Millisanna

Millisanna
Bab 155



Brak.


"Nak, tolong tenang dulu, kamu bahkan baru aja sadar"kata Andari sang ibu pada Azriel yang kukuh ingin memastikan perkataan ibunya itu.


Anna mati? Jangan bercanda! Azriel tidak akan pernah menerimanya!


"Lepas bunda! Aku akan menemuinya dan memastikan jika perkataan bunda itu bohong! Aku tidak percaya!"seru Azriel masih kukuh ingin pergi keluar ingin melihat Anna.


Aryan sang ayah yang hanya diam memperhatikan istrinya yang sekuat tenaga menahan sang anak pun akhirnya menghela nafas. Menepuk pelan pundak sang istri menyuruhnya untuk melepaskan Azriel.


Andari walaupun bingung namun ia tetap patuh pada perintah suaminya, ia pun berhenti menahan Azriel yang kukuh ingin pergi bahkan sampai melepas infusnya yang membuatnya berdarah-darah.


Azriel yang merasa sang bunda menyerah menahannya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dan akan langsung pergi mencari kamar rawat Anna karena dirinya yakin Anna masih hidup dan gadis itu selamat.


"Setelah kau melihatnya memang apa yang bisa kau lakukan?"


Perkataan Aryan membuat Azriel berhenti diambang pintu rawatnya yang sudah ia buka. Berbalik Azriel menatap ayahnya tidak mengerti maksud ayahnya itu.


"Apa maksud ayah?"tanya Azriel.


Aryan menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan anaknya itu. "Anna saat ini bahkan sedang dalam posisi dia hidup namun dia juga mati, Anna mengalami mati otak"


***


Ray menatap rekannya itu yang terlihat sangat menyedihkan itu.


Anna terbaring diatas ranjang disalah satu ruang perawatan khusus yang merupakan ruangan isolasi karena kondisi Anna yang memerlukan semua itu.


Bahkan gadis itu benar-benar terlihat mengerikan dengan banyak luka disekujur tubuhnya dan juga banyak sekali kabel-kabel penunjang kehidupan bagi si gadis yang bahkan dinyatakan mati otak.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu Anna"gumam Ray benar-benar tidak habis pikir.


Dirinya bahkan sudah sangat syok kala Anna datang dalam kondisi sekarat dengan kedua tangannya yang bahkan tertusuk pisau dimana pisau itu tetap menancap disatu tangannya.


Tidak merasa percaya jika mungkin saja Anna akan berhenti menjadi dokter karena luka pada tangannya itu. Kekhawatiran nya mengenai Anna yang akan berhenti menjadi dokter bahkan tidak ada apa-apanya karena saat ini bahkan tidak tahu Anna akan kembali bangun atau dinyatakan meninggal.


"Kenapa kau harus selalu semenderita ini? Bagaimana gadis sebaikmu ini bisa mengalami hal seperti ini, apa Tuhan membencimu?"kata Ray benar-benar sudah merasa buntung.


Kenapa harus Anna? Bukankah gadis itu bahkan sejak awal hidupnya selalu mendapatkan kesulitan? Kenapa harus ditambah lagi?


Mengusak air matanya yang lagi-lagi keluar setiap kali dirinya datang melihat Anna. Ray tidak tahu harus bagaimana lagi namun Ray tidak berniat untuk menyerah dan akan selalu berharap.


Drrt drrt.


Merasa ponselnya didalam sakunya bergetar Ray pun berniat menyelesaikan menjenguk Anna untuk hari ini yang setiap hari senantiasa ia lakukan setiap ada waktu atau kala ia mencuri waktu disaat dirinya teringat dengan Anna.


Melepas pakaian khusus untuk masuk keruangan rawat isolasi Anna Ray pun memeriksa ponselnya dan dilihat ada sebuah pesan dari kakeknya yang merupakan direktur rumah sakit itu yang mengatakan jika ada seseorang yang juga ingin melihat Anna.


Ray pun sontak melihat kearah dinding kaca disana dan amarahnya mendadak memuncak kala melihat seseorang yang menjadi alasan utama Anna yang menjadi seperti sekarang ini.


Dengan amarah yang memuncak Ray melangkah keluar dari ruang rawat Anna dan menghampiri pria yang menggunakan pakaian pasien itu yang terlihat berdiri menatap pada Anna yang ada didalam.


"Untuk apa kau disini bajingan?!"seru Ray murka dan sontak akan menghajar wajah orang itu.


Tak berhasil menghajar orang itu karena orang-orang disekitar menahannya untuk tidak menghajar pasien.


"Persetan dengan aturan! Iblis ini harus kuhajar karena bagaimana bisa membuat Anna selalu saja mengalami hal mengerikan seperti ini?! Dan selamat, kau berhasil membunuh Anna sialan!!"murka Ray pada Azriel disana yang masih saja menatap pada Anna yang terbaring diranjang.


Azriel hanya diam menatap tidak percaya sosok Anna yang terlihat menyedihkan itu. Banyak kabel-kabel yang ditempelkan pada tubuhnya yang mungkin saja terhubung dengan mesin-mesin disana yang menopang untuk dirinya tetap hidup.


Dan gadis penuh luka yang terbaring menutup matanya itu bahkan terlihat tidak berniat untuk bangun lagi.


Menempelkan kedua tangannya pada dinding kaca ingin meraih si gadis namun dirinya tidak bisa dan dirinya merasa tidak pantas membuatnya hanya bisa menggigit bibir dalamnya menahan tangis karena merasa sangat bersalah.


Menurunkan tangannya dari dinding kaca Azriel berbalik untuk menatap laki-laki dengan jas dokter yang terlihat sangat membencinya.


"Jika kau menghajar ku dan itu akan membuat Anna terbangun silahkan saja, aku bahkan memperbolehkan mu untuk membunuhku juga"kata Azriel serius pada Ray.


Orang-orang disana tentu saja sangat terkejut mendengar perkataan Azriel itu dan untuk Ray sendiri dirinya sudah tidak lagi memberontak dan hanya terdiam menatap Azriel disana membuat dirinya tidak lagi ditahan.


Ray menatap kosong Azriel dihadapannya itu yang memperlihatkan ekspresi wajah yang terlihat sangat bersalah, putus asa dan seolah laki-laki itu adalah laki-laki paling menderita dibumi.


Hal itu membuat Ray meradang. Bahkan Azriel tidak berhak merasa paling tersakiti disaat Anna jelas-jelas yang selalu disakiti laki-laki itu.


Bugh. Bruk.


"Ray?!"


"Azriel!!"


Orang-orang disana terkejut bukan main kala Ray benar-benar menghajar Azriel bahkan sudah berada diatas tubuh Azriel menahan tubuhnya untuk ia lanjutkan serangannya menghajar Azriel.


"Bajingan!"


Bugh.


"Karena kau!"


Bugh.


"Semuanya karena kau! Karena kau Anna selalu menderita sialan!!!"amuk Ray menghajar Azriel melampiaskan perasaan kesal, marah, sedih dan putus asanya pada Azriel yang menurutnya adalah dalang dibalik semua penderitaan yang dialami Anna.


Bugh.


"Ray hentikan!!"peringat kakeknya yang dibantu orang-orang disana melepaskan Ray dari Azriel yang bahkan tidak membalas dan hanya diam menerima semua serangan Ray.


"Harusnya Lo yang mati aja sialan! Kenapa harus Anna hah?!"amuk Ray dengan deraian air mata dirinya benar-benar begitu kesal.


"Bawa dia pergi! Dia harus menjernihkan pikirannya"perintah sang kakek pada para bawahannya yang memegangi Ray itu dan membawanya pergi keluar sesuai perintah.


"Maafkan saya tuan, akan saya hukum cucu saya itu karena telah–"


"Kenapa dihentikan? Kenapa tidak biarkan saja dia membunuhku? Bukankah aku pantas untuk dibunuh setelah semua yang telah terjadi?"kata Azriel begitu datar saat dirinya dibantu untuk berdiri oleh orangtuanya.


"Nak"kata Andari begitu sedih melihat anaknya itu.


"Tidak bunda, aku benar-benar pantas untuk dibunuh atas semua ini"kata Azriel sambil mengalihkan pandangannya menatap pada sosok Anna yang terbaring disana.