
Maria sang kepala perawat dirumah sakit pinggiran kota S itu yang sedang membeli kopi dari mesin minuman melirik kearah para perawat lain yang lagi-lagi membicarakan hal yang sama berulangkali. Yaitu membicarakan soal Anna.
"Ini hampir satu tahun dan bukan kah dokter Anna sudah dinyatakan meninggal?"kata salah satu perawat dikelompok itu.
"Benar, operasinya memang berjalan lancar namun setelah selesai operasi dokter Anna dinyatakan mati otak"sahut yang lain.
"Tapi kenapa tubuh dokter Anna masih saja dipertahankan? Tidakkah keluarganya begitu kejam dengan melakukan itu? Semua itu menyedihkan untuk dokter Anna"tambah yang lain.
"Kudengar ini bukan permintaan keluarganya dokter Anna melainkan pemilik ketua yayasan yang memiliki rumah sakit ini"kata yang lain dengan suara yang dikecilkan karena dirinya tidak ingin ada orang yang mendengar diluar kelompok mereka itu.
"Yang benar? Tuan Azriel sendiri yang memintanya?!"kata yang lain tidak percaya.
Perawat itu mengangguk serius. "Iya, ternyata dokter Anna dan tuan Azriel sudah kenal sejak sekolah dulu, bahkan ada yang bilang mereka sudah kenal sejak kecil"kata perawat itu begitu serius.
"Wah tidak terduga, bagaimana caranya dokter Anna bisa dekat dengan orang-orang tampan itu, selain dokter Ray, dokter Anna juga memiliki teman yang semuanya tampan-tampan kan?"kata perawat lain iri dengan Anna yang dekat dengan banyak pria tampan.
"Ya benar, sekelompok orang-orang setahun lalu datang dan menemui dokter Anna mengobrol dikantornya dan semua laki-laki nya sangat tampan dan yang perempuannya sangat cantik"kata perawat lain mengingat bagaimana hebohnya saat itu karena merasa rumah sakit kala itu kedatangan sekelompok selebriti.
"Kenapa kita jadi melenceng seperti ini sih?! Kita kan sedang membicarakan tentang dokter Anna yang sudah meninggal tapi masih saja dirawat seolah dia akan bangun saja"kata satu perawat membuat mereka kembali ke jalur.
"Benar juga, dan sepertinya kita harus membuat laporan keberatan karena beberapa pasien yang mengetahui jika ada mayat disini yang sudah satu tahun tidak dikuburkan mereka mulai mengeluh dan itu sangat menyebalkan"kata salah satu perawat.
"Benar, aku juga sering dapat keluhan bahkan para pasien mengancam jika dokter Anna tidak segera dikuburkan mereka akan melaporkan jika kita melakukan malapraktik disini"tambah yang lain.
"Aku juga setuju, orang mati harusnya tidak tetap berada diantara orang yang masih hidup"kata perawat lain setuju untuk membuat laporan keberatan pada direktur rumah sakit.
Maria menghela nafas merasa tidak berguna dirinya mendengarkan obrolan para perawat itu yang jelas sekali mereka sebenarnya membenci Anna dan Maria tahu alasan kenapa para perawat itu membenci Anna. Karena mayoritas pekerja laki-laki dirumah sakit ini menyukai Anna dan menaruh hati pada dokter multitalenta itu dan mungkin mereka iri pada Anna dan jadi membencinya.
Mendengus tak habis pikir Maria menghentikan mendengarkan obrolan tidak berguna mereka dan berniat akan berpindah ke ruangan staff namun terhenti saat menyadari disana seseorang yang sedang dibicarakan kelompok itu berdiri bersama dengan bawahannya.
Tersenyum menyeringai Maria pun menyapa Azriel. "Ah tuan Azriel selamat datang. Anda kembali berkunjung?"
Sekelompok perawat itu sontak mematung kala mendengar perkataan Maria dan dengan ragu-ragu mereka berbalik menatap kearah Maria menatap dan mereka bisa melihat Azriel dan Ravi disana menatap mereka dengan sangat dingin.
Sepertinya Azriel mendengarkan obrolan mereka membuat mereka ketakutan setengah mati.
"A-anu tuan–"
"Ya seperti biasa"kata Azriel memotong dan mengabaikan kelompok perawat itu menjawab pertanyaan Maria dan berjalan menghampirinya diikuti Ravi melewati kelompok itu begitu saja.
"Kalau begitu bersama saja, saya juga hendak melakukan pemeriksaan rutin terhadap Anna"kata Maria ramah dan mereka pun pergi meninggalkan sekelompok perawat itu yang terlihat sangat was was dan ketakutan bukan main karena mereka berada diujung tanduk.
***
Azriel ditinggal sendiri didepan dinding jendela kaca ruangan Anna dirawat itu, terduduk dikursi tunggu disana menatap sosok Anna yang masih betah menutup matanya dan berbaring dengan tenang disana.
Ravi pergi untuk mengurus kelompok perawat yang bergosip tentangnya dan Anna. Lalu Maria, kepala perawat itu pergi setelah melakukan pemeriksaan rutin terhadap Anna dan seperti biasanya selalu ada gelengan yang mengatakan jika kondisi Anna tidak ada perubahan membuat Azriel agaknya merasa putus asa.
Semua ini salahnya. Selalu saja pemikiran itu senantiasa terpatri permanen didalam otak dan hatinya.
Azriel menunduk penuh menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang menumpu wajahnya yang menunduk itu.
Apa Azriel menyerah saja?
Anna tidak akan pernah bangun lagi, gadis itu sudah mati dan itu semua karena ulahnya.
Azriel mulai berpikir jika perkataan orang-orang tentang dirinya yang menahan Anna seperti ini sama saja dengan dirinya menyiksa Anna.
Padahal sejak dulu Azriel senantiasa menyiksa Anna dengan selalu memberikan kemalangan pada si gadis, dan sekarang pun dirinya tetap saja menyiksa Anna dengan menahan si gadis.
"Hiks.."
Satu isakan lolos seraya tubuhnya kembali tegak dengan kedua tangannya yang berusaha untuk menghapus air matanya yang senantiasa mengalir itu.
Bangkit dari duduknya menegakkan diri Azriel menatap sosok Anna disana. Dirinya menyerah dan dirinya sadar jika dirinya sejak awal harus merelakan.
Azriel akan merelakan Anna.
Melangkah, Azriel akan masuk dan merelakan Anna untuk meninggalkannya.
Azriel seharusnya tidak egois dengan berpikir Anna akan bangun dan mengatakan jika gadis itu mencintainya seperti yang ada di mimpinya itu.
Semua itu hanya mimpi Azriel, tidak nyata, semua itu hanya keinginan kuat dirinya yang begitu kuat sampai terbawa ke mimpi.
Merasa bodoh jika berpikir dirinya dicintai oleh si gadis, jelas-jelas dirinya ini pantas untuk dibenci bukan dicintai oleh si gadis.
Azriel yang membuat Anna menderita bahkan sejak dulu Azriel selalu membuat Anna menderita. Bajingan sekali dirinya ini berpikir Anna mencintainya dan tidak menganggap semua kejahatan yang ia lakukan pada gadis itu.
Tap.
Azriel telah masuk keruangan rawat isolasi Anna dan dirinya tepat berdiri disebelah si gadis yang terbaring menutup mata itu.
Air mata tidak hentinya mengalir dan Azriel membiarkannya saja karena kedua tangannya bergerak pelan untuk melepas masker oksigen yang selama ini membantu Anna untuk hidup.
Jika dikatakan Azriel akan merelakan Anna sepertinya tidak cocok karena bahkan Azriel tidak memiliki hak untuk berpikir seperti itu.
"Anna maaf untuk semuanya dan nikmatilah surga disana, kau akan melihatku menderita di neraka untuk membayar semua dosaku padamu, begitu aku melepas ini dan akan segera menyusul"kata Azriel tidak ada keraguan disetiap katanya karena dirinya memang berniat akan membayar semua yang telah ia perbuat pada Anna, segera setelah Anna dirinya pun akan membunuh dirinya sendiri.
"Mungkin kau berpikir betapa menjijikan dan brengseknya diriku ini tapi Anna aku mencintaimu sejak awal hingga akhir nanti"
Tiit.. tiit.. tiit...