
Spot mencuci piring disebelah kamar mandi begitu ramai oleh orang-orang yang sedang mencuci bekas sarapan mereka. Agak lama karena beberapa kelompok harus membersihkan bekas gosong atau noda membandel setelah mereka mengalami kegagalan dalam memasak sarapan membuat tempat itu sangat ramai karena mengantri.
Melissa izin sebentar menjauh dari kelompoknya untuk meminum obatnya, karena sudah waktunya. Diambilnya satu tabung kecil yang berisi tinggal dua butir pil itu, berharap dua pil itu bisa membantunya sampai kegiatan kemah berakhir.
Bruk.
"Maaf gak ngeliat, gak apa-apa kan?"kata seseorang meminta maaf langsung merasa bersalah karena tak sengaja menyenggol Melissa membuat Melissa hampir saja jatuh jika tak dipegangi sang penabrak.
Melissa tersenyum mengangguk mengatakan tak apa-apa pada cewek yang tak sengaja menyenggol nya itu.
"Gak apa-apa kok"kata Melissa tak masalah.
Selepas kepergian cewek tadi Melissa menatap nanar aliran air yang membawa dua pil obat terakhirnya jatuh hanyut entah sampai kemana.
"Yah berdoa saja agar gue gak kumat nanti"kata Melissa santai memasukan botol kecil kosong itu kembali kesakunya.
"Bisa berabe nanti, apalagi kalo ketauan si cowok dari kelas 11-1 itu"kekehnya.
***
"Kegiatan kita berikutnya mencari jejak, batas waktunya sampai jam 3 sore. Kita mulai jam 11 dan keberangkatan setiap kelompok diselang 15 menit, ada 3 jalur yang sudah kami siapkan kalian bisa ikuti petanya"jelas pembina didepan sana.
"Kalian pergi dua kelompok dua kelompok, dan satu kelompok akan pergi sendiri. Keberangkatan kelompok dan penggabungan kelompok sesuai dengan undian yang kalian dapat"tambah pembina didepan.
Para murid bubar untuk bersiap melakukan mencari jejak setelah pembina selesai menjelaskan.
Anna membawa tas ransel kecil yang berisi kotak P3K bawaannya dan dua botol air mineral kemasan yang kecil dan satunya ia taruh di saku jaketnya.
Anna rasa kebutuhan tambahannya cukup hanya itu, selainnya yang memegang adalah ketua kelompok dan orang yang dipilih oleh ketua untuk membawa beberapa benda seperti Kompas, peta dan pisau lipat kecil jika ada sesuatu terjadi atau yang menghalangi bisa menggunakan pisau lipat tersebut.
"Udah na? Ayo"ajak Intan keluar tenda menyusul anggotanya yang lain yang sudah duluan keluar.
Meninggalkan cewek-cewek dari kelompok lain yang satu tenda dengan mereka yang dimana salah satu diantara mereka yaitu Vanessa menatap licik punggung Anna yang keluar dari tenda.
"Gengs, kayaknya perkemahan ini cocok nih kalo terkenal dengan hideline 'seorang pelajar dinyatakan hilang diperkemahan ***' ya gak"kekeh devil Vanessa yang diangguki kedua temannya.
Kelompok Anna digabung dengan kelompok 14 dan mereka mendapat jalur 3 dan keberangkatan mereka ke tiga setelah kelompok 13 dan 1.
"Jangan jauh-jauh, kita harus tetap bersama, perhatikan temannya"jelas ketua kelompok 14 yang diangguki teman-temannya.
***
Anna berjalan didepan kedua teman Vanessa yang terlihat kesusahan melangkah membuat keduanya berada dipaling belakang membuat mereka berjarak agak jauh dari kelompok mereka.
Anna berhenti melihat kelompoknya yang berjalan terus tanpa menyadari kedua cewek itu. Mereka memang tak cepat dan tetap bersama-sama tapi kedua cewek itu begitu lelet dan membuat keduanya semakin tertinggal jauh.
Anna yang kebagian peta tambahan pun berinisiatif menunggu kedua cewek itu tanpa mengatakan kalau ia akan menunggu kedua cewek itu.
"Gila capek banget, masih jauh apa?"keluh Rena salah satu dari cewek itu saat keduanya sampai ditempat Anna menunggu.
"Masih agak jauh, ayo kita udah ketinggalan"ajak Anna memberikan semangat untuk keduanya.
"Sini biar gue aja yang pegang petanya"rebut Fani dan mendahului Anna diikuti Rena.
Anna hanya membiarkan saja, mengikuti kedua cewek itu dari belakang tak terlalu jauh karena ia tak ingin tersesat.
Berjalan terus sampai tiba-tiba Rena meminta hal yang tak masuk akal. "Gue pengen buang air temenin gue dong" Ketiganya pun berbelok dari jalur untuk mencari tempat untuk buang air.
"Gue juga tiba-tiba pengen ikut buang air, kita berdua aja maju terus Lo tunggu sini aja jagain kita oke"kata Fani yang diangguki Anna mengerti.
Anna memperhatikan kedua cewek itu yang semakin jauh kedalam rerumputan tinggi untuk buang air dan Anna memilih duduk disebuah batu tak jauh darinya meminum air yang ia simpan disaku jaket dan habis karena tinggal sedikit.
Tanpa menyadari Fani dan Rena yang diam-diam pergi begitu saja tanpa buang air meninggalkan Anna yang dengan posisinya disana membuat keduanya tak terlihat jika berpindah sedikit saja.
Keduanya kembali ke jalur tanpa disadari Anna dan berjalan sampai kedua jalur yang disana ada Vanessa menunggu mereka.
"Gimana?"tanya Vanessa.
"Beres"kata Fani senang.
"Oke. Cepet ubah tandanya kita harus pergi sekarang juga"kata Vanessa.
Keduanya pun mengangguk dan Rena membalik panah petunjuk itu kejalur yang salah dan ketiga melewati jalur yang sebenarnya.
Anna merasa kedua cewek itu sudah terlalu lama jika hanya untuk buang air kecil. "Fani? Rena?"seru Anna sembari berjalan menuju tempat yang sekiranya memperlihatkan keberadaan kedua cewek itu.
Anna memelankan langkahnya saat merasa ada yang salah dengan jalurnya. Ini seperti bukan jalur yang seperti biasa digunakan untuk para peserta perkemahan mencari jejak karena banyak rumput panjang seperti jarang terinjak orang.
"Salah jalan apa?"gumamnya mulai ketakutan Anna benar-benar tersasar.
Dilihat sekelilingnya hanya pohon-pohon besar dan rerumputan yang tinggi dan entah sejak kapan jalan setapak samar tadi sudah tak ada. Anna benar-benar tersasar.
Refleks mengeluarkan ponselnya dan bagus sekali tak ada sinyal dengan ponselnya yang lowbat.
Sendirian dihutan belantara tanpa apapun, tanpa teman, sendirian, tanpa peta dan buta kompas membuat Anna luar biasa sial.
Ingin berbalik kejalan sebelumnya yang ada tanda panah tadi untuk melewati jalur yang tak ditunjuki tanda panah tapi tak bisa karena disetiap mata memandang semuanya sama, Anna benar-benar tersesat.
Ingin menangis saja rasanya. Perkemahan pertamanya tak akan pernah terlupakan karena ia tersesat dan entah bisa selamat atau tidak.
***
Azriel dengan kelompoknya–kelompok 13 dan 1–sampai, kembali ke tempat mereka berkemah dengan selamat dan tepat waktu sebelum menjelang magrib.
Langsung terduduk karena kelelahan, tapi tidak dengan sang ketua OSIS yang merangkap menjadi ketua kelompok mereka kali ini juga, menghitung satu persatu wajah anggota kelompoknya dan benar saja seperti dugaannya satu hilang.
"Kemana Vanesa?!"tanya Dilan kesal karena cewek itu kembali berulah.
"Eh?!"seorang cewek dari kelompok 1 yang berjalan dibelakang terkejut mendengar suara bentakan Dilan.
"Gue kira dia dibelakang gue daritadi!?"histeris cewek itu karena merasa salahnya Vanesa tak bersama dengan mereka. Karena sejak awal gadis itu yang bersama Vanesa berjalan dibelakang yang lain.
Dilan mengumpat lelah. "Dia bawa peta kan?"tanya Dilan mencoba tak terbawa emosi kesal dan khawatir salah satu anggotanya hilang.
Cewek itu mengangguk. "Iya dia yang bawa peta kelompok gue"jelas cewek itu.
"Yaudah gue lapor dulu ke pembina nanti biar mereka yang handle"kata Dilan lelah berjalan menuju pembina untuk melapor salah satu anggotanya tak ada, diikuti beberapa anggota yang juga ikut siapa tahu mereka bisa membantu.
Begitu juga Azriel dia ikut bangkit tapi dengan tujuan berbeda, ia ingin mencari Milan entah kenapa perasaannya tak enak dan ingin mengutarakannya pada sang sahabat.
Berjalan menuju pos pembina yang terlihat serius disana karena ada kelompok 7 yang kelompok tunggal yang berangkat pertama ke jalur 1 dan semakin tegang karena salah satu cewek kelompok itu menangis histeris dan satu pria yang merupakan Milan terlihat kacau.
"Ada apa lagi ini?"tanya salah satu guru pembina melihat kedatangan beberapa murid lainnya.
"Orang hilang lagi?"lanjutnya dengan lelah karena tiba-tiba diserang migrain karena anggukan Dilan yang mengiyakan pertanyaannya.
"Ya Tuhan"lelah guru pembina itu. "Siapa dan bagaimana?"lanjutnya.
"Vanesa, dia berjalan terus dibelakang tanpa sadar dia tertinggal"lelah Dilan merutuki sikapnya yang memang tak peduli dengan cewek menyebalkan itu yang semakin menyebalkan karena cewek itu malah hilang.
"Tapi pak dia pegang petanya, Vanesa juga jago baca peta"tambah cewek yang berjalan dibelakang bersama Vanesa saat mereka mencari jejak.
Guru pembina itu mengangguk mengerti. "Kita tunggu kelompok terakhir datang dulu, siapa tahu mereka bersama dua orang hilang itu setelahnya kita akan mencari mereka"jelas guru pembimbing itu.
"Tapi pak!–"seruan tak terima Milan terpotong karena guru pembina masih kukuh dengan keputusannya.
"Tunggu sebentar Milan, siapa tahu Melisa dari kelompok kalian juga bersama dengan kelompok itu"
Milan meremat botol kecil kosong ditangannya dengan kuat. Hatinya gundah sangat khawatir Melisa bisa saja kumat karena cewek itu tak meminum obatnya dari pagi apalagi gadis itu tak memegang peta.
"Lo udah minum obat Lo?"tanya Milan yang menghampiri Melisa ditenda sang gadis.
Melisa menggeleng terkekeh membuat Milan tak percaya. "Obatnya habis, terakhir gak keminum, jatuh kesenggol orang"jelas Melisa memperlihatkan botol kecil obatnya yang kosong, menggoyangkannya didepan wajah Milan.
Melisa terkekeh melihat wajah Milan yang begitu kentara mengkhawatirkannya itu membuatnya tertawa.
"Tenang aja, gue gak apa-apa. Nih buat Lo aja gue gak butuh"tawa Melisa memberikan botol obat kosong itu pada Milan.
"Sialan"desis Milan mengingat kejadian itu membuatnya semakin khawatir.
Tepukan dibahu membuat kesadaran Milan kembali dan melihat Azriel disebelahnya.
"Melisa ilang? Gimana?"tanyanya yang diangguki Milan.
"Satu cewek lain dikelompok gue ada yang gak sengaja kakinya kegores sesuatu sampe berdarah-darah, kita panik buru-buru balik karena gak bisa berhentiin pendarahannya sampe gak sadar Melisa gak ada"jelas Milan meringis mengingat tingkah gobloknya saat itu.
Azriel meringis mendengarnya tanpa sadar rasa khawatirnya semakin menggila karena kelompok terakhir datang dengan tergesa-gesa dengan wajah tegang yang kentara dengan ketakutan juga khawatir kearah mereka apalagi saat Azriel melihat Vanessa bersama kelompok itu dan seseorang yang dikhawatirkannya tak ada diantara mereka.
"Anna dari kelompok kami hilang pak!"seru Putri sudah hampir menangis.