
Ada yang membuat Michelle sudah meradang emosi padahal masih pagi yaitu saat dirinya melihat Azriel yang datang dengan Anna diboncengan laki-laki itu dimana semua orang di SMA Arya tahu jika laki-laki itu anti memberikan tumpangan pada siapapun terlebih pada cewek.
Dan lagi semakin kesalnya Michelle saat dirinya mengetahui jika Anna menggunakan jaket milik Azriel yang bahkan Azriel sendiri memakai jaketnya yang lain membuat Michelle berpikir Azriel sampai membawakan jaket untuk Anna.
Sialan, keliatannya aja sok sokan gak deket tapi apaan deket banget ternyata, geram Michelle melihat Anna yang sudah ada dikursinya sedang melipat jaket yang tadi dipakainya.
"Pagi Michelle"sapa Anna tersenyum saat melihat Michelle yang datang.
Pake nyapa senyum-senyum segala lagi mau sombong Lo habis berangkat bareng Azriel, kesal Michelle dalam hati dan duduk dikursinya begitu saja bahkan sampai tidak melirik sama sekali benar-benar mengabaikan Anna.
Anna yang dibegitukan mendadak terdiam juga murung dan merasa malu.
Harusnya gak usah sok deket kamu Anna, batin Anna meringis.
Salah satu penyebab Anna jarang menyapa orang atau memulai obrolan dengan orang lain karena ia takut akan diabaikan apalagi dimarahi karena dianggap mengganggu mereka.
Ya seperti ini. Membuat Anna sadar kembali jika dirinya ini dibenci oleh teman-temannya, harusnya ia tidak terlena dengan kedekatannya dengan Melisa yang bisa membuatnya merasa diterima namun yang menerimanya hanya Melisa dan yang lainnya tidak.
Tidak apa-apa Anna, kau bisa mencobanya lain kali, sekarang kau harus fokus belajar untuk olimpiade nanti agar bisa mendapatkan juara pertama dan membuat mama papa gak marah lagi sama kamu, batin Anna menyemangati dirinya.
***
Jam istirahat, Melisa yang melihat Anna lagi-lagi memasuki mode tempur untuk olimpiade pun hanya menghampiri dan memberikan Snack bar lagi untuk temannya itu.
"Lo bener-bener harus juara satu loh ya, usaha Lo ini gak boleh sia-sia"kata Melisa sangat mendukung untuk kesuksesan Anna di olimpiade kali ini.
Anna tersenyum mengangguk mengepalkan kedua tangannya bersemangat. "Iya pasti"kata Anna percaya diri.
Melisa melihatnya pun ikut bangga. "Kalo gitu gue ke kantin ya, harus semangat"kata Melisa ikut mengepalkan kedua tangannya memberi semangat.
"Semangat!"balas Anna semangat.
Membalas lambaian tangan Melisa dan memperhatikan gadis itu sampai tidak terlihat lagi membuat Anna tersenyum.
Dirinya senang ada yang menyemangatinya seperti ini membuatnya semakin percaya diri jika dirinya akan mendapatkan juara satu kali ini.
Serius dengan belajarnya sambil memakan Snack bar pemberian Melisa, Anna begitu bersemangat.
Sreet bruk.
Mengangkat wajahnya dari buku dan mendapati Azriel yang duduk dikursi Michelle dengan tubuhnya mengarah ke Anna melipat kedua tangannya diatas meja Anna merasa nyaman dengan permen tongkat di mulutnya.
"Kenapa?"tanya Anna ragu-ragu karena lagi-lagi laki-laki didepannya ini benar-benar tidak tertebak.
Azriel tidak menjawab namun tangannya menaruh sesuatu yang sedari tadi ia bawa, roti cokelat dan susu strawberry yang sering ia lihat dimakan Anna setiap jam istirahat.
Namun tidak sama persis karena roti cokelat itu nyatanya berasal dari toko roti mahal dan terkenal di ibukota dan jika biasanya Anna hanya memakan satu si laki-laki memberinya lima buah roti sekaligus begitu juga susu kotak rasa strawberry nya yang jumlahnya sama dengan rotinya.
"Ini apa?"tanya Anna karena mejanya jadi terasa sempit dan penuh karena bawaan Azriel itu.
"Buat Lo"kata Azriel santai seraya menggigit permen tongkatnya dan mengunyahnya.
Anna merasa ngilu sendiri mendengar suara yang dihasilkan permen yang dikunyah itu. Menggeleng tak habis pikir Anna pun mengambil masing-masing dua dari roti dan susu kotak itu dan sisanya ia simpan di loker kecil miliknya yang ada dikelas.
Azriel memperhatikan saja pergerakan Anna itu dalam diam sampai gadis itu kembali ke tempat duduknya seraya menyodorkan satu roti dan susu kearahnya.
"Makasih buat roti sama susunya"kata Anna membuka roti bagiannya sendiri.
Azriel mengangguk mengerti seraya menancapkan sedotan pada susu kotaknya dan meminumnya.
"Lo tetep lanjut les nanti?"tanya Azriel tiba-tiba membuat Anna melambatkan kunyahannya seraya mengangguk polos.
Azriel menatap datar gadis dihadapannya itu, dari ekspresi polos disana benar-benar tidak terlihat ekspresi seperti trauma karena kejadian percobaan penjambretan kemarin malam yang dialami gadis itu membuat Azriel mendengus tak habis pikir.
"Gue anter sama jemput Lo nanti"kata Azriel santai sembari meminum susu strawberry nya.
Anna yang mendengarnya sontak menggeleng menolak merasa tak enak karena merasa selalu merepotkan Azriel.
"Gak usah Anna kan–"
"Kaki Lo luka"potong Azriel santai.
Anna semakin menggeleng dan langsung berdiri dari duduknya untuk meyakinkan Azriel jika dirinya baik-baik saja.
"Udah sembuh liat"kata Anna sembari melompat-lompat disana dispace antara barisan kursi.
Melihat Azriel yang masih tidak percaya itu membuat Anna semakin berusaha meyakinkan laki-laki itu.
"Beneran gak apa-apa loh, liat nih. Hiyat! hiyat!"
Anna bahkan sampai melakukan tendangan samping dan tendangan sayatan miliknya agar Azriel percaya dan untuk semakin membuat laki-laki itu percaya Anna sampai melakukan split dilantai kelas.
"Liat gak apa-apa kan?"kata Anna menanggah menatap Azriel berharap laki-laki itu percaya jika dirinya baik-baik saja.
"Pfft!– hahaha"Azriel disana malah tertawa terbahak karena kelakuan random Anna itu.
"Gimana? Anna udah gak apa-apa tau"cicit Anna karena Anna benar-benar malu.
Tawa Azriel perlahan mereda dan mengangguk mengiyakan biar cepat dan merasa kasihan juga melihat Anna yang memberengut merasa malu.
"Tapi gue tetep bakal anterin Lo juga jemput Lo"kata Azriel masih kukuh dengan keputusannya itu.
Anna yang kelelahan dan meratapi rasa malunya hanya bisa mengangguk saja, dirinya sudah mempermalukan diri tapi Azriel tetap kukuh ya mau bagaimana lagi.
Keduanya tak menyadari sosok tiga perempuan yang berdiri diambang pintu kelas belakang terlebih satu perempuan yang berdiri ditengah menatap penuh permusuhan pada perempuan yang ada dikelas dan terlihat asyik dengan Azriel disana.
Vanessa orangnya. Tadi pagi sebenarnya dirinya sudah ingin melabrak Anna begitu dirinya syok melihat Anna yang datang tadi bersama Azriel di boncengan motor cowok itu yang jelas-jelas satu sekolahan tahu jika Azriel anti sekali memberi tumpangan pada siapapun apalagi cewek.
Tapi Anna cewek itu tadi pagi datang bersama Azriel, duduk nyaman diboncengan cowok itu.
Sedangkan dirinya, Vanessa yang pernah mencoba untuk meminta Azriel mengantarnya pulang cowok itu langsung menghempaskannya begitu saja mengenyahkan dirinya dengan kasar.
Bahkan sekarang Azriel terlihat sangat ramah bahkan tertawa terbahak saat bersama Anna membuat Vanessa benar-benar iri.
Mengepalkan kedua tangannya menggertak giginya menahan kesal Vanessa bertekad. "Tuh cewek bener-bener cari masalah sama gue, liat aja nanti"kesal Vanessa begitu kesal Anna mulai semakin menjengkelkan.
Berputar begitu saja berbalik dan berjalan pergi dengan perasaan kesal dari kelas 11-3, Vanessa benar-benar akan membuat perhitungan dengan Anna.
Millisanna akan habis ditangannya.
***
Dikantin Milan yang sendirian karena tidak ada Azriel ditemani oleh Melisa yang lagi-lagi gadis itu dengan santai duduk dimeja khusus para most wanted sekolah itu.
"Lo itu gak punya temen apa? Kesini mulu"kata Milan sebal selalu melihat Melisa setiap jam istirahat.
Meminum jus melonnya Melisa menatap Milan. "Gak punya gue, sejak gue deket sama Anna temen-temen yang gue kira bestie pada ngejauh"kata Melisa santai.
Milan menatap Melisa tidak suka. "Jadi Lo nganggep Anna penyebab Lo gak punya temen? Jahat bener Lo"kata Milan karena yang ia tangkap dari kalimat Melisa adalah gadis itu menyalahkan Anna karena kehilangan teman-temannya.
Melisa yang mendengarnya terkekeh lucu. "Kagak lah, malah gue merasa senang karena temenan sama Anna itu gak toxic, nyaman gue sama Anna"kata Melisa santai.
Milan mengangguk saja, dirinya salah kira ternyata.
"Hei gue boleh duduk disini lagi?"tanya Michelle yang meminta izin namun langsung duduk saja.
Yaelah si bunglon, batin Milan dan Melisa bersamaan.
Bilang saja jika mereka sangat peka. Dan mengetahui jika Michelle memiliki niat terselubung mendekati mereka terlebih Anna adalah hal mudah untuk mereka.
"Kalian berdua doang? Kemana Azriel?"tanya Michelle.
Nah niat sebenarnya terlihat, batin Milan dan Melisa lagi bersamaan.
"Bener juga tumbenan Lo sendiri, gue baru sadar"kata Melisa terlihat membantu Michelle membuat Michelle kesenangan.
Jadi Michelle tidak perlu khawatir jika sahabat Azriel itu mencurigainya jika dirinya ingin dekat dengan Azriel.
Milan memutar mata jengah melihat tingkah Melisa, jelas-jelas gadis itu sejak awal tahu jika dirinya sendirian.
Namun Milan merasa cukup tertarik untuk meladeni Michelle ini.
"Tau nih tadi pas keluar kelas gue liat tuh orang keliatan buru-buru ke gerbang depan diajakin kekantin tapi dia nolak yaudah gue ke kantin sendirian"kata Milan.
"Ngapain ke gerbang depan?"tanya Michelle begitu penasaran.
Melisa yang melihat keantusiasan Michelle pun hanya mendengus samar.
"Ngambil roti sama susu dari asistennya buat—"jawab Milan.
"Kok Lo tau? Azriel ngasih tau Lo?"tanya Melisa kali ini memotong perkataan Milan.
Menggeleng Milan menatap Melisa untuk menjawab pertanyaan gadis itu. "Asisten tuh orang satu orang yang sama sama asisten gue, asisten gue yang ngasih tau"kata Milan santai.
Ya sebenarnya asisten yang dimaksud Milan adalah seorang kakak laki-laki hebat yang menjadi tangan kanan Azriel, Milan bahkan Arjuna.
"Buat siapa?"tanya Michelle sepertinya telinganya begitu tajam jika semuanya tentang Azriel.
Milan beralih kembali ke gadis itu lantas dengan santai menjawabnya. "Anna, Anna kan suka tuh sama roti sama susu"
Melisa yang mendengarnya mengangguk setuju. "Bener, roti cokelat sama susu strawberry tuh anak paling demen"tambah Melisa.
"Pantes ya pipinya chubby gitu"kekeh Milan yang suka melihat pipi berisi Anna yang sangat imut.
Melisa mengangguk mengiyakan dengan semangat. "Kan kan, gue kalo liat pipi dia jadi keinget mulu sama ponakan bayi gue, pipi mereka sebelas dua belas"kekeh Melisa.
Keduanya pun bersemangat membicarakan betapa imutnya Anna mengabaikan Michelle disana yang memendam emosi amarah iri bahkan meradang mendengar jika Anna benar-benar diperhatikan oleh Azriel.