
Anna telah mengisi formulir untuk membuat ATM itu, melipat dua kertas tersebut dan menyelipkan pada buku yang ia masukan kedalam tas yang akan dipakainya besok saat pergi les.
Setelahnya ia tentu saja belajar. Tak lama hanya sampai jam 10 Anna sudah menutup bukunya dan beralih mengambil tab gambar dari lacinya yang ia sembunyikan dibawah laptop miliknya.
Besok hari sabtu sekolah libur Anna memilih untuk menggambar ditabnya. Menggambar adalah hobinya dan hobinya itu menghasilkan uang karena ada beberapa orang yang menggunakan jasa menggambarnya dan membayarnya cukup besar untuk hasil yang bagus.
Tab gambar tersebut terbeli hasil dari uang yang Anna dapatkan saat beberapakali mengikuti olimpiade saat kelas 10. Dan sejak ada tab itu uang yang Anna hasilkan bukan dari olimpiade saja tapi juga dari hobinya.
Anna senang sekali menggambar fanart anime atau idol Korea dari grup kesukaan Anna. Anna juga sedang mencoba hobi baru, yaitu retas meretas.
Keinginan itu bermula saat ia melihat anime dimana tokoh utama perempuan sangat keren sekali karena ia kuat dan juga jenius ditambah dengan kelebihannya dalam hal meretas semakin membuat karakter itu terlihat keren dimata Anna dan Anna ingin seperti itu.
Membayangkan nya saja membuat Anna senyum-senyum sendiri. Jika sudah niat dan ada alatnya juga pemahamannya dalam hal hacker sudah memumpuni dengan segera Anna akan melakukannya dengan senang hati.
Keluarga tentu saja tidak tahu tentang ini. Keluarganya hanya tahu kalau Anna adalah anak tak berguna, pecundang, tak tahu diri, dan yang paling gampang diingat Anna adalah anak yang selalu mendapat peringkat dua disegala jenis dalam kehidupan apapun.
Mengingat itu membuat Anna berhenti mewarnai rambut biru dari sosok yang sedang Anna gambar. Menatap sedih sosok yang sebentar lagi rampung tinggal rambutnya itu dengan perasaan yang tiba-tiba sedih Anna melanjutkan menggambarnya.
"Aku benar-benar anak tak berguna"gumaman itu lolos menjadi pertanda akan Anna yang selalu berpikiran negatif sampai ia memilih tidur walau tak akan nyenyak diawal.
***
Anna keluar dari bank dengan memegang kartu ATM miliknya yang bergambar 8 karakter yang sangat ia kenal. 5 karakter berbentuk hewan lucu, ada alpaca berwarna putih dengan scraf berwarna merah, ada kuda berwarna ungu yang selalu memakai topeng berwarna biru, ada kelinci berwarna pink dengan satu telinga terlipat dan satu alis yang tebal sebelah, seekor anjing dengan jaket kuning yang lidahnya selalu menjulur, dan karakter hewan terakhir adalah koala berwarna biru dengan hidung ungu yang sedang tersenyum sampai kedua matanya hanya berupa garis seperti boneka yang ada di kamarnya.
Karakter lain ada cookies coklat yang pecicilan, alien aneh dengan kepala love dimana tubuh berwarna biru dengan polkadot kuning tangan dan kakinya bisa merenggang panjang, dan terakhir robot dengan kepala berbentuk tetesan air dengan badan berwarna abu setengah dan setengahnya lagi berwarna putih dengan satu mata berupa silang dan satu mata lainnya bulatan.
Anna menatap senang kartu atm-nya dimasukannya kedalam dompet dan berjalan mencari angkot untuk ke tempat lesnya.
Anna dengan semangat karena moodnya bagus memperhatikan guru lesnya didepan yang sedang menerangkan, sesekali juga mencatat sesuatu yang menurutnya penting.
Bel istirahat berbunyi, beberapa anak memilih keluar untuk jalan-jalan sebentar atau hanya sekedar nongkrong disamping gedung dimana ada cafe hits disana.
Anna memilih membuka bekalnya dan makan dimejanya dengan hidmat. Sambil memainkan ponselnya Anna membuka Instagram nya yang memperlihatkan akun Instagram teman-teman nya yang begitu aestethic karena berisi banyak foto dimana mereka sedang hangout ditempat tempat keren.
Anna tentu saja iri pada mereka yang bisa jalan-jalan sesuka hati dengan teman-teman nya tanpa takut akan dimarahi ini itu jika nilainya turun.
Hidup memang tak adil dan Anna sangat tahu, jadi Anna hanya memilih fokus saja dengan hidupnya sendiri karena kehidupannya memang harus seperti ini.
***
Dilain tempat Azriel sedang bersama dengan teman-teman gengnya berkumpul disalah satu cafe ternama, mereka menjadi pusat perhatian pengunjung karena wajah mereka tampan tampan dan mereka sangat berisik.
Sebenarnya bukan teman geng mereka juga, hanya Azrielnya saja yang langsung join dan mengajak beberapa dari orang yang sedang kumpul itu untuk tanding game online.
Milan yang duduk disamping Azriel menghalau asap rokok yang mengarah ke Azriel yang sedang fokus mabar dengan anak-anak lain.
"Bro maaf nih ya, boleh atur asapnya biar gak kena temen gue"kata Milan sedikit merendah.
Si pria yang sedang merokok itu menatap Milan tak suka. "Kalo gak suka asap rokok gak usah gabung disini dasar anak mami"cibir pria itu.
Milan sudah menahan amarahnya. Dibaikin malah bikin kesal, jadinya Milan kesal juga kan.
"Gini ya mas ganteng, gue udah ngomong baik-baik dan Lo masnya malah ngegas ya gue ikut kesel kan"kata Milan masih mencoba menahan amarahnya.
"Anak mami mah anak mami aja gak usah alesan ini itu"kekeh pria itu masih menyindir Milan.
Kesabaran Milan sudah habis, ia tiba-tiba bangkit akan memukul pria itu kalau Azriel tak menahannya.
"Dahlah lan, kita cabut aja guenya juga udah puas ngalahin mereka semua"kata Azriel terkekeh melihat orang-orang yang tadi bermain bersamanya bermuka sedih juga sebal karena kalah bersaing dengan Azriel.
"Huuu anak mami"kata pria itu sambil menghembuskan asap rokok pada mereka dan Azriel yang terkena banyak karena ia menghalangi Milan dibelakang badannya.
Azriel hanya tersenyum dan keluar cafe dengan menarik Milan yang menatapnya cemas. Mereka sudah diluar cafe dan Milan mengambil alih membuat Azriel terdiam dan jatuh karena ditarik Milan.
Milan tentu saja terkejut melihat Azriel yang ditarik pelan saja langsung jatuh dan terlihat meremat kaus bagian dadanya dan sulit bernafas.
"Jiel?! Jiel?! Sadar woy! Atur nafas Lo hey!!"seru Milan histeris melihat sahabatnya yang kesakitan itu.
Azriel tak mendengarkan. Ia semakin sulit bernafas saat pikirannya kembali ke masa kelamnya.
'Huuuh! Anak nakal harus diberi pelajaran'
Azriel meringkuk meremat pakaian Milan yang bersimpuh mendekapnya, rasanya semakin sulit bernafas bahkan kepalanya terasa sangat sakit sekarang.
"Sadar Jiel!! Atur nafas Lo!"seru Milan ketakutan melihat Azriel yang seperti ini.
"Om!! Jiel om!!"seru Milan pada seseorang yang menjawab telepon nya.
Sedang mendengarkan perkataan seseorang disebrang panggilan Milan merasakan tubuh Azriel yang melemah dan cengkraman tangan pada bajunya juga ikut terlepas.
"Azriel!!!"
Anna terbangun dari tidurnya tiba-tiba karena mimpi buruk. Ia melihat sekitar kamarnya, gelap hanya lampu tidur disamping ranjang yang menyala.
Kembali membaringkan diri dan kembali berdoa untuk melanjutkan tidurnya karena jam masih menunjukkan pukul 2 malam.
***
Hari Senin Azriel tak ikut upacara bukan karena bolos tapi dengan keterangan karena sakit, membuat orang-orang dikelas bertanya-tanya Azriel si berandal tukang bolos itu sakit apa.
Anna hanya diam membaca bukunya tak peduli, selama ada keterangan sakit bukan tanpa keterangan yang jelas, berarti laki-laki itu masih hidup belum mati dan itu sudah cukup untuk Anna.
Lagipula apa hubungannya dengan dirinya? Tidak ada juga.
Disalah satu ruangan VIP rumah sakit. Azriel terbaring masih tak sadarkan diri dengan alat bantu nafas dan infus yang menancap ditangan kanannya.
Disamping Azriel yang masih belum sadar sejak pingsan didepan cafe, Milan duduk menatap sedih sahabatnya itu juga rasa bersalah karena tak bisa melindungi.
Pintu kamar terbuka dan memperlihatkan Andari yang telah kembali setelah mengambil baju ganti untuk Azriel, menepuk pundak sahabat anaknya itu dengan sayang.
"Nak pulang saja dulu, bersihkan dirimu, masa nanti Azriel bangun kamu bau asem"kata Andari sedikit bercanda.
"Maaf tan, gara-gara Milan gak becus jaga Azriel, jadinya malah begini"kata Milan merasa sangat bersalah.
Andari tersenyum mengelus surai hitam kemerahan Milan. "Milan udah sangat bagus menjaga Azriel, Milan gak salah kok, Azriel juga gak salah, gak ada yang salah disini. Ini semua emang udah takdirnya"
Milan mengangguk membuat Andari merasa lega. "Nah sekarang kamu pulang dulu mamamu udah nanyain kamu terus, nanti kalau Azriel bangun Tante langsung kasih tau kamu kok tenang aja"kata Andari yakin.
Milan menurut, ia pamit pada Andari dan akan segera kembali setelah urusannya selesai.
Andari menaruh bawaannya kedalam laci lalu duduk ditempat yang ditinggalkan Milan mengusap sayang surai hitam pekat anak satu-satunya itu.
"Cepet bangun ya nak, kita sama-sama usaha buat kamu sembuh ya nak"kata Andari dengan isakan kecil.
Kembali ke sekolah, waktu istirahat Anna memilih keluar kelas membawa bukunya dan sebungkus roti coklat dan duduk ditempat yang biasa ia tempati.
Pelan-pelan Anna mengangkat wajahnya melihat kebagian atap yang biasa ia lihat ada Azriel dan temannya itu berdiri disana menatap melihat kebawah, dan sekarang keduanya tak ada membuat Anna penasaran.
Karena biasanya kalau gak ada Azriel, temannya itu masih ada disana, tapi kali ini Azriel tidak ada dan temannya pun tak ada membuat Anna merasa aneh.
"Hm? Udahlah, bukan urusan Anna juga"kata Anna mengakhiri imajinasinya yang menerka-nerka yang terjadi pada kedua sahabat itu.
***
Pulang sekolah Anna langsung pulang kerumah karena hari ini lesnya libur dadakan membuat Anna bersorak dalam hati. Sepanjang jalan menuju rumah ia bersenandung karena senang.
Suatu keajaiban saat ashar Anna sudah mandi dan bersih sehabis pulang sekolah. Dengan semangat Anna duduk dimeja belajarnya membuka laptopnya, kali ini ia ingin menonton anime karena sudah lama Anna tak menghibur diri.
Beberapa saat kemudian pintu kamarnya terbuka dan memperlihatkan Sarah yang memegang sapu.
"Nih suruh mama sapu-sapu"katanya sembari melepas sapu dari tangannya membuat sapu itu jatuh dan menyebabkan suara gaduh yang dilanjutkan dengan suara teriakan mama yang bertanya ada apa ribut-ribut.
Sarah pergi begitu saja dan Anna mau tak mau mempause filmnya dan mulai melakukan pekerjaan rumah.
Dari menyapu kamarnya kemudian dilanjutkan menyapu ruangan lain dan mengepelnya juga karena suruhan mamanya, yang katanya sekalian aja.
Jadilah Anna menyapu, mengepel, mencuci piring, mengangkat jemuran dan melipatnya bahkan ia menyapu halaman depan dengan sapu lidi membersihkan dari dedaunan yang jatuh dari pohon disana.
Pekerjaannya selesai disaat Maghrib dan Anna kehilangan moodnya untuk menonton karena ia harus mengerjakan tugas sekolah yang harus dikumpulkan besok.
Tak lama mamanya masuk kedalam kamarnya dengan membawa tumpukan baju yang sudah disetrika rapi yang ia taruh diatas ranjang Anna.
"Huh punya anak banyak gak ada yang merhatiin mamanya, gak ada yang mau bantuin nyetrika"keluh mamanya keluar dari kamar setelah menaruh bawaannya itu.
Anna hanya diam. Anna sudah melakukan segalanya tapi tetap tak terlihat dimata mamanya itu, Anna sudah melakukan ini itu semuanya, kecuali menyetrika, ah jadi kalau ingin dikatakan anak yang berbakti Anna juga harus menyetrika juga, membiarkan anak perawan yang lain tak melakukan apa-apa dan tak akan dimarahi karena untuk apa memarahi kalau pekerjaan yang menjadi pembicaraannya sudah beres.
Anna tersenyum miris, apa hanya ia sendiri yang merasa bersalah setiap mamanya bilang seperti itu setelah ia mengerjakan pekerjaan yang lain, apa Sarah yang notabenenya sama dengannya sebagai anak perempuan dikeluarga itu juga merasa bersalah? Entahlah, karena Anna rasa adiknya itu hanya akan menganggapnya angin lalu saja.