
Anna ingin sekali berucap sesuatu, mengucapkan beberapa kata yang sudah sejak dulu ingin ia sampaikan yang semakin lama semakin banyak sekali yang ingin ia ucapkan, namun tidak pernah tersampaikan karena seseorang yang harusnya menerima semua kalimatnya sudah lama sekali tidak pernah ia jumpai.
Namun saat ini detik ini Anna bisa saja menyampaikan semua kalimat-kalimat nya, tapi Anna meragu, dirinya mendadak bisu, lidahnya kelu karena tidak percaya dan juga mendadak ketakutan muncul kala memikirkan bagaimana jika semua kalimat-kalimat yang disampaikan nya malah menjadi sebuah bencana.
Anna takut untuk dibenci. Selama ini dirinya selalu dibenci dan dirinya hanya bisa menerimanya namun Anna tidak akan pernah mau dibenci oleh seseorang, hanya satu orang dan jika satu orang itu pun membencinya Anna sepertinya akan menyerah.
Yah menyerah dalam segala hal termasuk dalam kehidupannya.
"Apa yang kau lihat?"
Keraguan dan ketakutan Anna semakin menjadi kala suara laki-laki itu tertuju padanya. Menggigit bibirnya mencoba memberanikan diri untuk berbicara membalas perkataan si laki-laki namun tidak bisa, Anna payah, ketakutan mengambil alihnya.
"Dokter Anna! Seorang pasien mengalami kebocoran paru-paru!"seru salah satu perawat yang keluar dari ruangan.
Anna mendengar seruan itu maka dari itu Anna menatap sebentar laki-laki itu lantas membungkuk sedikit sebelum berlari kearah perawat yang memanggilnya itu dan menghilang masuk kedalam ruang rawat.
Sedangkan si laki-laki menaikkan sebelah alisnya menatap sosok Anna yang kembali muncul dengan membawa pasien bersama beberapa perawat yang sepertinya akan segera melakukan operasi untuk si gadis kecil yang ia bawa tadi.
"Apa ini? Kayak gak asing"gumamnya yang senantiasa menatap sosok dokter wanita itu yang terlihat begitu serius dan menghilang dibalik pintu ruang operasi.
'Sudah bel masuk, ayo bangun' ngiing.
"Akh!"
"Tuan apa ada yang salah dengan kepalamu? Sebaiknya diperiksa takutnya ada cedera atau yang lainnya"kata perawat pria yang berdiri disampingnya itu.
"Tidak, bukan apa-apa, ini hanya karena aku yang kelelahan"kata laki-laki itu menolak untuk diperiksa karena memang sakit kepalanya ini tidak ada hubungannya dengan dirinya yang ikut menjadi korban dari kebakaran sebuah hotel yang sialnya saat kejadian dirinya sedang lewat dan hampir terkena puing-puing yang jatuh karena ledakan sebelum kebakaran terjadi.
"Tuan! Tuan Al!"seorang pria muncul masuk ke gedung rumah sakit dengan setelan jas nya yang terlihat sedikit berantakan karena sepertinya laki-laki terlihat gelagapan seolah sedang mencari seseorang diantara banyaknya manusia didalam gedung tersebut.
"Aku disini"
Pria itu sontak mengalihkan pandangan saat mendengar suara tuannya dan sangat terkejut melihat sang tuan yang terlihat memiliki beberapa perban dan juga pakaiannya yang terlihat berdebu dan juga sedikit gosong dibeberapa bagian.
"Astaga tuan kau baik-baik saja? Tidak ada yang terluka? Maafkan aku seharusnya aku benar-benar menemanimu pulang jika tahu begini jadinya"kata pria itu benar-benar merasa sangat bersalah.
"Ini kejadian yang terjadi tiba-tiba tidak ada yang menduganya, tidak perlu sampai sebegitunya Ravi"
Si pria yang disebut Ravi itu mengangguk mengerti dan sedikit merasa baik kala mendapati tuannya tidak marah padanya dan kelihatan baik-baik saja.
"Sepertinya aku sudah selesai disini, aku ingin pulang"kata laki-laki itu melewati Ravi yang langsung diekori Ravi.
"Permisi tuan"
Langkahnya terhenti kala seorang perempuan dengan seorang pria disampingnya yang sepertinya pasangan suami istri itu memegang tangannya.
"Perawat disini bilang kau yang membawa Kiki anak kami, kami benar-benar berterimakasih banyak"kata wanita itu dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
"Tidak perlu dipikirkan, aku akan menyelamatkan apapun yang bisa ku selamatkan"kata laki-laki itu pada wanita itu lantas membungkuk sedikit sebelum pergi keluar dari rumah sakit.
Ravi sendiri yang melihat tingkah laku tuannya itu hanya bisa menatap nanar sang tuan, dirinya jadi ikut merasa bersalah karena sikap tuannya saat ini karena ketidakmampuan nya dimasa lalu.
***
Langsung bergegas keluar begitu ia membuang masker dan penutup kepalanya ketempat sampah, ia harus mencari laki-laki itu untuk memastikan jika dirinya benar-benar melihatnya dan laki-laki itu benar-benar berdiri dihadapannya saat itu, bukan hanya sekedar halusinasi nya karena dirinya yang kelelahan karena mengurus banyak pasien.
Melihat lobi bagian unit gawat darurat dan pusat layanan trauma yang masih dipenuhi oleh para pasien yang sebagian besar sudah ditangani Anna menyusuri setiap orang melihat mereka satu persatu mencari keberadaan seseorang yang tadi muncul tepat dihadapannya sebelum dirinya melakukan operasi.
Dan begitu selesai orang itu tidak ada seolah orang itu benar-benar halusinasinya membuat Anna merasa sedih.
"Hey kenapa wajahmu? Apa kau lelah?"
Anna melihat Ray rekan yang satu universitas dengannya menepuk bahunya menyadarkan Anna.
"Ah ya sepertinya Anna sedikit lelah"kata Anna seraya menyentuh pelipisnya, benar sepertinya ia sedang lelah, karena tidak mungkin orang yang sudah mati kembali hidup dan tiba-tiba muncul dihadapan nya kecuali jika yang muncul itu adalah makhluk halus yang menyerupai seseorang itu.
"Kopi?"tawar Ray mengajak Anna beristirahat keruangan khusus petugas rumah sakit.
"Anna gak bisa minum kopi"kata Anna mengernyit.
Ray tertawa mendengarnya. "Ya ya aku tau, itu yang membuatku respect padamu, setelah serangkaian naik turunnya kehidupan dan juga berbagai macam tugas selama bertahun-tahun untuk sampai seperti ini dan kau masih tidak suka kopi kau benar-benar luar biasa"kekeh Ray mengacak-acak rambut Anna gemas.
Anna mencebik tidak suka dengan kebiasaan Ray yang sering mengacak-acak rambutnya itu. Namun Ray tetap saja melakukannya dan bahkan sambil tertawa membuat Anna benar-benar jengkel pada teman seperjuangan nya itu.
***
"Hey Anna"
Anna dan Ray yang sedang beristirahat dilorong rumah sakit yang memiliki kursi dan juga mesin minuman yang sedang duduk-duduk beristirahat dengan minuman masing-masing itu dibuat bertanya-tanya kenapa perawat Sisil tiba-tiba muncul dan langsung memanggil nama Anna.
"Ini masih diarea rumah sakit, mana sopan santunmu"kata Ray tajam karena Sisilia memanggil Anna dengan kesan tidak hormat.
"Gue disini bicara sebagai orang seumurannya juga teman satu SMA dulu"kata Sisilia mendelik pada Ray.
Ray mendecih saja tidak mau melanjutkan perdebatan karena Anna juga memberikan peringatan padanya dengan menepuk pahanya pelan.
"Kenapa?"tanya Anna pada Sisilia, sejujurnya Anna tidak tahu jika dirinya disatu SMA yang sama dengan Sisilia jika perempuan itu tidak memperkenalkan dirinya sebagai sesama alumni SMA Arya saat perkenalan dulu.
"Lo tadi liat Azriel kan?"
Pertanyaan Sisilia membuat Anna menegang dan jantungnya mendadak sakit, jadi yang tadi itu beneran?
Anna diam membuat Ray yang memperhatikan setiap perubahan raut wajah Anna itu menjadi ikut bertanya-tanya siapa Azriel?
"Tadi pas lagi banyak pasien datang gue liat Azriel, tapi gue gak sempet nyapa atau apalah karena gue langsung ngurus pasien lain nah begitu gue selesai gue coba cari tapi gak ada. Gue nanyain ini takutnya gue udah gila karena berpikir orang yang udah mati tiba-tiba muncul didepan gue"kata Sisilia menggebu karena dirinya merasa merinding karena kejadian tersebut.
"Enggak, Anna gak liat"kata Anna yang langsung bangkit dan pergi meninggalkan Sisilia dan Ray begitu saja.
"Berarti gue beneran lagi siwer tadi, astaga apa karena dulu gue pernah suka sama Azriel ya jadi masih belum move on?"kata Sisilia mulai bergumam yang tidak jelas.
"Hey perawat Sisil, siapa Azriel?"tanya Ray.