
Anna merapatkan jaketnya berjalan mengikuti mamanya dibelakang yang berjalan diantara lorong rumah sakit itu.
Sebelumnya mamanya tiba-tiba kembali lagi kekamarnya dan mengajaknya untuk kerumah sakit karena ia sudah mengajak Sarah agar mengantarnya tapi Sarah dengan tegas dan tanpa takut dosa menolaknya bahkan terkesan tak peduli karena Sarah tak mengalihkan pandangannya dari layar komputer yang sedang bermain game itu.
Sang mama masuk kesebuah kamar rawat dan disalah satu ranjang diantara 6 ranjang disana ada neneknya yang sedang dirawat karena sakit dan sepertinya mamanya disuruh untuk menungguinya karena tak ada yang bisa menungguinya.
Anna berdiam mengabaikan mamanya yang sedang mengobrol dengan sang nenek, pikirannya jauh memikirkan tugasnya yang harus dikerjakan segera karena besok dikumpulkan.
"Ma, Anna pulang ya?"tanya Anna takut takut.
Mama mengalihkan pandangannya pada Anna, menatapnya kesal. "Kenapa? Bukannya kamu mau nemenin nenek juga?"tanya mama.
Kapan Anna bilang akan menemani mamanya untuk menunggu nenek? Anna hanya mengangguk saja saat sang mama mengajaknya kerumah sakit untuk ditemani perginya saja, bukan untuk menginap.
Anna hanya menunduk. Ia merasa salah dan berdosa pada ibunya, tapi jika tak mengerjakan tugas itu kapan lagi ia bisa mengerjakannya kalau mamanya saja akan menginap disini yang dimana pasti Anna yang akan menyiapkan sarapan nanti dan perjalanan dari rumah ke sekolah pasti selalu tepat dan beberapa menit sebelum bel masuk Anna masih berjalan masuk ke gerbang sekolah, membuatnya tak memiliki waktu untuk mengerjakan pr jika bukan malam ini.
"Ada pr ma"cicit Anna.
"Yaudah sana pulang aja, hati-hati dijalan mama gak bisa nganter"kata mamanya seolah tak peduli.
Anna bangkit dan menyalami mamanya dan neneknya itu dan keluar dari ruangan rawat neneknya itu.
Berjalan menunduk disetiap lorong yang dilewatinya dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata siap menangis kapan saja.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam semakin membuat Anna ingin menangis karena sudah tak ada angkutan umum yang beraktivitas yang dimana membuatnya harus jalan kaki kerumahnya.
Berjalan di lorong remang karena itu adalah lorong untuk kamar VIP dimana yang menunggu pasien berada didalam juga tidak seperti kelas 3 kebawah yang tempatnya agak sempit membuat orang-orang yang menunggui pasien harus diluar kamar.
Berhenti seketika saat merasa matanya melihat nama seseorang yang ia kenal disalah satu pintu kamar VIP itu.
Tn. Alfhazriel.
Anna menatap pintu itu dan mengintip dari celah pintu yang tak terlalu rapat itu. Entah keberanian darimana Anna membuka pintu tersebut dengan pelan dan masuk kedalam kamar rawat tersebut.
Berjalan masuk dan tiba-tiba pikirannya berpikir banyak yang punya nama Alfhazriel, bukan hanya teman sekelasnya itu membuat Anna gugup takut salah masuk kamar. Tapi karena ia penasaran Anna kembali berjalan semakin masuk dan berdiri didepan ranjang yang berisi orang yang dikenalnya.
Azriel menutup matanya diatas ranjang dengan alat bantu nafas diwajahnya. Tanpa diminta air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya jatuh tanpa sebab bersamaan dengan mata yang sedari tadi tertutup mulai terbuka dengan lemah dan bergerak menatap seseorang yang sedang berdiri disana.
Anna kembali sadar buru-buru bergegas keluar ruangan dengan mengusap air diwajahnya berlarian keluar dari rumah sakit.
"Anna"
Suara itu sangat kecil dan parau membuat alat bantu nafas itu berembun dan mata yang terbuka lemah itu kembali tertutup.
***
Paginya Anna menyiapkan sarapan untuk keluarganya setelah selesai mandi dan memakai seragam.
Semalaman Anna tak tidur karena ia sampai dirumah saat jam setengah 2 malam karena jarak rumah sakit dan rumahnya sangat jauh, untung saja Anna membawa kunci rumahnya jadi tak perlu membangunkan keluarganya.
Yang dilanjutkan mengerjakan tugasnya sampai jam 4 subuh karena tugasnya memang sangat banyak, Anna memilih tak tidur karena ia merasa tidak akan keburu untuk membuat sarapan dan pasti Anna akan bangun terlambat.
Semua anggota keluarganya satu persatu datang dan duduk di meja makan memakan nasi goreng buatan Anna dimana banyak sekali komentar yang membuat Anna merasa tak berguna karena membuat nasi goreng yang katanya tidak begitu enak.
Setelah semua anggota keluarganya pergi tinggal dirinya sendiri yang bergegas membersihkan semuanya karena jika tak bergegas Anna akan terlambat masuk kelas.
Anna berlarian menuju sekolah saat dilihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 7:15 dimana Anna sudah telat 15 menit dan Anna rasanya ingin menangis saja karena dilihat gerbang yang sudah tertutup dengan gembok dan satpam yang berjaga di pos nya.
Anna menatap sedih berdiri didepan gerbang kedalam gerbang yang disana satpam penjaga gerbang mendekatinya.
"Telat 15 menit neng, udah gak ada kesempatan neng"kata satpam itu yang sebenarnya kenal dengan Anna karena ia sering melihat Anna yang pergi keluar sekolah dengan izin dispen untuk mengikuti olimpiade.
Anna tak bisa berkata-kata karena ia memang salah.
Beberapa saat kemudian ada motor sport merah hitam berhenti disebelah Anna dan si pengemudi turun melepas helmnya dan menatap satpam yang menatapnya kesal.
"Gak ada, gak boleh masuk"kata satpam itu tegas.
Si pengendara motor itu yang ternyata Milan hanya mengangguk saja berbalik dan melihat Anna disampingnya.
Menatap Anna terkejut. "Lo? Napa masih disini?!"kaget Milan.
"Dia telat 15 menit, gak dibolehin masuk sama saya"sahut satpam yang tak peduli.
Milan menatap satpam tak percaya. "Yang bener aja pak? Dia Anna loh pak yang sering mengharumkan nama sekolah, jarang juga telat, ini pasti pertama kalinya dia telat kan? Kok gak dikasih masuk? Kasian loh pak"kata Milan panjang lebar sembari merangkul bahu Anna dan menunjukkan wajah memelas Anna.
Satpam kukuh dengan keputusannya. "Gak ada, nanti malah ngelunjak kayak kamu"
Milan tersenyum lebar dan satpam disana hanya bisa menggeleng karena sepertinya anak itu akan melakukan sesuatu sebentar lagi.
Milan memberikan kunci motornya pada satpam. "Tolong ya pak, kita mau lewat pintu lain aja karena bapak pelit. Bhay"kata Milan berjalan menuju gerbang sisi sekolah dengan menarik Anna.
Satpam hanya menggeleng. "Saya gak peduli, bodo amat"keluhnya membuka gerbang untuk memasukan motor milik Milan.
Milan membawa Anna ke gerbang samping yang dimana begitu sejuk dan sedikit gelap karena banyak sekali ditumbuhi pohon-pohon rindang yang cukup besar.
Anna menatap Milan yang dengan mudah memanjat pohon yang lebih tinggi dari gerbang tembok tebal itu dan duduk dipuncak tembok besar itu.
"Bisa manjat gak Lo?"tanya Milan.
Anna menatap ragu. "Harus manjat?"tanya Anna.
"Hu'uh, emang harus manjat dulu"kata Milan meyakinkan.
Anna menatap Milan ragu, rasanya Anna akan menambah tumpukan dosa saat melakukan ini, tapi ia sangat ingin sekolah, jadi dengan tekat tersebut Anna memanjat pohon yang tadi dipanjat Milan dengan mudah membuat Milan tercengang saat memegangi Anna yang sudah duduk diatas tembok disebelahnya.
Milan terkekeh melihat Anna yang berwajah biasa saja setelah memanjat pohon dengan mudah dan duduk diatas tembok tanpa rasa takut.
"Gue lupa kalo Lo ikut ekskul bela diri"kekeh Milan yang tiba-tiba loncat turun membuat Anna terkejut.
Milan mendarat dengan sempurna lalu menengadah mengulurkan tangannya melihat Anna yang masih ada diatas. "Ayo lompat, gue tangkap nanti"
Anna ragu takutnya ia malah membuat Milan kehilangan nyawanya karena tertindih berat badannya, atau mungkin cidera padahal Milan adalah atlet sekolah seperti Azriel.
"Ayo cepet keburu ada guru BK kesini"seru Milan kecil takut terdengar orang lain.
Anna menggeleng membuat Milan greget juga dengan gadis itu. "Lompat aja napa sih?! Cepet!! Katanya mau sekolah"
"Ayo cepet gue kuat kok!"seru Milan yang sudah kesal karena Anna yang tak loncat-loncat.
"Siapa itu?!"suara bentakan itu membuat Anna refleks melompat karena takut.
Hup. Milan berhasil menangkap Anna yang langsung mengalungkan kedua tangannya dileher Milan dengan sempurna.
Bugh. "Argh!"Milan menjerit dan mengeratkan pelukannya ditubuh Anna saat punggunya dipukul keras oleh penggaris kayu guru BK.
"Bagus ya kalian, telat malah sempat-sempatnya pacaran"kata guru BK seram.
Milan menurunkan Anna dan menatap guru BK itu dengan kesal. "Bapak ngerusak suasana aja ah"keluh Milan.
"Oh gitu? Sana lanjutin pacarannya ditengah lapang sampe istirahat!!"bentak guru BK.
Anna menatap bendera yang berkibar, ini kedua kalinya ia berdiri ditengah lapangan karena dihukum. Melirik kesamping pada Milan yang sedang berjongkok bermain dengan semut semut.
"Kalo pegel duduk aja disana yang teduh"kata Milan menunjuk ke koridor yang teduh tanpa melihat Anna.
Anna menggeleng dengan yakin karena ia tak ingin semakin terlihat seperti murid berandalan padahal kan ia anak baik-baik.
Milan menengadah menyipitkan matanya karena sinar matahari melihat kearah Anna yang masih kukuh berdiri disana tak bergerak seinci pun.
Milan ikut berdiri menatap Anna lalu terkekeh membuat Anna menatap Milan takut-takut takutnya laki-laki itu kerasukan.
"Kenapa lo telat?"tanya Milan tiba-tiba.
"Mama lagi nunggu nenek yang sakit, Anna yang harus nyiapin sarapan sama yang ngeberesin juga, terus dapet angkot yang ngetem jadinya telat"jelas Anna.
Milan mengangguk ikut menatap bendera yang berkibar. "Omong-omong si Jiel udah sadar, dan tuh bocah malah nyuruh gue masuk sekolah padahal kan gue mau nemenin dia, sialan emang"kesal Milan.
Anna diam tak tahu mau bilang apa, mau bertanya Azriel sakit apa dia tak punya hak jadi Anna memilih diam.
Bel istirahat berbunyi, Milan bergegas mengambil tasnya yang ia taruh dipinggiran lapangan sebelah tas Anna.
"Gue cabut mau liat si Jiel, bye"kata Milan pada Anna dengan cengiran berlarian kearah parkiran.
Anna menatap kepergian Milan dengan bingung. Berjalan mengambil tasnya dengan senyuman miris.
Anna iri dengan Milan yang terlihat bahagia karena akan pergi menemui Azriel sahabatnya walaupun ia bolos juga, Milan terlihat bahagia dan bebas sangat terbalik dengan Anna yang suram dan tak bahagia.
Milan dan Anna bagai siang hari yang cerah dengan cerahnya langit biru dengan beberapa awan putih disana dengan suasana ceria juga sejuk itu adalah Milan dan Anna adalah malam gelap tanpa bintang dan bulan hanya sebuah langit gelap kelabu dengan dinginnya suhu yang mencekam.
Mereka benar-benar sangat berbeda.