Millisanna

Millisanna
Bab 88



Anna menatap sosok dirinya di pantulan cermin memeriksa keseluruhan dirinya dari atas sampai bawah dan tersenyum saat merasa puas dengan apa yang dipakainya, dirinya cukup cantik.


Anna siap untuk jalan-jalan dengan Aldres.


"Mau kemana kamu?"tanya ibu tajam saat keluar kamar melihat Anna yang terlihat berdandan dan akan pergi itu.


"Anna mau main ma"cicit Anna takut-takut.


"Oh bagus ya kamu sekarang. Libur les sekarang malah main, kamu mau nilai kamu anjlok hah?!"kesal ibu pada Anna.


Anna diam saja menunduk. Tidak, dirinya tidak mau nilainya anjlok namun dirinya sudah berjanji pada Aldres dan juga Anna merasa walau sehari dirinya bersenang-senang tanpa belajar dirinya akan tetap mempertahankan nilainya.


Dan jika dirinya menurun, Anna akan menambah jam belajarnya untuk kembali mencapai tingkatannya sebelumnya.


Tin tin.


Anna merinding terkejut saat mendengar suara klakson tepat didepan rumahnya disana, apa Aldres menjemputnya tepat di depan rumahnya? Laki-laki itu pasti sudah gila.


Bukan, bukan Aldres yang gila, tapi Anna karena dirinya berani sekali melawan peraturan sang ibu.


Ibunya terlihat berjalan ke arah jendela dan melihat dibalik gorden transparan itu melihat sosok laki-laki dengan motornya dan bahkan itu adalah laki-laki yang berbeda dari yang mengantar Anna sebelumnya membuat ibu semakin meradang.


"Apa karena sekarang kau seorang perempuan penggoda jadi tingkah mu seperti ini hah?!"teriak ibu tidak percaya menatap Anna.


"Kau terlalu banyak bermain dengan para laki-laki! Apa kau ingin menjadi perempuan tidak berguna seumur hidup mu hah?!"kesal ibu.


"Sebaiknya kau jauh-jauh dari para laki-laki! Mereka hanya membuatmu semakin rendah dan tidak berguna!"


Anna diam saja menatap sang ibu yang mengomelinya sampai mengatai teman-temannya, Anna tidak suka teman-temannya dikatai sebagai pembawa masalah untuknya seperti yang ibunya katakan itu.


"Kau mau jadi anak durhaka hah?!"teriak ibu saat melihat Anna tetap pergi dan melewatinya begitu saja.


Anna yang membuka pintu berbalik sebentar untuk melihat ibunya yang terlihat sangat murka itu, namun Anna tidak peduli karena janjinya dengan Aldres adalah yang terpenting.


Dan mungkin ini akan menjadi janji terakhirnya pada siapapun karena sepertinya dirinya tidak akan pernah lagi bisa seperti ini.


"Anna main dulu ma, gak akan lama"pamit Anna pada sang ibu seraya mengucapkan salam dan berbalik menghampiri Aldres disana yang memperhatikan.


"Dasar kau benar-benar anak durhaka sejak kau membuat masalah di masa lalu!"kesal ibu berteriak sambil menutup pintu dengan membantingnya.


Brak.


Aldres berkedip karena suara gebrakan itu dan menatap Anna yang terlihat tersenyum kikuk.


"Maaf, Al jadi harus ngeliat yang gak seharusnya. Jadi mau kemana kita?"tanya Anna ceria di akhir karena dirinya bertekad akan menikmati harinya kali ini karena ini kesempatan satu-satunya untuk bersenang-senang.


Aldres masih menatap Anna. "Ke rumah, mama sama papa ingin ketemu sama Mili"kata Aldres tersenyum.


Anna yang mendengarnya mengangguk antusias, dirinya sudah lama tidak bertemu dengan orangtua Aldres dan Gio, dirinya belum benar-benar meminta maaf dan berterimakasih dengan benar waktu dulu.


***


Anna turun dari motor Aldres dibantu laki-laki itu dan dirinya melihat keseluruhan bagian depan rumah keluarga Aldres yang masih sama seperti dulu, hanya catnya yang sedikit berbeda dan beberapa lainnya yang sepertinya telah diperbaharui.


Pintu depan rumah tiba-tiba terbuka dan memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang sangat cantik dan tidak pernah menua karena sosok itu masih sama seperti saat dulu Anna melihatnya.


"Ibu"kata Anna merasa sangat terharu melihat wanita itu yang terlihat sangat bugar dan sehat.


Malaikat penolongnya.


Tersenyum teduh ibu Aldres merentangkan kedua tangannya menyambut Anna untuk datang padanya dan memeluknya.


Ibu Aldres disana hanya tersenyum simpul menenangkan Anna yang malah menangis seperti ini saat datang.


Aldres sendiri disana hanya diam tersenyum merasa sedikit lega melihatnya. Aldres tahu selama ini kehidupan Anna cukup melelahkan.


Dirinya merasa benar membawa gadis itu kerumahnya dan tidak jadi untuk mengajaknya jalan-jalan seperti yang sebelumnya ia rencanakan untuk pergi menonton film dan lainnya.


"Cup cup, udah nangisnya ya nanti brownies buatan ibu gosong loh"kekeh ibu Aldres menepuk-nepuk punggung Anna menyuruhnya untuk berhenti menangis dan melepaskan pelukannya.


Anna melepaskan pelukannya bergumam minta maaf dan malu sesekali menarik ingus sisa dari tangisannya yang telah berhenti.


Ibu Aldres tersenyum saja menatap Anna mengusap-usap lengan Anna karena gadis itu tumbuh cukup tinggi darinya. "Ayo masuk, ibu kebetulan bikin brownies kesukaan Mili"kata ibu Aldres menyuruh Anna masuk kedalam, mendahului karena dirinya harus segera mengeluarkan brownies yang dimaksud dari oven.


Anna mengangguk saja sambil menghapus bekas air matanya, merasa malu dirinya malah menangis seperti ini.


Puk puk.


"Udah nangis mah nangis aja gak ada yang ngelarang"kata Aldres santai menepuk-nepuk puncak kepala Anna sayang.


Membungkuk untuk melihat memeriksa wajah Anna dari samping dan mendapati wajah gadis itu memerah seperti kepiting rebus.


"Ayo masuk ada tisu didalem buat bersihin ingus itu"kata Aldres meledek Anna yang ingusan.


Anna mencebik kesal karena malu hendak memukul Aldres namun laki-laki itu dengan gesit kabur duluan dan masuk kedalam rumah.


Anna yang kesal pun mengejar Aldres karena laki-laki itu harus mendapat pembalasannya karena telah mentertawakan nya.


Ibu Aldres yang mendengar suara gaduh karena perbuatan kedua anak itu dari dapur pun berseru memperingatkan.


"Hei anak-anak jangan merusak barang!"


Tidak mendengarkan Anna dan Aldres tetap saling kejar dan kabur diantara sofa diruang tamu rumah.


"Mili beneran kayaknya kamu butuh tisu"kekeh Aldres masih mengejek Anna.


Anna yang tidak terima pun makin cepat mencoba menangkap Aldres karena laki-laki itu tetap mengejeknya dengan sesuatu yang tidak ada.


"Sini kamu, Anna ingusin sekalian!"kesal Anna memekik.


Aldres yang melihat Anna kesal itu malah makin menjadi dengan tertawa terbahak-bahak mentertawakan Anna.


Merasa lelah karena terus menerus berlari untuk kabur Aldres mengambil sapu yang ada disudut ruangan berniat untuk menghentikan Anna namun benar saja sapu itu menghentikan Anna karena membuat gadis itu tersandung.


"Awas!"seru Aldres karena terkejut melihat Anna akan jatuh menghantam lantai.


Bruk.


"Nah kan apa itu yang jatuh?!"seru ibu Aldres bergegas memeriksa suara apa itu yang jatuh sangat mengeluarkan suara sangat keras.


Dan bisa wanita paruh baya itu lihat kedua anak itu terjatuh diatas lantai dengan Aldres yang terlentang dengan Anna diatasnya yang telungkup.


"Nak jangan macem-macem"peringat ibu pada Aldres.


Aldres yang dikatai seperti itu pun sontak akan memberikan alasan namun malah mengaduh kesakitan karena wajahnya membentur wajah Anna yang sepertinya ingi mengklarifikasi juga.


Duak.


Ibu hanya melihat datar dan tidak minat melihat Aldres dan Anna yang meringis kesakitan memegangi dahi masing-masing yang tadi saling menghantam tadi.


"Itu salah kalian sendiri makanya jangan bandel, ayo makan brownies"kata ibu tidak peduli namun dengan senyuman terkekeh sang ibu berlalu meninggalkan keduanya.