Millisanna

Millisanna
Bab 53



"Sebelum memulai pelajaran hari ini, ibu ingin memberi selamat pada Michelle yang kali ini akan mewakili sekolah kita di olimpiade nanti"kata Bu Ruka guru kimia mereka.


Anak-anak disana bertepuk tangan meriah menyelamati dan memberikan dukungan mereka pada Michelle yang hanya tersenyum malu dan mengangguk berterimakasih.


Anna pun menjadi salah satu dari anak-anak yang memberikan selamat dan bertepuk tangan untuk Michelle tentu saja.


"Emang cocok dah Lo aja yang ikut olimpiade"kata salah satu murid membuat yang lain pun ikut memberi komentar mereka.


"Kalo aja Lo dari awal sekolah disini"kata yang lain merasa tidak terima Michelle yang datang sebagai murid pindahan.


"Iya nih pasti yang jadi partner olimpiade Azriel bukan si Anna yang niatnya bener-bener keliatan jelas kalo tuh orang cuma mau keliatan deket aja sama Azriel"kata salah satu dari mereka membuat suasana semakin ramai.


Anna yang dituduh hanya bisa menunduk, mau membalas pun dirinya tidak tahu dan takut. Orang-orang disekitar sudah meyakini kalau dirinya ikut olimpiade hanya untuk bisa dekat dengan Azriel.


"Untung aja niat busuknya dihentikan oleh Michelle kalo enggak, wah gak tau lagi gue bakal gimana"tambah yang lain.


Melisa yang mendengarnya menggeram kesal ditempat duduknya geram pada teman-teman sekelasnya yang nyatanya sangat menjengkelkan.


Ingin sekali rasanya menonjok orang-orang bermulut kotor itu.


Bletak.


"Aduh!"anak yang berbicara terakhir itu mendadak mengaduh sakit membuat kelas menjadi hening karena anak yang mengaduh kesakitan.


Anak itu langsung melihat kearah belakangnya dengan kesal siapa yang berani melemparnya dengan penghapus, walau hanya penghapus rasanya sangat sakit seperti dilempar dengan batu.


Dan dirinya mendapati Azriel disana yang siap dengan amunisi selanjutnya yang merupakan sebuah pensil dengan ujung yang tajam untuk menghajar orang-orang yang tadi berbicara kurang ajar.


"Kenapa pada diem? Ayo ngomong lagi, gue siap ngehajar Lo pada"kata Azriel santai menyiapkan kepalannya tak sabar untuk benar-benar menghajar orang-orang bermulut kotor seperti mereka.


Kelas benar-benar dibuat hening oleh Azriel. Mereka tahu bahwa Azriel tidak main-main dengan perkataannya itu, Azriel benar-benar akan menghajar siapa saja seperti ancamannya tadi.


Mereka masih waras untuk tidak mencari perkara dengan Azriel yang telah memberikan ancamannya.


Bu Ruka disana ikut merasakan ketegangan anak-anak didiknya disana, sepertinya dirinya salah memulai topik makanya berakhir seperti ini.


Namun dirinya kan bermaksud baik untuk memberi selamat dan semangat untuk Michelle yang kali ini mewakili sekolah untuk olimpiade sains, tapi kenapa jadi begini.


"Ba-baiklah anak-anak kita mulai saja pelajaran hari ini, kita lanjutkan pembahasan Minggu kemarin"kata Bu Ruka dengan kikuk memulai kelasnya.


Sreek.


"A-Azriel kamu mau kemana?"kaget dan takut-takut Bu Ruka bertanya pada Azriel yang tiba-tiba bangkit dan berjalan membuka pintu belakang kelas hendak keluar.


Azriel berhenti diambang pintu kelas melihat gurunya itu. "Bolos"katanya santai dan cuek langsung melangkah keluar kelas dan pergi.


Kelas masih hening setelah kepergian Azriel itu, mereka hanya bisa memaki laki-laki itu didalam hati karena jika diucapkan mereka akan habis ditangan laki-laki itu.


Anna sendiri yang melihat tingkah Azriel itu sudah terbiasa karena sejak masuk SMA Arya dan sekelas dengan Azriel sejak kelas 10.


Tak hanya terbiasa karena hal itu, dirinya pun terbiasa iri pada Azriel yang dengan santainya meninggalkan pelajaran tanpa takut jika dirinya menjadi bodoh karena laki-laki itu benar-benar sempurna.


Jika Anna mungkin dirinya benar-benar jatuh paling kedalam kebodohan yang paling dalam, dirinya lengah sedikit saja karena keasyikan bermain dengan teman yang didapatnya saja sudah membuat dirinya langsung tersisihkan dari menjadi wakil tetap sekolah dalam olimpiade.


Abaikan Anna, kau benar-benar akan menjadi bodoh jika seperti ini terus, batin Anna menyadarkan dirinya untuk tetap fokus.


***


Pak Sugeng di meja nya serius memindai sesuatu disana dan Bu Lia yang akan kembali menjadi asisten pendamping pak Sugeng sebagai mentor olimpiade pun datang menghampiri guru itu dengan membawa beberapa materi yang diinginkan pak Sugeng.


"Permisi pak, ini materi yang anda inginkan"kata Bu Lia menaruhnya diujung meja pak Sugeng yang agak ada ruang disana karena meja pak Sugeng benar-benar penuh oleh kertas kertas disana.


Dan saat melihat dengan seksama diketahui kertas-kertas itu adalah lembar jawaban soal latihan olimpiade yang dikerjakan anak-anak kelas 11.


Melihat pak Sugeng yang begitu serius dengan dua kertas jawaban ditangannya Bu Lia pun jadi penasaran dan ikut melihat membuatnya mendapati jika dua kertas jawaban itu milik Anna dan murid pengganti Anna untuk olimpiade yang akan datang.


Ikut melihat Bu Lia jadi mengernyitkan dahinya merasa ada yang aneh dari dua kertas jawaban tersebut.


Pak Sugeng mengangguk yakin sekarang karena Bu Lia pun berpikiran yang sama dengan dirinya.


"Benar, saya bahkan menyamakannya dengan catatan Anna dan tulisannya memang sama"kata pak Sugeng yang menunjukkan beberapa buku yang semua kertasnya telah terisi penuh oleh catatan Anna.


Anak itu memang sangat berambisi tiap akan mengikuti olimpiade jadi selalu saja ada buku catatan yang habis karena catatan yang ditinggalkan Anna saat mengerjakan soal latihan olimpiade.


Bu Lia memperhatikan semuanya tapi kedua lembar jawaban itu benar-benar sama tulisannya entah milik Anna atau Michelle.


Walau tulisannya sama tapi nilai dan benar juga salahnya berbeda, yang Anna lebih banyak salahnya dan yang Michelle hanya dibagian pengerjaannya saja yang kurang tepat.


"Bukan anda yang memeriksa semua jawaban ini kan?"tanya Bu Lia pada pak Sugeng menunjuk pada berlembar-lembar kertas jawaban soal latihan olimpiade itu.


Pak Sugeng menggeleng, tentu saja bukan dirinya yang memeriksa tapi wali kelas masing-masing yang jawabannya telah disiapkan Sugeng untuk mempermudah para wali kelas memeriksa jawaban para murid.


"Kalau begitu diantara kedua lembar jawaban ini memang aneh, dan saya duga Michelle lah yang menjadi pelakunya"kata Bu Lia begitu serius.


Pak Sugeng yang melihatnya terkekeh saja. "Saya tahu Anna adalah murid yang paling anda sukai, saya juga suka Anna tapi untuk sekarang kita amati saja bagaimana si pelaku bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya ini di olimpiade yang akan datang"kata pak Sugeng.


Mendengar perkataan pak Sugeng membuat Bu Lia terkejut. "Anda akan menyerahkan begitu saja juara dua pada orang lain begitu?"kata Bu Lia terkejut.


Pak Sugeng dibuat terbahak mendengarnya. "Tentu saja, lagipula saya sangat yakin sekolah kita kali ini hanya satu orang yang menjadi juara umum karena saingannya tidak ada"kata Sugeng begitu yakin.


Bu Lia yang mengerti maksud pak Sugeng pun tersenyum mengangguk. "Tidak akan ramai karena pemenang setiap kategori sudah sangat jelas"kekeh Bu Lia yang diangguki pak Sugeng.


Ya mereka benar-benar yakin jika pemenang utama sudah ditentukan, tidak akan ada drama yang biasa terjadi pada mereka yang menduga-duga pemenang disetiap kategori ini dimenangkan Azriel atau kategori itu kali ini Anna karena kali ini hanya ada Azriel seorang.


***


Michelle mendengus saat diberitahu jika dirinya harus melakukan pendalaman materi di perpustakaan untuk olimpiade yang akan ia ikuti dijam istirahat.


Benar-benar menyebalkan, keluh Michelle dalam hati.


"Semangat Michelle"


Semakin menyebalkan saat Anna seperti meledeknya dengan memberi semangat padanya.


"Gue tau Lo gak terima karena gue yang bakal deket sama Azriel, tapi Anna ini buat olimpiade bukan karena gue bener-bener berniat ingin dekat Azriel"kata Michelle merasa tersakiti karena selalu dituduh yang tidak-tidak.


Walau nyatanya bohong dan dirinya hanya melakukan sandiwara.


Dan akting Michelle di sambut baik oleh anak-anak lain yang membela Michelle dan mulai menyerang Anna.


"Lo jauh-jauh lah dari Michelle, gak banget sih jadi Lo"kata salah satu dari mereka mendorong Anna.


"Kenapa? Lo takut Michelle bakal ngelampaui Lo yang cuma juara dua hah?!"tambah yang lain dengan suara membentak.


Anna yang bingung karena Michelle semakin dibuat bingung dengan keadaan kelas yang menghakiminya.


Dirinya hanya memberikan semangat untuk Michelle dan mendukung temannya itu bukan karena takut dikalahkan yang sejak awal dirinya memang sudah kalah karena tersisih dari menjadi wakil sekolah di olimpiade.


"Kalo suka sama Azriel ya deketin tuh cowok secara adil dong jangan main jelek Lo"tambah yang lain semakin menyerang Anna dengan mendorong-dorong tubuh Anna.


Anna benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, apa dirinya salah? Apa yang salah?


"Oke oke tenang teman-teman, biar gue luruskan ini"kata Melisa yang tiba-tiba muncul dan bergabung berdiri diantara mereka melindungi Anna dibelakangnya menghadapi teman-teman sekelasnya.


"Jadi gini teman-teman, sahabat gue ini cuma ngasih dukungan lho buat dia, tapi tuh orang yang gila karena ngebuat dukungan biasa itu berubah jadi Anna yang benci karena tempatnya diambil sama dia"kata Melisa santai sambil menunjuk Michelle.


Michelle tidak terima dituduh seperti itu. "Emang jelas-jelas dia gak terima kalo gue ngambil tempatnya jadi partner olimpiade Azriel kok!"kesal Michelle.


Melisa mengangguk saja tersenyum, berpikir akhirnya cewek itu memperlihatkan watak aslinya.


"Ya memang, tapi nih anak pasti gak terimanya karena merasa sangat bodoh dan usahanya kurang makanya tempatnya diambil sama Lo, bukan karena Lo yang ngambil tempatnya"kata Melisa santai terkesan merendahkan Anna namun melihat Anna yang mengangguk mengiyakan dengan heboh disana membuat Melisa benar-benar terhibur dengan sahabatnya itu.


"Nah liat kan? Dia ini cuma benci sama dirinya sendiri karena gak mampu bukan sama orang lain oke sudah paham? Kalo udah kita mau ke kantin, chiao~"kata Melisa santai pergi membawa Anna keluar kelas.