
Michelle, Vanessa, Fani dan Rena keempat cewek itu dibawa keruang guru kesiswaan dan hanya bisa mematung menunduk tidak berani menatap kepala sekolah dan wakilnya serta guru kesiswaan yang menatap mereka.
Kepala sekolah mendengus lelah menatap ketiga siswi yang lagi-lagi ketahuan berulah merundung siswi yang lain.
"Kalian bertiga ini gak kapok apa? Terlebih kamu Vanessa udah tau Azriel itu gak suka sama kamu kenapa kamu malah ngebully orang yang disukai Azriel?"kata kepala sekolah tak habis pikir.
Keempat siswi itu terkejut mendengarnya tidak menyangka Azriel benar-benar menyukai Anna. Dan untuk wakil kepala sekolah dan guru kesiswaan yang keduanya adalah ibu guru pun mulai saling berbisik-bisik ikut tercengang dengan penuturan kepala sekolah.
"Itu beneran?"tanya wakil kepala sekolah berbisik bersemangat pada rekan kerjanya.
"Saya juga gak tau Bu, kita harus tanya Bu Lia, Bu Lia kan asisten pak Sugeng pembimbing olimpiade nya Anna sama Azriel"sahut guru kesiswaan itu.
"Ekhm"
Keduanya langsung terdiam tersenyum canggung mengangguk menatap kikuk kepala sekolah yang menatap keduanya dengan tajam.
"Itu hanya asumsi bapak, dan kalian jangan berani-berani makin ngebully Anna karena perkataan bapak tadi"kata kepala sekolah serius memperingati ke empat siswi itu.
Kepala sekolah menatap Michelle yang terlihat tidak peduli itu, membuatnya sedikit khawatir jika siswi itu adalah jenis siswi yang bebal, yang sudah diberitahu masih saja tidak mau menurut.
"Kamu anak baru, bapak peringatkan jangan mencoba untuk mencari masalah dengan Azriel"kata kepala sekolah memperingatkan.
Michelle memutar matanya jijik sepertinya satu sekolahan ini semuanya mendukung Anna dan Azriel.
"Saya suka sama Azriel dan Anna itu ngambil perhatian Azriel dari saya"kata Michelle tak mau kalah.
Ketiga guru itu mendengus menyebalkan mendengarkan alasan Michelle, percintaan antara murid SMA itu sejujurnya cukup lebay menurut mereka, walau mereka pernah mengalaminya namun saat sudah menjadi dewasa dan sudah memiliki anak bahkan cucu memikirkannya kembali benar-benar membuat mereka merasa menyesal dan geli sendiri.
Vanessa yang mendengar perkataan Michelle itu melirik tajam cewek itu, seperti yang dirinya duga cewek itu mendekatinya dan mengajaknya untuk semakin membully Anna memang ada maksudnya.
Kurang aja nih cewek, batin Vanessa akan memberi balasan pada Michelle yang menurutnya ada udang dibalik batu.
"Sudah sudah, cowok didunia gak cuma satu gak cuma Azriel doang"kata guru kesiswaan mulai lelah dengan drama percintaan SMA ini.
"Benar sebaiknya kalian menyukai cowok lain jangan Azriel biar kehidupan sekolah damai, kalian tau kan akibatnya mengusik Azriel?"tanya wakil kepala sekolah menatap Vanessa cs.
Vanessa dan teman-temannya mengangguk mengerti dan sejujurnya mereka ngeri sendiri mengingat betapa menyeramkannya Azriel saat marah namun Vanessa yang kepalang cinta mati jadi buta akan cinta.
"Dari kejadian ini semoga kamu juga jera Michelle"kata kepala sekolah memperingati untuk terakhir kalinya.
Michelle menatap kesal kepala sekolah itu, pria tua itu pikir siapa dirinya bisa menyuruhnya untuk berhenti menyukai Azriel? Michelle yakin bahkan ayahnya lebih jauh tinggi kastanya dibandingkan pria tua kepala sekolah itu.
"Baiklah saya tidak akan menghukum kalian, dan akan menunggu keputusan ketua yayasan setelah beliau pulang kembali ke Indonesia"kata kepala sekolah mengakhiri pemanggilan keempat siswi itu tanpa memberikan hukuman dan hanya sebuah peringatan.
Vanessa dan teman-temannya membungkuk berterimakasih dan pamit pada para guru itu, lalu untuk Michelle gadis itu menatap kepala sekolah dengan kesal.
"Kau akan habis oleh papah ku"kata Michelle memberikan peringatan pada kepala sekolah.
Kedua guru yang melihatnya terbelalak tidak menyangka Michelle akan sebegitu tidak sopannya dan semakin tidak percaya melihat kepala sekolah yang terkekeh saja diancam oleh muridnya.
"Iya tentu setelah kamu habis oleh papah mu duluan karena kecuranganmu untuk olimpiade"kata kepala sekolah itu santai bahkan tersenyum.
Vanessa yang melihat tingkah Michelle pun menyeringai, dirinya tahu apa yang akan ia lakukan untuk membalas Michelle yang berani sekali mencoba memanfaatkannya.
***
"Cuma luka luar, memarnya doang yang keliatan parah tapi dalemnya kayaknya gak apa-apa, tapi kalo masih ragu nanti kerumah sakit aja ya"jelas guru penjaga UKS saat memeriksa luka Milan yang terbaring disalah satu ranjang UKS.
"Ckckck udah berapa kali Lo jadi samsaknya si Azriel?"kekeh Bisma bertanya pada Milan yang sedang mengancingkan seragamnya kembali tanpa bangkit.
Bisma sendiri bersama Rio mereka tidak langsung pergi ke kelas setelah mengantar kedua juniornya yang terluka itu ke UKS, mereka malah bolos bersantai-santai duduk diranjang kosong sebelah Milan yang terbaring.
Milan mendengus terkekeh mendengar perumpamaan Bisma itu. "Pastinya enggak sekali ini doang"jawab Milan terkekeh.
Melirik pada Anna yang sedang diobati sudut bibirnya yang berdarah dan juga pipinya yang memerah karena kena tampar Michelle.
Bisma dan Rio pun ikut memperhatikan Anna yang sedang diobati itu.
"Senior kelas 12 udah lulus, masih ada aja yang nyoba mengusik Azriel apa kalian gak pernah belajar dari pengalaman apa?"tanya guru penjaga UKS itu pada ketiga laki-laki dibelakangnya berbalik setelah selesai mengobati Anna dan menyuruh gadis itu untuk memegangi sendiri kompresan dipipinya.
"Jangan salahin kita Bu, salahin tuh cewek-cewek yang gak terima ngeliat Azriel akrab sama Anna, mana ngebully Anna tepat didepan matanya si Azriel lagi, ya mati lah tuh cewek"kata Bisma tak ingin disalahkan.
"Coba kalau gak ada gue, si Milan sama si cewek itu mungkin bisa-bisa lewat"lanjut Bisma.
"Gue setuju sama Lo kak"kata Milan menyahuti perkataan Bisma.
Rio sendiri pun setuju dengan perkataan sahabatnya itu, bisa dibayangkan jika tidak ada Bisma sekolah mereka akan masuk kedalam berita dengan judul 'kekerasan disekolah dan dua siswa meninggal dunia', bukannya melebih-lebihkan namun sepertinya memang akan kejadian jika tidak ada yang menghentikan Azriel.
"Azriel seserem itu ya?"
Ucapan Anna itu membuat UKS mendadak hening dan semua orang yang ada disana sontak menatap Anna tidak menyangka.
"Ah Lo sih pas kelas 10 ngerem mulu di kelas"kata Milan.
"Pantesan, padahal pas kalian kelas 10 bener-bener kayak pembantaian gak sih?"kata Bisma mendadak ngeri sendiri.
"Gue ngeliat langsung di TKP sampe sekarang masih suka keinget-inget"tambah Rio yang diangguki Bisma karena keduanya memang menjadi salah satu dari sekian banyaknya siswa yang berada di TKP.
"Ibu juga inget gimana kagetnya ibu harus mendadak jadi dokter spesialis UGD karena kejadian itu"tambah guru penjaga UKS ikut dalam obrolan.
Anna tidak tahu apa yang dimaksud mereka namun melihat apa yang dibicarakan mereka Anna bisa membayangkan betapa mengerikannya saat itu.
***
Dilain tempat, diruang kepala sekolah sendirian, Azriel terduduk disofa sambil melamun. Dirinya menyadari jika emosinya sering kali tidak bisa ia kontrol dan bahkan membuat Anna ketakutan.
'Azriel jangan'
Azriel mendengar suara Anna yang kecil itu yang menyuruhnya untuk berhenti namun keinginannya menghabisi orang yang melukai Anna lebih membuncah dibandingkan dengan hatinya yang menyuruhnya untuk berhenti seperti yang disuruh Anna.
Menghela nafas berat Azriel merasa lelah. Dirinya pun merebahkan tubuhnya disofa itu dan mulai menutup matanya.