
Olimpiade semakin dekat membuat Anna benar-benar habis-habisan untuk olimpiade kali ini karena jika dirinya mendapatkan juara satu kali ini dirinya bisa dimaafkan oleh orangtuanya.
Mendapatkan marah dari orangtuanya karena memarahi Sarah yang menggunakan uang tabungannya untuk berfoya-foya membuat Anna tidak bisa lagi merasa marah dan malah dirinya bahkan membaikkan Sarah dengan pikiran mungkin orangtuanya akan berhenti marah padanya.
Walau Sarah semakin menjadi, dan membuatnya seperti babunya Anna tidak menyerah karena menurutnya itu salah satu yang mungkin bisa membuat orangtuanya tidak lagi marah padanya.
Membaikkan Sarah tidak terlalu memberikan pengaruh membuatnya berpikir ditambah menjadi juara satu di olimpiade yang akan datang akan membuatnya benar-benar dimaafkan.
Maka dari itu Anna bersungguh-sungguh dalam belajar kali ini dan sangat percaya diri jika dirinya akan mampu untuk juara satu kali ini.
Tap.
Menatap sebuah tangan lentik dan putih menaruh sebuah Snack bar di meja nya membuat Anna mengangkat wajahnya dan melihat Melisa disana tersenyum padanya.
"Semangat! Harus juara satu sekarang!"kata gadis itu memberi semangat untuk Anna.
Anna merasa tersentuh mengangguk antusias ia menerima semangat Melisa dan berterimakasih kepada si gadis.
"Makasih, Anna harus semangat"sahut Anna bersemangat.
Melisa tersenyum melihatnya. "Gue ke kantin kalo gitu, semangat belajarnya"kata Melisa melambaikan tangannya berjalan keluar kelas.
Anna membalas lambaian tangan Melisa tersenyum senang, tidak menyangka Melisa benar-benar menjadi temannya.
Membuka Snack bar yang diberikan Melisa itu memakannya dengan senang karena Snack bar yang manis itu terasa lebih manis berkali-kali lipat karena yang memberikannya adalah Melisa, temannya.
***
Trak.
"Lo ini mulai gak ada takutnya ya"kata Milan menatap Melisa yang dengan santainya kembali duduk dimeja khusus Azriel dan Milan di kantin.
Melisa hanya menatap tak peduli Milan dan mulai memakan batagornya.
"Gue galau tau, Anna lagi mode tarung buat olimpiade jadinya gue kesepian"curhat Melisa mengabaikan orang-orang yang tidak bosannya membicarakan tentang dirinya yang duduk di kursi 'khusus' itu.
"Cih malah curhat"cibir Milan yang sepertinya benar-benar tidak suka dengan keberadaan Melisa di meja nya.
Mengabaikan Milan, Michelle beralih ke Azriel yang menikmati baksonya tanpa terusik keramaian yang dibuat Milan dan Michelle.
"Heh temen Lo tuh ngeselin, gimana bisa Lo betah sama dia dah"kata Melisa tak habis pikir sambil melahap batagornya dan melirik sebal pada Milan yang dimana laki-laki itu pun meliriknya tak kalah menyebalkan.
Melirik Milan yang langsung memasang wajah imut membuat Azriel langsung mengalihkan pandangannya dan menatap Melisa serius.
"Gue juga gak tau kenapa"kata Azriel sangat serius dan itu membuat Melisa terbahak dan Milan cemberut sebal.
Candaan mereka dimana Milan yang selalu menjadi sasaran Melisa mendadak terhenti karena interupsi seseorang yang datang meminta izin untuk bergabung dengan mereka.
"Boleh gue gabung?"tanya Michelle yang muncul dengan seporsi siomaynya dan segelas jus melon.
Ketiga penghuni meja itu saling tatap saling melempar telepati dan beberapa saat kemudian Milan mengangguk begitu juga dengan Melisa mempersilahkan Michelle duduk dikursi sebelahnya membuat Michelle duduk berhadapan dengan Azriel yang mendadak sangat diam.
Padahal tadi Azriel sedikit ikut dalam candaan mereka walau tidak seekspresif Melisa dan Milan, tapi sekarang dirinya benar-benar diam memperlihatkan jika dirinya tidak menyukai keberadaan Michelle di sekitarnya.
"Kita makin jauh aja ya tempat duduk kita dikelas"kata Michelle memulai percakapan dengan Melisa.
Melisa yang serasa diingatkan pun kembali galau. Dirinya galau kenapa juga perputaran tempat duduk mereka harus berganti saat dirinya sakit, dirinya kan jadi tidak bisa bertukar dengan seseorang yang tempatnya dekat dengan Anna, padahal kalaupun dirinya tidak dapat tempat dekat Anna jika masuk kan dirinya bisa bertukar dengan orang lain.
"Iya nih gak beruntung banget gue"lelah Melisa meratapi nasib jika dirinya duduk dikursi paling depan.
"Itu sih deel, derita elo"ejek Milan yang langsung menghindar saat Melisa hampir menimpuknya dengan tisu bekasnya.
"Jijik anjir"pekik Milan terkejut dan untung saja bisa menghindarinya.
Menjulurkan lidah tak peduli Melisa. "Lo nya juga nyebelin, bleh"
Milan hanya bisa berdecih melihat kelakuan Melisa itu.
"Lo enak ya duduk deket Anna"celetuk Azriel tiba-tiba sambil menatap Michelle.
Perkataan Azriel itu membuat Melisa dan Milan pun ikut menatap Michelle.
Michelle yang tiba-tiba diajak bicara dan di tatap itu hanya mengangguk malu, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena rasanya perkataan Azriel itu seperti sedang mengulitinya, padahal dirinya tidak merasa pernah melakukan kesalahan apapun yang berhubungan dengan membuat Azriel marah padanya.
"A-haha iya gue jadi gak perlu jalan buat nyamperin dia, tinggal balik badan dan sampe"kata Michelle.
"Oh Lo jadi duduk didepan Anna?"tanya Milan yang diangguki Michelle.
Dan mereka pun mulai membicarakan soal peraturan yang sering kali dilakukan setiap awal semester untuk semua kelas itu, yaitu memutar random susunan duduk dikelas.
Azriel tidak ikut dalam obrolan mereka, dirinya hanya menatap Michelle dengan memicing, dirinya tidak bisa lupa kelakuan cewek itu yang mengabaikan Anna.
Saat itu sedang ada tugas dadakan dan waktu pengerjaannya pun singkat bahkan soal yang di tulis guru di papan tulis langsung di hapus setelah 2 menit untuk waktu menyalinnya, namun Anna yang sedang keluar karena membantu guru sebelumnya yang mengajar meminta bantuannya membuat Anna tidak tahu apa-apa.
Disela Azriel menyelesaikan tugas tersebut, disanalah dirinya melihat hal itu.
Anna terlihat kebingungan saat melihat anak-anak sekelas begitu sibuk dan terburu-buru, melihat mereka yang terburu-buru membuat Anna ikut gelagapan, dirinya tidak tahu apa-apa dan mereka semua terlihat tidak bisa ditanyai.
Cewek itu berdecak sebal karena diinterupsi Anna. "Ck elah, ini tugas"kata cewek itu sewot.
Mendengar kata tugas semakin Anna ketakutan jika dirinya tidak tahu apa-apa.
"Tugas yang mana halaman berapa?"kata Anna gelagapan membuka buku pelajarannya.
Tak ada balasan dan sepertinya tidak akan digubris dan bahkan diabaikan Anna semakin kalut. Ia pun mencolek-colek punggung Michelle yang duduk didepannya berpikir temannya itu akan membantunya.
Namun apa yang didapatnya adalah gadis itu mengabaikannya bahkan bertingkah seolah Anna adalah makhluk yang tak kasat mata.
"Waktu habis, kumpulin sekarang, 15 14–"guru disana mulai berhitung membuat anak-anak yang sedang mengerjakan tugas entah sudah selesai atau belum langsung bergegas kedepan mengumpulkan tugas mereka, yang penting sudah dikumpul entah sudah selesai atau belum setidaknya walaupun mereka belum selesai mereka akan mendapat nilai setengah.
Anna mematung di kursinya. Membatu tidak menyangka jika dirinya benar-benar tidak bisa berkutik.
"Anna mana tugas kamu?"tanya guru di mejanya setelah memeriksa kelengkapan tugas murid-murid nya dan mendapati tidak ada milik Anna, membuat semua mata tertuju pada Anna.
Anna menggigit bibir dalamnya mendadak bisu karena dirinya tidak bisa menjawab sang guru. Memainkan jari-jarinya yang bertautan dibawah meja diatas pahanya Anna sangat ketakutan.
"Saya–"
"Gak ngerjain? Kamu anggap apa saya?! Saya guru kamu! Tidak menghargai sekali kau jadi murid! Sana berdiri dilapangan sampai pelajaran saya selesai"perintah guru itu marah.
Anna rasanya ingin menangis saja namun tetap dirinya berdiri dan meminta maaf berjalan keluar kelas untuk menjalankan hukumannya.
Azriel tidak bisa melupakan kejadian itu yang mana semakin membuat Azriel tidak menyukai Michelle.
Dan dirinya tidak habis pikir dengan Anna yang tetap menganggap cewek bunglon ini sebagai temannya yang tulus seperti Melisa.
***
Anna melangkah menyusuri trotoar di malam hari, seperti biasa setelah selesai les di jam 11 malam karena tidak ada angkutan umum dan tentu saja anggota keluarganya tidak ada yang mau menjemputnya, apalagi sejak kejadian dirinya yang memarahi Sarah, sangat tidak mungkin jika dirinya akan di jemput.
Anna jadi membayangkan dirinya yang tiba-tiba mungkin kena jambret atau tertabrak lalu meminta tolong pada keluarganya dengan menelpon mereka apa mereka akan gesit menolongnya atau membiarkannya membusuk dijalanan.
Anna menggelengkan kepala tak habis pikir, bisa-bisanya dirinya berpikiran mengerikan seperti itu. Tidak mungkin kan dirinya dijambret atau mengalami kemalangan lainnya dan tidak ditolong keluarganya, tidak mungkin sekali.
Walau keluarganya seperti itu pastinya mereka masih memiliki hari nurani dengan bergegas menolongnya.
Sreet. Bruk.
Anna terjatuh saat dua orang asing menarik tasnya yang mana membuat Anna terseret karena kedua orang asing itu menggunakan motor.
Anna yang tahu jika dirinya sedang berada dalam bahaya pun dengan tidak segan-segan balas menarik orang diboncengan motor itu sampai terjatuh dari motor dan melepaskan cengkraman tangannya yang ingin mencuri tas anna.
Gubrak.
Bruk bruk.
Anna terjerembab begitu saja juga pelaku penjambretan itu yang terburu-buru bangkit dan kabur bersama komplotannya meninggalkan Anna sendirian ditengah jalan yang sepi itu.
Anna mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena adrenalinnya mendadak dipuncak karena kejadian barusan.
"Hah hah haa.."
Menatap nanar kedua kakinya yang penuh dengan luka goresan yang bahkan berdarah-darah dan sangat terasa perih.
Kakinya terasa mati rasa membuat Anna hanya bisa menahan tangisnya sesaat air mata mulai turun mengalir dari matanya.
Melepas tas ranselnya untuk mengambil ponselnya Anna mencoba untuk menelpon ibu atau ayahnya meminta bantuan mereka.
Anak mereka sedang kesulitan seperti ini walau mereka marah pun pasti mereka datang menolongnya bukan.
Tuut.. tut.. tut..
Dering tiap deringan terdengar beberapa menit sebelum suara operator terdengar jika panggilannya tidak diterima oleh nomor ibu atau ayahnya.
"Hiks.."
Satu isakan lolos karenanya.
Tak habis harapan Anna pun mencoba menelpon nomor kakaknya, Aris.
Tuut.. tut.. klik.
Menegang saat melihat panggilannya bahkan ditolak membuat Anna tak percaya pada keluarganya.
Mereka benar-benar marah padanya sampai tidak mentolerir kesalahannya yang membuat mereka benar-benar tidak mempedulikannya.
"Hiks.. hiks.."hati Anna terasa sangat sakit.
"Mama.. papa.. maafin Anna.. Anna salah.. Anna emang salah!!"raung Anna ditengah tangisnya disunyinya jalanan sepi dan malam itu.
"Tolong Anna mah pah.. kaki Anna sakit"lirih Anna menangis sesegukan menutup wajahnya yang sedang menangis.