
Ujian akhir semester satu sudah selesai dan hari ini pembagian lembaran hasil ujian. Bu Erna membagikan selembaran itu dan kemudian kelas heboh karena mereka semua masuk kedalam syarat untuk bisa ikut berkemah nanti.
"Gila! Kalo gak ada angka satunya gue bakal gagal sialan"kekeh salah satu dari mereka.
"Untung Lo, gue mah pas pasan"kekeh yang lain dan beberapa seruan lain yang semakin membuat kelas berisik.
Anna melihat lembar hasil ujiannya, semuanya diatas rata-rata dan yang menohoknya adalah peringkat diujung atas kanan lembaran tersebut adalah angka 2 membuat Anna menghela nafas gusar menundukkan kepalanya semakin dalam merasa frustasi.
Azriel memperhatikan Anna dari tempat duduknya lalu melihat selembaran kertas hasil ujian miliknya dan diujung atas kanan ada angka satu disana.
Suara bu Erna mengambil atensi nya dan anak-anak lainnya. "Sebelumnya selamat untuk Azriel dan Anna yang lagi-lagi menempati posisi pertama dan kedua seangkatan"perkataan Bu Erna membuat kelas kembali gaduh dengan tepuk tangan dan sorakan anak-anak untuk Azriel pastinya.
"Nah karena ibu lihat nilai kalian semua memenuhi syarat untuk ikut kemah, jadi ibu akan memberitahukan kelompok kalian untuk berkemah nanti"jelas Bu Erna sembari menempel kertas berisi daftar kelompok yang untuk anak didiknya itu.
"Seperti tahun sebelumnya kakak kelas kalian, kalian akan dicampur dengan kelas lain dengan tujuan agar saling mengenal satu sama lain"kata Bu Erna yang kembali menghadap anak didiknya.
"Jadi ibu harap kalian jaga sikap dengan teman-teman kalian nanti ya"kata Bu Erna mengakhiri kelas dan keluar karena bel istirahat berbunyi.
Anak-anak langsung mengerubungi kertas yang ditempel wali kelasnya itu, begitu juga Anna yang ikut nimbrung disana walau dibarisan paling belakang.
Seseorang mencolek lengannya dan dilihat gadis yang duduk disamping Azriel tersenyum padanya. "Lo sekelompok sama Putri dari kelas 11-6. Itu orangnya, dia kesini nyari lo kayaknya"kata gadis itu menunjuk pada anak perempuan yang berdiri didepan pintu kelasnya tersenyum pada Anna.
Anna mengangguk. "Makasih"katanya sebelum menghampiri Putri yang mengajaknya untuk bergabung dengan anggota kelompoknya yang lain yang menunggu di perpustakaan.
Gadis yang menolong Anna itu tersenyum bangga kembali mencari namanya tanpa sadar ada Azriel disebelahnya.
"Sok baik heh?"celetuk Azriel membuat gadis itu menatapnya.
"Well gue emang gak deket sama Anna, tapi gue baik kok sama dia, apalagi dia beberapakali bantuin gue"kata gadis itu tak peduli berjalan pergi keluar kelas meninggalkan Azriel untuk mencari kelompoknya.
Azriel terkekeh kecil lalu kembali mencari namanya dan moodnya langsung hancur saat ia melihat sekelompok dengan siapa.
"Jiel!!!"seru Vanessa dari ambang pintu kelasnya.
Hah kemah pertama gue bakal ancur, keluh Azriel dalam hati membiarkan Vanessa membawanya pergi untuk berkumpul dengan kelompoknya.
***
Anna terduduk kikuk diantara 7 orang disana, ada 4 laki-laki dan ada 4 perempuan termasuk dirinya disana. Mereka dari kelas 11-1 satu orang laki-laki bernama Bimo, kelas 11-2 dua orang laki-laki bernama Indra dan Saman, kelas 11-3 hanya Anna seorang, kelas 11-4 seorang perempuan sekretaris OSIS bernama Intan, kelas 11-5 seorang perempuan juga bernama Laras, dan kelas 11-6 satu orang laki-laki bernama Jihan dan seorang perempuan bernama Putri yang menjemputnya ke kelasnya tadi.
"Oke udah saling kenal kan?"kata Intan memulai kumpulan mereka, sepertinya menjadi sekretaris OSIS membuatnya menjadi terbiasa memimpin rapat.
Mereka semua mengangguk paham dan Intan pun membagikan selembaran yang ia tulis tangan sendiri sebanyak orang yang hadir disana.
"Wow memang sekretaris OSIS kebanggaan"puji Bimo melihat usaha keras Intan.
"Makasih. Kita mulai aja"kata Intan memulai kumpulan setelah berterimakasih atas pujian Bimo.
"Kita semua dibagi 15 kelompok dan ada dua kelompok yang bakal berbagi tenda, jadi satu tenda itu berisi 8 orang dari dua kelompok"kata Intan.
"Oh jadi kita bakal satu tenda sama anak cewek dari kelompok lain terus cowok sama cowok, gitu ya?"kata Laras.
"Iya bener, tapi sayang sekali teman-teman kita kelompok 15 dan kita bakal satu tenda 3 kelompok dengan kelompok 13 dan 14"kata Intan sedih.
Anak-anak disana sontak mengungkapkan keberatannya.
"Kok gitu? Berarti satu tenda kita bakal 12 orang gitu? Gak mau ah"kata Putri gak terima.
"Iya nih, sumpek tau mana badan gue gede lagi"keluh Saman yang memang ia adalah anggota dengan tubuh paling besar diantara mereka.
"Tenang sebentar, sekolah udah ngasih kelebihan kok. Kita bakal nempatin tenda paling besar terus gue liat anggota kelompok 13 cuma bertujuh karena kelas 11-3 jumlah muridnya ganjil, dan ceweknya cuma 3"perkataan Intan membuat para anggota perempuan menghela lega.
"Dan untuk cowok dikelompok 13 ada Azriel dan Dilan si ketua OSIS"tambahan Intan membuat para anggota cowok heboh sampai kelompok mereka mendapat peringatan dari penjaga perpustakaan.
"Asik dong, gue bakal bawa kartu"seru Jihan.
"Gue bawa kacang"tambah Indra yang diangguki semangat oleh Bimo.
"Gue bawa ciki sekarung!"seru Saman semangat semakin membuat para cowok itu semakin heboh dan lagi-lagi mendapat pelototan dari penjaga perpustakaan.
Para anggota perempuan hanya bisa menunduk malu dengan tingkah anggota laki-laki mereka itu. Kemudian Intan kembali mengeluarkan beberapa kertas kecil berwarna merah.
"Kelas gue jadi perwakilan buat nentuin nomer kursi kita dan bis karena ketua dan sekretaris OSIS satu kelas dikelas gue"kata Intan.
"Ini nomer kursi kalian di bus nanti, kita dapet bus pertama yang gak satu bus sama guru, kita bakal pergi 3 bus dan bus ketiga ada gurunya, kita bus pertama gak ada gurunya"lanjutnya membagikan kertas-kertas tersebut secara acak.
"Woah, Tan Lo punya tangan dewa!"seru Saman memperlihatkan nomer yang tertera dikertas yang diberikan intan. Dilihat kertas itu saling berurutan, nomer 20 dan 21 lalu 24 dan 25 yang artinya mereka akan duduk dalam satu jajaran dan membelakangi.
Intan hanya terkekeh. "Cuma kebetulan"
"Tapi kok buat gue sama Anna beda sih?"keluh putri saat melihat nomer Laras dan intan 5 dan 6 sedangkan dirinya 1 dan Anna 15.
"Udah gak apa-apa Lo kan duduk nya didepan gue, diliat dari denah kursinya"kata Laras menenangkan.
"Sorry na, tangan gue ternyata gak begitu dewa"kekeh Intan.
Anna menggeleng. "Gak apa-apa yang penting satu bis sama kalian" Mereka semua mengangguk.
"Jangan lupa bawa obat pribadi masing-masing sama yang pribadi pribadi yang lainnya, jangan berlebihan, ikutin aja yang udah gue tulisin dikertas kalian, kita cuma 5 hari disana"kata Intan mengingatkan.
"Siap bos"seru yang lainnya dan mereka pun terkekeh bersama.
Masuk kedalam kelas yang lenggang karena anak lain sepertinya pergi ke kantin atau yang lainnya. Melihat papan tulis ada tulisan sekretaris kelasnya disana yang ditulis rapot akan dibagikan saat sedang kemah dan orangtua yang akan mengambilnya.
Mood Anna tiba-tiba turun drastis. Pembagian hasil ujian dan rapot adalah hal yang membuat Anna merasa sangat takut walau nilainya diatas rata-rata tapi tetap saja tak terlihat dimata mamanya kalau belum juara 1 mah.
Menghembuskan nafas menenangkan diri dan berpikir abaikan saja omelan mamanya nanti karena ia harus menyiapkan beberapa perlengkapan untuk ia berkemah nanti.
***
Mama menatap Anna datar setelah menerima hasil ujian akhir semester Anna. "Yaudah sana siapin buat kemah lusa, nanti mama bawa rapot kamu"kata mamanya lelah, ya lelah untuk memarahi Anna, toh dimarahi juga tidak akan ada yang rubah, anaknya itu pasti akan juara dua lagi buang-buang tenaga percuma saja.
Anna berlalu masuk kekamarnya mengambil koper kecil yang cukup untuk berkemah selama 5 hari. Memasukan baju ganti dan peralatan mandi dan lainnya dengan pandangan kosong.
Anna merasa kecewa pada dirinya sendiri karena tak bisa menjadi yang diinginkan mamanya sampai mamanya pun lelah untuk mengurusinya yang tak bisa mendapat juara satu itu.
Meremat kasar kotak P3K miliknya menahan isakan tangis yang dimana air matanya sudah mengalir deras di pipi.
"Emang gak berguna"keluh Anna untuk dirinya sendiri menghapus jejak air matanya mencoba menenangkan diri.
Setelah tenang Anna membuka kotak P3K miliknya yang hanya berisi beberapa perban, obat merah, pereda sakit dan pusing dan pil datang bulan walau ia yakin ia tak akan datang bulan karena sudah tapi untuk persiapan ia tak akan mengeluarkannya.
Menatap kembali isi kotak obatnya, Anna tiba-tiba bangkit masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan akan pergi ke apotek untuk membeli obat tambahan yang harus ia miliki sebelum berangkat ke hutan.
Anna menunggu obat pesanannya yang sedang disiapkan apoteker dengan duduk dikursi tunggu memainkan ponselnya mengabaikan orang-orang disekitar.
Arjuna memasuki apotek untuk membeli obat mata karena rasanya matanya tak nyaman sejak ia mengurusi perusahaan keluarga Inggrid itu.
Berjalan ke etalase dan berhadapan dengan apoteker yang sedang berjaga. "Mba obat mata yang biasa saya beli, satu paket"kata Arjuna pada mba apoteker pekerja dari apotek langganannya itu.
Mba apoteker yang tahu pun langsung mengambil pesanan Arjuna kebelakang, sambil menunggu Arjuna melihat obat-obatan yang dipajang di etalase kaca yang menjadi sandarannya itu.
Sampai mba apoteker lain datang membawa sekeresek obat untuk penderita asma karena Arjuna bisa melihat inhaler dan beberapa obat lainnya, bagaimana ia tahu? Karena teman sekelasnya ada yang menderita asma akut tentu saja.
"Mba Anna?"panggil apoteker itu dan Anna pun menghampiri apoteker tersebut.
Apoteker itu menjelaskan mengenai segalanya perihal obat-obatan yang Anna beli, dan Anna mengangguk-angguk paham luar dalam lalu membayar pesanannya, sedang menunggu kembalian seseorang dari sampingnya menyapanya.
"Kak Anna kan?"tanya Arjuna.
Anna menatap laki-laki disampingnya itu yang lebih tinggi darinya tapi bisa dipastikan laki-laki itu tak lebih tinggi dari Azriel dan sahabatnya itu.
"Iya. Siapa?"tanya Anna balik.
"Arjuna kak, temen sekolahnya Sarah tapi gak sekelas"kata Arjuna memperkenalkan diri.
Anna mengangguk saja walau bingung kok bisa ia dikenal oleh anak yang satu sekolah dengan Sarah, apa Sarah sering menceritakan tentang dirinya? Tidak mungkin sekali.
"Aku kenal kakak pas kakak ikut olimpiade di SMA Nusa waktu itu, aku adiknya bang Jiel sama bang Milan"kata Arjuna menyebutkan nama Azriel dan Milan.
"Oh jadi Azriel sama sahabatnya itu sodaraan pantesan deket banget, terus kamu adiknya mereka? Adiknya siapa?"kata Anna bertanya karena Anna rasa Arjuna tak mirip dengan Azriel.
Arjuna terkekeh karena Anna yang berpikiran kalau dirinya adik kandung dari salah satu sahabat nya itu. "Enggak kak, kita cuma sahabatan aja, aku satu tahun lebih muda dari mereka jadinya aku panggil Abang dong kan"
Anna mengangguk, Sarah yang satu tahun beda dengannya juga memanggilnya kakak ya karena Anna kakaknya.
"Ini kembaliannya"kata apoteker memberikan kembalian Anna.
"Duluan ya"pamit Anna pada Arjuna yang diangguki pemuda itu.
Arjuna terkekeh mengingat perilaku Anna dan Sarah yang menurutnya sangat berbeda itu dan Arjuna lebih menyukai kakaknya ketimbang adiknya yang kurang ajar itu.
Arjuna masuk kerumah sembari menenteng sekeresek obat mata dan sekeresek lagi bakso bakwan pesanan Milan dan dilihat diruang tengah kedua kakaknya itu sedang sibuk menyiapkan keperluan mereka untuk kemah lusa.
Mereka bertiga sementara tinggal dirumah tersebut sampai orangtua mereka kembali dari perjalanan bisnis diluar negeri, ya memang rumah itu dibangun agar mereka bisa tinggal bersama saat para orangtua sedang bekerja yang memakan waktu lama dan mereka bertiga akan diurus oleh mbok Mirna yang juga sudah menjaga Azriel dari kecil.
Arjuna duduk disofa single setelah menaruh bawaannya diatas meja memperhatikan kakak kakaknya itu yang serius. Masing-masing dari mereka membawa satu koper sedang dan satu ransel.
"Gue juga pengen kemah"keluh Arjuna membuatnya menjadi pusat perhatian kakak kakaknya.
"Nanti lagi aja pas liburan kenaikan kelas"sahut Milan.
"Bener ya jangan boong Lo bang"kata Arjuna mengingatkan.
"Ahelah kapan gue boong sama Lo?"Milan melihat Arjuna yang sedang berpikir.
"Enggak pernah kan?"yang dijawab gelengan dan kekehan Arjuna yang senang.
Kedua kakaknya selesai berbenah saat Arjuna kembali dengan tiga mangkuk dan tiga sendok dari dapur dan menaruh diatas meja membuka satu persatu bungkus plastik bakso bakwan mereka.
"Kak tadi gue ketemu sama kak Anna di apotek"lapor Arjuna.
"Terus?"sahut Milan dan Azriel sedikit penasaran.
"Dia beli obat-obatan buat penderita asma, kak Anna emang punya penyakit asma?"tanya Arjuna lagi.
Milan menatap Azriel yang menggeleng. "Gak kayaknya, buat keluarganya kali"kata Azriel tak peduli turun dari sofa dan meraih satu mangkuk bakso miliknya.
Milan juga ikut turun dari sofa dan duduk disebelah Azriel. "Gue jadi inget, anggota kelompok gue ada yang punya penyakit asma"kata Milan sambil melahap baksonya.
Mereka pun memakan bakso mereka masing-masing, karena kapan lagi mereka malam-malam begini bisa makan bakso seperti ini jika tidak ada mbok Marni yang sudah pulang kerumahnya, karena kalau ada mbok Marni bisa-bisa mereka dilaporkan ke orangtua masing-masing yang berujung dengan mereka disuruh nge-gym setiap hari agar tetap bugar dan itu adalah neraka untuk mereka bertiga.