasi Anna membuatnya lengah dan karenanya Anna mendapatkan sebuah suntikan bius membuatnya lemas dan terjatuh tak sadarkan diri seketika.


"Anna"lirih Azriel sebelum kesadarannya menghilang karena bius dari pisau dilengannya.


"Hah kita dapat buruan yang lebih baik"kekeh si ketua pemburu ilegal itu dengan mudah menarik pisau yang berlumuran darah Azriel.


Terkekeh melihat senang kedua bocah SMA buruannya. "Hentikan pendarahannya, kita harus buat sebagus mungkin kondisinya untuk harga yang semakin tinggi"perintah sang ketua pada anak buahnya untuk mengurus Azriel.


"Terus cewek ini?"tanya salah satu bawahannya dengan menendang tubuh Anna yang tak sadarkan diri dengan kesal karena mendapatkan beberapa pukulan dan tendangan dari Anna.


Smirk mengerikan terpampang diwajah jahat sang ketua. "Kalian pake aja, setelahnya kita jual organnya. Organ tubuh atlit sangat mahal kau tahu"kekehnya.