
Arjuna memarkirkan motornya dihalaman depan rumah, melihat ada dua motor sahabatnya yang terparkir disana.
Memiringkan kepala bingung karena hanya Milan yang tinggal dengannya kali ini, tapi kenapa ada motor Azriel juga.
Ah mungkin saja sahabatnya itu sedang berkunjung, membuat Arjuna sangat senang.
Sedikit merasa aneh dan khawatir mengenai Azriel yang memilih untuk tinggal dirumah keluarganya sendiri disaat kedua orangtuanya sedang keluar negeri untuk perjalanan bisnis itu, tapi melihat Azriel yang datang mungkin dirinya tidak perlu terlalu berlebihan berpikiran yang tidak-tidak.
Berjalan menuju teras dirinya terhenti saat melihat ada yang aneh juga, di rak sepatu seperti nya ada dua pasang sepatu yang asing untuknya. Menaikkan sebelah alis bertanya-tanya apa ada tamu atau seseorang yang datang ke rumah.
Membuka pintu seraya mengucapkan salam Arjuna masuk ke rumah, berjalan masuk dan diruang tengah bisa ia lihat dua gadis cantik disana duduk lesehan melihat kearahnya, dan satu diantara gadis cantik itu Arjuna mengenalnya.
"Kak Anna?"sapa Arjuna tidak percaya.
Anna yang disapa itu terdiam sebentar dirinya merasa pernah melihat atau bahkan bertemu dengan sosok yang datang itu, tapi apa hanya sekedar perasaannya saja pernah bertemu.
Arjuna tahu dari ekspresi nya pasti Anna melupakannya, ya mau bagaimana lagi pertemuan mereka hanya sekali saat di apotek saat itu dan hanya sebentar, memang biasanya akan lupa tapi sakit juga dilupakan.
"Arjuna kak temen sekolahnya Sarah masa lupa, ketemu di apotek kita pas kapan itu"kata Arjuna sedikit merasa sedih.
"Ah"Anna jadi diingatkan dan hanya bisa tersenyum malu meminta maaf karena lupa pada Arjuna.
"Maklum dilupain, ngapain juga nginget orang sok asik kayak Lo"celetuk Milan yang muncul setelah berganti seragam dengan pakaian santainya menuruni tangga.
"Apa sih Lo?"sebal Arjuna dan langsung berlari naik ke lantai atas ke kamarnya, dirinya masih kesal karena tadi pagi sarapannya dicuri Milan.
"Adek Lo?"tanya Melisa pada Milan yang bergabung dengan mereka.
"Jiah amit-amit gue punya adik kayak dia!"teriak Milan agar bisa terdengar oleh Arjuna.
"Gue denger sialan!!!"balas Arjuna tak kalah keras.
Milan terkekeh saja merasa senang menjahili Arjuna. "Bukan, sejenis kek Jiel cuma tuh orang setahun lebih muda dari kita"kata Milan santai seraya mulai membuka bukunya.
"Udah gak usah dibahas tuh orang, ini mau belajar atau numpang makan? Mana ngomongin hal gak guna"kata Milan menatap lelah Melisa yang malah masih mengunyah itu.
"Ye santai dong"cebik Melisa mau tak mau mulai membuka bukunya memulai belajarnya dengan mulut yang penuh seperti tupai.
Anna terkekeh saja melihat tingkah Melisa itu, dirinya pun ikut mulai belajar.
***
"Gue cape! Lapar!"keluh Melisa setelah beberapa jam mereka belajar.
Dirinya memang cukup terbantu dengan tiga orang peringkat teratas di sekolah itu membantunya belajar tapi sangat melelahkan untuk batinnya menghadapi dua diantaranya yang membuat mentalnya lelah.
Hanya Anna yang normal yang mengajarinya dengan baik dan lembut, dua lainnya benar-benar membuat Melisa lelah hati.
Azriel si batu itu hanya mengeluarkan suara singkat 'hm, bukan, iya, salah' atau sekedar anggukan dan gelengan saat Melisa bertanya membuat Melisa hanya bisa menahan kesal.
Lalu yang paling parah adalah Milan cowok itu benar-benar tidak bisa menjadi guru karena kerjaannya hanya marah-marah memarahinya, padahal Melisa hanya salah sedikit atau bertanya tapi malah dikatai bego dan dimarahi.
Hari ini benar-benar terasa nano nano untuk Melisa. Sedikit menyesali menerima Milan dan Azriel yang ingin bergabung dengan kelompok belajar nya itu.
"Bang Milan gue laper!!!"teriak Arjuna yang turun dari tangga beberapa saat setelah Melisa menyerukan rasa laparnya.
"Tinggal pesen makan beres! Lo juga sama pesen makan aja"kata Milan pada Arjuna dan Melisa.
"Tapi gue lagi pengen makanan homemade"kata Arjuna cemberut dengan mata anjing kecilnya yang memohon.
"Kalo Lo mau makanan gosong, ayo gue buatin sekarang!"kesal Milan karena sikap Arjuna yang mendadak benar-benar bertingkah sok manja itu.
Apa Arjuna sedang berlagak menjadi pick me boy didepan Melisa dan Anna? Jika iya Milan akan habisi anak itu setelah kedua cewek itu pulang.
Oke nih anak emang minta dihabisin, batin Milan serius.
Anna mengangguk saja ragu karena dirinya memang bisa memasak.
Arjuna tersenyum cerah dan lebar. "Kalo gitu masakin Arjuna kak, didapur pasti banyak bahan-bahannya"kata Arjuna semangat akan segera membawa Anna ke dapur.
"Gak usah diladenin na, biarin aja dia kelaparan"sebal Milan menatap sengit Arjuna yang balas menatapnya sengit juga.
Krubuk.
Seisi ruangan mendadak sunyi dan semuanya langsung tertuju pada Azriel yang langsung menyembunyikan wajahnya dimeja karena tadi adalah suara perutnya. Dirinya lapar juga.
"Gue tunjukin dapur dimana"kata Milan langsung bangkit menahan tawa dan membawa Anna ke dapur.
Arjuna ikut kedapur membuat hanya ada Melisa dan Azriel disana yang masih menyembunyikan wajahnya di meja.
Melisa sekuat tenaga untuk tidak tertawa melihat Azriel itu. "Harusnya Lo bilang duluan kalo lapar sebelum perut Lo teriak duluan, pfft"kekeh Melisa tak bisa menahan tawanya langsung bangkit dan berlari kearah kemana perginya yang lain seraya tertawa mentertawakan Azriel.
Azriel merasa wajahnya memanas dirinya benar-benar merasa sangat malu. "Perut sialan"dengusnya sangat malu.
***
Anna akan membuat sesuatu yang tidak perlu memakan waktu lama untuk membuatnya karena sepertinya mereka sudah sangat lapar, apalagi Azriel.
"Nasi goreng aja ya biar cepet"kata Anna saat diperlihatkan bahan-bahan yang ada oleh Arjuna dan Milan.
"Boleh boleh, gue bantuin kak"kata Arjuna antusias.
Mereka bertiga pun membagi tugas dengan Anna sebagai koki utama dan Milan juga Arjuna menjadi asistennya sedangkan Melisa yang datang terakhir hanya menjadi penonton tidak akan memaksakan diri untuk membantu karena takutnya dirinya malah menjadi beban seperti dua orang itu yang sok sok an menawarkan bantuan.
Milan dan Arjuna benar-benar payah, Milan yang disuruh mengupas bawang malah menghancurkan bawangnya menyisakan titik kecil dari bawang yang ia kupas, lalu Arjuna tak kalah payah karena laki-laki itu disuruh untuk memotong sayuran anak itu malah memotong angin.
"Lo berdua mending jauh-jauh aja deh"kata Melisa yang kesal sendiri melihat kerjaan kedua laki-laki yang malah membuatnya kesal sendiri.
Menarik kedua pakaian belakang laki-laki itu, Melisa akan menghilangkan kedua beban tersebut dari Anna.
"Tapi Anna/Kak Anna"kata keduanya bersamaan merasa tak enak harus Anna sendiri yang memasak.
"Udah gak usah bacot, tunggu aja daripada makin lama gara-gara kalian berdua"kesal Melisa mutlak membawa keduanya untuk menjauh dari dapur.
Anna sendiri merasa lega karena kedua laki-laki yang hendak membantunya itu malah menambah beban padanya yang khawatir dengan keduanya yang terlihat sangat mengkhawatirkan saat mereka menggunakan pisau, takut terluka mereka.
Keduanya sudah pergi diangkut Melisa membuat Anna akan mempercepat pekerjaan nya itu.
"Gue bantu"kata Azriel yang tiba-tiba muncul itu.
Anna hanya menatap Azriel ragu, takut-takut skill Azriel dalam memasak setara dengan kedua sahabatnya tadi.
"Gue gak jago tapi gue juga gak sepayah mereka, jadi apa yang perlu gue bantu?"kata Azriel bertanya.
Anna walau ragu menyuruh Azriel untuk memotong sayuran yang tadi dikerjakan Arjuna namun gagal.
Azriel mengangguk saja dan mulai memotong sayuran yang ditunjuk setelah mencuci tangan.
Anna yang memperhatikan sedikit merasa kagum, Azriel ternyata cukup baik menggunakan pisau, laki-laki itu memiliki standar memasak yang biasa dimiliki laki-laki yang bisa memasak, tidak buruk.
"Bakso sama sosisnya dipotongin juga ya"kata Anna.
"Hm"