Millisanna

Millisanna
Bab 50



Michelle berada di kantin bersama teman-temannya, karena jika ingin bergabung dengan Azriel dan Milan disana dirinya tidak mendapati Melisa atau Anna yang bisa membuatnya duduk bersama dengan kedua laki-laki itu.


"Guru-guru ngapain sih nyampe ngadain tes latihan buat olimpiade yang jelas-jelas bakal Azriel sama si nomor 2 yang bakal ngewakilin sekolah"keluh salah satu temannya.


"Iya nih, kepala gue tadi rasanya bener-bener mau pecah. Gila apa-apaan 100 soal tadi"keluh yang lainnya.


"Jatuhnya malah kayak gue baca jampe-jampe ngebaca soal-soalnya"sahut yang lainnya dan itu membuat mereka tertawa.


"Tapi kayaknya bakal heboh kalo si nomor dua diganti sama orang lain haha"


"Bener bener, kayaknya bakal stress banget tuh"


"Ya jangan sampe bunuh diri aja tuh orang ahahaha"


Mereka tertawa terbahak bahak membayangkan bagaimana jatuhnya si nomor dua yang jika peringkatnya diambil oleh orang lain.


Michelle sendiri ikut tertawa karena itu memang merasa lucu, dan karenanya dirinya bisa bebas mendekati Azriel jika tidak ada Anna.


Ya walaupun dalam waktu dekat dirinya akan segera dekat dengan Azriel.


***


Peringkat hasil tes latihan telah terpasang di mading dan anak-anak kelas 11 memenuhi mading untuk memeriksa peringkat berapa yang mereka dapatkan dari hasil setengah hati mereka karena jujur saja kebanyakan dari mereka menganggap tes latihan itu hanya main-main karena yakin mereka tidak akan mampu untuk mewakili sekolah di olimpiade nanti.


Anna berdiri disebelah Melisa mencari namanya dari peringkat pertama, dan diperingkat pertama dipastikan ada nama Azriel disana.


Dan dengan begitu Anna hanya bisa kecewa jika dirinya harus puas diperingkat ke dua lagi.


Namun Anna mematung terkejut tak percaya melihat nama siapa yang ada disana. Nama disana memang berawalan huruf M dan i seperti namanya namun huruf ketiga dari nama disana adalah huruf C bukan L yang berarti peringkat kedua bukan dirinya.


Peringkat hasil ujian latihan olimpiade




Alfhazriel Satria Aryanzha 11-3 100.0




Michelle Kyra 11-3 96.7




Anna merasa jantungnya sakit, mencari namanya berurutan dari nomor paling kecil ke besar menyusuri setiap nama ditabel dan membeku saat mendapati namanya di kertas ke tiga peringkat ke 72.


"Ahahaha lucu banget nilai gue"kata Melisa seraya tertawa garing malu sendiri melihat nilainya yang hanya mendapat 62 peringkat ke 80an.


Ya mau bagaimana lagi namanya juga soal olimpiade yang soal-soalnya gak ngotak semua, masih mending dapet nilai segitu berarti dirinya cukup pintar.


Menghela merasa puas Melisa pun berpikir akan melihat nama Anna di peringkat kedua dan akan memberinya selamat.


Namun Melisa terkejut melihat bukan nama Anna yang ada disana melainkan Michelle.


"What the–"tak mempercayainya dirinya pun mencari nama Anna yang ternyata di peringkat ke 72 dengan nilai 79,7.


Melihat Anna disampingnya dan mendapati gadis itu terlihat sangat syok. Sebentar apa ini nyata?


Anna yang sama-sama seorang Ace di olimpiade seperti Azriel mendapatkan peringkat 72 di ujian latihan olimpiade?


"Ya Michelle emang pinter di fisika, dia pernah bantu Anna ngerjain soal yang susah buat Anna tapi buat dia gampang banget"kekeh Anna menerima kondisinya sekarang.


Walaupun dirinya didalam merasa sangat takut setengah mati bagaimana reaksi orangtuanya terlebih ibunya jika dirinya bahkan tidak berhasil masuk 20 besar atau 30 besar dan yang paling parahnya dirinya tidak jadi seseorang yang mewakili sekolah di olimpiade yang akan datang.


Ibunya yang masih marah padanya mungkin akan sangat murka karena kecewa padanya, membayangkannya saja membuat Anna merasa takut untuk pulang kerumah.


Bagaimana nanti nasibnya?


"Anna sorry kayaknya gue yang bakal ngewakilin sekolah di olimpiade nanti, gak apa-apa kan?"tanya Michelle yang muncul berkata seperti itu merasa bersalah pada Anna.


Gadis itu berniat untuk bersikap sportif dengan seseorang yang sering kali mengikuti olimpiade itu.


Melisa yang disebelah Anna sudah menatap tajam dan benci Michelle itu. Apa maksud cewek itu tadi hah?! Sahabatnya itu tidak serendah itu berpikir ikut olimpiade hanya untuk bisa dekat dengan Azriel.


Melirik Anna yang hanya diam saja mengabaikan Michelle disana membuat Melisa jadi merasa gelisah karena murid-murid disekitar mereka mulai melihat kearah mereka dan berbisik-bisik yang tidak-tidak tentang Anna.


"Anna Lo kayaknya–"


"Anna!"teriak Melisa terkejut saat mendapati Anna yang tiba-tiba kabur begitu saja dari sana.


"Padahal gue mau bersikap sportif"sedih Michelle mengambil belas kasihan dari murid-murid yang melihatnya diabaikan Anna.


Dan benar saja para murid disana menghibur Michelle dengan mengatakan Anna itu tidak sebaik Michelle dengan cara menjelekkan Anna.


Melisa geram melihat mereka semua, dirinya pun memilih pergi menyusul Anna sempat dirinya melirik dua orang laki-laki yang dilewatinya yang berdiri menjaga jarak dari papan mading.


Lalu dua orang laki-laki yang berdiri menjaga jarak dari kerumunan itu menatap datar mereka semua.


"Selamat untuk partner olimpiade baru Lo"kekeh Milan disana seraya berbalik kearah kemana Melisa dan Anna tadi pergi meninggalkan Azriel disana.


Azriel sendiri hanya diam menatap tajam Michelle disana yang sedang diberi selamat oleh murid-murid disana.


Berbalik tidak peduli dirinya berpikir akan kembali ke kelas.


***


Melisa berlarian mencari Anna yang pergi itu membuat nafasnya perlahan sesak dan dirinya pun memilih berhenti sebentar untuk beristirahat bertumpu pada dinding koridor sampingnya.


"Hah hah akh!"


Penyakit sialan, keluh Melisa dalam hati benar-benar benci dengan penyakitnya ini.


Dirinya harus mencari Anna, dirinya sedikit khawatir dengan Anna karena hal ini. Cewek itu pasti merasa sangat syok dan juga sedih.


"Hah hah"mencoba mengatur nafasnya tanpa bantuan inhaler dirinya mencobanya untuk bisa namun tidak berhasil.


"Dah tau punya asma masih aja berani buat lari tiba-tiba kayak gini"kata seseorang yang muncul seraya menyodorkan inhaler pada Melisa.


Melisa dengan cepat langsung mengambil inhaler tersebut dan memakainya dan merasa lebih baik, nafasnya juga perlahan kembali normal.


"Thanks"kata Melisa langsung begitu cuek pada Milan yang membantunya itu.


Milan mengangguk saja mendapati terimakasih yang terkesan tidak ikhlas itu.


Mereka pun berjalan bersama untuk mencari Anna, atau mungkin bisa dibilang Milan hanya mengikuti Melisa kemana gadis itu pergi membuat Melisa merasa sebal.


"Kenapa Lo ikutin gue dah?!"kesal Melisa.


Milan mengedikkan bahu tidak peduli. "Gue gak ada kerjaan dan gue gak lapar"kata Milan santai.


Melisa menghela saja membiarkan Milan mengikutinya, lagipula jika tidak lapar untuk apa pergi ke kantin dijam istirahat begini.


Melisa berpikir akan mengelilingi sekolah untuk mencari Anna, namun saat mereka melewati kelas kesenian terdengar suara gaduh didalam membuat Melisa refleks membuka pintu ruang kesenian itu dan mendapati Anna yang sedang membungkuk untuk memungut peralatan melukis yang tak sengaja ia tendang.


"Em hai?"sapa Anna kikuk karena melihat kedua orang yang muncul itu menatapnya.


Tanpa sadar Melisa dan Milan menghela nafas lega saat menemukan Anna terlihat baik-baik saja.


"Ngapain disini?"tanya Milan karena hal baru melihat Anna berada diruang kesenian.


"Ngelukis, Melisa bilang ngelukis bisa bikin tenang"kata Anna jujur.


Melisa yang mendengarnya begitu tersentuh sarannya digunakan dengan baik oleh Anna. Dirinya pun berpikir akan ikut untuk melukis juga.


"Ayo gue temenin, gue juga lagi ingin ngelukis nih"kata Melisa bersemangat.


"Milan mau ngelukis juga?"tanya Anna polos menyodorkan kuas kuas yang ia pungut dari lantai itu.


Milan terkekeh. "Gue ingin gambar sketsa"katanya.


"Beruntung! Sketchbook gue masih baru cuy baru ganti!"senang Melisa memperlihatkan sketchbook nya yang masih baru pada Milan.


Milan tertawa saja menerimanya beserta pensil dan penghapusnya. Dan mereka bertiga pun menghabiskan waktu istirahat mereka dengan menggambar di ruang kesenian.