
Mereka berada di ruang makan rumah keluarga Aldres duduk dimeja makan menikmati kue buatan ibu Aldres.
Anna memakan brownies buatan ibu Aldres dengan sangat senang dan terharu karena rasanya benar-benar sama seperti dulu saat dirinya mencoba, dan juga itu akan selalu menjadi brownies homemade paling terenak menurutnya.
"Ibu gak kepikiran buat buka toko kue? Enak banget ini"kata Anna merasa sia-sia jika brownies seenak ini orang-orang tidak tahu menahu.
"Udah buka kok bahkan udah banyak cabangnya"kata ibu Aldres santai.
Anna melongo tidak percaya, astaga kemana saja dirinya ini? Seharusnya ia tahu jika ada brownies seenak ini sudah tersebar dibeberapa daerah.
Aldres menggeleng saja melihat Anna yang langsung terkejut itu sampai berhenti mengunyah dan tidak merasakan ada remahan brownies disudut bibirnya.
"Kamu nya sih belajar terus kerjaannya jadi gak tau"kata Aldres cuek membersihkan ujung bibir Anna yang belepotan oleh remahan.
"Beneran bu? Kalo gitu Anna mau cari nanti, kalo banyak cabangnya berarti orang-orang setuju kalo kue buatan ibu enak banget"ceria Anna.
Ibu Aldres terkekeh saja melihat tingkah Anna yang menurutnya tidak berubah itu, tetap ceria dan bersemangat seperti saat pertama bertemu setelah gadis itu merasa baikan setelah kejadian itu.
Melihat gadis kecil yang ia dan suaminya tolong saat dulu tumbuh dengan sangat baik dan cantik seperti ini dirinya benar-benar merasa bersyukur dirinya saat itu menolong si gadis.
"Tadi Al bilang kamu belajar terus kerjaannya? Kasih tips tuh buat Al biar anteng belajar, Al malah main mulu bukannya belajar"kata ibu Aldres menaikturunkan alisnya meledek sang anak yang terlihat langsung mencebik sebal.
"Gini ya ma Al gak belajar sering-sering juga Al tetep masuk lima besar seangkatan tau"kata Aldres mengklarifikasi jika dirinya tidak bodoh-bodoh amat sampai harus belajar setiap saat dan setiap detik.
"Tapi Hino lebih pinter dari kamu tuh dia peringkat ke tiga seangkatan terus"kata ibu masih meledek anaknya.
"Disamain kok sama truk gede ijo itu sih"sebal Aldres karena dirinya tidak terima disamakan dengan sahabatnya itu yang benar-benar jenius, sableng tapi beneran pintar jika sedang ujian.
Tak mengindahkan anaknya yang terus terusan ngedumel itu ibu beralih ke Anna.
"Mili sendiri disekolah pasti pinter banget ya? Banyak yang suka juga sama Mili, liat aja ini kamu cantik imut banget"kata ibu Aldres memuji betapa cantiknya Anna.
Anna tersenyum malu saja berterimakasih karena dipuji oleh ibu Aldres. "Enggak kok, Anna terus terusan peringkat dua, terus Anna gak banyak yang suka Anna kok"malu Anna dan jujur.
Dirinya tidak terlalu pintar karena jika pintar dirinya akan disayang ibunya dan jika banyak yang suka padanya tidak ada tindak bullying yang dialaminya.
"Gak ada yang suka sama kamu? Serius?! Mereka buta apa?! Waaah!! Gue gak habis pikir mereka gak suka sama Mili yang cantik manis dan imut kayak gini"kata Aldres tidak percaya pada orang-orang di SMA Arya yang tidak melirik Anna sama sekali.
"Al hmph–"keluh Anna yang kedua pipinya ditekan oleh Aldres mengarahkan untuk menghadap si laki-laki memeriksa wajah Anna dengan teliti.
Lihat lah bagaimana wajah cantik dan manis ini terus bulu matanya yang panjang nan lentik juga mata bulat sedikit sipitnya hidung mancung yang mungilnya dan pipi tembamnya dan yang paling penting adalah bibir tipis berwarna merah muda alami yang mengkilap itu yang menggodanya untuk ia sesap.
Duak.
"Astaga Al!!?"seru ibu Aldres terkejut saat Aldres tiba-tiba menoyor Anna keras dan berlalu pergi begitu saja menaiki tangga meninggalkan kedua perempuan disana terkejut.
Anna sendiri terkejut bukan main dan mendendam akan membalas perlakuan tidak jelas Aldres yang hampir saja membuatnya terkejut dan terjengkang, untung saja tangannya dengan sigap menahan tubuhnya agar tidak jatuh menghantam lantai.
"Ya Tuhan anak itu benar-benar"keluh ibu Aldres tidak percaya anaknya itu masih sedikit bertindak kurang ajar pada Anna.
"Maafin Al ya Mili, anak itu ternyata masih aja kayak gitu"kata ibu Aldres merasa bersalah.
Anna menggeleng tidak masalah. Jika dirinya masih kecil mungkin akan menangis histeris seperti dulu karena dijahili oleh Aldres namun saat ini dirinya sudah dewasa dan dirinya akan membalas perlakuan Aldres tadi bagaimana pun caranya.
***
Aldres sendiri langsung pergi ke kamarnya kabur untuk mencegah tindakan selanjutnya dari pikiran kotornya tadi.
Brugh.
Menjatuhkan diri keatas ranjang Aldres merasa seperti orang cabul karena berpikir yang tidak-tidak saat melihat bibir Anna.
Habisnya bibir Anna itu benar-benar seperti memintanya untuk menciumnya menghisapnya bahkan menggigitnya.
Duak.
"Anj*r Lo! Pikiran bejat Lo bener-bener gak guna sialan!"umpat Aldres pada dirinya sendiri sembari memukul kepalanya sendiri.
Menghela nafas kasar Aldres bangkit dari rebahannya dengan kesal menatap kearah lemari gupet disebelah ranjangnya Aldres harus menghentikan pikiran kotornya ini dan memberikan sesuatu untuk Anna.
Meraih sesuatu itu diatas lemari gupetnya Aldres akan kembali bergabung dengan Anna dan ibunya diruang makan.
***
"Ini punya Mili, diliat kamu masih nyimpe pasangannya Al seneng dulu Al nyimpe pasangannya yang lain"kata Aldres yang muncul dan menyodorkan sebuah jepit rambut pada Anna.
Anna menatap jepit rambut yang ada ditangan Aldres itu membuatnya jadi mengingat masa lalu yang sangat wajib untuk dilupakan namun Anna tidak bisa.
'Dasar anak bajingan! Bagaimana bisa kau kehilangan adikmu?!'
'Hei anak manis kenapa? Apa kau tersesat?'
'Jangan! Mili gak mau! Lepasin!!'
'Kau anak yang jahat'
'Pembohong'
"Mili?"
"Ah iya? Makasih Al udah nyimpen jepitnya"kata Anna merasa senang dan menerima jepit rambut tersebut.
Ibu dan Aldres hanya diam memperhatikan tingkah Anna itu yang tadi terdiam sesaat dan keduanya sepakat berpikiran jika Anna masih belum sepenuhnya lepas dari insiden masa lalunya.
***
Aldres menutup pintu kamarnya dengan perlahan agar tidak mengganggu Anna yang sedang tertidur disana.
Anna sepertinya kelelahan bermain game dengan Aldres atau mungkin bisa dibilang merasa jenuh dan berakhir tertidur karena hanya melihat memperhatikan Aldres yang bermain PS karena Anna tidak bisa ikut bermain.
Aldres pun turun kelantai pertama setelah menggendong Anna yang tertidur dan menempatkan nya dikamarnya melihat kakaknya sudah pulang berada di sofa ruang tengah keluarga mereka.
"Mili main kesini?"tanya Gio langsung saat melihat adiknya itu bergabung dengannya duduk di sofa single disana.
Aldres mengangguk saja terlihat kalut dan itu tertangkap oleh mata tajamnya Gio.
"Sepertinya Mili masih kesulitan dengan masa lalunya bang"kata ibu mengadu pada anak sulungnya itu seraya memberikan minuman dingin untuk sang anak yang telah lelah bekerja.
"Dia masih ingat sama kejadian itu?"tanya Gio tidak terkejut karena dirinya menduga hal tersebut karena jika Anna lupa berarti gadis itu melupakannya dan keluarganya juga.
Tapi sangat disayangkan jika Anna selalu mengingat hal mengerikan yang terjadi padanya saat masih kecil itu dulu.
"Bang minta bantuan kak Kiara bang, dia bisa bantuin Mili kan biar gak–"
"Kiara bakal bantu kalo orang yang dibantuinnya setuju"kata Gio memotong perkataan adiknya itu.
"Kamu liatin aja dulu Mili, dia terganggu enggak sama masa lalunya dan jika benar dirinya terganggu sampai membuat kehidupannya jadi ancur abang suruh Kiara buat bantu"kata Gio serius dan mutlak.
Aldres dibuat diam oleh kakaknya. Dirinya hanya bisa menunduk seraya mengangguk karena yang dikatakan kakaknya itu ada benarnya juga.
***
"Sering sering mampir ya Mili"kata ayah Aldres yang ikut mengantar Anna pulang.
"Iya ayah"senang Anna menyalami mereka yang ikut mengantarnya pulang.
"Udah? Ayo keburu makin malem"kata Aldres yang sudah siap diatas motornya.
Anna pun menatap orangtua Aldres dan kakaknya Aldres itu tersenyum lebar berterimakasih karena mereka masih menerimanya.
Berbalik mengucap salam Anna berpamitan dan menghampiri Aldres yang akan mengantarnya pulang.
"Jangan ngebut-ngebut"pesan ibu.
"Kalo Mili kenapa-kenapa gue sunat dua kali Lo adek!"peringat Gio pada Aldres.
"Iya iya, berisik ahelah dasar musuh para pejabat!"cibir Aldres pada kakaknya itu dan pergi mengabaikan kakaknya itu yang mulai mengomel itu.
"Cih anak itu suka bener kalo ngomong"kekeh Gio tak habis pikir, karena apa yang dikatakan Aldres memang seperti itu faktanya.
Tidak hanya pejabat, siapapun yang bersalah akan menjadi musuhnya dan akan ia buat orang-orang itu membusuk dipenjara atau membayar apa yang telah mereka lakukan karena ia adalah seorang jaksa.