Millisanna

Millisanna
Bab 146



Sisilia berada di meja perawat duduk dibaliknya dengan komputer karena dirinya sedang memeriksa stok obat di UGD dan jika kosong atau tinggal sedikit Sisilia harus mengambilnya dibelakang, hal itu yang membuatnya tidak bersemangat.


"Anna baru memulai operasi nya?"tanya Ray pada Maria yang juga ada di meja perawat seperti biasanya.


Ray baru saja selesai memeriksa beberapa pasien dan saat ini dirinya sedang menganggur dan berpikir iseng untuk memeriksa nama-nama pasien yang sedang dirawat dirumah sakit ini dari laptop yang ada dihadapannya.


"Permisi"


Ray dan Sisilia yang tadi sibuk dengan layar masing-masing jadi teralihkan kala mendengar suara itu dan betapa terkejutnya jika kelompok yang terlihat sangat bersinar itu berisi orang-orang yang tidak terduga.


"Ah cari Anna ya? Anna masih melakukan operasi"kata Maria pada Milan yang tadi menatapnya.


Milan menggeleng saja tersenyum tipis. "Bukan begitu, kami akan pulang sekarang dan ingin meminta bantuan agar sampaikan pada Anna jika kami pulang, mendadak kami semua memiliki urusan"kata Milan menjelaskan.


Maria yang mengerti pun mengangguk dan akan ia sampaikan pada Anna nanti setelah gadis itu selesai operasi.


Sraakk.


Mereka semua mendadak melihat pada Sisilia yang bangkit tiba-tiba dan pergi begitu saja.


"Ah kalau begitu mohon bantuannya"kata Milan mengakhiri dan pamit.


Maria mengangguk mempersilahkan mereka untuk pulang.


Kepergian mereka membuat para petugas medis yang ada di UGD itu langsung mendekat pada Maria.


"Gila, apaan tadi? Mereka grup orang keren apa?"tanya salah satu dari mereka.


"Heh mereka semua artis apa? Ganteng-ganteng juga cantik-cantik"tambah yang lainnya.


Maria bingung sendiri melihat rekan-rekannya itu. "Bukan, mereka itu teman-temannya dokter Anna"kata Maria santai.


Mendengarnya malah semakin membuat mereka heboh dan mulai membicarakan nya.


"Circle nya keren banget dah dokter Anna itu"


Ray hanya mendengarkan kala teman-teman semasa SMA nya Anna itu mendadak jadi biar bibir rekan-rekannya itu.


"Kudengar pemilik dan sekaligus sponsor utama yayasan pengelola rumah sakit ini pun teman SMA nya dokter Anna"


Ray yang mendengarkan menatap salah satu perawat yang bahkan semakin jauh membicarakan perihal Anna dengan membawa-bawa pemilik rumah sakit ini.


"Tuan Azriel maksudmu?"tanya yang lain tetap bergabung dalam pembicaraan.


"Iya laki-laki itu, yang bahkan membantu mengevakuasi pasien wanita dua anak yang tinggal di desa kaki gunung belakang rumah sakit ini"


"Dia juga kan yang membuat helikopter bisa membawa pasien itu kesini"


Ya Ray mendengarnya, sudah berkali-kali dirinya mendengar rekan-rekan nya itu membicarakan laki-laki yang bernama Azriel itu.


Yang sudah Ray cap sebagai saingan cintanya untuk mendapatkan Anna. Ray jujur, dirinya sangat sangat menyukai Anna, sejak dimulainya pelajaran di universitas dan saat Ray seringkali menghadiri kelas yang sama dengan Anna.


Mungkin saat ini laki-laki itu sedang hilang ingatan dan tidak mengingat Anna namun dari gerak-gerik nya saja terlihat jelas jika mereka terlihat dekat tanpa mereka sadari walau Azriel tidak ingat tentang Anna.


Dan juga Ray tahu jika Anna sedang mencoba membantu mengembalikan ingatan Azriel membuatnya semakin seperti dikejar waktu. Dirinya harus mendapatkan Anna duluan sebelum laki-laki itu mendapatkan ingatannya karena jujur saja Ray kurang percaya diri jika lawannya adalah Azriel.


Sraak.


"Kerja bagus dokter Anna"kata Maria yang melihat Anna selesai melakukan operasinya dan membuat para perawat yang sedang bergosip itu tiba-tiba membubarkan diri karena topik pembicaraan mereka muncul.


"Ya, syukurnya tidak terlalu sulit"kata Anna berdiri didepan laptop yang ada dimeja perawat UGD untuk mencatat tentang operasi tadi dan membuat laporan.


"Ngomong-ngomong dokter Anna, teman-temanmu sudah pulang mereka bilang mendadak mereka memiliki pekerjaan yang harus dikerjakan jadi mereka pulang saat kau sedang melakukan operasi"kata Maria menyampaikan pesan Milan.


"Oh benarkah? Baiklah kalau begitu"kata Anna mengerti dan kembali menatap layar laptopnya serius membuat laporan.


Maria tersenyum saja melihat Anna itu yang benar-benar serius dengan pekerjaannya itu, melirik dengan satu alis yang naik menatap dokter muda yang sama seperti Anna itu malah terlihat serius dengan hal lain.


Maria mendapati Ray yang terlihat sangat serius menatap Anna seolah sedang ingin mengutarakan perasaannya. Bukan lagi rahasia bagi kepala perawat itu jika si dokter tulang itu menyukai teman sekampusnya Anna di dokter bedah umum dan spesialis.


"Kalau kau menyukainya utarakan, keburu diambil orang baru tau rasa"celetuk Maria tiba-tiba membuat Anna mengangkat wajahnya kembali dan menatap Maria bingung semakin bingung kala kepala perawat itu melihat kearah Ray membuat Anna mengalihkan pandangannya menatap Ray dan mendapati si dokter tulang yang terlihat kelabakan itu.


Ray melotot tidak percaya menatap kepala perawat yang tiba-tiba berbicara seperti itu membuat wajahnya memanas dan semakin memerah kala si do'i melihat kearahnya juga.


"A-aku harus memeriksa pasien!"seru Ray gagap dan langsung pergi menuju brangkar pasien yang dirawat.


Anna berkedip saja tidak mengerti melihat tingkah Ray itu sedangkan Maria sudah menahan tawanya kala mendapati Ray benar-benar salah tingkah.


"Anak muda"kekehnya.


"Ya? Kenapa?"tanya Anna membuat Maria tersenyum saja.


Yang satu pemalu dan satunya tidak peka, akan sangat lama jika menunggu mereka jadian. "Tidak tidak ada apa-apa"kata Maria dengan senyuman.


Anna yang tidak mengerti dan tak mempedulikannya juga mengedikkan bahunya dan kembali fokus pada layar laptop.


***


Ditempat lain dikediaman Azriel. Ravi yang kebetulan lewat dan mendapati tuannya yang telah pulang dan terlihat terburu-buru menaiki tangga yang pasti akan pergi ke kamarnya.


"Tuan kau sudah pulang? Bagaimana kencan mu?"tanya Ravi langsung karena ingin melihat ekspresi tuannya itu karena dirinya merasa firasat buruk melihat dari gerak gerik tuannya itu.


Sang tuan terlihat berhenti dipertengahan tangga membuat Ravi sontak menelan ludah kala melihat ekspresi sang tuan yang jika sang tuan sedang berekspresi seperti itu dirinya tidak boleh menganggu sang tuan.


"Apa maksudmu kencan?"


Begitu dingin suara yang dihasilkan oleh Azriel ditambah dengan tatapannya yang sangat tajam dan wajahnya yang kelewat datar benar-benar membuat Ravi sedikit merinding.


"Jangan ganggu aku"kata azriel dan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


Ravi menghela saja setelah Azriel yang tak lagi terlihat itu. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres dan hal itu membuat Azriel mengalami perubahan mood.