Millisanna

Millisanna
Bab 28



Jam istirahat dimulai setelah bel tadi berbunyi. Anna seperti biasa bukannya bangkit dari kursinya setelah membereskan buku-bukunya dari pelajaran tadi, Anna menggantinya denga buka untuk pelajaran setelah istirahat nanti yang mana akan ia pelajari sebelum pelajaran dimulai.


Tapi itu hanya niatnya, nyatanya dirinya tidak begitu karena Melisa yang langsung menghampirinya dan mengajaknya ke kantin.


"Kantin lah, perasaan gue gak pernah liat Lo ke kantin dah"kata Melisa begitu gadis itu berdiri disamping meja nya.


"Gak ada duit Lo?"tanya Melisa melanjutkan.


"Uang ada, waktu gak ada"kata Anna polos. Walaupun alasannya sebenarnya adalah dirinya takut pergi ke kantin mengingat banyak orang-orang yang tak menyukainya yang mana mungkin dengan mudah mengerjainya saat di kantin nanti.


Melisa cengo dibuatnya. Berdecak ia bawa paksa Anna untuk ikut bersamanya ke kantin.


"Makan di kantin itu bikin Lo kenyang bukan bikin Lo bego, jadi let's go!"semangat Melisa saat Anna patuh dan mau pergi ke kantin bersamanya.


***


Kantin terlihat sangat ramai karena seluruh siswa disana dijam segini memang memenuhi kantin.


Anna dan Melisa sendiri sedang mengantri membeli bakso karena begitu datang ke kantin Anna langsung menunjuk gerai bakso disana karena dirinya baru tahu kantin menjual makanan lezat tersebut.


Jujur saja ini pertama kalinya Anna ke kantin sekolah. Biasanya ia akan pergi ke koperasi untuk membeli roti cokelat atau air mineral setiap istirahat ekskul karena dirinya kehabisan air minum.


Keduanya membawa nampan masingmasing setelah bakso mereka jadi melihat sekeliling mencari meja yang kosong disana yang terlihat sudah penuh oleh orang-orang.


"Kita makan dimana?"sedih Melisa merasa menyesal karena mereka malah pergi membeli makanan bersama bukannya satu orang memboking meja dan yang lainnya membeli makanan.


Anna jadi merasa bersalah dan menelisik setiap sudut di kantin itu mencari kursi kosong disana dan dirinya menemukan satu.


"Itu meja diujung samping itu kosong"kata Anna bersemangat melangkahkan kakinya kesana cepat-cepat agar meja kosong itu tidak ditempati oleh orang lain.


Melisa yang melihat kemana arah Anna pergi sontak akan menghentikan Anna karena meja itu sudah ada yang punya.


"Anna tunggu dulu! Itu punya–"


"Anna, tumbenan liat Lo di kantin"sapa Milan yang muncul bertepatan dengan Anna yang menyimpan nampannya dimeja ujung samping kantin itu.


Anna mengangguk saja merasa kikuk melihat Milan yang dengan santai menaruh nampan berisi sotonya dan menempati meja tersebut.


Melisa yang telah disamping Anna pun berbisik untuk menyuruh Anna mencari tempat lain. "Jangan disini, kita cari tempat lain"kata Melisa terburu-buru.


"Kenapa tempat lain? Disini kursinya cukup buat berempat"kata seseorang yang datang dan menaruh nampannya disamping Milan.


Dan orang itu adalah Azriel.


Melihat ada Azriel disini membuat Anna bergegas mengiyakan perkataan Melisa dan akan memilih meja lain tapi nyatanya semua meja sudah penuh dan lagi jika kosong hanya satu kursi disetiap meja sedangkan Anna ingin makan bersama Melisa.


"Napa dah? Udah duduk aja disini"kata Milan merasa kesal juga melihat kedua gadis itu yang kebingungan mencari tempat duduk padahal dihadapan mereka jelas-jelas kosong.


Melisa melirik sebal Milan. "Kalo kita duduk disini gak akan diusir kan?"tanya gadis itu sewot.


Milan mendengus mendengarnya. "Tadi gue apa? Gue yang nyuruh buat kalian duduk kan? Bukan ngusir kan?"


Melisa yang melihat tanggapan menyebalkan Milan pun dengan tidak ramah mengambil duduk dihadapan laki-laki itu dan menyuruh Anna untuk duduk disampingnya berhadapan dengan Azriel.


"Disini aja na, mereka ngebolehin kita duduk disini"kata Melisa.


Anna dengan ragu duduk dikursinya dengan canggung karena pengalaman pertamanya ke kantin harus dihadapkan dengan keadaan super canggung seperti ini.


Kantin mendadak ramai dengan bisik-bisik orang-orang yang membicarakan tentang kedua laki-laki most wanted sekolah mereka itu mau berbagi meja dengan orang lain, terlebih orang lainnya itu adalah perempuan.


Dulu saat Vanessa nekat duduk bersama keduanya Azriel langsung murka dan mengusir gadis itu dengan kasar, jika dengan perempuan saja seperti itu apalagi dengan laki-laki.


"Doyan na sama bakso?"celetuk Milan terkekeh melihat Anna yang begitu bersemangat memakan baksonya.


Perkataan Milan itu membuat dua lainnya jadi menatap Anna yang jadi malu sendiri dan hanya bisa mengangguk memberikan cengiran manisnya.


"Iya suka banget"malu Anna.


"Pantes aja pipi Lo sama kek bakso, bulet"kata Azriel santai.


Anna sendiri karena masih merasa malu hanya bisa terkekeh malu mendengarnya karena menurutnya Azriel sedang mengejeknya karena memiliki pipi yang bulat seperti bakso.


Lain Anna, lain pula Melisa dan Milan yang malah saling tatap lantas tersenyum lebar seolah satu pemikiran mereka pun terkekeh bersama.


Ada sesuatu nih, batin mereka berdua kompak.


***


Jam terakhir dihabiskan dengan jam kosong dengan guru yang tidak hadir memberikan tugas pada mereka yang diawasi oleh guru TU agar anak-anak itu tidak pulang duluan sebelum waktunya karena jam terakhir kosong.


Walau ada guru TU yang mengawasi kelas 11-3 benar-benar ramai apalagi guru yang mengawasi sibuk bermain ponsel dan pelajaran kosong tersebut adalah fisika yang mana tugas itu pun dikumpulkan saat pelajaran fisika dipertemuan selanjutnya membuat banyak dari mereka tidak mengerjakannya dan memilih untuk mengobrol atau lainnya.


Dan Anna yang patuh dan rajin gadis itu mengerjakan tugasnya ditengah kebisingan kelasnya.


Asyik dengan tugasnya sampai tersendat di salah satu nomor membuat Anna kesulitan karena menurutnya satu soal tersebut sulit.


Dan karena soal sulit tersebut membuatnya jadi berpikir mungkin bagi Azriel soal tersebut sangat mudah karena laki-laki itu jenius.


Melirik ke belakang ke meja Azriel dan melihat laki-laki itu malah menelungkupkan wajahnya dan tertidur disana membuat hati Anna tercubit.


Anna benar-benar tidak mungkin bisa mengalahkan Azriel. Laki-laki itu sempurna. Bahkan jika laki-laki itu tidak belajar sedikitpun laki-laki itu tetap kokoh dipuncak senantiasa mengalahkan Anna yang senantiasa bekerja sangat keras untuk hal yang tidak mungkin ia dapatkan. Berada dipuncak.


Menghela napas panjang Anna kembali berbalik dan fokus pada tugasnya sendiri. Meremat penanya kuat Anna merasa benar-benar tidak berguna.


Satu soal saja dirinya tidak bisa mengerjakannya, bagaimana bisa membanggakan sang ibu.


Menghentakkan kepalanya ke meja pelan Anna tidak tahu harus bagaimana.


Dilain tempat di mejanya Azriel tiba-tiba mengangkat wajahnya dan mendapati Anna yang mengehentakkan kepalanya ke meja membuat Azriel mengernyit.


Kernyitannya semakin menjadi saat anak baru itu mendekati Anna dengan membawa buku catatannya dan terlihat membicarakan sesuatu dengan Anna yang berakhir Anna dan anak baru itu terlihat bekerja sama asik mengerjakan tugas yang diberikan.


Apaan dah, batinnya tidak nyaman. Mengalihkan pandangan kembali menelungkupkan wajahnya ke meja ia tak ingin melihat hal tersebut lebih lanjut.


***


Anna memasukan seragamnya dengan perasaan senang karena tugas fisika nya telah selesai dengan bantuan Michelle yang dimana mereka bekerja sama saling memberi masukan membuat tugas fisika tadi terasa mudah.


Awalnya Anna terkejut dengan kedatangan Michelle ke mejanya dengan membawa buku tugasnya, nyatanya Michelle datang dengan pertanyaan meminta pendapat mengenai dirinya benar atau salah di nomor yang cewek itu tunjukkan.


Dan kebetulannya itu soal yang membuat Anna pusing dan dengan ajaibnya dengan melihat cara Michelle menjawabnya membuat Anna jadi bisa mengerjakannya dan berkahir mereka pun bekerja sama mengerjakan tugas.


Tidak menyangka dirinya mendapatkan teman sekelas yang bisa diajak untuk berkerja sama mengerjakan soal jika ada yang sulit, benar-benar seperti seorang teman sekelas.


Anna merasa sangat senang karenanya, ia bahkan memberanikan diri untuk meminta nomor Michelle yang untung saja gadis itu mau memberikannya.


Temannya jadi bertambah. Yang pertama adalah Melisa dan sekarang Michelle membuat Anna berpikir jika kehidupan SMA nya akan segera berubah kearah yang lebih baik.


"Aku tidak sabar menantikannya"gumam Anna bersemangat untuk merasakan kehidupan SMA nya yang baru dan lebih baik.