
"Gue ingin ngaterin!"kata Arjuna merajuk pada Milan saat kedua sahabatnya itu akan pergi untuk mengantar para gadis karena waktu sudah sangat sore dan mereka sudah selesai belajar.
"Mau nganterin siapa Lo? Udah sana cuci piring aja"suruh Milan kesal dengan tingkah laku Arjuna.
Arjuna mencebik kesal dan jengkel memakai sandalnya dan berjalan mendekati Anna. "Kak Anna gue anter ya? Mau ya?"tawar Arjuna dengan puppy eyes nya yang memohon.
Anna sedikit merasa ragu melihat tatapan Arjuna itu.
"Gak dia sama gue, sekalian gue pulang"kata Azriel seraya menarik Anna menjauh dari Arjuna.
"Eh Lo gak bakal nginep disini apa?"tanya Milan yang terkejut mendengarnya.
"Gak, gue tidur dirumah"jawab Azriel singkat dan cuek memakai helmnya dan menyalakan motornya mengulurkan tangan untuk Anna menyuruh gadis itu untuk naik.
Anna sudah berada di boncengan Azriel duduk dengan nyaman melambaikan tangan pada yang lainnya yang mengiri mereka yang akan pergi.
"Duluan ya Melisa, Milan sama Arjuna juga makasih, Anna pulang dulu"kata Anna berpamitan dan motor Azriel pun berjalan keluar gerbang dan pergi meninggalkan mereka disana yang terdiam.
"Napa dah si Azriel?"tanya Melisa pada Milan dan Arjuna.
"Tau tuh biasanya juga bang Jiel kalo orangtuanya gak ada dirumah suka ikut tinggal disini sama kita"kata Arjuna merasa bingung juga.
"Lo tau kenapa?"tanya Melisa pada Milan yang berjalan menuju motornya dan naik seolah menghindari pertanyaan Melisa.
Milan menatap Melisa yang bertanya itu dengan datar. "Gak tau. Udah ayo keburu malem gue nganterin Lo nya"kata Milan benar-benar menghindari pertanyaan Melisa.
Melisa tidak percaya Milan namun dirinya akan diam untuk saat ini karena sepertinya Milan pun seperti tidak ingin memberitahunya.
"Lo jangan lupa cuci piring, awas kalo enggak"peringat Milan terkahir kalinya untuk Arjuna sebelum pergi mengantar Melisa pulang.
Arjuna hanya bisa mencebik kesal dengan tingkah Milan yang menyuruhnya mencuci piring itu, ditambah sepertinya kedua sahabatnya itu seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
"Apaan sih mereka? Mau gak nganggep gue apa? Oke fine gue emang selalu tersisihkan emang!"kesal Arjuna sebal dengan segalanya.
***
Azriel menurunkan Anna didepan rumah yang beberapa rumah lagi sampai ke rumah Anna seperti permintaan gadis itu.
"Makasih udah nganterin"kata Anna pada Azriel.
Azriel mengangguk saja mengiyakan walau dirinya tidak tahu kenapa gadis ini tidak mau diturunkan didepan rumahnya disana.
Tin.
Azriel dan Anna mengalihkan perhatian mereka pada seorang cewek dengan motor maticnya yang melaju yang memencet klaksonnya.
Azriel menaikkan alisnya bingung dan tidak mengerti sedangkan Anna sudah keringat dingin dan pucat pasi terlihat gelisah.
"Azriel makasih ya, hati-hati dijalan, Anna duluan"
Azriel berkedip sekali melihat Anna yang tiba-tiba terlihat terburu-buru itu dan langsung berlari ke arah rumahnya dengan sangat kencang.
Memiringkan kepalanya saat menyadari jika cewek dengan motor matic tadi berbelok masuk ke rumah Anna.
Azriel melepas helmnya tidak tahu kenapa tapi karenanya dirinya bisa mendengar walau samar karena lokasinya yang jauh dirinya bisa mendengar suara wanita yang memarahi Anna.
Dan tak lama didepan sana dari rumah Anna muncul wanita paruh baya yang Azriel tahu adalah ibunya Anna, menatapnya dengan tajam dan langsung kembali masuk kerumahnya.
Azriel tidak suka dengan tatapan wanita tua itu, apalagi samar dirinya kembali mendengar suara bentakan samar dari rumah Anna didepan sana.
Memakai helmnya Azriel berpikir dirinya harus pergi, dirinya tidak mau menjadi alasan Anna semakin dimarahi.
Bagaimana dirinya tahu jika Anna dimarahi karenanya? Tentu saja dari bentakan samar yang didengarnya.
Azriel jadi merasa bersalah pada Anna.
***
Sebentar lagi dirinya sampai ke rumah namun dirinya menahan seringaian saat melihat kakak perempuannya terlihat sedang bersama seorang cowok membuat Sarah berpikir akan melaporkannya pada sang ibu.
Memencet klakson iseng untuk memperingati jika Anna dalam masalah.
Sarah sampai dirumah dan memarkirkan motornya didepan garasi rumahnya dan senyumnya terbit sangat lebar saat melihat sang ibu ada di teras depan membuatnya semakin antusias untuk melaporkan sang kakak yang kepergok diantar pulang oleh cowok.
"Oh kamu udah pulang?"tanya ibu saat Sarah menyalaminya.
"Iya bu. Bu tadi Sarah liat teh Anna bareng cowok bu disana"kata Sarah mengadu menunjuk arah dimana dirinya melihat Anna dengan laki-laki.
Ibu yang mendengarnya semakin dibuat murka. Sang ibu berada di teras dengan perasaan marah karena les yang diikuti Anna diliburkan tapi Anna belum pulang-pulang sampai sekarang dan dirinya mendapat aduan jika anaknya itu sedang bersama laki-laki? Benar-benar kurang ajar anaknya itu.
"Assalamualaikum"salam Anna yang terlihat muncul dengan berlari.
Anna akan menyalami sang ibu yang terlihat berjalan menujunya namun Anna malah mendapatkan amukan.
"Bagus ya kamu! Les libur malah kelayapan main sama cowok! Udah gak punya otak ya kamu?!"kesal ibu melewati Anna begitu saja untuk melihat siapa cowok yang dimaksud Sarah itu.
Dan sang ibu bisa melihat seorang cowok dengan motornya tak jauh dari rumahnya itu terlihat melihat kearahnya juga dan dirinya menyadari jika cowok itu adalah anak laki-laki yang tidak bisa dikalahkan oleh Anna.
Kembali masuk ke pekarangan rumahnya dan menghampiri Anna dengan tatapan kesal. "Kamu gak bisa ngalahin si Azriel itu jadi kamu pacarin dia gitu?! Kamu stress hah?!"kesal ibu pada Anna.
"Enggak bu, Anna habis belajar bareng sama–"
"Sama Azriel iya?! Kamu itu gak punya otak apa hah?! Udah tau bego malah sok sok an belajar bareng yang aslinya cuma main-main doang kan?! Udahlah kamu tuh fokus biar bisa banggain orangtua bukannya malah makin menjadi gak berguna kayak gini!!"kesal ibu meluapkan semua kekesalannya pada sang anak nya yang tidak berguna.
"Contoh tuh adik kamu! Dia biasa-biasa aja tapi dia patuh sama orangtua! Gak ngedeketin laki-laki kayak kamu yang kegatelan gini!"kata ibu benar-benar muak dengan Anna dan pergi masuk rumah begitu saja.
Meninggalkan Anna yang hanya bisa diam dan Sarah yang menikmati bagaimana Anna yang dimarahi ibu mereka itu.
"Gue malu nih punya kakak l*nte, berasa diri cantik apa? Muka kek jalanan kontruksi aja pede banget ngedeketin cowok"kekeh Sarah tak habis pikir dan masuk kedalam rumah meninggalkan Anna sendirian disana.
Anna menunduk menatap kedua kakinya yang menggunakan sepatu sekolah, hanya melamun meratapi nasib yang perlahan pandangannya kabur dan sepatunya mulai basah karena tetesan yang keluar dari matanya.
***
Hari Senin waktunya UTS diadakan. Anna sendiri tidak terlalu kesulitan dalam mengerjakan ujiannya karena dirinya memang memahami semua yang diujikan.
Apa Anna bakal bisa juara satu, batin Anna tiba-tiba disaat dirinya sedang memeriksa ulang ujiannya.
Pemikirannya yang seperti itu tiba-tiba datang dan dirinya merasa putus asa, dirinya tersadar jika dirinya tidak mungkin menjadi peringkat pertama bagaimana pun caranya.
Anna muak selalu belajar, belajar, dan belajar lalu berakhir peringkat kedua dan lagi-lagi dimarahi oleh ibunya yang tidak terima jika kemampuan Anna hanya sampai disitu.
Padahal jika sang ibu bisa melihat kemampuan Anna dan tidak hanya terpatok pada peringkat, ibunya itu bisa membanggakan Anna yang seluruh nilainya bahkan lebih tinggi dari anak kakak ibunya yang katanya rangking satu seangkatan tapi nilainya sangat jauh dari nilai Anna.
Menaruh alat tulisnya Anna selesai memeriksa, mau memeriksa berapa kali pun otaknya tetap pada jawaban yang ia sudah isi, otaknya mengatakan jika yang dikerjakan nya itu semuanya sudah benar.
Walau dirinya yakin semua jawabannya ada yang tidak benar namun Anna tidak tahu yang mana dan memilih menyerah, sekali lagi, mau sebagaimana pun caranya mencari yang salah otaknya senantiasa berkata jika semuanya benar.
Mengalihkan pandangannya dari lembar jawaban menjadi melihat kearah jendela menatap langit biru hah berawan disana yang ternyata sangat indah untuk saat ini.
Apa hidupnya tidak akan pernah secerah langit biru disana? Batinnya berandai-andai.
Ditempat nya Azriel yang sudah menyelesaikan ujiannya sejak awal menyadari Anna yang juga sepertinya sudah selesai dan sedang menatap ke jendela membuat Azriel merasa baru karena biasanya gadis itu akan tetap menunduk menatap lembar jawabannya sampai waktu berakhir untuk memeriksa ulang ujiannya berkali-kali.
Tapi kali ini gadis itu tidak, dan gadis itu malah melihat kearah langit dengan tatapan yang membuat Azriel kasihan.
Azriel tidak tahu apa yang dipikirkan Anna tapi Azriel merasa khawatir.