
"Lain kali hati-hati, bisa-bisa kaki sama tangan kamu beneran di amputasi kalo lukanya lebih parah dari ini"kata guru penjaga UKS yang sudah mengobati luka Anna.
Anna tersenyum kikuk merasa tak enak pada guru itu karena bisa dibilang dirinya ini langganan masuk UKS bukan untuk membolos tapi benar-benar datang untuk merepotkan guru penjaga UKS karena dirinya korban rundungan.
"Nah, kamu istirahat aja disini, dengan luka kamu itu gak bisa ikutan pertandingan yang lainnya"kata guru penjaga UKS.
"Kamu gak ada ikutan pertandingan lainnya kan?"lanjut guru penjaga UKS.
Anna terkekeh kikuk. "Sebenarnya Anna masih ada satu pertandingan, lomba lari tiga kaki"cicit nya ragu.
Guru penjaga UKS menatap Anna tajam. "Jangan coba-coba buat kabur terus ikut serta"peringat guru UKS.
Anna mengangguk saja patuh dirinya sepertinya harus menerima jika nanti dirinya akan kembali dicemooh karena dirinya yang tidak ikut dalam pertandingan yang ditunjukkan padanya dan membuat kelasnya kalah.
Brak.
Anna dan penjaga UKS terkejut melihat Azriel yang muncul dengan terengah-engah membuka pintu UKS dengan keras itu disana.
"Lo gak apa-apa?"tanya Azriel langsung melangkah kearah Anna untuk memeriksa kondisi Anna.
Luka-luka gadis itu sudah ditangani dengan baik membuatnya merasa lega.
"Azriel kamu ikut lomba lari tiga kaki bareng Anna kan?"tanya guru penjaga UKS itu yang diangguki oleh Azriel.
"Nah kalo gitu Azriel ibu titip Anna ibu ada urusan diluar sebentar nanti balik lagi"kata guru penjaga UKS dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan kedua muridnya disana.
UKS menjadi sangat hening karena keduanya hanya diam dan tidak bersuara sedikit pun.
Anna yang merasa tidak nyaman dengan kondisi itu pun mencoba untuk menghilangkan kecanggungan dengan bertanya sesuatu pada Azriel yang sejujurnya sudah ia pikirkan sejak lama namun baru kali ini ada kesempatannya.
Melirik gugup pada Azriel yang berdiri membelakanginya itu memberanikan diri untuk bertanya pada laki-laki jangkung itu namun Anna malah mengernyit karena menyadari sesuatu yang aneh dari Azriel.
Nafas laki-laki itu bukannya melambat dan normal malah semakin terlihat tersengal-sengal bahkan lebih parah dari tadi.
Bruk.
Azriel jatuh terduduk dengan nafas yang tersengal-sengal bahkan keringat banyak keluar dari tubuhnya.
Anna yang melihatnya pun terkejut langsung turun dari ranjang dan beralih ke hadapan Azriel yang menunduk terlihat kelimpungan itu.
"Bernafas yang benar"suruh Anna mulai ketakutan dengan kondisi Azriel ini.
Dirinya jadi ingat dengan kondisi laki-laki itu saat di hutan waktu itu.
"Hmph!"
"Azriel dengerin Anna!"
Anna bawa wajah Azriel yang mulutnya ia bekap agar laki-laki itu hanya bisa bernafas melalui pernapasannya dan menatap pada Anna.
"Bernafas perlahan"kata Anna memberikan instruksi pada Azriel agar laki-laki itu bernafas dengan santai.
Azriel menatap bola mata hitam jernih itu dan perlahan dirinya merasa mulai bernafas dengan ringan.
Merasa nafas Azriel sudah kembali normal perlahan Anna menarik tangannya dari mulut Azriel. "Mendingan?"tanya Anna memastikan.
Azriel mengangguk saja bergumam berterimakasih.
"Ayo istirahat, Azriel kayaknya kecapean"kata Anna menggiring Azriel untuk merebahkan diri disalah satu ranjang UKS.
"Gue haus"kata Azriel yang sudah duduk diranjang itu.
Anna pun dengan bergegas mengambil gelas dan mengisi gelas itu dengan air minum dan memberikannya pada Azriel.
Anna memperhatikan Azriel yang meminum airnya sampai tandas itu yang menandakan jika laki-laki itu benar-benar kehausan.
Azriel pun merebahkan dirinya diatas ranjang dirinya akan beristirahat sejenak, atau mungkin cukup lama sampai jam pulang sekolah nanti.
Melihat Azriel yang mulai terlelap membuat Anna jadi tidak jadi untuk menanyakan sesuatu pada Azriel itu.
Lagipula dirinya lebih terkejut lagi saat dirinya seperti mengetahui jika Azriel sering mengalami hyperventilation. Ya Anna tahu karena dirinya pernah mencari di internet mengenai yang terjadi pada Azriel sebelumnya saat di hutan dan ternyata laki-laki itu mengalami hyperventilation, kondisi dimana seseorang bernafas secara berlebihan yang penyebabnya bisa karena sehabis olahraga atau kecemasan yang berlebihan.
Yah Anna tidak tahu yang mana yang membuat Azriel menjadi mengalami gejala itu namun Anna yakin tidak mungkin Azriel memiliki kecemasan yang berlebih karena ayolah hidup laki-laki sudah hampir sempurna untuk apa Azriel cemas.
***
Pekan olahraga SMA Arya selesai dalam sehari karena tidak banyak pertandingan yang diperlombakan dan untuk kelas yang menjadi juara umum adalah kelas 12-4 karena memiliki kemenangan pertama terbanyak.
Kelas 11-3 harus merasa puas di posisi ketiga karena ya kemenangan pertama mereka tidak sebanyak kelas yang juara utama, dan di pertandingan basket yang sangat diunggulkan oleh mereka harus bisa puas di juara kedua karena Azriel menghilang dan tidak ikut dalam pertandingan membuat lawan mereka 11-1 kelasnya Milan yang juga seorang Ace tim basket yang memenangkannya.
Mereka pun hanya bisa bertepuk tangan bangga pada mereka sendiri yang telah bekerja keras.
"Ini salah Anna bukan sih?! Cewek itu malah kabur pas masih ada pertandingan yang harus dia lakuin!"kata Michelle mencari kawan untuk sepemikiran dengannya dan menyalahkan Anna agar semakin banyak yang membenci Anna.
Anak-anak sekelas hanya diam mendengar seruan Michelle itu. Sejujurnya mereka sedikit kehilangan respect pada gadis itu semenjak membuat Azriel yang kejam kembali muncul dan mereka tahu jika cewek itu sangat membenci Anna.
Melisa yang lelah dengan tingkah Michelle itu akan memperingatkan jika cewek itu sebaiknya berhenti membenci Anna karena hal itu sangat tidak berguna, namun urung karena ponselnya berbunyi.
Begitu juga anak-anak lain yang langsung memeriksa sebuah notifikasi yang masuk secara bersamaan kedalam ponsel mereka masing-masing.
Michelle pun ikut memeriksa ponselnya karena ponselnya pun ikut menerima notifikasi tersebut.
Dibukanya notifikasi dari forum sekolahnya itu dan melihat ada sebuah postingan dengan sebuah video yang ia pencet untuk memplay video tersebut.
"Apaan!!?"seru Michelle tertahan saat melihat video apa itu.
Dan ternyata itu adalah video dirinya yang terekam sangat jelas di video sedang menukar lembar jawaban yang diberikan oleh Anna disana.
'Kecurangan yang dilakukan untuk pergi ke olimpiade'
Michelle menggeram saat membaca caption yang ada di postingan tersebut, dilihat dari video yang sepertinya di crop itu dan juga dari angle nya ia tahu siapa yang merekam video tersebut.
"Lo anj*ng!!!!"murka Michelle langsung menyerang cewek yang duduk di meja kedua jajaran paling ujung dekat pintu.
Brak brak! Bruk!
"Lepasin sialan! Lo punya masalah sama gue hah?! Bilang sama gue biar gue abisin Lo sialan!!"murka Michelle yang berontak dari Melisa yang sontak menahannya karena tahu cewek itu akan menyerang cewek yang duduk dibelakang yang sekarang terlihat sangat ketakutan sampai terjatuh dari kursinya menatap ngeri sosok Michelle yang murka.
"Michelle tenang bego! Lo harus tenang!"suruh Melisa kewalahan menahan Michelle.
"Apaan lagi Lo hah?! Minggir!!"
Bruk.
Melisa terhempas menghantam meja meringkuk kesakitan setelah Michelle mendorongnya sangat kuat.
Kegaduhan di kelas 11-3 semakin menjadi kala Michelle mengambil penggaris besi disalah satu meja dan akan menyerang cewek yang terduduk ketakutan itu.
"Mati Lo anj*ng!!"teriak Michelle benar-benar sangat murka mengayunkan penggaris besi itu untuk menyerang si cewek.
"Aaaaaa!!!"
Syaatt. Tap bruk.
Michelle terhempas mundur menghantam meja dan penggaris besi yang berlumuran darah itu pun terlepas dari tangan nya.
"Gue bunuh juga Lo sialan!!!"amuk Azriel benar-benar akan membunuh Michelle karena gadis itu benar-benar sudah diluar nalar.
Bruk.
"Anna!!"jerit cewek yang dilindungi Anna itu saat melihat Anna ambruk tak sadarkan diri dengan memegang luka sayatan panjang sepanjang lehernya yang mengalirkan banyak darah.
Azriel berbalik dan terkejut bukan main melihat kondisi Anna itu. "Anna!!"teriak Azriel ketakutan melihat Anna yang bahkan nafasnya mulai melemah.
"Sialan!"geram Azriel.
"Panggil ambulan cepat!"suruhnya pada cewek didepannya yang sudah menangis itu seraya membawa tubuh Anna untuk dibawa kerumah sakit.
"Hey ada apa rame–"
"Jangan ngehalangin jalan sialan!!!"murka Azriel pada Milan yang muncul diambang pintu kelasnya.
Milan sontak terkejut dan menyisi membiarkan Azriel yang membawa Anna yang berlumuran darah itu diikuti seorang cewe yang lain.
"Heh ada apa sih?!"tanya Milan tidak mengerti pada anak-anak kelas 11-3 yang hanya diam disana dengan kondisi kelas yang berantakan dengan beberapa bercak didekat dinding juga Michelle yang terlihat bangkit dari jatuhnya dan pandangan Milan tertuju pada sosok cewek yang meringkuk dilantai diantara barisan, dari siluet nya dirinya mengenali siapa itu.
"Heh Lo oke?!"tanya Milan yang menghampiri Melisa yang meringkuk dengan nafas putus-putus.
"Hah.. hah.."
Milan mengernyit tidak nyaman melihat kondisi Melisa itu. Dirinya pun berdiri ke meja Melisa mencari-cari sesuatu didalam tas gadis itu dan mendapatkannya.
Milan memberikan inhaler itu pada Melisa yang langsung digunakan oleh gadis itu dan perlahan gadis itu mulai tenang.
Mendekap erat tubuh Melisa, Milan menatap sekitar pada orang-orang yang tetap mematung disana dan berakhir pada Michelle yang memiliki sedikit bercak darah ditangannya dan juga penggaris besi yang berlumuran darah tergeletak dilantai tak jauh dari Michelle.
"Lo bener-bener bang**t!"desis Milan sangat tajam pada Michelle.