Millisanna

Millisanna
Bab 100



Kembali SMA Arya memenangkan seluruh penghargaan dan juara yang ada di olimpiade, SMA Arya telah kembali mengembalikan martabat tak terkalahkan mereka setelah olimpiade sebelumnya martabat mereka sedikit tercoreng karena satu perwakilan SMA Arya tidak bisa merebut juara 2.


Dengan Anna yang kembali menjadi perwakilan martabat SMA Arya terjaga dan membungkam orang-orang yang mulai merendahkan SMA Arya hanya karena satu kali kekalahan.


Pengumuman tentang kemenangan telak pasangan emas SMA Arya di setiap olimpiade memenuhi setiap sudut sekolah, di mading, web sekolah, bahkan saat upacara kepala sekolah senantiasa membicarakannya dan mengatakan pada para murid untuk mencontoh kepintaran pasangan emas SMA Arya itu.


Jika ada yang meraih sesuatu disekitarnya pasti ada saja orang yang benci. Salah satunya tentu saja Michelle yang menjadi pembenci itu.


Gadis itu tidak terima karena Anna yang kembali jadi perwakilan olimpiade lagi tanpa ada tes seperti sebelumnya membuat dirinya tidak bisa mencuri posisi Anna lagi sebagai perwakilan untuk olimpiade dan kesempatannya untuk mendekati Azriel jadi semakin menipis.


Michelle tentu saja tidak kapok saat dirinya melihat sosok Azriel yang mengerikan yang rasanya laki-laki itu benar-benar akan membunuhnya, namun begitu bukannya takut Michelle malah semakin menginginkan Azriel karena jika Azriel begitu mencintainya laki-laki itu pasti akan berperilaku menyeramkan seperti itu kala melindunginya.


Tapi sayang sekali Azriel bersikap seperti itu hanya untuk Anna membuat Michelle benar-benar membenci Anna setengah mati.


Karena harusnya dirinya yang ada di posisi Anna.


"Heh ada orang yang gak tau diri nih"


Michelle yang mendengar celetukan Vanessa pun hanya mendelik tajam dan menghadap si gadis menor itu balas menantang.


Vanessa yang melihat keberanian Michelle pun hanya terkekeh, tak habis pikir ternyata ada orang yang begitu tidak tahu dirinya seperti Michelle ini.


"Kenapa ya Lo enggak dikeluarin, padahal Lo jelas-jelas berlalu curang pas latihan soal buat olimpiade waktu itu"kata Vanessa memulai dengan melirik kedua temannya yang senantiasa berada ada disisinya.


Michelle mendengus mendengarnya karena lagi-lagi Vanessa merundungnya dengan topik itu seolah tidak ada topik lain yang bisa dipakai cewek itu untuk merundungnya.


"Gak bosen-bosen ya Lo ngeledekin gue terus, gak cape apa?"tanya Michelle benar-benar tidak terprovokasi oleh Vanessa.


Vanessa yang melihat ekspresi Michelle yang sepertinya gadis itu benar-benar tebal muka pun tidak merasa kesal dan jengkel, tapi dirinya malah semakin antusias karena semakin Michelle merasa sombong akan semakin menyenangkan saat melihat cewek itu terpuruk yang begitu sangat jatuh.


"Enggak tuh, gue cuma mau berkomentar kayaknya daripada Lo emang mending si Anna sih, ya walaupun si Anna loser nomor dua tapi setidaknya tuh cewek gak malu-maluin sekolah kek Lo"kekeh Vanessa.


"Udah capek-capek curang eh malah gak menang, Lo bodoh banget apa?"tawa Vanessa diakhir mentertawakan Michelle begitu juga dengan kedua temannya yang ikut tertawa karena perkataan Vanessa memang lelucon yang pantas untuk mendapatkan tawa.


Michelle emosi mendengar perkataan Vanessa itu. Dirinya akan membalas cewek itu beserta kedua temannya. Lihat saja nanti akan ada waktunya ketiga cewek itu mendapat balasan darinya.


Bruk.


Michelle sengaja menabrakkan bahunya menyenggol Vanessa dengan kasar yang ditanggapi oleh Vanessa dengan terkekeh tertawa mendapati reaksi Michelle yang sudah ia tunggu-tunggu.


"Mudah sekali menjatuhkan anak manja yang bodoh"kekeh Vanessa merasa kali ini orang yang diganggunya akan sangat membuatnya terhibur.


***


Jam pelajaran sedang berlangsung, guru sedang menjelaskan materi didepan kelas dengan Anna yang serius mendengarkan dan sesekali mencatat sesuatu yang menurutnya penting disana.


Membicarakan soal catatan Anna tidak perlu khawatir jika dirinya akan tertinggal jauh soal catatan kala dirinya dispen untuk olimpiade karena ada Melisa bahkan Mutia yang berbaik hati memberikan catatan mereka untuk Anna salin.


Yah kehidupan sekolahnya benar-benar berubah drastis semenjak dirinya memiliki teman dan temannya adalah Melisa, gadis yang sangat baik.


"Baiklah anak-anak, ibu akan memberikan tugas kelompok mengenai materi yang tadi ibu terangkan, satu kelompok dua orang dan biar mudah dengan teman disamping kalian saja"kata guru sebelum mengakhiri pelajarannya.


Anna berkedip ragu saat mendengar tugas kelompok yang disebutkan guru tadi, melihat kearah Melisa gadis itu sepertinya sudah berkelompok dengan Mutia karena mereka duduk bersampingan di jajaran depan.


Melirik ke orang di samping kanannya orang itu terlihat sudah berkelompok dengan orang disamping kanannya itu mengabaikan Anna yang ada disamping kirinya.


"Mau kapan Lo kerja kelompoknya?"tanya Azriel tiba-tiba disaat Anna akan berpasrah diri jika dirinya akan sendiri.


"Ya?"kaget Anna karena saking terkejut dan tidak menyangkanya. Azriel bertanya seperti itu berarti laki-laki itu ingin sekelompok dengannya kan?


Azriel berdecak kecil karena melihat Anna yang tidak konek. "Kita sekelompok kan?"


Anna yang mendengar jika Azriel benar-benar akan sekelompok dengannya pun sontak mengangguk mengiyakan dengan semangat karena Anna merasa senang dirinya memiliki kelompok.


"Mau kerjain dimana? Dirumah Lo?"tanya Azriel.


Anna sontak menggeleng tidak setuju.


Bukannya Anna tidak memperbolehkan Azriel datang kerumahnya tapi Anna takut jika aibnya akan ketahuan oleh laki-laki itu.


Dirinya yang dianggap sampah dan selalu direndahkan oleh keluarganya bukan kah itu aib yang harus ia tutupi seumur hidup.


"Ditempat lain aja"kata Anna kikuk.


"Tapi jangan di cafe, nanti gak fokus"lanjut Anna berakhir merasa malu karena dirinya merasa melunjak.


Azriel mengangguk saja. "Kalo gitu dirumah gue, hari Sabtu"


Anna mengangguk mengerti dan setuju dengan usulan Azriel.


***


Hari Sabtu Anna izin tidak masuk les ke guru lesnya karena dirinya akan kerja kelompok, guru lesnya mengatakan tidak masalah tapi ibunya malah marah-marah memarahinya dan dibilang dirinya hanya akan main-main bukan kerja kelompok.


"Pergi les kamu sana ngapain kerja kelompok! Pasti alasan kamu itu buat main!"kata ibu marah.


"Enggak bu Anna beneran mau kerja kelompok gak bohong"kata Anna memelas tidak tahu harus bagaimana lagi agar ibunya percaya padanya.


Marah-marah ibu mendadak berhenti kala sebuah motor dengan seseorang yang mengendarainya datang dan berhenti didepan garasi rumah keluarga Anna.


Dan dilihat seseorang itu adalah laki-laki yang sama yang setahu Anna adalah pacar adiknya Sarah.


"Pagi Tante, kak Anna"sapa laki-laki bernama Tao itu menyapa mereka dengan sopan juga ceria.


"Eh Tao mau jemput Sarah buat nonton bioskop ya? Ayo ayo masuk Sarah nya masih siap-siap didalem"kata ibu sangat ramah berbanding terbalik saat dengan Anna karena Anna seolah bisa melihat tanduk di kepala sang ibu tadi.


"Kak Anna mau kemana?"tanya Tao ramah.


"Dia mau kerja kelompok, tapi gak pergi-pergi, sana pergi nanti telat temen mu nungguin nanti"kata ibu bahkan menyuruh Anna untuk segera bergegas.


Anna yang mendapati ibunya benar-benar berubah drastis menjaga image didepan pacar Sarah pun membuat Anna tidak habis pikir namun dirinya berterimakasih pada Tao, karena kemunculan laki-laki itu dirinya bisa pergi.


"Kalo gitu Anna berangkat ma"pamit Anna.


Tao sendiri tersenyum saja melihat Anna yang tadi juga pamitan dengannya dengan mengangguk padanya.


Sejujurnya Tao ngeri sendiri dengan apa yang dialami Anna, merasa kasihan tapi dirinya hanya orang luar dan lagi dirinya adalah kekasih dari adiknya Anna.