Millisanna

Millisanna
Bab 42



"Sialan tuh bocah untung aja gue gak mati!"umpat laki-laki yang diboncengan.


"Gila emang tuh bocah, harusnya tadi gue matiin aja sialan!"sahut laki-laki yang membawa motor menatap parang yang dibawanya.


"Ya Lo nya kenapa gak matiin aja tadi bocah!!"kesal laki-laki yang diboncengan tak habis pikir.


Keduanya berkendara dengan meneriakkan umpatan dan makian pada bocah SMA cewek tadi yang membuat mereka gagal dalam rencana penjambretan mereka.


Asik mengumpati cewek SMA yang gagal menjadi korban mereka tak menyadari dari belakang ada seseorang dengan motor sportnya melaju dengan sangat cepat mengejar mereka dan tiba-tiba mempertahankan kecepatannya untuk beriringan dengan kedua laki-laki itu.


Keduanya menatap sebal pemotor yang begitu tertutup dan menggunakan motor sport itu seolah menantang mereka.


Bruk.


Pemotor sport itu menyenggol motor mereka tiba-tiba membuat keduanya yang sedang kesal itu semakin dibuat kesal karena motor yang dikendarai mereka oleng.


Bruummmm.


Motor sport itu tiba-tiba melaju sangat kencang meninggalkan mereka, dan mereka yang tidak terima pun berniat mengerjar pemotor sombong itu.


Si pengendara menarik gas motornya penuh berniat untuk mengejar pemotor sombong itu tak menyadari jika sesuatu terjadi dibagian tangki bensin motornya membuat bensin yang harusnya berada di tangki merembes ke mesin yang panas.


Boom!!


Motor yang dikendarai kedua penjambret itu meledak terbakar membakar kedua orang itu yang gelagapan berteriak bak kesetanan karena tubuh mereka yang terbakar.


***


Brum.


Ckiiitt.


Memutar arah mendadak sampai membuat sebuah bekas gesekan ban di aspal dengan suara decitan yang memekikkan si pengendara motor itu semakin menaikkan kecepatannya karena dirinya dikejar waktu dan perasaan khawatirnya semakin menjadi membuatnya tidak tenang.


Selesai membeli sesuatu di sebuah apotek yang kebetulan berada di jalurnya dan setelah mendapatkan yang dinginkan nya tanpa menunggu kembalian orang itu langsung pergi kembali menaiki motornya dan menggas penuh motornya meninggalkan apotek dan petugas apotek yang hanya bisa menghela menggeleng menatap kembalian yang tidak diambil oleh si pengendara tersebut.


Ditengah kecepatan tingginya melakukan motor sportnya si pengendara melihat-lihat sekitar mencari sosok yang berharap segera ia temukan.


Dan jauh didepan sana dirinya mendapati seseorang yang dicarinya sedang berjalan tertatih-tatih menyusuri trotoar.


Semakin menarik gas si pengendara dengan sigap mengejar sosok itu yang terlihat akan limbung terjatuh.


Anna yang kecewa pada keluarganya hanya bisa menerimanya dengan lapang dada membuatnya harus berjalan kaki memaksakan kedua kakinya yang menjerit kesakitan dan mati rasa juga perih itu menopang tubuhnya dan dipaksa berjalan olehnya.


Air mata tidak lagi meluruh menyusuri kedua pipinya, namun senantiasa berkumpul dipelupuk matanya dan isakan sesekali terdengar.


Anna tidak tahu apa kah dirinya akan sampai ke rumah dengan selamat atau tidak, dirinya hanya tahu jika dirinya harus berusaha.


Tak memperhatikan jalan dengan jelas karena kondisi jalanan yang remang-remang dan pandangannya yang mengabur karena air mata Anna tidak melihat lubang ditempatnya melangkah itu.


Duk.


Bruk.


"Akh! Hiks.."ringis Anna kesakitan bahkan air mata kembali turun karena nyeri pada kakinya dimana kedua lututnya yang menjadi tumpuan dirinya saat terjatuh tadi.


Menahan nyeri sambil meringis memejamkan mata juga meremas sesuatu yang menahannya begitu erat.


"Sakit"


Bukan suaranya membuat Anna refleks membuka matanya dan mengabaikan rasa sakitnya saat menyadari sesuatu yang diremasnya begitu erat adalah lengan seseorang dan seseorang yang berkata sakit itu adalah Azriel.


Mendadak berontak karena terkejut dan itu membuat Anna terjatuh dengan pantatnya yang menyentuh keras ubin trotoar yang sangat keras.


Azriel menatap datar gadis itu yang meringis memegangi pantatnya karena ulahnya sendiri itu. Berjongkok dihadapan Anna Azriel tatap serius sosok Anna didepannya itu.


Anna terdiam mematung dibuatnya saat melihat Azriel yang tiba-tiba berjongkok dihadapan nya itu seraya menatapnya.


"Lo mau jalan dengan kaki kayak gitu?"tanya Azriel santai menunjuk pada kedua kaki Anna yang terluka.


Anna membisu dalam hati mengiyakan namun mulutnya bungkam karena tatapan datar Azriel yang begitu mengintimidasinya.


Menghela nafas Azriel bangkit membuat Anna sontak menanggahkan wajahnya untuk melihat Azriel yang menunduk menatapnya.


"Diem jangan bergerak"kata Azriel tak terbantahkan dan berjalan melewati Anna.


Anna pun mengikuti kemana perginya Azriel dan terkejut saat melihat laki-laki itu sedang mengangkat motornya yang tergeletak disisi jalan bahkan sebelum sampai ke motornya laki-laki itu sempat memungut helmnya yang juga tergeletak di trotoar tak jauh dari tempat Anna.


Anna jadi bertanya-tanya jika motor laki-laki itu sampai seperti itu bukannya akan mengakibatkan suara yang sangat keras kenapa dirinya tidak mendengar apapun tadi.


Apa saking banyak pikirannya sampai suara yang keras pun tak kedengaran.


Deg. Menegang saat Azriel tiba-tiba meliriknya dengan sangat tajam membuat Anna yang sedang melamun itu.


"Jangan ngejek gue!"seru Azriel tiba-tiba seperti merajuk.


Anna terkejut karena Azriel tiba-tiba berteriak seperti itu.


Anna yang diteriaki tiba-tiba pun jadi panik dan dengan gelagapan menggeleng mengatakan dirinya tidak mengejek Azriel.


"Enggak kok enggak"kata Anna gelagapan bahkan langsung membalikkan pandangannya agar tidak melihat kearah Azriel.


Azriel kembali dengan sekresek barang-barang yang dibelinya di apotek tadi seraya melepas jaketnya dan menyampirkannya di bahu Anna yang kembali terkejut karena ulahnya.


Gadis itu ternyata gampang sekali terkejut.


Anna sendiri hanya bisa diam membisu memperhatikan Azriel yang kembali berjongkok dihadapannya meluruskan kedua kaki Anna dan mulai membongkar sesuatu yang dibawanya didalam kresek itu.


Azriel akan mengobati luka di kedua kaki Anna dan Anna tetap diam saja memperhatikan Azriel yang mulai mengobati luka dikakinya dengan membersihkan terlebih dahulu luka-luka tersebut dengan sesuatu yang terasa dingin dan perih di lukanya.


Menyadari Anna yang berjengit samar yang sepertinya gadis itu menahan rasa sakit membuat Azriel melembutkan pergerakannya dalam mengobati Anna.


Tak berapa lama Azriel selesai mengobati luka Anna bahkan sampai memperban keseluruhan kaki Anna karena luka disana cukup banyak dari yang hanya goresan kecil sampai goresan yang cukup parah.


"Makasih"kata Anna kikuk saat melihat Azriel selesai mengobati luka di kakinya.


Azriel mengangguk saja dan membereskan bekas habis mengobati luka Anna dan sisanya yang belum digunakan dan karena sengaja ia beli lebih untuk Anna mengganti perbannya nanti ia masukan kedalam tas gadis itu.


Anna yang merasa tidak ada lagi urusan pun mengulurkan tangannya untuk mengambil kembali tasnya yang sedang ditutup kembali resletingnya oleh Azriel setelah memasukan barang-barang untuk mengobati lukanya.


Tak sampai karena Azriel menjauhkan tasnya Anna dan menatap Anna tajam. "Mau apa Lo?"tanya Azriel tajam.


Anna yang polos berkedip dan menjawab seadanya. "Pulang. Makasih udah obatin kaki Anna"kata Anna.


Azriel mendengus payah mendengar perkataan Anna itu. Ia pun mulai memakaikan jaketnya pada Anna dengan benar dan mengarahkan kedua tangannya ke perpotongan kaki Anna dan belakang tubuh Anna yang langsung ia angkat untuk digendong dan ia bawa ke arah motornya.


Anna yang terkejut karena digendong Azriel tiba-tiba pun refleks menyiku pertengahan dada Azriel membuat Azriel merasa sangat nyeri juga eneg.


"Ugh!"ringis Azriel bahkan sampai berhenti dan membungkuk namun semakin erat menggendong Anna agar tidak jatuh.


"Lo ada masalah apa sama gue hah?!"kesal Azriel benar-benar tidak terima dirinya berbuat baik namun balasannya adalah serangan yang menyakitkan di dadanya.


Anna sontak merasa bersalah pada Azriel. Habisnya ia kaget dan refleks melakukan perlindungan diri.


"Maaf"cicit Anna benar-benar merasa bersalah.


Azriel menatap Anna dengan datar dan hanya bisa menghela mengangguk memaafkan Anna.


Anna didudukkan dimotor Azriel dan kemudian laki-laki itu pun ikut naik setelah memakai helm dan menggendong tas Anna ditubuh bagian depannya.


Menyalakan mesin motor Azriel siap berangkat. "Gue anter Lo pulang"


Dan motor sport Azriel itu pun melaju membelah jalanan malam yang sontak Anna langsung berpegangan pada pinggang Azriel karena laki-laki itu hanya memakai kaos hitam berlengan pendek.