Millisanna

Millisanna
Bab 43



Menepuk-nepuk punggung Azriel gelagapan Anna menyuruh laki-laki itu untuk berhenti sekarang juga.


"Berhenti disini aja"kata Anna ketakutan.


Azriel menurut saja walau sedikit bingung kenapa juga gadis itu ingin diturunkan disini padahal masih didepan sana rumah Anna.


Sedikit terkejut saat Anna tiba-tiba melompat turun dari boncengannya membuat Azriel syok bagaimana kondisi kaki gadis itu jika Anna saja turunnya tidak santai tadi.


"Makasih udah nganterin, sampe sini aja, makasih"kata Anna seraya mengulurkan kedua tangannya meminta kembali tad ranselnya.


Azriel menatap Anna dan memberikan tas ransel gadis itu begitu saja.


"Makasih ya, besok Anna kembaliim jaketnya setelah di cuci, hati-hati dijalan pulangnya"kata Anna terkesan terburu-buru bahkan langsung pergi meninggalkan Azriel yang terdiam ditempatnya, yang mana gadis itu bahkan sedikit berlari membuat Azriel benar-benar tidak habis pikir dengan pikiran Anna.


Apa tidak sakit berlari dengan kaki yang luka seperti itu?


"Dia bego atau bagaimana? Padahal sedikit lagi sampai"kata Azriel tak habis pikir.


"Terus tuh cewek tadi bilang apa? Besok ngembaliin jaket gue nya?"lanjut Azriel semakin tak habis pikir dengan Anna.


Tak memikirkannya lebih dalam dan terlihat dipandangannya gadis itu sudah masuk kedalam rumahnya pun Azriel kembali menyalakan mesin motornya dan membelokkan motornya melaju kencang untuk pulang kerumah.


***


Pagi harinya keluarganya tidak mengetahui apapun soal yang menimpa Anna semalam karena semuanya sudah tidur dan seluruh lampu sudah mati bahkan pintu depan dan gerbang terkunci, untung saja Anna membawa kunci cadangannya dan bisa masuk tanpa harus membangunkan orang-orang rumah dan mendapat marah karena dibangunkan.


Menatap pantulan dirinya dicermin menggunakan seragam lengkap dan kali ini memakai legging untuk menutupi lilitan perban dikedua kakinya Anna siap untuk berangkat sekolah.


Meraih tas ranselnya yang ia sampirkan dipunggung nya ia juga mengambil paper bag diatas meja belajar yang berisi jaket Azriel yang sudah ia cuci dan keringkan sebelum tidur semalam.


Keluar dari kamar dan menuruni tangga Anna menghampiri keluarganya yang sedang sarapan itu.


Mendekat dengan merasakan selalu perasaan gugup dan takut sejak kejadian dirinya yang memarahi Sarah.


Tak akan ikut sarapan karena tak ingin melihat keluarganya yang mendadak menyelesaikan sarapan atau tidak jadi menyantap makanan mereka begitu melihat Anna disana yang berakhir Anna yang dimarahi sang ibu karena membuat keluarganya tidak sarapan.


Anna langsung mendekati kedua orangtuanya untuk menyalami mereka dan pamit berangkat sekolah, kedua orangtuanya yang menerima salamnya saja itu sudah cukup untuk Anna yang sangat bersalah ini.


Membuatnya berpikir tinggal beberapa langkah lagi untuk kembali ke kehidupan keluarganya yang seperti biasanya.


Menutup pintu gerbang Anna memicingkan matanya mengernyitkan dahi menebak-nebak seseorang disana yang sepertinya ia kenali sosok nya disana.


Mulai berjalan membuat Anna semakin jelas melihat sosok tersebut yang dengan santainya menunduk bermain handphone bersender pada motor sportnya yang lain.


Berhenti begitu sudah dihadapan sosok itu membuat sosok itu menyadari keberadaannya lalu memasukan ponselnya kedalam saku dan menatap Anna datar.


"Lo bener-bener bego"kata Azriel begitu menekan kata bego di kalimatnya itu.


Anna tahu jika dirinya bodoh, buktinya saja dirinya tidak pernah mendapat juara satu, namun senantiasa disebut bodoh apalagi sebutan itu senantiasa terucap dari orang yang benar-benar Anna tak ingin mendengarnya dari orang tersebut membuat Anna muak.


"Iya Anna bego. Ini jaketnya makasih"kata Anna sewot menyodorkan paper bag yang dibawanya.


Azriel mendengus mendengar nada bicara Anna itu. "Kenapa juga Lo gak absen aja sih, gak sayang sama kaki Lo?"kata Azriel tak habis pikir.


Anna kembali menarik tangannya yang memegang paper bag itu dan menunduk kedua kakinya yang terbalut legging hitam yang dipakainya untuk menyembunyikan lilitan perban dikakinya itu dan kembali mengangkat wajahnya menatap Azriel serius.


"Hari ini ada tugas yang harus dikumpulin, Anna gak mau nilai Anna kosong"kata Anna serius.


Azriel sudah menduganya jika Anna benar-benar akan masuk sekolah hari ini, bisa menebaknya setelah mendengar soal Anna yang akan mengembalikan jaketnya hari ini saat kemarin malam dirinya mengantarkan Anna.


Mengehela nafas Azriel pasrah saja dengan kesungguhan Anna untuk pergi sekolah itu, untung saja dirinya menjemput si gadis hari ini karena jika tidak bisa dipastikan gadis itu akan berjalan kaki dengan kakinya yang terluka sampai ke pintu masuk perumahan didepan sana untuk menggunakan angkutan umum.


"Pake jaketnya"kata Azriel menunjuk pada jaket yang ada didalam paper bag bawaan Anna itu seraya memakai helmnya.


Anna berkedip bingung. "Tapi ini kan mau dikembalikan"kata Anna kukuh.


"Nih pake balik, cepet naik nanti telat"kata Azriel mengembalikan tas ransel Anna yang tadi sempat ia lepaskan dengan cepat untuk memakaikan jaketnya pada Anna.


Azriel masih membantu Anna untuk naik ke boncengan motornya, sebisa mungkin mengurangi beban untuk kedua kaki Anna yang terluka.


"Pake helm"lanjut Azriel memberikan helm yang biasa dipakai Anna itu.


Anna menurut saja dan memakai helm tersebut dan setelahnya Azriel menaiki motornya dan menyalakan mesin motornya dan melajukan motornya dengan Anna yang berpegangan pada kedua pinggangnya.


***


Milan sampai di sekolah pertama sebelum Azriel karena laki-laki itu tadi saat disampernya penjaga rumah bilang Azriel sudah berangkat dari tadi.


Namun saat Milan sampai di parkiran motor laki-laki itu belum nampak dimana pun membuat Milan berpikir kemana dulu sahabatnya itu.


Namun saat gendang telinganya mendengar suara mesin motor yang begitu dikenalinya sebagai motor sport kesayangan Azriel yang jarang digunakan itu membuat Milan jadi menyeringai.


Seringaiannya semakin melebar saat mendengar suara ramai di gerbang sekolah sana dan semakin terdengar jelas suara mesin motor Azriel berikut dengan sosoknya yang datang dengan seseorang diboncengan sahabatnya itu.


Pantas saja orang-orang disekitar begitu ramai, karena pemandangan Azriel yang membonceng seorang gadis dibelakangnya benar-benar dapat membuat satu sekolah heboh.


Saat Anna diketahui sebagai satu-satunya gadis yang dibonceng Azriel karena jadi partner olimpiade nya Azriel, anak-anak di sekolah benar-benar heboh bahkan sampai berimbas pada Anna sendiri yang mendapati bully-an dari cewek-cewek pemuja Azriel.


Ah jadi ini alasan kenapa body motor bagian kiri yang biasa Azriel pake rusak, batin Milan terkekeh.


Dan mengingat saat menyamper Azriel tadi dirinya sempat melihat motor yang biasa digunakan Azriel itu memang rusak bagian samping kirinya dan terparkir didepan garasi yang sepertinya siap untuk dibawa ke tukang reparasi.


Brum brum.


Azriel memarkirkan motornya disebelah motor Milan seperti biasa seraya membuka helmnya dan mendengar suara pekikan samar dari belakangnya yang ia dapati dari Anna yang terkejut karena sahabatnya itu tiba-tiba menggendong tubuh gadis itu membantu gadis itu turun.


Anna merasa sangat malu karena tingkah tiba-tiba Milan itu yang bahkan sampai melepaskan pengait dan helmnya juga.


"Gue kira Lo kemana pas disamper dibilang udah pergi, taunya taunya~"kata Milan dengan kalimat dengan nada menggoda sembari menaikturunkan alisnya pada Azriel sekaligus memberikan helm Anna pada sahabat nya itu.


Azriel mendengus mendapati tingkah sahabatnya itu seraya menaruh helm Anna di kaca spion motornya yang lain.


"Bacot"balas Azriel kesal.


Milan terbahak saja mendengar kata umpatan dari Azriel itu lantas menatap Anna yang terlihat terkejut karena dirinya mengalihkan pandangannya pada si gadis.


Milan terkekeh melihatnya dan mengatakan sesuatu yang memang ingin ia tanyakan pada gadis itu.


"Jadi ada apa nih sampe dijemput segala?"tanya Milan pada Anna.


Anna yang tidak tahu alasannya pun hanya menggeleng polos yang mana membuat Milan semakin terbahak dan Azriel hanya bisa mendengus.


"Kakinya tuh cewek luka, Lo pasti tau karena tadi Lo ngebantu tuh cewek turun"kata Azriel menunjuk pada kedua kaki Anna.


Milan yang memang sangat peka terhadap sekitarnya hanya bisa berkedip-kedip menatap kedua kaki Anna yang memang terlihat tidak biasanya karena gadis itu memakai legging lantas melihat kearah sahabatnya.


"Tapi gue ngelakuin hal tadi niat nya mau manas-manasin Lo tapi kalo dikiranya ngebantuin Anna sih ya lebih bagus"kata Milan blak-blakan dengan cengirannya membuat Azriel ingin sekali meninju wajah menyebalkan sahabatnya itu.


Mendengus Azriel melangkah duluan untuk meredakan amarahnya menahannya agar tidak benar-benar menghajar sahabatnya itu.


Milan dan Anna pun sontak mengikuti langkah Azriel dibelakang cowok itu dimana Milan mengajak Anna mengobrol karena sedikit merasa penasaran kenapa kaki Anna sampai luka dan kenapa juga Azriel bisa tahu yang diceritakan semuanya dengan polos oleh Anna membuat Azriel lagi-lagi menghela nafas lelah.


Melirik kesekitar yang dimana setiap orang yang dilewati mereka terang-terangan menatap kearahnya terlebih ke arah Anna.


Tatapan mereka pasti tertuju pada gadis itu karena pemandangan pertama bagi mereka melihat seorang cewek berjalan bersama dengan Azriel dan Milan sang most wanted.


Mendapati Anna yang tidak menyadari tatapan mereka semua membuat Azriel sepertinya harus berterimakasih pada sahabatnya itu karena Milan benar-benar laki-laki yang peka.