Millisanna

Millisanna
Bab 25



Aryan dan tim Amar bergerak secara cepat menuju tempat persembunyian para pemburu itu.


Aryan merasakan firasat buruk apalagi saat mereka mendengar suara bising yang begitu keras dari tempat persembunyian itu.


"Amar!"seru Aryan meneriakkan nama adik iparnya itu membuat Amar mengerti dan langsung mengarahkan anak buahnya untuk berpencar mengepung tempat persembunyian itu dan dirinya bersama Aryan dan dua bawahannya lain menyergap masuk.


Mereka berlari masuk dengan Amar yang memimpin dan Aryan ditengah agar terlindungi oleh mereka para polisi disana.


Amar yang didepan langsung menyiapkan posisi dan langsung menembakkan peluru dari pistolnya setelah satu suara tembakan mendahuluinya.


Dor dor.


"Azriel!!!"teriak Aryan begitu terkejut langsung melesat menghampiri anaknya yang tergeletak dengan genangan darah dari lubang bekas peluru di dadanya.


Azriel masih hidup tapi kondisinya mengerikan, anaknya itu benar-benar memiliki banyak luka yang cukup parah ditambah luka tembak didada semakin memperparah kondisi nya.


Aryan sontak menekan luka tembak itu berharap agar lukanya tidak semakin mengeluarkan darah, berteriak agar para polisi itu cepat membantunya.


"Amar tolong anakku cepat!!!"kalap Aryan.


Amar tentu saja langsung mengerti dan menyuruh kedua bawahannya yang bersamanya untuk segera memberikan pertolongan pertama untuk dua pelajar disana.


"Kalian semua langsung masuk. Didalam sini semuanya sudah aman"kata Amar pada walkie talkie miliknya memberi tahu pada setiap pasukan.


Ya semua disini sudah aman dengan cara yang mengerikan, lanjutnya dalam batin melihat pandangan yang cukup mengerikan yang bahkan untuk dirinya yang seorang polisi.


Dipastikan para pemburu itu meregang nyawa seketika saat tertindih oleh semua kotak jeruji besi itu dilihat dari genangan darah yang melebar disana dibawah tumpukan jeruji besi itu.


"Anak laki-laki ini kehilangan detak jantungnya!! Tim medis segera masuk!!"teriak petugas yang menangani Azriel pada walkie talkie miliknya untuk menyuruh tim medis agar segera datang dan membawa anak ini kerumah sakit.


Aryan semakin ketakutan. "Jiel!!?! Jiel ayah mohon jangan gini!!"


Pasukan Amar datang bersamaan dengan para tim medis yang datang segera melakukan penanganan pertama untuk mengembalikan detak jantung Azriel yang hilang.


"Tim A dan C segera bersihkan jalur evakuasi kedua korban harus segera dilarikan kerumah sakit! Sisanya urus semua yang ada disini!"perintah Amar pada para bawahannya itu yang langsung mengangguk mengerti dan langsung mengerjakan perintah.


Memberi ruang pada mereka yang bergegas menyelamatkan kedua pelajar yang terluka yang bahkan sekarang keduanya tidak sadarkan diri dengan kondisi kritis.


Berjalan menghampiri mayat ketua pemburu yang tergeletak dengan lubang tepat ditengah dahinya ia tatap dengan dendam dan kesal.


"Kurang ajar kau mendapatkan kematian yang mudah"gumamnya kesal seraya menendang sedikit tubuh yang sudah kaku itu menunjukkan ketua pemburu itu telah jadi mayat.


Merasa tidak becus saat tembakannya tadi telat dilepaskan karena tembakannya dilepaskan tepat setelah ketua pemburu itu melepaskan tembakannya yang mengenai Azriel.


Menghela nafas panjang Amar tak bisa berbuat apa-apa, hanya sangat disayangkan melihat orang jahat itu mati tanpa mendapatkan balasan yang setimpal atas kesalahannya.


"Kedua anak ini kritis terlebih yang laki-laki! Mohon berikan jalan! Mereka akan segera dibawa!"seru salah satu petugas medis disana dan mereka dengan segera membawa para korban.


Amar mendekati Aryan yang terdiam dari belakang mereka yang membawa Azriel dan Anna ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.


"Aku selalu tidak mengerti dengan Tuhan yang selalu memberikan hukuman mudah untuk mereka yang jahat"kata Aryan penuh dendam pada mayat para pemburu itu yang sedang dievakuasi.


Amar diam, ternyata pemikirannya dengan pemikiran sang kakak ipar nyatanya sama saja. Mungkin saja mereka memang memiliki gen yang sama.


Yang dimana mereka akan sangat beringas jika berhubungan dengan keluarga yang mereka sayangi.


***


Anna membuka matanya perlahan dan memperhatikan sekitar yang nyatanya tidak ia kenali dengan aroma yang dikenalnya sebagai aroma rumah sakit.


Perlahan mendudukkan dirinya sendiri melihat jika semua ranjang dikamar ditempatkannya ini kosong, hanya dirinya seorang diri disana.


Melihat kondisinya sendiri Anna yakin dirinya sudah ditangani oleh ahli medis. Kakinya telah di gips, beberapa bagian tubuhnya yang dililit perban, diperhatikan sudah seperti mumi saja dirinya ini.


Menurunkan kedua kakinya dari ranjang berjalan dengan tertatih bertumpu pada tiang infus Anna berjalan keluar kamar rawatnya untuk menanyai bagaimana keadaan selanjutnya setelah Anna kehilangan kesadarannya.


Dirinya mungkin saja jatuh tak sadarkan diri saat melihat Azriel yang tertembak tepat didepan matanya saat itu.


Dan begitu dirinya sadar dirinya langsung mengingat bagaimana keadaan Azriel sekarang.


Berjalan tertatih menyusuri lorong gelap rumah sakit tersebut Anna akhirnya mengetahui dimana Azriel dirawat.


Disana didepan pintu ruang operasi banyak orang yang menunggu Azriel yang mungkin saja masih ditangani itu.


Anna bertanya-tanya apa sudah berjam-jam laki-laki itu diruang operasi dan sampai sekarang belum keluar atau bagaimana Anna hanya bisa menduga-duga dan berdoa agar Azriel baik-baik saja.


Ting.


Lampu diatas ruang operasi mati yang mengartikan jika dokter selesai menangani Azriel dan dokter itu pun keluar menghadap pada mereka yang sedari tadi menunggu didepan ruang operasi.


"Bagaimana kondisi anakku?!"tanya Aryan langsung pada dokter yang menangani Azriel.


Dokter itu menatap Aryan serius lantas tersenyum lega. "Anak anda baik-baik saja, peluru yang mengenai dadanya tidak mengenai titik rawan yang membahayakan dan semua luka lainnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan"jelas dokter itu menbuat orang-orang yang mendengarnya menghela nafas lega.


Begitu juga seseorang dengan pakaian pasien yang berjalan berbalik dengan tertatih bertumpu pada tiang infus nya yang ia dorong-dorong itu terlihat jelas oleh Amar disana.


Setidaknya gadis itu merasa lega dan tak perlu merasa bersalah, batin Amar mengetahui keberadaan Anna sejak awal gadis itu muncul dan menjaga jarak dari mereka yang menunggui Azriel.


***


Apa yang paling dibenci seorang Nathalia Huria dihari pembagian raport anak-anak nya?


Yaitu anak keduanya yang sangat payah karena selalu saja menjadi yang ke dua dan selalu kalah dengan anak yang sama sejak kelas 10 itu.


Lia menatap kesal pada ibu dari anak yang selalu mengalahkan anak payahnya itu yang sedang maju kedepan untuk menerima hadiah atas pencapaian anaknya tersebut.


"Terimakasih"


Andari berterimakasih dan dengan malu-malu menerima semua hadiah yang didapatkan anaknya itu karena lagi-lagi menjadi juara pertama seangkatan.


"Anda benar-benar luar biasa mendidik Azriel sampai anak itu selalu bisa mempertahankan nilainya"kata wakil kepala sekolah memuji anaknya.


Andari hanya balas tersenyum dan berterimakasih walau nyatanya dirinya sangat membenci wajah senang pura-pura para penjilat itu.


Kembali ke tempat duduknya Andari menghela nafas panjang tapi langsung ikut bertepuk tangan dan mengapresiasi seorang wanita yang duduk disebelahnya itu yang ganti maju kedepan karena anaknya lagi-lagi mendapat juara dua seangkatan.


"Selamat ibu Anna. Hebat sekali Anna bisa mempertahankan nilainya membuatnya selalu mengamankan posisi keduanya"senang Andari memberi pujian dan selamat pada ibu dari partner olimpiade Azriel itu.


Lia menatap kesal Andari disana. "Anak itu hanya anak payah yang tidak becus menjadi nomer satu, untuk apa kau kegirangan seperti itu?"kata Lia sebal.


Andari yang mendengarnya hanya bisa menggigit bibir dalamnya terkejut lantas bercicit minta maaf dan mengalihkan pandangannya dengan canggung.


Andari jadi merasa bersalah karena telah membuat ibu Anna marah.


Lia memutar matanya malas. Jika begini adanya dirinya lagi-lagi akan direndahkan oleh kakak iparnya yang mungkin akan segera membanggakan anaknya yang lagi-lagi mendapatkan peringkat pertama disekolahnya lagi.


Aku tidak akan mengajak anak payah itu berlibur hanya untuk membuatku terhina, bagian Lia kesal.


Lagipula sejak awal dirinya enggan membawa anak keduanya itu untuk berlibur menikmati liburan sekolah. Dirinya akan membuat anak payah itu tetap masuk les untuk menambah kepintaran anak itu agar bisa juara satu dan bisa membuatnya membalas perkataan merendahkan kakak iparnya itu.


"Permisi"


Secara tiba-tiba satu orang guru TU mendekati mereka berdua, ya Nathalia dan Andari.


"Kenapa?"tanya Lia mengerutkan kening.


"Mohon ikut saya sebentar dengan kondisi yang tenang"kata guru TU itu semakin membuat kedua ibu itu kebingungan.


Guru TU itu membawa kedua ibu dari dua siswa berprestasi SMA Arya itu ke ruangan kepala sekolah dan disana sudah ada kepala sekolah dan juga wakilnya.


Kedua ibu itu duduk bersampingan dihadapan kepala sekolah dihadapan mereka yang terhalangi oleh meja pendek yang terlihat serius.


"Sebelumnya saya minta maaf karena menginterupsi acara penerimaan raport anak-anak anda"kata kepala sekolah membuka pembicaraan.


"Maaf pak, apa Jiel membuat ulah lagi?"tanya Andari takut-takut karena anaknya itu selalu saja membolos jika tidak mood belajar.


Kepala sekolah tersenyum lantas menggeleng. "Tidak, bukan itu yang ingin saya bahas dengan anda berdua"senyum itu lantas berubah muram.


"Mohon maaf atas keteledoran kami dalam memperhatikan keselamatan murid kami karena Azriel dan Anna disaat acara kemah mengalami kemalangan dan saat ini sedang dirawat dirumah sakit"jelas kepala sekolah.


Andari yang mendengarnya serasa mendapatkan serangan syok yang luar biasa. Dirinya sangat mengkhawatirkan kondisi Azriel membuatnya langsung menghubungi sang suami yang nyatanya laki-laki itu bahkan keluar sejak tengah malam dan sampai sekarang belum membalas semua pesan yang dikirimkannya yang berarti suaminya itu tahu hanya saja dia diam.


Dan untuk Nathalia sendiri dirinya mendengus diam-diam. Anaknya itu benar-benar biang masalah dan membuat malu saja.


"Ibu Anna! Ayo kita harus segera pergi kerumah sakit tempat mereka dirawat, suami saya baru saja memberikan alamatnya"kata Andari serius dan sedikit gemetar karena wanita itu tak bisa menahan air matanya karena terlalu khawatir akan kondisi anaknya.


Nathalia sebenarnya malas tapi demi terlihat seperti orangtua yang baik ia pun mengangguk dan langsung menerima ajakan Andari untuk segera pergi kerumah sakit.