
Di jam pulang sekolah, Melisa langsung menghampiri Anna untuk mengajak pulang bersama, lagian tujuan mereka memang sama, rumah Milan untuk melakukan belajar bersama untuk UTS nanti.
Melisa berjalan sambil memainkan ponselnya membuat Anna berpikir untuk menjaga sahabatnya itu agar tidak menabrak atau tersenggol oleh orang-orang disekitar mereka yang juga akan pulang.
Anna sedikit merasa lega karena ada pesan pemberitahuan jika lesnya hari ini diliburkan mendadak membuat Anna tidak perlu merasa bersalah atau kembali berbohong pada sang ibu dan Anna akan menikmati belajar bersama temannya dengan nyaman dan tenang.
Ini pertama kalinya untuk Anna jadi dirinya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Keduanya berjalan menuju parkiran seperti yang disuruh Milan tadi setelah mereka setuju untuk belajar bersama dirumahnya.
Anna bisa melihat ada Milan dan Azriel disana. Otaknya juga mulai berspekulasi, Milan membawa motor yang berarti laki-laki itu pasti akan bersama Melisa bukan, lalu dirinya karena tidak boleh menggunakan motor untuk 3 orang mungkin saja Anna akan menggunakan ojek online benar kan? Tak masalah.
Benar-benar tidak masalah, karena Azriel disana tidak ada hubungan nya dengan mereka yang akan pergi belajar bersama kan? Hahaha pastinya dong Azriel tidak ada hubungannya.
"Girls! Jiel mau ikut join belajar bareng nih!"seru Milan saat laki-laki itu menyadari Anna dan Melisa.
Oke, Anna benar-benar akan menggunakan ojek online bagaimana pun caranya titik.
"Oh lebih bagus malah jadi makin banyak orang pinter yang ngajarin gue"kata Melisa santai masih melihat pada ponselnya.
"Jadi gue, Anna sama siapa?"tanya Melisa cuek perihal siapa dengan siapa yang akan pergi nanti.
Anna hanya diam saja tidak berkomentar namun dalam hatinya ingin sekali dirinya untuk tidak bersama dengan Azriel, dirinya tidak mau, jujur saja dirinya benar-benar tak ingin dekat-dekat Azriel sejak kejadian laki-laki itu yang terlihat sangat mengerikan saat mengamuk waktu itu.
Azriel sendiri menyadari jarak dan ketidaksukaan Anna padanya membuat dirinya jadi merasa bersalah karena membuat gadis itu tidak nyaman karena dirinya ikut serta dalam kegiatan mereka itu.
Sepertinya dirinya akan pulang saja kerumah kalau begitu. Dirinya tidak ingin membuat Anna tidak nyaman.
"Lan gue–"
"OMG!!! Milan cafe yang waktu itu lagi-lagi ngeluarin kue limited edition yang baru! Gue harus dapet! Kita semua harus mampir dulu ke cafe pokoknya!"kata Melisa tiba-tiba heboh memotong Azriel yang akan berbicara itu.
"Gue ada ide yang lebih baik. Kita suit! Yang kalah pergi ke cafe beli tuh kue dan yang menang langsung ke rumah buat nyiapin persiapan kita yang mau belajar bareng biar cepet gimana?"kata Milan memberi saran.
"Kalian berdua, gue sama Jiel, yang kalah pergi ke cafe"kata Milan antusias.
Melisa pun tak kalah antusias sangat siap untuk bersuit dengan Anna yang ragu-ragu mengikuti permainan Milan.
Azriel menatap sahabatnya itu tajam, kenapa Milan ini malah semakin memperburuk suasana.
Milan hanya mengedikkan bahu tidak peduli dengan ekspresi marah dan tidak terima yang dilayangkan Azriel padanya itu.
"Lo hanya perlu beda sama Anna beres"kata Milan kecil karena orang yang dibicarakan ada disebelahnya.
"Batu, gunting, kertas!"aba-aba Milan.
"Oke!!!"seru dua orang yang menang yang merupakan Milan dan Melisa.
Anna dan Azriel yang kalah hanya bisa diam, bukannya mereka tidak terima kalah tapi mereka diam karena masalah masing-masing.
Anna yang ketakutan harus bersama Azriel dan Azriel yang merasa gelisah karena harus bersama dengan Anna yang tidak menyukainya. Intinya mereka sama-sama merasa canggung.
"Yaudah ayo keburu abis"kata Azriel pada Anna untuk bergegas pergi.
Azriel mencoba untuk bersikap seperti biasa, dirinya akan mencoba.
"Mereka lagi marahan apa?"celetuk Melisa tiba-tiba saat dirinya menyadari sesuatu jika Anna dan Azriel tidak seperti biasanya.
Mungkin biasanya pun terlihat tidak akrab tapi sebenarnya akrab tapi saat ini kedua orang itu terlihat seperti saling menjauh dan tak ingin berdekatan.
Milan terkekeh saja dan mengedikkan bahu, tidak mau ikut campur karena masalah kedua orang itu adalah sesuatu yang sepele dan Milan yakin setelah dari cafe mungkin keduanya akan kembali seperti biasanya.
Mungkin.
"Enggak itu, biarin aja lah"kata Milan tidak tertarik dan menyuruh Melisa untuk segera naik ke motornya.
***
Diperjalanan Anna dan Azriel sepenuhnya diam, tak ada suara sedikitpun dari mereka. Mereka saling diam.
Tak lama motor pun sampai dicafe yang mereka tuju. Anna turun dan melihat cafe yang sangat ramai dengan banyak pengunjung.
"Mereka itu yang nyari kue yang diincar Melisa juga?"gumam Anna saat melihat banyaknya orang disana.
"Gak tau juga"balas Azriel cuek seraya melangkah masuk kedalam cafe menahan pintu untuk Anna yang mengikutinya.
Saat didalam cafe ternyata terasa sangat ramai sekali. Keduanya celingak-celinguk mencari kue yang menjadi tujuan mereka.
"Itu tinggal dua"seru Anna gelagapan sampai memukul-mukul lengan Azriel refleks dan hal itu pun membuat Azriel sontak bergegas untuk mengambil kue tersebut yang untung saja masih bisa didapatkan nya.
"Satu doang cukup?"tanya Azriel karena dirinya hanya bisa mendapatkan satu buah dan satu lainnya diambil orang lain.
Dilihat kue tersebut ternyata set yang berisi 6 buah kue dalam satu kotak, Anna mengangguk saja, mungkin Melisa tidak masalah daripada tidak sama sekali.
"Gak apa-apa, daripada enggak"kata Anna.
Azriel mengangguk saja melihat ke jajaran kue yang ada di cafe dan bakery itu Azriel pun melihat Anna.
"Mau kue yang lain?"tawar Azriel pada si gadis.
Anna yang ditanya jadi mematai kue-kue yang ada seraya mengangguk kecil karena dirinya menginginkan beberapa.
Pada akhirnya mereka berkeliling cafe atau lebih tepatnya Azriel yang mengikuti Anna yang sedang memilih-milih kue-kue yang ada karena laki-laki itu hanya diam memperhatikan.
Anna yang fokus memilih kue pun mengabaikan segalanya yang ada disekitarnya membuat Azriel mau tak mau mengulurkan tangannya untuk menghalau senggolan dari pasangan disebelah si gadis yang terlihat bercanda dan akan mendorong Anna kalau dirinya tidak menahan punggung si laki-laki yang menghindari candaan pasangannya itu.
Duk.
"Oh sorry–"kata si laki-laki tersadar jika dirinya seperti menubruk seseorang dan terjengit saat mendapati seorang laki-laki berseragam sekolah menatapnya tajam melindungi gadis dengan seragam sekolah yang sama yang tidak menyadari apapun.
Pasangan itu pun sontak pergi menjauh karena merasa ngeri dengan tatapan yang diberikan oleh Azriel. Azriel sendiri masih menatap mereka dengan tajam sampai Anna merebut atensinya.
"Liat Azriel ada isi buahnya"kata Anna antusias melihat salah satu kue yang menurutnya sangat menarik.
Azriel sontak saja merubah ekspresi sangarnya menjadi lembut tersenyum lembut mengangguki perkataan Anna itu.
"Hah menggelikan"gumam seseorang yang melihat hal tersebut dan pergi keluar dari cafe, merasakan sakit didadanya saat melihat bagaimana gadis disebelah laki-laki itu terlihat sangat bahagia.
Bagaimana laki-laki tersebut menjaga gadis disebelahnya benar-benar membuatnya muak dan merutuki kenapa juga dirinya harus melihat kejadian itu membuat moodnya hancur saja.