Millisanna

Millisanna
Bab 39



Anna menatap pantulan dirinya yang memakai seragam didalam cermin. Matanya sedikit sembab karena semalam menangis bahkan sampai ia tertidur.


Namun bukan itu masalahnya, dirinya takut melihat anggota keluarganya akibat kejadian kemarin.


Namun jika dirinya tidak keluar dari kamar orangtuanya pasti akan semakin murka mendapati dirinya bolos sekolah.


Menghembuskan nafas panjang menenangkan diri, Anna siap akan apapun yang terjadi saat dirinya keluar dari kamarnya ini.


Mengambil tas sekolahnya Anna menatap ragu gagang pintu kamarnya, namun dengan mengumpulkan keberanian dirinya membuka pintu tersebut dan menuruni tangga.


Mendapati seluruh anggota keluarga sedang sarapan dan hanya meliriknya tidak minat membuat Anna ciut.


Dirinya berjalan menuju sang ayah dan ibunya untuk salim.


"Ayo berangkat Idris udah kan sarapannya?"kata ayah yang bangkit dari kursi mengabaikan Anna melihat si bungsu yang mengangguk dan ikut bangkit mengikuti ayahnya dan menyalami sang ibu.


Kedua orangtuanya mengabaikan Anna membuat Anna benar-benar merasa bersalah dan ketakutan, matanya bahkan terasa kembali memanas.


"Makanya jadi anak jangan kurang ajar, terima aja papa sama mama benci sama kamu. Dosa kamu itu"kata Aris sang kakak pada Anna.


Anna hanya diam langsung berangkat saja dan bertaruh di teras nanti dirinya bisa menyalami sang ibu untuk pamit berangkat ke sekolah.


"Ma Anna pamit berangkat sekolah"kata Anna ragu dengan suara serak karena menahan tangisnya kembali mengulurkan tangannya untuk salim pada sang ibu.


Namun sang ibu tetap mengabaikannya, begitu mobil ayah pergi ibunya melengos pergi begitu saja kembali masuk kedalam rumah dan menyuruh dua anaknya yang ada di meja makan untuk bergegas.


"Kak, Sarah, sarapannya dipercepat ya takutnya telat kalian"kata sang ibu melewati Anna begitu saja tidak menganggapnya.


Anna menunduk menatap tangannya yang terabaikan dengan nanar.


Mengusak air matanya yang berontak ingin keluar Anna menghembuskan nafas berat.


Ini salah nya, semua ini karena salahnya, dirinya pantas mendapatkannya.


Tersenyum menghibur dan menyadarkan dirinya sendiri Anna menggumamkan salam dengan lirih dan melangkah keluar rumah untuk pergi ke sekolah.


***


Brum brum.


Azriel sampai di sekolah diikuti Milan yang memarkirkan motor laki-laki itu disebelah motor miliknya.


Melepas helm Azriel melihat atensi Anna yang tengah berjalan dengan lesu seraya menunduk memasuki kawasan sekolah diantara murid-murid yang juga baru datang.


"Napa dah tuh mukanya?"tanya Milan yang sepertinya mendapati sosok Anna tadi sebelum gadis itu terlihat menghilang di koridor.


Azriel yang tidak tahu pun hanya menggeleng tidak tahu dan berjalan ke kelas bersama Milan.


Bel masuk berbunyi dan pandangan Azriel sejak mendudukkan dirinya dikursi miliknya tak pernah lepas dari sosok belakang Anna yang rasanya sudah lama tidak ia lihat akhir-akhir ini sejak gadis itu mulai dekat dengan Melisa.


Sosok yang selalu menatap kedepan membuatnya hanya bisa melihat punggung gadis itu yang selalu sendirian.


Sosok yang sangat identik dengan Anna sebelum acara kemah mereka kembali hadir.


Apa karena Melisa yang tidak masuk karena sakit kelelahan habis bermain kemarin seperti yang diceritakan Milan tadi saat perjalanan menuju kelas, atau ada yang lain?


"Sebelum memulai pelajaran, ibu akan mengatur ulang posisi duduk kalian karena sudah memasuki semester baru, dan untuk Melisa yang tak hadir karena sakit siswi itu akan mendapatkan sisanya"kata Bu Erna yang telah menempelkan denah posisi duduk yang baru di papan tulis dan mengeluarkan kotak undian.


"Seperti biasa satu per satu dari kalian mengambil nomer undian didalam sini dan ambil kursi kalian dan pindah setelah semuanya mengambil undian"kata Bu Erna yang diangguki semua muridnya.


Satu per satu dari mereka mengambil kerta kecil yang berisi angka dan akan disamakan dengan angka didenah yang ditempelkan Bu Erna dipapan tulis.


Melihat dan merasa tinggal dirinya yang belum mengambil undian dirinya pun bangkit dari kursinya maju kedepan untuk mengambil undian.


Namun dirinya tak menyadari jika ada orang lain yang sama sepertinya yang belum mengambil undian dan pergerakan mereka sama membuat kedua tangan mereka tidak muat masuk kedalam lubang kotak undian.


"Gantian hey"kata Bu Erna.


Azriel pun mempersilahkan Anna untuk mengambil undian duluan yang tanpa kata apapun gadis itu mengambil kertas undian dan setelah selesai langsung berjalan kembali ke kursinya.


Azriel tanpa sadar berkedip karenanya namun ia tetap mengambil kertas undian sisa dan melihat dirinya mendapat nomor 17 dan tempatnya masih sama seperti kursinya yang sekarang.


Kembali ke tempatnya dengan santai Azriel memerhatikan teman-temannya yang terlihat ramai memberitahu atau bertanya satu sama lain tentang nomor yang mereka dapatkan dan bahkan ada yang minta tukar.


Hanya sebentar memperhatikan kondisi kelasnya fokus azriel kembali pada Anna yang terlihat diam saja dikursinya itu.


"Nah kalian sudah mendapatkan nomor masing-masing silahkan pindah, Melisa mendapatkan nomor 6 dan yang lain mengikuti denahnya yang rapih"kata Bu Erna memberikan instruksi pada muridnya yang satu persatu pun menggeser dan mengangkat kursi meja mereka untuk pindah.


"Azriel kamu gak pindah?"tanya Bu Erna melihat Azriel yang santai tak bergerak sedikit pun dikursinya.


"Tidak, masih sama Bu"kata Azriel dan memperlihatkan nomor yang didapatnya dan benar saja tempatnya masih sama saat guru itu memeriksanya.


Kelas pun ramai karena mereka yang pindah tempat. Kembali memperhatikan si gadis yang tadi sempat terinterupsi oleh sang guru.


Melihat gadis itu yang terlihat berjalan kearahnya membuat Azriel senang bukan main namun kesenangannya lenyap begitu saja saat gadis itu menempati tempat dibarisan sebelahnya dan itu pun 3 kursi dari depan membuat Azriel menghela kecewa.


"Sayang banget aku gak dapet disebelah kamu"kekeh Michelle yang menghampirinya setelah menempatkan mejanya tepat didepan meja Anna. Mereka masih menunggu beberapa murid yang masih menata tempat baru mereka.


Azriel mengabaikan gadis itu secara terang-terangan karena dirinya langsung mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


Michelle yang dicueki mendengus sebal dan memilih pergi ke mejanya dengan perasaan kesal.


***


Waktu istirahat Anna langsung bangkit setelah membereskan barang-barang nya dan membawa beberapa buku miliknya untuk menghabiskan waktu mempersiapkan dirinya untuk olimpiade yang akan datang di perpustakaan.


Dirinya memang durhaka pada orangtuanya namun dirinya tidak ingin semakin durhaka dengan dirinya yang mungkin saja akan menurun saat olimpiade berlangsung karena rasanya beberapa waktu belakang dirinya terlalu berleha-leha.


Dirinya harus kembali fokus untuk mendapatkan kembali kepercayaan dirinya dan ingat tujuannya menjadi juara satu di olimpiade agar ibunya bangga padanya.


Mengabaikan sekitar dan tidak menyadari Azriel yang menatap kepergiannya.


Di kantin sekolah tentu saja sangat ramai di jam istirahat.


Michelle dan teman-temannya yang selesai mendapatkan makanan mereka pun mencari tempat untuk mereka makan.


Namun Michelle tiba-tiba berjalan kearah meja khusus yang ditempati Azriel dan Milan membuat mereka yang tadi ingin mengikuti Michelle pun tidak jadi dan memutar balik untuk mencari meja yang lain, tak ingin berurusan pada sesuatu yang akan datang nanti setelah Michelle duduk disana.


"Hai boleh gue duduk disini? Semua meja udah penuh"kata Michelle yang datang dengan pandangan yang minta dikasihani.


Milan melihat Michelle dan melirik Azriel yang terlihat cuek bahkan mengabaikan pun mengangguk saja mempersilahkan Michelle.


Michelle kegirangan bukan main dan langsung duduk di meja khusus sang most wanted sekolah itu membuat kantin ramai oleh bisik-bisik membicarakan dirinya.


Berterimakasih pada keduanya terlebih pada Azriel meminta atensi si cowok namun laki-laki itu tetap mengabaikannya.


Milan sendiri menatap Michelle dengan datar. Dirinya tahu jenis cewek didepannya ini, sama seperti jenis cewek lainnya yang ingin sekali berhubungan dengan Azriel.


Mendapati Azriel yang sangat cuek saja bisa dipastikan cowok itu benar-benar tidak minat dengan cewek bernama Michelle ini, namun Milan tetap lah Milan dirinya adalah seorang laki-laki yang friendly sejujurnya walau sangat menyeramkan jika membuat cowok itu marah.


"Gue sering liat Lo barengan Anna sama Melisa, Melisa emang gak masuk hari ini, terus kemana Anna? Gak bareng dia?"tanya Milan ramah.


Michelle semakin kesenangan saat merasa diterima oleh sahabat cowok incarannya itu, yang berarti selangkah lagi untuk semakin dekat dengan Azriel.


Walau sedikit kesal karena lagi-lagi nama Anna selalu disebutkan.


"Gak tau, gue gak bareng sama dia"kata Michelle sebisa mungkin untuk tidak memperlihatkan rasa jengkelnya karena dirinya tahu kedua cowok didepannya ini sadar atau tidak sadar mereka cukup dekat dengan Anna entah bagaimana caranya cewek itu melakukannya.


Milan mengangguk saja dan kembali fokus pada makanannya sesekali menjawab ajakan bicara yang Michelle lakukan yang mencoba semakin akrab dengannya.