Millisanna

Millisanna
Bab 24



Azriel berhasil membuka pintu ruangan yang digunakan untuk menyekap mereka dengan kawat yang ia temukan diruangan kotor tak terurus itu.


Membuka pintu dengan perlahan dan kecil untuk melihat situasi sekitar diluar ruangan, tak terlihat para pemburu disana membuat Azriel melebarkan pintu dengan perlahan dan melangkah keluar diikuti Anna yang mengikuti dengan takut-takut.


Anna masih tidak yakin dengan rencana Azriel ini. Dirinya benar-benar mengkhawatirkan Azriel. Bisa-bisa nya laki-laki itu memberikan rencana yang begitu nekat seperti ini.


Rencana Azriel sebenarnya sangat simpel.


Kabur dengan diam-diam sambil sembunyi-sembunyi tanpa ketahuan para pemburu dan saat pemburu mengetahui jika mereka kabur dan situasi tidak memungkinkan mereka akan melawan dan Azriel yang akan menjadi pengecoh juga tameng untuk Anna.


Azriel berani mengusulkan rencana tersebut karena dirinya yakin saat ini detik ini ayahnya pasti sedang melakukan sesuatu, dan mungkin saja ayahnya itu sedang dalam perjalanan untuk menyelamatkan mereka.


Dengan keyakinan itu Azriel pun jadi yakin jika rencananya akan berhasil.


Dirinya bersama dengan Anna yang jago bela diri, dengan ada dirinya juga mereka mungkin akan bisa melawan para pemburu itu dan menunggu orang-orang yang akan menyelamatkan mereka.


Dan jika ada suatu hal apapun itu, Azriel akan selalu siap melindungi Anna bagaimana pun caranya karena ini semua salahnya karena Anna harus mengalami hal seperti ini.


"Sembunyi"cicit Azriel langsung berjongkok bersembunyi dibalik kotak-kotak kayu disana membuat Anna refleks ikut bersembunyi karena tertarik oleh Azriel.


Sejak awal Azriel senantiasa menggenggam tangan nya, tangan mereka saling bergandengan dan mereka bisa merasakan jika mereka gemetar ketakutan.


Terlebih Anna yang juga menggigit bibir dalamnya karena saking takut dan gugupnya dia.


Grep.


Melihat kearah tangan mereka yang saling bertautan Anna semakin khawatir saat Azriel semakin menggenggam erat tangannya seolah menenangkannya dan memberikan keberanian padanya juga memberitahukan jika semuanya akan baik-baik saja.


Gista balas meremat erat tautan tangan mereka. Dirinya percaya sepenuhnya pada Azriel.


***


Ketua pemburu itu kembali dan langsung melangkah menuju ruangan tempat dirinya menyekap para tawanannya.


Dirinya harus memastikan jika salah satu tawanannya telah membaik karena jika terlihat tidak baik bisa-bisa kesepakatan dirinya dengan sultan itu gagal karena anak si sultan lecet.


Ceklek.


Dibukanya pintu tersebut dan betapa terkejutnya melihat ruangan pengap itu kosong dan tak ada tanda-tanda keberadaan kedua tawanannya.


"Bangsat mereka kabur!!"teriak ketua pemburu itu berang.


Para bawahan yang mendengar teriakan ketuanya itu sontak gelagapan langsung bergerak untuk mencari kedua tawanan mereka itu.


Tidak hanya para bawahan, Anna dan Azriel pun ikut panik membuat Anna gelagapan dan tak sengaja menyenggol salah satu kotak kayu disana membuat suara gaduh dan keberadaan mereka diketahui.


"Itu mereka!! Tangkap!!"perintah si ketua pemburu.


Anna bersiap dengan kuda-kuda nya untuk melawan mereka semua tapi dirinya malah ditarik dan disuruh berlari oleh Azriel.


"Lari bego!!"teriak Azriel menarik Anna untuk kabur.


Dor.


Satu pemburu melepaskan tembakkannya membuat Anna tersadar jika para pemburu itu kali ini serius akan menghabisi mereka.


Anna semakin ketakutan karena tembakan itu senantiasa mengikuti mereka yang berlari kabur.


Azriel sendiri melirik para pemburu itu tajam, tak mengurangi kecepatannya untuk kabur sambil menarik Anna agar tidak terlepas darinya.


Azriel bertekad akan bertahan sampai ayahnya datang menyelamatkanya. Karena Azriel benar-benar yakin jika ayahnya itu benar-benar akan datang menolongnya.


Dor. Splat. Bruk.


Dor dor. tang tang.


Betis kiri Azriel terkena goresan peluru yang melesat kearah mereka membuat Azriel tersungkur dan langsung ditarik Anna untuk bersembunyi dibalik kotak besi besar disana membuat peluru tidak bisa membuat mereka terluka lebih jauh.


Nafas keduanya terengah-engah dan jantung keduanya serasa akan copot karena mereka sedang dihadapkan dengan situasi hidup dan mati.


"Hah hah hah, tunggu sebentar lagi na, bantuan akan segera datang"gumam Azriel begitu lirih diakhiri dengan ringisan karena semua lukanya terasa nyeri apalagi luka goresan di betisnya yang baru itu terasa sangat perih dan panas.


Tak ingin lama-lama melihat Azriel yang terlihat seperti sekarat itu Anna memberanikan diri.


"Kita balik rencana kamu"kata Anna serius.


Azriel yang mendengarnya melotot terkejut bukan main. Dirinya tidak setuju, benar-benar keberatan dengan pemikiran konyol ditengah situasi krisis ini.


"Jangan gila! Lo bisa aja mati!"kesal Azriel membentak dengan suara kecil.


Anna tersenyum tipis mendengarnya.


Dirinya sudah bertekad, sejauh ini Azriel selalu menjaganya, untuk kali ini biar dirinya membalas budi.


Kepercayaan dirinya kali ini datang karena dirinya yakin dirinya yang mungkin saja akan mati tak akan membuat orang-orang kehilangan.


Namun sebaliknya jika Azriel yang terluka atau bahkan mati, orang-orang akan merasa sedih dan marah padanya.


Jadi biarkan Anna menjadi berguna kali ini.


Mungkin untuk keluarganya dirinya tidak berguna, tapi setidaknya biarkan dirinya ini menjadi berguna untuk seseorang yang selalu ia benci diam-diam ini.


"Anna Lo gila!!"kecam Azriel merasa kalap menatap Anna tepat pada kedua mata gadis itu.


Anna hanya tersenyum. "Gak apa-apa, Azriel masih bisa lari kan? Nanti pas Anna jadi umpan Azriel cepet-cepet larinya, hati-hati juga jangan lupa"kata Anna serius.


"Anna!!"teriak Azriel benar-benar kesal dengan gadis ini.


"Gak apa, Anna kan hebat. Jangan lupa kaburnya harus sungguh-sungguh biar Anna juga gak ragu buat jadi umpan"kata Anna lagi meyakinkan Azriel.


"Anna mati juga gak ada yang sedih, beda kalo Azriel, jadi selamatlah"kata Anna serius dan langsung keluar dari persembunyian mereka dengan membawa potongan besi untuk membantunya.


Azriel merasa kosong saat Anna menjauh darinya dan membuat merelakan diri menjadi umpan disana.


"Cewek bego!"umpat Azriel langsung bangkit berdiri mengabaikan nyeri di betisnya.


Gue yang bakal sedih sialan, batin Azriel menjerit.


Mengintip dari tempat bersembunyi nya Azriel melihat jika gadis itu benar-benar menempati janjinya dengan menjadi umpan yang sangat baik.


Tak mempercayai jika Anna bukan atlit bela diri sekolah saat melihat 4 vs 1 disana, betapa lihainya gadis itu menghindari serangan para pemburu dan membuat para pemburu kewalahan dengan serangannya.


Bahkan diantara para pemburu itu yang menyadari jika Anna hanya seorang disana dan hendak mencarinya gadis itu menahan mereka dan membuat mereka sibuk tak bisa mendekatinya.


Anna bekerja keras untuk menahan mereka agar tidak bisa mendekati Azriel, membiarkan jika tubuhnya terluka oleh serangan para pemburu itu.


Tak menyia-nyiakan kesempatan Azriel mulai bertindak, tidak untuk kabur melainkan menjalankan rencana dadakan yang seketika ia pikirkan saat melihat tali lusuh yang menahan puluhan kotak jeruji besi diatas sana tepat diatas mereka yang sedang berkelahi.


Berjalan tertatih meraih tali itu lantas berteriak. "Anna mundur!!"teriaknya yang mana langsung memutuskan tali lusuh itu membuat kotak jeruji besi yang tidak tertahan itu berjatuhan menimpa para pemburu yang tak sempat menghindar seperti Anna.


Brak brak branngg!!


Anna terjatuh karena menghindari jeruji besi yang berjatuhan itu menjerit kesakitan saat dirinya refleks menarik kaki kirinya yang tertindih ujung jeruji besi itu, merasa jantungnya copot melihat kondisi para pemburu itu yang tertimpa banyak kotak jeruji besi itu yang berjatuhan.


Jika saja dirinya telat bereaksi dengan peringatan Azriel dirinya akan berakhir seperti para pemburu itu. Walau kakinya terluka tapi itu benar-benar sangat membuatnya bersyukur karena dirinya masih hidup.


Tangisnya pecah saat membayangkan dirinya mati, membuat Anna tersadar akan ulahnya, dirinya tersadar jika dirinya bisa saja mati membuatnya menyesal dan mulai menangis.


Azriel yang melihat Anna syok sampai menangis itu hanya bisa menghela nafas lega, setidaknya gadis itu selamat.


Berjalan tertatih untuk menghampiri Anna, dirinya akan menenangkan gadis itu, dirinya merasa bersalah telah membuat gadis itu ketakutan.


Azriel akan meminta maaf dan menghibur si gadis, mungkin dengan memberikan si gadis roti cokelat yang selalu dia makan saat jam istirahat gadis itu akan merasa lebih baik.


Dor. Dor.


Bruk.


Anna semakin kuat menangis bahkan dirinya berteriak kencang melihat Azriel yang tumbang disana karena tertembak.


"Azriel!!!"