
Anna tidak tahu apa yang terjadi namun dirinya merasa dirinya sudah diujung jalan kehidupan, ya dirinya merasa akan mati kapan saja.
Seluruh tubuhnya terasa sakit, terlebih kedua tangannya yang bahkan masih menancap pisau disana.
Dari pandangannya yang buram dan terasa berat itu dirinya melihat pisau yang menusuk kedua tangannya membuat Anna berpikir apa setelah ini karirnya sebagai dokter akan berakhir.
Mengharapkan yang tidak mungkin, Anna bukannya pesimis namun rasanya walau luka ditangannya sembuh tapi tetap saja akan tidak akan seperti sedia kala yang berarti Anna tidak bisa lagi menjadi dokter.
Rasanya baru sebentar Anna menjadi seorang dokter yang ia cita-citakan sejak kecil itu, dan mimpinya pun telah berakhir.
Anna jadi teringat alasannya ingin menjadi dokter karena dulu waktu kecil Anna bertemu dengan anak laki-laki yang terluka, Anna ingin sekali menolongnya tapi saat itu dirinya bahkan hanya seorang bocah bodoh yang hanya bisa menangis.
Mengingatnya membuat Anna sedikit tersenyum karena anak laki-laki itu nyatanya adalah Azriel.
Anna jadi sedikit merasa aneh kala menyadarinya bahkan sampai sudah dewasa pun Anna masih tidak percaya jika dirinya bahkan sudah sangat lama mengenal Azriel.
Tidak dari SMA tapi bahkan saat mereka masih kecil.
Semakin terasa aneh kala Anna teringat nyatanya anak laki-laki dulu itu adalah cinta pertamanya. Anak laki-laki yang terluka itu yang tidak menangis disaat dirinya terluka dan bahkan menyuruhnya untuk tidak menangis juga menjaganya saat itu.
Anak laki-laki yang dimata Anna begitu keren dan luar biasa yang membuat Anna sangat menyukainya.
Dan tanpa disadari anak laki-laki keren itu bahkan saat mereka beranjak remaja tetap bersamanya dan tetap menjaganya.
Anak laki-laki yang sekarang sudah menjadi laki-laki luar biasa yang bahkan sudah merubah rasa sukanya Anna menjadi rasa sayang dan cinta.
Laki-laki yang bahkan sampai detik terakhir tetap meraihnya dan menjaganya benar-benar membuat Anna semakin mencintainya dan juga merasa sangat bersalah diwaktu yang bersamaan.
Laki-laki yang bahkan dengan nekat ikut melompat ke jurang hanya untuk meraihnya dan jatuh bersamanya.
"Hah Anna gak tau harus bilang apa ke kamu Azriel"gumam Anna ditengah ambang kehilangan kesadarannya.
"Ngapain harus bingung? Kamu tinggal bilang 'Azriel aku mencintaimu' gitu doang susah"kekeh Azriel semakin mengeratkan pelukannya pada Anna.
Anna terkekeh saja mendengar perkataan laki-laki itu. "Kalimat indah sebelum mati huh?"
"Kenapa enggak? Aku ingin mati dalam keadaan bahagia"kata Azriel ikut terkekeh.
Anna terkekeh lagi menutup penuh kedua matanya dan menempelkan kepalanya pada dada bidang Azriel.
"Tidak, Anna tidak mau mengatakannya karena itu sedikit menyedihkan, karena Anna ingin akhir yang bahagia"kata Anna begitu lirih.
"Kalau begitu, aku saja yang bilang"kata Azriel benar-benar mengeratkan pelukannya pada Anna.
Anna sendiri diambang kesadarannya tersenyum saat mendengar perkataan Azriel.
"Aku mencintaimu Millisanna"
***
Azriel perlahan membuka matanya, mengerjapkan sesekali untuk membiasakan cahaya yang muncul, tubuhnya merasa mati rasa.
Sraakk.
Suara pintu dibuka dan memperlihatkan sang ibu yang muncul dan terlihat sangat terkejut dan juga lega.
"Ya tuhan! Nak?! Jiel?! Kamu bangun nak?!"seru ibu Azriel menangis bahagia.
"Bun.. da"
"Iya nak? Ini bunda, tunggu sebentar ya bunda panggilkan dokter dulu"kata ibu Azriel memencet tombol didekat ranjang untuk memanggil dokter.
Azriel sendiri merasa lelah dan kembali menutup matanya, dirinya bahkan tidak sempat untuk menanyakan tentang Anna. Apa gadis itu baik-baik saja?
***
"Bagaimana dokter anak saya?"tanya ayah Azriel harap harap cemas bertanya pada dokter.
"Kondisi Tn. Alfhazriel baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan"kata dokter setelah selesai memeriksa Azriel membuat kedua orangtua Azriel menghela nafas lega.
"Beristirahat penuh selama beberapa hari disini akan membuat kondisinya cepat pulih"kata dokter menjelaskan lantas pamit diikuti para perawat yang senantiasa bersamanya.
Setelah kepergian dokter kedua orangtua Azriel mendekat pada Azriel tersenyum haru menatap anak mereka yang akhirnya bangun setelah satu Minggu tak sadarkan diri setelah terjun dari tebing yang sangat tinggi.
"Syukurlah kau baik-baik saja nak"kata ayah benar-benar bersyukur.
Azriel hanya diam saja menatap kedua orangtuanya itu. "Anna, bagaimana dengan Anna?"tanya Azriel pada kedua orangtuanya.
Kedua orangtua Azriel sontak terdiam dan saling pandang terlihat sama-sama ragu namun pada akhirnya sang ibu mengatakan sesuatu yang membuat Azriel seperti terkena serangan jantung.
"Maaf nak tapi Anna dia tidak selamat"