Millisanna

Millisanna
Bab 55



Anna sebelumnya jika sedang dalam persiapan olimpiade dirinya sering tidak ikut ekskul, namun kali ini walau olimpiade semakin dekat dirinya tetap latihan ekskul.


Tentu saja, dia kan kali ini gagal mewakili sekolah.


"Yow emang agak aneh ya liat Lo ada disini padahal bentar lagi olimpiade, bener gak?"sapa seorang senior saat Anna dalam perjalan menuju gymnasium.


Namun Anna sendiri terkejut dengan senior itu yang jujur saja tak pernah saling sapa karena laki-laki itu tidak pernah ikut latihan, bahkan saat perekrutan saat kelas 10 seniornya itu bahkan tidak ikut dalam perkenalan padahal semua orang di ekskul tahu jika senior itu adalah Ace nya tim bela diri SMA Arya.


"Hai hai"


Orang-orang didalam gymnasium mengalihkan pandangan mereka pada si senior yang begitu heboh itu setiap datang.


Ketua ekskul hanya menghela melihat teman seangkatannya itu akhirnya muncul juga untuk latihan. "Bisma kalo Lo jarang latihan Lo gak akan diturunin main bego"kesal ketua disana menyambut mereka.


Si kakak kelas yang bernama Bisma itu hanya mengangguk tak peduli dan malah terlihat sangat antusias pada Anna.


"Heh ngomong-ngomong Lo kali ini mau turun kan? Perasaan Lo gak pernah turun pas kelas 10"kata Bisma mengingat-ingat.


Anna hanya meringis dalam hati sepertinya dirinya terlihat sangat payah sampai seniornya itu yang jarang hadir dan tak mengenalnya pun tahu jika dirinya payah sampai tidak diturunkan sejak bergabung dengan ekskul bela diri.


Mengangguk saja, Anna memang berpikir mungkin ini kesempatannya bisa turun bertanding di gelanggang karena dirinya bisa memfokuskan diri pada ekskul.


Bisma yang melihat juniornya itu mengangguk mengiyakan perkataannya pun semakin semangat dibuatnya.


"Kalo gitu Lo dapet kelas private free dari Ace kebanggaan sekolah ini"semangat Bisma bahkan menarik tangan Anna membuat gadis itu terkejut Bisma menariknya dengan semangat bergabung dengan anak-anak lain yang siap pemanasan.


***


"Hei pulang bareng gue yuk mampir ke cafe dulu kita"ajak Bisma yang lagi-lagi muncul disekitar Anna dan laki-laki itu muncul terlihat sosoknya saat Anna menutup pintu lokernya.


Anna tidak tahu apa tujuan seniornya ini yang jujur saja tidak mengenal satu sama lain ini namun seniornya itu tiba-tiba sok akrab begini.


"Enggak kak makasih, Anna harus les sekarang"kata Anna menolak dengan sopan dan mengangguk pamit berjalan pulang duluan.


Bisma yang melihatnya mengernyit bingung dan ikut berjalan bersisian dengan Anna. "Lo kan gagal jadi wakil sekolah di olimpiade nanti kok masih les?"tanya Bisma santai karena dirinya memang penasaran dan tidak menyadari Anna yang menegang dan kembali tersadar akan fakta jika Anna gagal.


Anna benar-benar merasa malu, bahkan anak kelas 12 seperti Bisma pun mengetahui bahwa jika dirinya telah gagal.


Tersenyum tipis Anna menjawab Bisma. "Walau Anna gak ngewakilin sekolah tapi Anna tetep harus les dan belajar kak, soalnya Anna gampang banget bodohnya"kata Anna tersenyum mengangguk pamit berjalan duluan karena Bisma terhenti dijalan masuk menuju parkiran.


Bisma menatap punggung adik kelasnya itu datar. "Lo belajar mati-matian juga gak akan Lo pinter dalam hidup na na"gumam Bisma merasa lelah entah karena apa.


***


Salah satu meja disebuah cafe itu sangat ramai dan dipenuhi oleh remaja-remaja laki-laki yang sedang menghabiskan malam dengan nongkrong-nongkrong.


"Woah liat sang tokoh utama telah datang"seru salah satu diantara mereka menyambut kedatangan sang bintang utama.


Bisma memutar mata malas melihat tingkah teman-temannya itu duduk dispace kosong dan langsung mencomot kentang goreng yang ada dimeja.


"Gimana nih udah bisa bikin cewek gagal itu klepek-klepek?"kekeh yang lain.


"Taruhannya motor sport lo yang sering dipake buat balapan itu lho"kekeh teman yang lain mengingatkan Bisma pada taruhan yang mereka buat.


Bisma terkekeh sarkas mendengarnya. "Santai guys, cewek itu bener-bener bego, gue sedikit sulit soalnya tuh cewek lagi sedih karena gagal mewakili sekolah di olimpiade yang biasanya dia yang ngewakilin"kata bisam santai.


"Heh bukannya malah bagus? Dia kan jadi gampang dideketin, lagi sedih-sedihnya terus dihibur sama Lo bukannya gampang tuh luluhnya?"kata temannya itu.


Bisma tertawa terbahak mendengar pemikiran temannya itu. "Lo tau tuh cewek kan spesies aneh cuma ada satu didunia, dia emang sedih tapi tuh cewek makin gila buat belajar biar bisa balik ngewakilin sekolah di olimpiade"


Teman-temannya yang mendengarnya pun ikut terbahak-bahak mentertawakan kesulitan yang dialami Bisma.


"Sudah itu susah, relain ajalah motor Lo itu"kekeh temannya menyuruh Bisma menyerah.


Bisma menatap temannya itu serius. "Gak segampang itu karena gue baru mulai"kata Bisma penuh dengan tekad yang mendapat seruan heboh dari mereka semua.


Jaman begini masih main taruhan soal cewek, benar-benar ketinggalan jaman dirinya jadi menyesal mendengarkan obrolan mereka yang tidak berguna itu.


Kembali membuka chattingnya dengan sang kakak dan menekan sebuah foto yang dikirimkan sang kakak dirinya termenung menatap sosok gadis yang terlihat tidak asing namun semakin cantik dan manis yang berada diantara sang kakak juga calon kakak iparnya itu.


Tersenyum tipis saat menatap sosok gadis itu yang difoto terlihat tersenyum kikuk disana.


"Gak sabar gue buat ketemu Lo lagi Mili"gumamnya sangat tidak sabar.


***


Anna yang merasa tidak lapar memilih pergi ke tempatnya menghabiskan waktu istirahat yaitu di taman samping sekolah.


Melisa yang biasanya mengajak dirinya ke kantin gadis itu sedang disibukkan dengan perlombaan melukis tingkat nasional yang akan diikuti beberapa anggota ekskul seni termasuk Melisa, membuat gadis itu mulai hari ini akan selalu menghabiskan waktunya diruang kesenian.


Anna jadi iri pada Melisa yang bisa mewakili sekolah itu namun apa boleh buat mungkin memang bukan waktunya untuk mewakili sekolah jadi mau bagaimana lagi.


"Anna"


Anna berhenti dan berbalik melihat pak Sugeng yang memanggilnya berjalan menghampiri Anna.


"Anna tolong ya ini kasihkan ke Azriel juga Michelle, Azriel sih gak aneh karena anak itu selalu datang beberapa hari sebelum hari H nya olimpiade bahkan sering kali sehari sebelum olimpiade baru muncul kan"kata pak Sugeng terlihat lelah.


Anna mengangguk saja karena dirinya sangat hapal perangai Azriel itu yang sering kali tidak ikut bimbingan olimpiade dan muncul-muncul sehari sebelum olimpiade, walau begitu Azriel tetap dipuncak tak tergoyahkan hal yang membuat Anna membenci laki-laki itu dan membenci dirinya sendiri.


"Tapi sekarang Michelle juga ikut-ikutan gak datang bimbingan, apa anak itu bakal sehebat Azriel? Benar-benar"keluh pak Sugeng.


Anna tersenyum tipis mendengarnya, mungkin Michelle persis seperti Azriel, anak itu pasti walau tak belajar pun tetap akan berada dipuncak seperti Azriel.


Benar-benar orang-orang yang membuat iri.


"Ngomong-ngomong saya manggil kamu itu minta tolong kasihkan ini ke mereka, setidaknya mungkin mereka belajar dirumah"kata pak Sugeng memberikan sebuah kliping yang Anna yakin itu adalah materi untuk olimpiade nanti.


Anna yang biasa mendapatkannya dan yang mengantarkannya juga untuk Azriel, namun kali ini dirinya hanya mengantarkan saja tidak mendapatkannya karena kedua materi itu milik orang lain tidak ada yang miliknya.


Anna mengangguk menyanggupi dan menerima kliping itu dan berjanji akan memberikannya pada mereka berdua.


"Kalau begitu tolong ya"kata pak Sugeng yang berjalan pergi.


Anna masih diam ditempatnya menatap kliping ditangannya tersenyum sendu lantas menggeleng berpikir dirinya harus mencari Michelle dan Azriel.


Anna berpikir materi milik Azriel akan ia simpan diatas meja laki-laki itu seperti biasa, an untuk Michelle dirinya tahu dimana gadis itu berada jadi dipikir dirinya akan memberikannya sekarang juga pada Michelle yang sedang ada di kantin.


Berjalan menuju kantin yang sangat ramai itu melihat-lihat mencari keberadaan Michelle yang ia temukan satu meja dengan Vanessa dan teman-temannya.


Sedikit ragu untuk menghampiri namun Anna memberanikan dirinya melangkah kesana karena dirinya sadar dirinya tidak memiliki salah apapun yang membuatnya harus takut dengan mereka.


"Michelle"


Semua penghuni meja itu mendadak hening karena obrolan asik mereka terhenti karena sosok Anna yang datang bahkan memanggil satu nama diantara mereka.


"Ini dari pak Sugeng" kata Anna takut-takut memberikan satu kliping materi milik Michelle.


"Muka Lo kayak gak terima banget Lo digantiin sama Michelle, jangan sampe Lo kecewa segitunya nyampe berpikir ngebunuh Michelle kayak yang Lo pernah lakuin ke Azriel waktu itu"kata Vanessa sarkas.


Anna menegang ditempatnya apalagi saat menyadari kantin yang ramai itu mendadak sepi dan semuanya melihat kearah mereka karena Vanessa tadi berbicara sangat keras.


"Bahkan Azriel pernah hampir celaka gara-gara dia?"syok Michelle karena baru mendengarnya.


"Bukan hampir lagi, emang celaka jatuh dari motornya karena dia nyegat Azriel, gila kan"tambah Fani.


"Jangan lupain juga Azriel yang gak sadarkan diri beberapa hari pas insiden kemah itu gara-gara nih cewek juga"lanjut Rena menambahkan ulah Anna yang membuat hidup Azriel sengsara.


Anna semakin menunduk takut dan langsung berlari pergi dari kantin. Senantiasa menunduk untuk menyembunyikan sesuatu yang tidak memiliki izin keluar memaksa untuk keluar dari matanya itu.