Millisanna

Millisanna
Bab 66



Pada akhirnya Anna melupakan tentang dirinya yang tidak les hari ini karena sempat terlupa saat dirinya bersama dengan teman-temannya merayakan keberhasilannya.


Namun kali ini dirinya kembali teringat dan membuatnya merasa ketakutan setengah mati. Anna memang tidak bilang jika keluar hari ini untuk bertanding dan mungkin saja sang ibu berpikir dirinya keluar hari ini adalah untuk les seperti biasa.


Anna ragu guru lesnya tidak akan memberitahukan jika dirinya tidak hadir les hari ini pada sang ibu karena guru lesnya itu rajin sekali melaporkan apapun perihal tentangnya pada sang ibu.


Menghembuskan nafas menenangkan diri walau pada akhirnya menggigit bibir dalamnya karena kegugupannya saat membuka pintu rumah.


Mengucap salam seperti biasa tidak ada yang menjawabnya, berjalan semakin masuk dan berniat langsung ke kamarnya dilantai dua namun tak jadi karena interupsi sang ibu yang muncul dari dapur.


"Kau berbohong benar?"tanya ibu langsung pada Anna.


Anna diam menunduk, dirinya tidak tahu ini disebut berbohong atau apa, jika dirinya bilang pergi les tapi nyatanya dirinya tidak pergi les itu memang berbohong, tapi dirinya tidak bilang pergi kemana-mana nya pada sang ibu jadi apa masih disebut dengan bohong Anna tidak tahu.


Anna buru-buru merogoh tasnya dan mengeluarkan mendali emas yang dimenangkannya hari ini untuk membuat ibunya bangga sekaligus tidak marah lagi.


"Lihat ma, Anna dapet juara satu dipertandingan ini mendalinya"ceria Anna memperlihatkan kerja kerasnya.


Sang ibu terlihat tidak peduli bahkan terlihat sangat murka pada Anna.


"Buat apa kamu menangin itu?! Gak guna dasar anak bodoh! Kamu itu harusnya juara satu disekolah sama olimpiade bukannya dipertandingan bodoh tidak berguna ini!!"kesal ibu merebut mendali milik Anna merusaknya dengan memutuskan talinya lantas melemparkannya pada Anna.


Duak.


Mendali emas yang keras itu menghantam dahi samping Anna keras yang setelahnya terjatuh tergeletak didepan kaki Anna berserta talinya yang lusuh, tidak menyangka mendali itu sangat keras dan membuatnya kesakitan karena dihantam oleh benda tersebut.


"Kamu tuh harusnya juara satu di peringkat sekolah! Juara satu di olimpiade! Baru kamu bisa banggain mama biar gak direndahkan sama kakak-kakak mama itu!"kesal ibu.


"Kamu gak merasa bersalah gitu mama terus-terusan direndahkan gara-gara kamu yang gak pernah juara satu kayak sodara-sodara kamu itu?!"marah ibu pada Anna.


Anna menunduk tak bisa berkata-kata. Dirinya memang bodoh.


"Berhenti bertingkah bodoh! Kau itu sudah bodoh untuk apa kau bertingkah bodoh?!"kesal ibu meluapkan emosinya pada Anna dan pergi meninggalkan Anna masuk kedalam kamar.


Anna menunduk menatap mendali yang didapatkannya itu ternyata tidak seberharga yang ia kira.


Tes tes.


Dua jenis tetesan cairan disana menetesi mendali yang tak berharga itu. Walau tak berharga Anna tetap akan menyimpannya dan mengingatkannya jika dirinya tidak berguna seperti mendalinya itu.


***


Hari Senin hari masuk sekolah, Anna memperhatikan penampilannya dipantulan cermin, seragamnya terlihat rapi dan rambutnya juga telah ia ikat ekor kuda dengan rapi, melirik kearah dahinya yang ditempeli plester dengan tangannya ia menutupi plester itu dengan poni tipisnya.


Tersenyum dirinya siap menjalani harinya, benar-benar akan menjalani harinya yang tidak akan membuat siapapun kecewa terhadapnya terlebih sang ibu.


Keluar dari kamar dan menuruni tangga melihat keluarganya selesai sarapan dan sang ibu terlihat telah membersihkan bekas mereka sarapan.


Melihat ada sisa roti tawar disana Anna langsung mengambilnya dan melahapnya cepat.


"Pencuri Lo?"celetuk Sarah yang melewatinya untuk berpamitan pada sang ibu yang menatap Anna tajam.


Anna hanya bisa menunduk takut-takut, roti didalam mulutnya mendadak sangat pahit.


Sang ibu mengabaikan Anna dan mengambil bekas piring roti yang diambil Anna itu.


"Hati-hati Sarah, jangan ngebut-ngebut bawa motornya"pesan ibu pada Sarah yang membalas dengan seruan patuh.


Anna menelan rotinya yang terasa tidak enak itu dengan susah payah mendekati sang ibu dengan takut-takut untuk menyalami sang ibu.


"Mau apa kamu? Sana berangkat! Kamu udah telat! Makanya pasang alarm biar gak telat"omel ibunya tak menerima salam Anna.


Anna lagi-lagi menunduk dan bergumam meminta maaf seraya melangkah keluar rumah untuk pergi sekolah.


"Heh mau nebeng gak?"seru Sarah disana yang sudah siap berangkat dengan motor maticnya juga memakai helm.


Anna yang mendengarnya tersenyum antusias mengangguk dengan senang hati menerima tawaran Sarah, namun baru saja dirinya melangkah adiknya itu menggas motornya pergi dengan tertawa terbahak-bahak.


"Tapi boong! Hahaha"


Anna terdiam ditempatnya menatap adiknya itu yang pergi setelah mempermainkannya.


Harusnya Anna tolak saja tadi karena jika ia tolak dirinya tidak akan mengalami hal memalukan ini di pagi hari.


***


Pagi harinya kali ini benar-benar berantakan.


Anna tidak menyangka paginya kali ini benar-benar sangat berwarna dengan warna yang gelap dan kelam.


Menatap kosong bendera yang berkibar terhembus angin itu, Anna jadi berpikir hidup menjadi bendera sedikit banyak terasa lebih menyenangkan daripada hidup sebagai dirinya.


Bendera akan hidup tenang didalam lemari yang dirawat oleh para petugas upacara, hanya harus menghabiskan harinya diluar untuk dua hari saja dan selebihnya bendera akan terlipat rapi dilemari yang dijaga juga dirawat.


Ah Anna benar-benar iri dengan bendera.


"Hei kamu mau hukuman kamu ditambah? Cepet ke kelas belajar!"seruan guru BK menyadarkan Anna dan tersadar hanya dirinya seorang yang masih berdiri dilapangan menatap bendera dan yang lainnya sudah membubarkan diri mengambil tas masingmasing dan pergi ke kelas mereka masing-masing.


Anna sontak meminta maaf dan bergegas mengambil tasnya dan juga pergi ke kelasnya dengan berlari cepat untuk tidak ketinggalan pelajaran.


Teet teet teeettt.


Bel istirahat berbunyi Anna menghela lega dikursinya karena entah kenapa dirinya merasa lelah hari ini.


Apa karena tidak sarapan? Tiap hari juga dirinya tidak sarapan jadi bukan karena itu. Mungkin saja karena paginya yang berantakan membuat dirinya tidak mood seperti ini.


"Anna kantin kuy"ajak Melisa yang menghampiri Anna ke mejanya.


Bersamaan dengan Anna yang mendadak berdiri membuat Melisa terkejut sendiri. "Anna kebelet, Melisa aja duluan, tapi Anna gak janji bakal ke kantin, oke?"kata Anna tersenyum bersemangat dan langsung melesat keluar kelas.


Melisa yang melihat tingkah Anna dibuat bingung dan bertanya-tanya apa ada yang salah dengan Anna. Mengedikkan bahu mungkin Anna sedang kelebihan gula makanya semangat begitu jadi Melisa biarkan saja toh Anna yang bersemangat cukup menggemaskan.


Anna menyelesaikan urusan di toilet membuatnya sedikit lega dan berpikir akan kembali ke kelas karena dirinya tadi sudah bilang tidak janji akan menyusul Melisa ke kantin.


Anna akan menghabiskan waktunya di kelas untuk belajar, dirinya harus benar-benar serius untuk menjadi peringkat pertama agar dirinya bisa dibanggakan dan ibunya tidak lagi direndahkan oleh para kakaknya.


Brak.


Anna terkejut saat suara gebrakan dari pintu masuk toilet dan memperlihatkan Vanessa dengan kedua temannya juga Michelle disana yang menatapnya tajam kentara sekali mereka marah padanya.


"Merasa sombong hah dicium Azriel Lo?!"teriak Vanessa berjalan mendekati Anna dan menoyor keras kepala Anna membuat Anna melangkah mundur.


Anna merasa lehernya nyeri karenanya. Tapi Anna sedikit mengerti dengan perkataan Vanessa itu, sepertinya gadis itu sudah mengetahui soal yang terjadi saat setelah pertandingannya.


Plak.


"Cantik Lo hah minta dicium Azriel kalo Lo menang?!"kesal Vanessa menampar Anna.


Anna berkedip bingung dan merasa nyeri dipipinya akibat tamparan Vanessa, sepertinya ada yang salah dengan informasi yang entah dari mana didapatkan Vanessa ini.


"Enggak bukan gitu kamu salah–"


Byuurr.


"Pwah"


Anna basah kuyup bahkan ada aliran air dari ujung roknya dan kepalanya karena ia menunduk saking basahnya dirinya.


Bruk.


Pelaku yang membanjur Anna dengan air bekas pel itu melemparkan juga ember yang digunakannya pada Anna.


"Lo itu gak pantes buat Azriel sialan!"umpat Michelle pelaku yang mengguyur Anna dan pelempar ember.


Anna hanya bisa menunduk menerima bullying dari kedua perempuan yang sepertinya menyukai Azriel dengan sangat itu.


"Gue ingetin Lo! Jangan - pernah - lo - kegatelan - sama - Azriel!"peringat Vanessa dengan menekankan setiap kata dikalimatnya dan menoyor-noyor keras kepala Anna sampai mundur-mundur dan terjatuh karena terpeleset.


Bruk.


"Inget itu!"peringat Vanessa terakhir kali sebelum pergi meninggalkan Anna bersama kedua temannya.


Tersisa Michelle dan Anna disana dan Michelle bergerak mendekati Anna yang terduduk dilantai kamar mandi itu lantas menginjak kesal tangan Anna.


Grek.


"Akh!"


"Lo itu harusnya gak ada sejak awal! Ganggu aja Lo!"kesal Michelle meluapkan segala kekesalannya yang terpendam pada Anna.


Dan pergi begitu saja meninggalkan Anna yang meringis dilantai kamar mandi.