
Sudah cukup lama sejak terakhir kali Azriel bertemu dengan dokter Dinda, seorang psikiater. Dokter itu tidak berubah banyak masih sama seperti terkahir kali Azriel datang.
"Sudah lama ya, kau tumbuh menjadi sangat tampan"kekeh dokter Dinda yang mengambil duduk dikursi kerjanya berhadapan dengan Azriel yang duduk dikursi depannya.
Azriel mengangguk saja menanggapi perkataan dokter Dinda.
Dokter Dinda pun beralih pada remaja lain yang duduk disofa sana melambaikan tangan senang saat dirinya tersenyum padanya.
"Milan juga udah lama gak ketemu ya, kamu juga jadi ganteng banget"puji dokter Dinda.
Milan berdecak puas dan mengedipkan sebelah matanya memberikan wink pada dokter Dinda, dokter itu pandai sekali memuji orang.
"Pak Tono enggak ikut masuk?"tanya dokter Dinda karena tidak melihat orang yang mengantar kedua remaja itu.
"Pak Tono lagi ada urusan, tadi dia nerima telepon terus pamit karena ada urusan"Milan yang menjawab.
Dokter Dinda mengangguk mengerti dan beralih pada Azriel lantas tersenyum tipis.
"Sedikit disayangkan kita kembali bertemu seperti ini"kata dokter Dinda sedikit menyayangkan hal ini karena dirinya berharap dirinya bertemu dengan Azriel saat anak laki-laki itu telah sembuh total.
"Aku juga tak mau seperti ini terus"kata Azriel dengan wajah datarnya.
Dokter Dinda mengangguk mengerti dan melirik Milan yang duduk disofa raut wajah remaja laki-laki itu pun berubah membuatnya semakin merasa tak enak karena anak itu pun sama seperti Azriel.
Sama-sama memiliki trauma yang berasal dari hal yang sama.
***
Anna merasa senang sekaligus gugup karena dirinya berhasil, dirinya benar-benar berhasil akan turun bertanding nanti dipertandingan yang akan datang.
Tak menyangka waktu yang ditunggu akhirnya datang. Yang tak disangka dirinya bahkan mendapat nilai penuh saat pertandingan untuk pemilihan pemain yang akan bertanding kemarin.
Anna tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, dirinya akan bersungguh-sungguh untuk bertanding nanti.
Tak memberitahu keluarga nya terlebih sang ibu karena dirinya berniat untuk menjadikan hal ini sebuah kejutan dan sebenarnya Anna takut jika dirinya memberitahu ibunya dirinya malah mendapat marah dari ibunya yang mungkin mengatakan pertandingan bela dirinya nanti itu tidak penting.
Tidak ingin mendengar hal seperti itu sebelum pertandingannya Anna jadi sangat yakin untuk merahasiakan hal ini pada ibunya.
Lagipula jika dipikir-pikir Anna memang selalu menyembunyikan sesuatu dari keluarganya, dan itu sudah ia lakukan sejak kecil.
"Sahabat gue bakal tanding, berarti gue wajib nonton dong ya"
Anna tertawa saja mendengar perkataan Melisa yang tiba-tiba muncul merangkulnya dari belakang.
"Tapi kalo kamu sibuk gak apa-apa gak dateng juga"kata Anna merasa tak enak.
Melisa melepas rangkulannya menatap Anna melotot terkejut tak percaya. "Hey gue nganggur senganggurnya jadi mestilah gue dateng buat dukung Lo"kata Melisa serius.
"Heh cewek cewek kalian ngehalangin jalan"
Anna dan Melisa berbalik dan melihat Milan dan Azriel berdiri tak jauh dari mereka berdua.
Melisa melihat sekitar, dirinya dan Anna bahkan tidak menghalangi jalan seperti yang dikatakan oleh laki-laki itu karena mereka masih berada di halaman depan sekolah yang luas, bukan dikoridor.
Menarik Anna kepinggir bersamanya memberi jalan pada kedua laki-laki itu yang katanya jalan mereka terhalangi itu.
"Silahkan paduka raja jalan sudah steril"kata Melisa meledek.
Milan benar-benar kesal sekarang. "Lo ngeledek hah?!"sebal Milan mengajak perang Melisa dan Melisa pun menerimanya dengan senang hati.
"Iya! Udah tau jalan lega bilang kita ngehalangin jalan?! Bilang aja kalo Lo mau ikut ngobrol sama kita"balas Melisa tak kalah keras.
Dan lagi kedua orang itu adu mulut dan dua orang lainnya tenang melihat dua orang itu kembali bertengkar.
"Lo turun tanding?"tanya Azriel tiba-tiba pada Anna.
Anna terkejut mendengarnya namun mengangguk mengiyakan saja, dirinya harus terbiasa dengan pertanyaan tiba-tiba Azriel seperti ini.
"Kapan?"tanya Azriel lagi.
"Sabtu ini"jawab Anna seadanya.
"Kenapa Azriel mau dateng nonton juga? Gue nebeng dong kalo Lo mau nonton juga"kata Melisa mengabaikan Milan dan beralih ke Azriel.
"Heh maemunah kalo pun Jiel nonton juga dia pasti bareng gue"kata Milan sebal.
Melisa melirik Milan tak minat. "Yaudah kalo gitu Lo bawa mobil nanti, jangan lupa jemput gue nanti"kata Melisa cuek dan membawa Anna dan Azriel dikedua sisinya meninggalkan Milan.
"Heh kok Jiel Lo bawa juga?!"seru Milan.
"Ya karena kita sekelas bego, yang beda kelas gak diajak bleh"kata Melisa menjulurkan lidah pada Milan meninggalkan laki-laki itu.
Milan yang ditinggal mendengus tak habis pikir melihat tingkah Melisa itu, dirinya benar-benar harus sangat sabar menghadapi cewek seperti Melisa itu.
***
Dua kursi yang tersisa ditempati oleh dua cewek yang tidak disangka-sangka oleh orang-orang karena dua kursi sisa itu diisi oleh Anna dan Melisa.
Tadi Michelle sebelum keluar kelas dirinya ingin ikut bersama Melisa karena berpikir cewek itu akan pergi ke kantin dan akan duduk di meja milik Azriel dan Milan namun cewek itu mengabaikannya dan langsung pergi ke Anna dan mereka pun pergi tanpa melihatnya sama sekali.
Membuatnya sangat kesal karena beginilah akhirnya, Michelle jadi kesulitan untuk dekat-dekat dengan Azriel.
Setelah olimpiade selesai ia kira dirinya bisa mendekati Azriel lebih mudah namun nyatanya laki-laki malah semakin sulit didekati, bahkan laki-laki itu benar-benar mengabaikannya seolah diwaktu-waktu olimpiade mengenai kebersamaan mereka tak pernah terjadi.
Malah laki-laki itu lebih kelihatan akrab dengan Melisa daripada dirinya yang padahal sebelumnya Melisa dan Azriel tak pernah bertegur sapa sebelumnya.
"Udah barengan pas olimpiade juga tapi gak ada peningkatan"komentar temannya.
"Iya gue kira Lo jadi partner olimpiade Azriel kali ini bisa bikin Lo makin deket tapi kenyataannya gak ada efeknya sama sekali"tambah temannya yang lain.
Michelle yang mendengarnya mendengus sebal, teman-temannya itu hanya bisa berkomentar dan tidak membantu apa-apa.
Dari pandangan mata mereka melihat Anna yang tiba-tiba bangkit dan pergi, terlihat dicegah Melisa namun cewek itu tetap pergi membuat Michelle menyeringai senang, ini kesempatannya.
Michelle langsung bergerak cepat menuju meja tempat Azriel itu meninggalkan kedua temannya yang menatapnya.
"Udah jelas-jelas ditolak masih maju aja tuh cewek"kata salah satu teman Michelle.
"Biasa, gak punya malu dia"kata teman Michelle yang lain bergerak menuju meja yang kosong diikuti temannya, berpikir mungkin mereka akan berhenti berteman dengan Michelle.
Lagipula cewek itu yang mendekati mereka tiba-tiba.
"Hey boleh duduk disini?"tanya Michelle yang muncul dimeja tempat Azriel dan yang lainnya.
Milan dan Melisa dalam hati mengehela jengah secara bersamaan mendapati sosok Michelle yang muncul dan Azriel sendiri sepenuhnya tidak menganggap Michelle.
Azriel berdiri dari duduknya membuat yang lainnya bingung terlebih Michelle, cewek itu merasa marah karena dirinya datang cowok itu malah pergi.
"Mau kemana?"tanya Milan pada Azriel.
"Ke kelas, gue udah selesai"jawab Azriel santai padahal makanannya belum disentuh berlalu pergi begitu saja.
"Gue juga udah selesai, gue duluan ya Michelle"kata Melisa ikut pergi.
Dan terakhir Milan, laki-laki itu pun ikut berdiri dan berlalu begitu saja meninggalkan Michelle sendirian disana.
Michelle mendadak jadi bahan pembicaraan orang-orang dikantin karena dirinya diabaikan atau mungkin dihindari oleh Azriel dan lainnya.
Michelle menggeram marah, dirinya tidak terima diperlakukan seperti ini. Yang harusnya diperlakukan seperti ini adalah Anna, cewek menjijikan itu yang harusnya mendapat penghinaan ini.
***
Hari Sabtu tiba, Anna benar-benar merasa gugup bukan main. Berdiri didepan cermin cukup lama meyakinkan diri jika dirinya pasti bisa, dirinya mampu menang.
"Harus menang, Anna harus menang, ayo banggakan mama dengan mendapatkan emas"kata Anna pada pantulan dirinya di cermin.
Menghembuskan nafas menenangkan diri, Anna siap untuk bertanding. Meraih tasnya Anna siap berangkat dan memenangkan semua pertandingannya.
***
Milan menghela untuk kesekian kalinya membuat Azriel yang duduk disebelah Milan yang sedang menyetir itu dibuat kesal.
"Lo ada masalah apa sih sebenarnya?"sebal Azriel karena sejak mobil berjalan pergi untuk menjemput Melisa Milan selalu saja mengehela nafas.
Milan tidak menjawab dan hanya mencebik memarkirkan mobil didepan rumah Melisa yang ternyata cewek itu sudah menunggu didepan gerbang rumahnya dengan seorang wanita disana yang bisa mereka pastikan itu adalah ibunya Melisa.
Azriel yang tepat dihadapan Melisa pun menurunkan kaca mobil disebelahnya mengangguk menyapa ibu Melisa ramah.
"Pagi Tante"sapa Azriel mengangguk sopan begitu juga Milan dibelakangnya.
Ibu Melisa itu mengangguk dan mengamati mereka dengan sangat intens dan tajam. "Awas aja kalo kalian macem-macem sama anak saya, saya kenal orangtua kalian"kata ibu Melisa itu langsung mengancam.
"Mama ih malu-maluin"keluh Melisa.
"Gak malu-maluin dong, ini peringatan biar mereka gak macem-macem sama kamu"kata ibu Melisa itu merasa tindakannya benar.
"Ingat, kalo kalian macem-macem kekh!"kata ibu Melisa itu memperagakan memotong leher sebagai peringatan untuk kedua remaja laki-laki yang menjemput anaknya itu.
Melisa sudah lelah tidak tahan lagi dirinya pun langsung pamit menyalami sang ibu dan masuk kedalam mobil.
"Inget loh, kekh!"lagi ibu Melisa itu menekankan ancamannya pada kedua remaja laki-laki itu.
Azriel dan Milan mengangguk saja mengerti dan mereka pun pamit pada ibu Melisa disana dan mobil pun meninggalkan kediaman keluarga Melisa.