Millisanna

Millisanna
Bab 32



Anna kembali ke kelasnya setelah selesai berganti seragam dan betapa beruntungnya karena guru mata pelajaran selanjutnya absen dan hanya meninggalkan tugas untuk kelasnya.


Duduk dikursinya dengan canggung karena merasa seluruh mata milik orang-orang dikelas menatapnya tajam.


"Mana maaf Lo setelah bikin Michelle pingsan? Gak punya rasa bersalah banget Lo"seru salah satu dari mereka yang menjadi awalan dari mereka yang ikut berseru menjelekkan dirinya.


Anna hanya bisa meremat buku pelajarannya dengan gugup juga takut, dirinya harus meminta maaf lagi pada Michelle agar mereka semua berhenti menjelekkannya.


"Udah kalian semua!"seru Michelle tiba-tiba membuat kelas jadi sunyi.


Michelle tersenyum manis menatap teman-temannya. "Gue gak apa-apa kok, ini juga bukan seratus persen kesalahan Anna jadi udahlah, gue gak apa-apa"kata Michelle menenangkan mereka dan membuat mereka berhenti menghujat Anna.


Anna yang mendapat pembelaan dari Michelle pun lagi-lagi terpukau dengan gadis itu, Michelle benar-benar jelemaan malaikat.


"Hey kita kerja sama lagi buat tugas ini, mau kan?"tanya Michelle yang melangkah ke samping meja Anna.


Anna mengangguk antusias menerima ajakan kerja sama Michelle.


Azriel diam menatap datar pada kedua cewek yang lagi-lagi terlihat akrab itu. Menatap tajam pada satu cewek disana yang merupakan Michelle.


Dirinya tidak suka dengan sikap Michelle tadi, cewek itu seolah mengatakan Anna memang bersalah dan Michelle yang baik hati memaafkannya walau tidak menerima maaf dari Anna.


Padahal Anna sudah meminta maaf di UKS tadi tapi malah terlihat Anna yang tidak mau minta maaf.


Dan lagi jauh dari itu, nyatanya ini semua omong kosong dimatanya.


Dari pandangannya sejak dilapangan tadi dirinya mengetahui jika Michelle melakukan semuanya dengan sengaja.


Dengan jelas dari pinggir lapangan Azriel melihatnya. Bagaimana dua orang tim lawan Anna yang terlihat merencanakan sesuatu dan Michelle yang memperhatikan mereka dengan serius lantas berlari kencang kearah Anna saat melihat kedua orang itu mulai menjalankan rencana mereka.


Yang dimana rencana mereka adalah berbuat curang yaitu menghentikan Anna dengan menginjak kaki gadis itu dengan sengaja dan seperti yang diduganya Michelle memanfaatkan hal itu yang mana menempatkan dirinya agar terkena gerakan menghindar melindungi bola yang dilakukan Anna.


Semuanya terlihat jelas di mata tajam miliknya, namun mata dan kepekaan gadis itu tidak setajam miliknya membuat Azriel kesal sendiri melihat betapa polosnya Anna.


Hanya bisa menghela nafas dan berpikir dirinya akan memperhatikan dari belakang bagaimana lanjutan dari Michelle yang jelas-jelas terlihat memiliki maksud yang terselubung dengan akrab pada Anna.


***


Anna tidak tahu dirinya begitu beruntung karena diberi kesempatan untuk merasakan kenikmatan memiliki teman, apalagi dirinya langsung mendapatkan dua orang teman yang begitu memperhatikannya.


Melisa dan Michelle berebut untuk membantunya berjalan sampai dirinya naik angkutan umum untuk pulang, namun Melisa mundur karena tiba-tiba ponselnya berbunyi dan mendapat pesan dari ketua ekskul seninya yang mengatakan ada kumpulan mendadak membuat gadis itu langsung pergi meminta maaf.


Tersisa Michelle yang memapah Anna dengan sabar menuju gerbang sekolah.


"Harusnya gak perlu sampai kayak gini"kata Anna merasa tak enak pada Michelle.


Michelle terkekeh cantik. "Apaan sih, santai aja kali"kata Michelle tak merasa keberatan.


Anna hanya bisa tersenyum bertemikasih dan menerima kebaikan Michelle.


Michelle terlihat sabar memapah Anna namun itu hanya diluar karena didalamnya ia begitu memaki-maki Anna yang dikatainya sampah.


Apaan sih sampah ini menyebalkan sekali, tapi tenang Michelle Lo harus sabar agar bisa deket sama Azriel, cewek sampah ini jalan untuk dekat dengan Azriel, batin Michelle.


Dan laki-laki yang sedang dipikirkannya itu ia lihat ada di parkiran dengan sahabatnya Milan dan seperti menerima telepati laki-laki itu berbalik dan melihat ke arahnya membuat Michelle sontak berhenti karena melihat laki-laki itu melangkah kearahnya.


Anna bingung karena Michelle yang tiba-tiba berhenti itu, akan bertanya ada apa tapi suara lain mendahuluinya.


"Anna gue anter Lo pulang"kata Azriel yang sampai disamping Anna.


Anna sontak berbalik menatap terkejut Azriel. Dirinya tidak percaya dengan apa yang ditawarkan Azriel tadi.


Menggeleng Anna menolak kebaikan laki-laki itu karena merasa tak berhak juga malu. "Gak apa-apa, lagian Anna mau ke tempat lain dulu gak langsung ke rumah"kata Anna memberikan alasan.


Michelle yang melihat Anna menolak itu mengambil kesempatan emas tersebut. "Kalo Anna gak mau gue boleh gantiin dia gak? Soalnya kepala gue masih sedikit pusing"kata Michelle dengan wajah memelas.


"Michelle Anna minta maaf! Kamu beneran masih sakit? Harusnya gak usah bantuin Anna, ayo cepet pulang"kata Anna khawatir.


Melirik takut-takut pada Azriel untuk mengiyakan permintaan Michelle tadi.


Azriel berdecak pelan melihat kebaikan tak berguna Anna untuk cewek seperti Michelle, jelas-jelas cewek itu mengambil kesempatan tapi Anna tidak menyadarinya sama sekali.


Kalau dirinya jadi Anna, dirinya pasti sudah sangat jijik juga ilfil pada tingkah Michelle, tidak perlu jadi Anna pun dirinya sudah merasa jijik dengan Michelle.


Berbalik menengok pada Milan disana dan menyuruh sahabatnya itu untuk menghampiri mereka.


"Kenapa?"tanya Milan langsung saat sudah bergabung dengan mereka.


"Lo anterin dia pulang katanya dia masih pusing habis kepukul Anna tadi pas jam olahraga"kata Azriel lengkap.


Sontak Milan menatap tak percaya pada kedua cewek dihadapannya itu. "Lo kepukul sama Anna? Untung aja Lo gak sampe mati"kekeh Milan tertawa.


Bugh.


"Aw sakit bego!"kesal Milan saat Azriel memukul belakang kepalanya.


"Kalo ngomong dijaga"peringat Azriel.


Milan mencebik sebal. "Gue kan cuma hiperbola sedikit ahelah, lagian Anna emang kuat banget"sebal Milan.


Azriel memutar matanya malas dan bergegas menyuruh Milan untuk mengantar Michelle pulang.


"Lo anter dia, gue anter Anna"kata Azriel menarik tangan Anna membawa gadis itu ke arah motornya terparkir.


Milan yang melihatnya hanya mengedikkan bahu tidak peduli, melirik kesampingnya ke anak baru itu dan mendapati tatapan sengit yang diperlihatkan Michelle menatap Anna yang bersama Azriel membuat ekspresi santai Milan pun berubah menjadi serius.


Apa-apaan nih cewek, batinnya.


***


Azriel mengantarkan Anna ke tempat lesnya karena gadis itu harus menghadiri les setiap pulang sekolah.


"Kenapa Lo gak izin?"tanya Azriel saat Anna mengembalikan helm dan sambil melihat kearah kaki Anna yang diperban.


Selama perjalanan tadi mereka hanya diam tak saling bicara satu sama lain, jadi pertanyaan yang sedari tadi disimpan Azriel baru diucapkan sekarang.


Anna tersenyum tipis mengedikkan bahu. "Karena ini bukan apa-apa, makasih udah nganterin, maaf juga udah banyak ngerepotin Azriel"kata Anna.


"Kapan Lo pulang?"tanya Azriel tidak suka dengan ekspresi yang ditampilkan Anna.


Anna tersenyum tidak setipis tadi. "Sore juga udah pulang, dah ya hati-hati dijalan, makasih sekali lagi"kata Anna terburu-buru pamit dan melangkah memasuki gedung tempat lesnya dengan kaki yang tertatih.


Azriel menatap punggung yang menghilang dibalik pintu kaca itu dengan datar.


"Pembohong"


***


Tentu saja Anna bohong soal dirinya yang pulang les sore hari, karena nyatanya dirinya pulang di jam 11 malam seperti biasa.


Tak ada kendaraan juga tak ada yang menjemputnya membuat Anna tentu saja akan berjalan kaki, walau sepertinya mulai hari ini sampai kakinya sembuh waktu pulangnya akan semakin lama.


Tapi tak masalah karena ini memang salahnya. Ini balasan karena dirinya menyakiti Michelle sampai membuat gadis itu pingsan.


"Anna harus kasih apa ya biar Michelle beneran gak marah?"gumam Anna memikirkan agar dirinya tidak kehilangan Michelle karena Michelle temannya, seseorang yang ingin dekat dengannya.


Bergumam memikirkan apa yang harus ia berikan untuk Michelle sebagai tanda maaf selama perjalanan pulang membuat Anna tak merasakan jika ada seseorang yang memperhatikannya dibalik bayangan.