
Dokter anestesi hanya bisa menatap takjub pada dokter muda yang bahkan menurutnya sudah setara dengan dokter spesialis yang handal.
Kepala UGD pun yang merupakan dokter ahli saraf itu hanya bisa merasa segan dan takjub melihat bagaiman dokter muda yang digadang-gadang menjadi keajaiban didalam instansi kesehatan itu ternyata bukan bohong belaka karena lihat saja Millisanna.
Dokter muda itu benar-benar cekatan dan sangat teliti dalam bekerja, dan bagiamana bisa disaat melakukannya sangat cepat namun semuanya tepat, benar-benar menakjubkan.
Sayang sekali jika dokter sehebat Anna ditempatkan di rumah sakit daerah yang bahkan dekat dengan pedesaan, seharusnya dokter seperti Anna ditempatkan di rumah sakit pusat terbesar di negara ini yaitu disini.
"Benang"
Perawat pun memberikan benang yang diminta Anna, tidak habisnya dirinya kagum pada Anna karena dokter muda itu berhasil.
Dokter itu berhasil menyelamatkan pasien dan bahkan mengangkat semua tumor dengan waktu yang cukup singkat, tidak sampai 3 jam operasi yang bisa dibilang operasi besar selesai dalam waktu 2 jam lebih 10 menit.
"Kau luar biasa dokter Anna"puji perawat benar-benar terkesan oleh keahlian Anna.
"Terimakasih, cut"kata Anna berterimakasih dan menyelesaikan jahitannya.
"Cut"perawat pun memotong benang seperti yang diintruksikan Anna.
"Dokter Anna apa kau mau pindah kemari? Aku akan mempertimbangkan jabatan dan gaji yang kau inginkan"kata kepala UGD merasa sayang jika Anna harus berakhir dirumah sakit daerah terpencil yang bahkan bukan rumah sakit pusat.
Anna yang selesai menutup bekas operasinya dan menyerahkan sisanya pada para perawat menatap dokter kepala UGD itu.
"Pihak rumah sakit akan memberikan semua yang kau inginkan–"
"Yang ku inginkan adalah ketenangan, aku ingin bekerja dengan tenang"kata Anna memotong perkataan si dokter kepala.
"Aku tidak masalah dipanggil kemanapun dan dari rumah sakit manapun yang membutuhkan bantuanku, tapi aku tidak akan keluar dari rumah sakit tempat ku sekarang, disana menenangkan"kata Anna tersenyum karena dirumah sakit tempatnya ditempatkan sangat membuatnya tenang, jauh dari hal-hal yang tidak ingin membuatnya terganggu, atau singkatnya Anna tidak mau berada di tempat yang meninggalkan pengalaman kelam untuknya.
Membungkuk pamit, dirinya akan keluar duluan karena tugasnya telah selesai.
Brak.
Pintu ruang operasi dibuka dan Anna langsung dihadang oleh beberapa orang yang sepertinya Anna kenal.
Dua orang pria, satu lebih tua dan satu lagi seumuran dengannya. Dua orang perempuan, satu lebih tua dan satunya lebih muda.
Tiga diantaranya dirinya mengenali mereka, terlebih laki-laki yang seumurannya dia cukup mengenalnya karena satu sekolah dengannya dulu, lalu perempuan yang lebih muda disana walau dirinya tidak kenal namun kedua bola mata berwarna biru itu membuatnya jadi mengingat kenangan buruk.
"Dokter apa kau yang melakukan operasi anakku? Bagaimana keadaannya?"tanya wanita yang berumur namun terlihat masih sangat cantik.
Anna mematung ditempatnya, tidak tahu bagaimana ia menjelaskannya, lidahnya kelu padahal dirinya tinggal memberitahukan kedua orangtua Azriel itu jika kondisi Azriel baik-baik saja bahkan tumornya sudah tidak ada, tapi anehnya Anna tidak bisa.
"Anak ibu baik-baik saja bahkan jauh lebih baik karena tumornya telah berhasil diangkat dan bersih 100%, berterimakasih lah pada dokter muda yang begitu berbakat ini"kata kepala UGD yang ikut muncul dan menjelaskan kondisi sembari menepuk-nepuk punggung Anna membanggakan Anna.
Kedua orangtua Azriel terlihat sangat bahagia menatap Anna dengan penuh tatapan terimakasih.
Anna sendiri dengan kikuk mengangguk dan hanya bisa bergumam jika itu bukan apa-apa.
Tring tring.
"Permisi bapak ibu, Milan saya harus segera pergi"kata Anna berpamitan.
"Nak aku akan bekerja keras agar kau ditempatkan disini"kata kepala UGD kukuh ingin Anna bekerja dirumah sakit ini.
Anna tersenyum saja. "Tidak perlu pak, saya akan menolaknya. Mari"kata Anna yang langsung pergi dari sana.
"Eh Milan tadi dokter tadi nyebut nama kamu, kamu kenal?"tanya ibu Azriel pada Milan.
Si laki-laki muda itu mengangguk saja. "Ya, dia Millisanna"jawab Milan singkat.
"Om Tante, aku izin sebentar"kata Milan yang langsung pergi untuk mengejar Anna meninggalkan kedua orangtua Azriel yang terlihat terkejut.
***
Anna selesai berganti pakaian dirinya akan segera pulang ke asrama untuk mulai mempacking barang-barangnya karena ia dan Ray akan langsung menggunakan penerbangan dua jam dari sekarang karena memang sedang dalam kondisi yang gawat.
"Tidak ada yang tertinggal?"tanya Ray yang menunggu Anna didepan ruang ganti staff rumah sakit.
"Enggak ada, udah pesan tiket pesawat nya?"tanya Anna yang berjalan bersama Ray untuk pulang.
"Udah nih, adanya dua jam lagi"kata Ray.
"Gak masalah yang penting hari ini harus pergi juga"kata Anna karena merasa khawatir dengan keadaan rumah sakit yang mengirimkan pesan jika dirinya begitu dibutuhkan dan juga Anna yang ingin segera pergi dari sini karena kenangan buruknya mendadak menyeruak kala orang-orang dimasa lalu tiba-tiba muncul.
"Anna"
Anna dan Ray berhenti lalu berbalik mendapati Milan yang terliha terengah yang mungkin saja laki-laki itu habis mencari Anna.
Lalu Ray menatap tajam pada laki-laki yang tadi menatapnya sangat tidak enak itu, tidak menyangka laki-laki itu mengenal Anna.
"Oh Milan, apa kabar?"kata Anna menyapa Milan dengan baik karena tadi dirinya sempat tidak menyapa teman sekolahnya dulu itu.
Milan menggigit bibir dalamnya merasa nyeri kala melihat Anna yang menyapanya dengan senyuman yang seolah-olah gadis itu tidak mengalami segala hal yang mengerikan dimasa lalu.
"Gue baik, dan maaf gue gak ngasih tau Lo dan ngebiarin Lo melewati situasi mengerikan–"
"Gak apa-apa, Anna seneng kalo kamu baik-baik aja begitu juga Azriel. Kalian hidup dengan baik dan dalam kondisi sangat sehat membuat Anna merasa lega, Anna juga senang Milan masih inget Anna"kata Anna memotong perkataan Milan dengan senyuman.
Semakin nyeri perasaan Milan kala melihat senyuman Anna itu. Dirinya benar-benar merasa bersalah.
"Kamu selama ini sama Azriel terus kan? Syukur kalo gitu, Melisa juga gimana ya kabarnya? Dia baik-baik aja kan?"tanya Anna mengenai teman perempuannya yang juga ikut pergi begitu kenaikan kelas.
Azriel saat itu dinyatakan meninggal dan Milan tiba-tiba menghilang setelah kejadian mengerikan itu, lalu Melisa yang harus melakukan pengobatan untuk asmanya pun ikut pergi saat kenaikan kelas keluar negeri membuat Anna menerima segala sesuatu yang mengerikan kala itu seorang diri.
"Ya, cewek itu baik-baik aja"pada akhirnya Milan hanya bisa berkata seperti itu, semua hal yang ingin ia sampaikan pada gadis dihadapannya itu mendadak terkunci karena lidahnya yang kelu.
"Syukurlah kalo gitu, dah Milan, Anna senang ketemu kamu lagi"kata Anna pada Milan dan pergi bersama Ray keluar rumah sakit meninggalkan Milan yang hanya bisa mematung menatap kepergian Anna itu.
"Gue ini bajingan banget gak sih?"keluh Milan pada dirinya sendiri.