
"Anna"
Anna yang selesai berganti pakaian dengan seragamnya pun melihat pada Sisilia yang memanggilnya itu.
"Kenapa?"tanya Anna langsung. Mengabaikan jika wanita itu tidak akan bertegur sapa dengannya jika tidak ada urusan.
"Tahun angkatan kita bakal ngadain reuni, Lo harus dateng"kata Sisilia langsung dengan serius karena dirinya harus bisa membawa Anna ke reuni itu jika dirinya tidak mau kehidupannya hancur oleh Vanessa dan juga Michelle yang entah dari mana kedua cewek itu yang semakin beringas begitu mereka dewasa itu tahu jika dirinya satu pekerjaan dan satu tempat kerja dengan Anna.
Mereka mengancam dirinya jika tidak berhasil membawa Anna ke reuni mereka akan membuat dirinya kehilangan pekerjaannya.
Sisilia memang tidak tahu bagaimana caranya mereka berdua membuat dirinya kehilangan pekerjaannya namun Sisilia yakin kedua cewek itu bisa melakukannya dengan mudah.
"Lo harus dateng"kata Sisilia kukuh.
Anna berpikir untuk apa dirinya pergi ke acara yang pastinya akan membuatnya tidak nyaman bahkan menderita maka dirinya menolak.
"Tidak, lain kali saja"kata Anna cuek dan melewati Sisilia begitu saja keluar dari ruang ganti staff perempuan rumah sakit.
"Lo gak setia kawan banget sama gue"kata Sisilia mulai kesal.
Anna berhenti dan melihat pada Sisilia. "Kita mulai mengenal sejak aku kesini dan mendapati kau yang sudah menjadi perawat disini, dan kita sudah berteman? Tidak, kau hanya mengatakan nya disaat kau butuh saja"kata Anna sarkas.
Sisilia berdecak, sejak kapan cewek yang selalu menunduk dan menerima segala bullying yang menimpanya menjadi cewek seberani dan setidak tersentuh ini.
"Jika tidak ada lagi yang mau disampaikan sebaiknya cepat bekerja"kata Anna cuek mendahului Sisilia pergi duluan.
Anna sejujurnya sedang dalam mood yang jelek, sejak kemunculan cewek bermata biru yang tidak sopan dan mengatakan jika cewek itu adalah tunangannya Azriel mood nya benar-benar hancur, membuatnya selalu merasa kesal.
"Selamat pagi"sapa Anna begitu dirinya masuk ke bagian UGD menuju meja perawat penjaga dan menyapa sopan Maria kepala perawat itu.
"Pagi, kau sudah mulai bekerja sejak pagi hm, bersemangat sekali"ramah Maria.
"Haha jadwal ku hari ini memang dimulai pagi hari"kekeh Anna membalas sambil memeriksa layar laptop untuk melihat data-data pasien yang ada.
"Kepala perawat aku akan pulang sekarang"tiba-tiba Ray datang muncul dari pintu yang menghubungkan bangsal dan UGD, sepertinya laki-laki itu baru selesai lembur.
"Terimakasih atas kerja keras mu"kata Maria.
Ray mengangguk saja dan pergi untuk mengganti pakaiannya dan siap untuk pulang mandi dan pergi tidur.
Anna hanya diam memperhatikan temannya itu. "Sepertinya dia sangat sibuk semalam"komentar Anna.
"Ya, ada korban lalu lintas mengalami patah tulang dan tulang yang patahnya itu mengenai arterinya"jelas Maria.
Anna mengangguk saja mengerti, merasa santai karena semalam yang berjaga adalah dokter bedah umum yang lain yang juga tak kalah hebatnya sepertinya dan lagipula operasinya berhasil.
Ray selesai mengganti pakaiannya dan bersiap untuk pulang. Berjalan menuju pintu keluar rumah sakit namun langkahnya terhenti kala melihat seseorang yang membuatnya mengernyit tidak suka.
Maka dirinya pun mendekati sosok itu yang sepertinya sedang mencari-cari sesuatu terlihat dari gelagatnya yang memperhatikan seluruh lobi rumah sakit.
"Lo, mau apa Lo kesini?"sewot Ray bertanya pada laki-laki itu karena alarmnya mengatakan jika laki-laki itu akan menjadi saingannya dalam mendapatkan Anna.
Laki-laki itu berbalik dan melihat Ray menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti kenapa orang tidak dikenal yang tiba-tiba muncul memanggilnya dengan sewot itu.
"Siapa Lo?"balas dingin laki-laki itu benar-benar tidak suka dengan Ray.
Ray mendengus terkekeh sarkas. "Lo kesini mau mengenang masa lalu sama Anna kan? Gak boleh! Lo itu biangnya masalah buat Anna! Anna sial dan melarat karena Lo tau gak?!"kesal Ray menumpahkan emosinya pada si laki-laki.
Si laki-laki sendiri mengernyit bingung tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Ray. "Siapa sih Lo? Gue kesini karena ada urusan sama direktur rumah sakit ini!"si laki-laki benar-benar tersulut emosi.
Ray menggeram kesal, ia yakin perkataan laki-laki itu hanya kamuflase karena tujuan laki-laki itu datang adalah untuk bertemu Anna dan Annanya akan kembali menderita akibat laki-laki ini.
"Sebaiknya Lo pergi sebelum gue panggilkan penjaga sialan!"kesal Ray.
"Dokter Ray!"
Ray terkejut karena kemunculan direktur rumah sakit yang meneriakkan namanya dan memperingati nya.
"Ah tuan maafkan saya, saya terlalu lama menelpon"kata Ravi yang muncul dengan nafas terengah karena berlari saat menyadari tuannya sudah pergi duluan masuk kedalam rumah sakit disaat dirinya masih menelpon.
"Diluar panas"kata tuannya cuek dan Ravi hanya tersenyum kikuk.
Ray tidak mengerti dengan keadaan sekarang melihat pada direktur rumah sakit pria tua itu tetap memelototinya membuat Ray merasa dirinya telah melakukan sebuah kesalahan.
"Sebaiknya kau minta maaf atas perilaku tidak sopan mu tadi, tuan Alfhazriel ini adalah sponsor sekaligus donatur utama rumah sakit tempat kau bekerja ini"kata direktur rumah sakit penuh dengan penekanan agar dokter muda itu paham betul apa yang ia maksud.
"Dia datang karena ada pertemuan dengan ku bukan seperti yang kau katakan tadi, minta maaf"kata direktur rumah sakit itu memaksa Ray untuk membungkuk dan meminta maaf pada Azriel.
"Saya minta maaf"
Azriel mengangguk saja tidak masalah dan itu membuat sang direktur rumah sakit merasa senang.
"Nah maaf untuk ketidaknyamanannya, dokter muda ini baru saja selesai bekerja dan belum sempat tidur jadi sedikit tidak fokus, mohon dimaafkan"kata direktur rumah sakit kikuk.
"Sana cepet pulang kamu, istirahat yang banyak karena sore nanti kau akan kembali bekerja, hati-hati dijalan"suruh direktur rumah sakit itu sedikit mengusir Ray.
Ray mencebik saja pada pria tua yang merupakan kakek dari ayahnya itu hanya bisa mendengus melirik Azriel tajam seraya pergi untuk pulang, Ray masih tidak percaya jika Azriel datang hanya untuk pertemuannya dengan kakeknya itu.