
Jika Milan tahu, Milan tidak akan membiarkan Azriel pulang sendiri karena sedang tidak ingin main bola bersama temannya yang lainnya, jika tahu Milan akan memaksa Azriel untuk ikut bermain bersamanya dan jika masih tidak mau akan Milan suruh Azriel jadi penonton yang menonton permainan mereka.
Ya jika dirinya tahu dan menduga jika akan ada sebuah kemalangan kala dirinya membiarkan Azriel pulang duluan dan sendirian.
Milan mampir pulang kerumah Azriel terlebih dahulu karena dirinya ingin memastikan jika sahabatnya itu sudah pulang dan sedang menonton tv atau bermain konsol game disana.
"Oh Milan, udahan mainnya? Mana Al?"tanya Andari yang berada diruang tamu itu langsung menutup majalahnya kala mendapati sahabat anaknya itu muncul diambang pintu rumahnya.
Milan diam mematung ditempatnya, nafasnya mendadak memburu firasat buruk memenuhi pikiran dan batinnya.
"Apa Al tidak bermain denganmu?"tanya Andari masih mempertanyakan tentang anaknya yang tidak bersama Milan padahal setahunya anaknya itu pergi main dengan Milan.
"Milan?!"seru Andari terkejut melihat Milan yang langsung berlari pergi begitu saja.
"Astaga, ada apa dengan anak itu?"khawatir Andari yang langsung mengejar Milan dan dilihat anak itu berlari kerumah Arjuna disebelah kanan rumahnya.
"Kak Andari kenapa kau berlarian?"tanya ibu Arjuna kaget melihat Andari yang berlari ke rumahnya setelah tadi Milan pun berlari menerobos masuk kedalam rumahnya.
"Aku mengejar Milan–"
"Hiks"
Milan kembali dan melewati kedua wanita itu dengan menahan tangisnya membuat keduanya bingung sendiri melihat tingkah anak salah satu sahabat mereka itu.
"Mama bang Milan kenapa? Tadi nyari bang Al kesini tapi pas Juna bilang gak ada bang Al kesini bang Milan malah nangis terus pergi"kata Arjuna yang muncul dengan ekspresi khawatirnya memeluk kaki sang mama.
Kedua wanita disana saling tatap, seolah berbagi pikiran mereka pun bergegas pergi kerumah Milan dengan membawa serta Arjuna karena dirumah tidak ada siapa-siapa karena suami mereka semua belum ada yang pulang.
Mereka yang baru sampai kekediaman sahabat mereka yang lain langsung disuguhi dengan suara keras Milan yang menangis kencang.
"Risa ada apa dengan Milan?"tanya Andari pada sahabatnya sejak sekolah itu.
"Aku juga gak tau tadi dia tiba-tiba masuk langsung lari kekamar terus kayak nyari-nyari sesuatu terus nangis kayak gini"kelas Risa ibu Milan yang juga tidak tahu ada apa dengan anaknya itu.
"Huweee!! Al!!!"jerit Milan disela tangisnya yang semakin keras.
"Tenang nak, berhenti menangis kasian suara mu"kata Risa sangat ketakutan melihat anaknya itu.
"Huwee!! Milan yang salah! Milan bego!!!"jerit Milan.
Ketiga ibu itu tidak tahu harus bagaimana menenangkan Milan itu, mereka bahkan tidak tahu apa yang ditangisi anak itu sampai seperti ini.
"Hei ada apa ini?! Kedengaran sampai keluar loh"kata Johan ayah Milan yang sudah pulang muncul disana diikuti dengan Aryan dan juga Yasa ayah Arjuna.
"Papa!! Om Aryan! Maafin Milan huwee! Milan gak bisa jaga Al kayak yang disuruh kalian maafin Milan ini salah Milan! Huwee!!"jerit Milan merasa sangat bersalah pada ayah dan juga ayahnya Azriel.
Aryan berjongkok untuk mensejajarkan wajahnya dengan Milan berumur 5 tahun itu menepuk-nepuk pundak si bocah menenangkan.
"Memang ada apa? Milan kan selama ini selalu jagain Al juga Arjuna dengan baik, kenapa harus minta maaf hm?"tanya Aryan.
"Hiks hiks.. orang yang sering ngikutin Al sekarang udah gak ada karena Al juga gak ada huweee!!!"tangis Milan semakin kencang diakhir kalimatnya.
Para orang tua yang mendengarnya terlebih kedua orangtua Azriel sontak bergegas kerumah mereka memastikan jika anak mereka berada dirumah sedangkan Yasa dan Johan memeriksa rumah masing-masing jika Azriel ada dirumah mereka.
"Mama! Milan salah Milan gak berguna! Huweee!"tangis Milan menjadi-jadi digendongan sang mama yang mencoba menenangkannya.
"Enggak pasti Al ada disuatu tempat lagi bersembunyi kalian kan sering main petak umpet kan"kata Risa mencoba menenangkan Milan.
Milan tidak bodoh saat melihat ekspresi para orangtua dan juga kondisi saat ini jika dirinya benar-benar telah gagal dalam menjaga sahabatnya.
"Hiks hiks"
"Cup cup, gak ada apa-apa semuanya baik-baik aja"tenang Mala yang menenangkan anaknya Arjuna yang sepertinya bocah itu ikut merasakan kekhawatiran orang-orang disekitarnya.
"Tidak ada, apa dia ada dirumahnya?"tanya Johan tidak menunggu jawaban laki-laki itu langsung pergi keluar menuju rumah Aryan.
Kedua ibu dengan anaknya itu pun mengikuti Johan yang dimana mereka bertemu dengan Yasa yang juga datang dan mengatakan jika Azriel tidak ada dirumahnya.
"Sial aku benar-benar merasakan firasat buruk"gumam Johan kala melihat ke langit yang sudah gelap dan melihat Aryan yang muncul diambang pintu rumahnya dengan ekspresi kosong.
"Al gak ada disini"kata Aryana kosong.
"Lapor polisi cepat! Aku akan mencari disekitar komplek"perintah Johan pada Yasa.
"Astaga nak?!"seru Risa terkejut kala tiba-tiba berat badan anaknya bertambah dan tubuh anaknya itu panas dan terasa tidak berbobot yang jika saja tak ada Johan dan Risa yang memiliki refleks bagus Milan kecil sudah jatuh menghantam tanah.
"Milan?! Hey nak?!"seru Johan begitu kahwatir melihat anaknya yang tiba-tiba tak sadarkan diri dengan suhu tubuh yang semakin meningkat dan juga mimisan.
"Huweeee!!!"Arjuna menangis kala pikirannya menyatakan jika ini semua menyeramkan.
"Astaga! Cup cup, tidak ada apa-apa tenanglah"kata Mala sontak menenangkan Arjuna yang menangis digendongannya itu.
"Aku sudah menelpon polisi dan ambulan, prioritas kita sekarang adalah Milan"kata Yasa pada mereka sambil ikut menenangkan Arjuna yang menangis.
"Ya, tentu saja Milan yang paling utama"kata Aryan saat melihat kondisi sahabat anaknya itu yang benar-benar mengkhawatirkan.
Dirinya hanya bisa berharap Azriel dalam keadaan baik-baik saja dan dapat menunggu karena sahabatnya Milan sedang dalam kondisi gawat.
***
Milan menderita demam tinggi selama seminggu dan dinyatakan mengalami penurunan imun yang sangat signifikan setiap harinya yang diduga penyebabnya adalah syok dan trauma yang tiba-tiba muncul itu. Membuatnya dirawat dirumah sakit selama lebih dari dua minggu dalam kondisi tak sadarkan diri.
Milan menerima kondisinya kala itu karena dirinya berpikir ini tidak ada apa-apanya dengan yang dialami oleh sahabatnya Azriel.
Karena begitu dirinya sadar Milan diberitahu oleh ibunya kalau Azriel telah ditemukan dan seperti yang Milan bilang Azriel diculik.
Milan yang mendengarnya begitu ia bangun merasa lega karena Azriel akhirnya ditemukan tapi rasa bersalah dan gagalnya begitu mendominasi membuatnya hanya bisa menangis menyalahkan dirinya karena tidak melindungi Azriel dengan benar.
Perasaan bersalah menumpuk dan semakin menumpuk kala Milan yang sudah bisa mulai berjalan walau masih harus menggunakan tumpuan berpegangan pada tembok untuk datang ke kamar rawat Azriel yang katanya dirawat dirumah sakit yang sama dengannya.
Sampai dikamar rawat Azriel Milan merasa ragu dan juga takut tapi dirinya bertekad akan meminta maaf dan juga memastikan jika sahabatnya itu baik-baik saja.
Milan membuka pintu ruangan itu dan berjalan pelan menunduk seraya berkata "Alfha, aku datang menjengukmu, aku mau minta maaf karena aku gagal menjagamu seperti janjiku pada om Aryan aku benar-benar meminta maaf"
Perlahan wajah Milan terangkat karena tidak mendapati balasan dari sahabatnya itu padahal dirinya sudah siap dipukul bahkan dibenci oleh sahabatnya itu karena dirinya memang berhak mendapatkannya, namun yang ia dapatkan adalah wajah ketakutan nan pucat pasi sahabatnya saat melihatnya.
"Al?"panggil Milan kecil dan ekspresi ketakutan itu semakin menjadi membuat Milan jadi ikut merasa takut dan mencoba mendekat pada sahabatnya itu.
"Alfha–"
"Arkh!! Pergi! Tolong lepasin Alfha! Sakit! Alfha takut! Alfha gak mau! Lepas! Ii!!"histeris Azriel kala Milan mendekat.
Milan sendiri hanya bisa mematung dengan air mata yang mengalir melihat sakit kondisi sahabatnya itu.
"Nak Al tenanglah, tidak apa-apa"
Kamar rawat itu semakin ramai kala dokter dan para perawat datang dan mulai menenangkan Azriel yang mengamuk itu.
Milan menatap kosong dan nyeri melihat Azriel yang berontak berteriak ingin dilepaskan dan berakhir tak sadarkan diri karena dokter itu menyuntikkan sesuatu pada Azriel.
Bruk.
"Hiks.. huweee!! Milan minta maaf! Maafin Milan Al! Milan gak becus Milan salah!!"jerit Milan menangis histeris.
Menangisi betapa tidak bergunanya dirinya yang membuat sahabatnya itu jadi mengalami hal seperti ini.
***
Semakin lama kondisi Azriel semakin memburuk bahkan hanya mendengar nama nya dipanggil dengan Al saja sudah membuat anak itu tantrum ketakutan dan berontak padahal tubuh anak itu memiliki beberapa luka yang bisa saja terbuka karena banyak bergerak.
Maka dari itu dokter menyarankan untuk tidak membahas apa yang telah dialami Azriel dan menyuruh orang-orang dekat Azriel untuk memanggil Alfha dengan Azriel saja karena itu bisa membuat Azriel sedikit tenang dan tak merasa ketakutan kala namanya disebut.
Tapi bukan hanya nama saja yang dapat membuat Azriel menggila karena banyak faktor tak terduga yang bisa saja membuat Azriel kumat.
Entah itu kegelapan, asap, warna biru, dan juga sebuah jepit rambut anak perempuan yang ditemukan bersamaan dengan Azriel kala anak itu ditemukan.
"Jiel, ini punya siapa?"tanya Milan iseng kala itu dan itu membuat Azriel kembali tantrum yang mana selalu menyebutkan sebuah nama yang orang-orang yang mendengarnya kebingungan karena mereka tidak tahu siapa yang selalu disebutkan oleh Azriel itu.
Karena kondisi Azriel itu pun kedua orangtuanya sepakat untuk melakukan penghapusan sebagian memori pada anak mereka karena mereka sangat nyeri melihat kondisi anak mereka yang seperti itu.
Dan ya berhasil karena Azriel benar-benar melupakan semuanya, apa yang telah terjadi padanya dan juga nama yang sering ia sebutkan disetiap dirinya mengamuk itu.
Walau secara perlahan semua ingatannya itu akan kembali sendirinya karena penghapusan memori itu tidak permanen.