Millisanna

Millisanna
Bab 54



"Gue jadi keliatan jahat jadinya"keluh Melisa diperjalanan mereka menuju kantin.


Merasa sangat bersalah karena merasa telah mungkin saja menghina sahabatnya sendiri, semakin merasa bersalah karena si sahabat hanya menggeleng dan merasa senang karenanya.


"Enggak kok, Melisa malah keliatan keren banget tadi"kata Anna dengan mata bersinar menatap Melisa kagum.


Melisa jadi tak habis pikir dan malu sendiri. "Dah ah jangan gitu gue malu"kekeh Melisa mengarahkan pandangan Anna kedepan dengan tangannya membuat mereka tertawa setelahnya.


Sampai di kantin mereka berpikir sebentar akan membeli apa sampai Melisa berkata akan mentraktir Anna agar Anna tidak merasa sedih lagi karena gagal mewakili sekolah dalam olimpiade nanti.


"Biar perasaan bersalah gue dan Lo gak terus-terusan mikirin tuh olimpiade gue traktir"kata Melisa bangga.


Anna yang mendengarnya terkekeh saja dan akan menerima kebaikan Melisa itu. "Apa ya yang enak?"kekeh Anna mungkin saja dirinya akan membeli banyak mumpung ditraktir.


"Liat cuy si nomer dua masih bisa cengengesan padahal dirinya udah gagal jadi manusia"


Melisa menatap tajam pada Vanessa yang muncul langsung mengolok-olok Anna dan Anna sendiri hanya bisa diam.


"Lo tuh bener-bener gagal jadi manusia bener deh, kesingkir dari wakil tetap olimpiade plus Lo gak bisa lagi deket sama Azriel"kekeh sarkas Vanessa.


"Lagian sejak awal Lo emang gak pantes sih sama Azriel, ya bisa dibilang ini pelajaran buat Lo sadar kalo Lo tuh bener-bener sampah"kata Vanessa benar-benar mengolok-olok Anna serendah-rendahnya.


"Yang sampah tuh mulut Lo sialan!"kesal Melisa membalas semua perkataan Vanessa tadi.


"Udah Anna kita pergi aja, kantin mendadak banyak sampah gak baik makan sama para sampah"kesal Melisa membawa Anna pergi meninggalkan Vanessa dengan kedua temannya itu.


Vanessa terkekeh geli melihat kedua cewek itu pergi terlebih setelah Melisa menghinanya dengan menyebutnya sampah.


"Van Lo harus hati-hati bokapnya Melisa itu jaksa yang paling terkenal"kata salah satu temannya itu.


"Gue denger bahkan sekarang bokapnya Melisa udah jadi hakim agung yang paling terhormat di negara ini"tambah temannya yang lain ngeri.


Vanessa terkekeh saja mendengar kedua temannya berbicara seperti itu. "Tuh sampah tau juga cara jadi lintah diantara orang-orang penting"kekehnya sarkas.


***


Michelle sangat kesal sekarang, jam istirahatnya harus dihabiskan didalam perpustakaan untuk mempelajari banyak huruf, simbol dan angka yang membuatnya pening ditambah Azriel yang akan menjadi partnernya malah tidak ada semakin membuat Michelle dongkol merasa usahanya untuk bisa bersama dengan Azriel lebih lama menjadi sia-sia.


"Pak Azriel gak dateng apa?"tanya Michelle pada akhirnya pada pak Sugeng yang menjadi mentor olimpiade itu.


Pak Sugeng yang sedari tadi menunduk membaca beberapa materi yang mungkin bisa ia bagikan pada Michelle dan Azriel sebagai trik nantinya pun jadi mengangkat wajahnya menatap Michelle yang terlihat sangat bosan itu.


"Azriel? Biasanya anak itu gabung sama kita disini 5 hari sebelum hari H nya olimpiade"kata pak Sugeng.


Michelle yang mendengarnya dibuat dongkol. Jika tahu seperti itu dirinya pun akan mengikuti bimbingan ini nanti saat Azriel pun ada.


Bagaimana dirinya bisa betah disetiap jam istirahat nya dihabiskan di perpustakaan hanya untuk berkutat dengan soal-soal yang seperti resep ramuan nenek sihir itu, tidak, Michelle tak mau.


Pak Sugeng sendiri memperhatikan Michelle dihadapannya itu yang terlihat sangat tidak betah disana seolah bimbingan ini tidak penting dan hanya membuang-buang waktu saja.


Mengabaikan, Sugeng tak akan terkejut saat bimbingan selanjutnya anak itu tidak akan hadir.


Aku jadi merindukan Anna, anak itu bahkan tidak akan pernah mengangkat wajahnya jika belum ada suara bel berbunyi, batin Sugeng sedikit kehilangan.


Namun dirinya jadi ingat perangainya yang tersadar cukup keras saat menjadi mentor untuk Anna, bahkan kalimat merendahkan untuk si murid pun pernah dirinya layangkan dan Anna tetap serius dalam belajarnya.


Mungkin di olimpiade selanjutnya dirinya akan sedikit melunakkan cara mementori Anna nanti.


***


Melisa pada akhirnya memesan makanan dari luar yang berupa sebuah pizza keju dan beberapa botol cola membuat Anna melongo tak percaya gadis itu bisa memesan pizza dari sekolah.


"Ayo ayo udah lama nih gue gak makan pizza karena beberapa hari ini gue diet"kata Melisa bersemangat.


Anna hanya melongo melihat betapa bersemangatnya Melisa membuka satu botol cola dan meminumnya.


Anna hanya bisa mengangguk kikuk karena dirinya masih terkejut Melisa memesan pizza dari sekolah.


"Bakal abis gak ya?"tanya Anna saat mengambil sepotong pizza itu.


Melisa yang sedang mengunyah pun jadi ikut melihat kearah kotak pizza yang masih memiliki banyak potongan itu karena dirinya memesan yang paling besar dan dirinya tidak bisa menghabiskan semua ini.


Melihat kesekitar tak ada orang yang bisa diajak untuk makan bersama mereka membuat Melisa hanya bisa menghela berpikir dirinya akan berdosa karena mubadzir.


"Itu Milan mau pizza juga kali"kata Anna menunjuk keatas membuat Melisa bingung namun tetap ikut melihat keatas dan benar saja diatas sana dirooftop sekolah ada Milan disana.


Melisa pun dengan semangat bangkit berdiri dan mengambil ponselnya untuk menghubungi laki-laki diatas sana.


"Yo?"kekeh Milan saat dirinya mengangkat panggilan gadis yang ada dibawah sana.


Sejujurnya sejak awal dirinya sudah memperhatikan dua gadis itu yang muncul dengan satu gadis membawa sekotak pizza dan yang lainnya membawa sekresek penuh berisi botol-botol cola.


Tak terkejut saat salah satu dari mereka menunjuk kearahnya dan berakhir satu yang lainnya berdiri dan ikut melihat keatas sekaligus terlihat sedang menelpon.


'Gue beli pizza bantuin makan cepet Lo makannya banyak kan'


Milan tersenyum miring mendengar perkataan Melisa di panggilan. "Gue bawa satu orang lain buat join"kata Milan.


'Bawa aja banyak ini, lagian orang lain itu pastinya si Azriel kalo Lo mah, bawa aja siapa tau bisa bikin mood tuh cowok jadi baik, tuh cowok tadi hampir bikin kelas jadi tempat pembunuhan gila'


Milan terkekeh mendengarnya dan berkata dirinya akan segera turun setelah mematikan panggilan.


Melihat kesampingnya pada Azriel yang terduduk bersender pada pagar pembatas rooftop itu. "Ayo berdiri kita makan pizza gratis"kata Milan menepuk puncak kepala Azriel dan mendahului laki-laki itu untuk turun.


Azriel menghela nafas panjang lantas bangkit dari duduknya dan melihat kebawah arah taman samping pada satu gadis yang melihat kearahnya dengan pizza yang ada dimulutnya.


Terkekeh dibuatnya, Azriel jadi tidak sabar untuk pizza gratis yang dibilang Milan tadi.


***


"Kalo yang gratis mah cepet Lo"cibir Melisa saat kedua laki-laki itu bergabung dengan keduanya.


Milan mengabaikan Melisa itu dan langsung akan mencomot sepotong pizza namun digeplak oleh Melisa yang menyuruhnya untuk membersihkan tangan terlebih dahulu.


"Kotor bego, noh pake tisu basah"perintah Melisa menunjuk pada tisu basah yang sedang dipegang Anna yang sedang menyodorkannya pada Azriel yang duduk disebelah Anna.


"Ini"Anna pun menyodorkannya pada Milan.


Berterimakasih pada Anna namun menatap sengit pada Melisa. "Lo itu ya anteng dikit napa, dikit-dikit main geplak gue aja"sebal Milan.


"Nyenye ngomel terus kek emak emak"balas Melisa tak kalah sebal dengan Milan.


Milan benar-benar dibuat kesal kekesalannya sudah diujung tanduk. "Nih makan pizza toping tisu basah!"sebal Milan memaksa Melisa agar melahap tisu basah bekas ia pakai tadi.


"Kyyaahh! Milan! Gak lucu ahhh!!!"jerit Melisa menahan Milan untuk tidak benar-benar masukan tisu itu pada mulutnya.


Dua orang lain yang sangat tenang memakan pizzanya hanya menatap kedua orang lain yang begitu ramai itu.


"Pinggirannya enak pake saos"kata Anna merasa tidak aneh pun memilih untuk mengabaikan dan menawarkan saus pada Azriel.


Azriel pun ikut mengabaikan dan menyodorkan pizzanya untuk diberi saus oleh Anna. Mereka sangat kontras, satu pasangan yang ramai nan berisik dan satu pasangan lain yang sangat damai dan tenang.


Michelle yang berada dikoridor sekolah sana hanya bisa menatap kesal pada mereka terlebih Anna.


Dirinya menderita di perpustakaan mengerjakan soal-soal bak mantra namun cewek itu bersenang-senang diatas penderitaannya bersama Azriel.


"Cewek itu emang harus didiemin"geram Michelle.