Millisanna

Millisanna
Bab 38



Selesai di akuarium mereka menyempatkan untuk mengunjungi toko suvenir disana. Banyak sekali barang-barang yang berhubungan dengan laut dan ikan-ikan disana.


Anna mengikuti saja kelompoknya sambil melihat-lihat semua barang yang dijajakan, dirinya tidak berniat untuk membeli sesuatu.


Walau dirinya lama berdiri didepan kumpulan boneka berbentuk hewan laut tidak ada keinginannya untuk memberikan teman untuk koala biru berhidung ungu yang menjadi boneka satu-satunya miliknya itu.


Walau boneka paus berwarna ungu disana terlihat sangat bagus namun Anna memilih untuk tidak membelinya.


Berbalik melihat teman-teman nya mereka sibuk sendiri melihat-lihat dan ada yang berpikir untuk membeli satu atau dua barang dari toko suvenir.


Sampai matanya melihat kearah Michelle yang masih berusaha keras mendekati Azriel didepan rak yang memajang berbagai jenis mug disana.


Anna tersenyum, dalam hati menyemangati Michelle agar rasa suka gadis itu tidak bertepuk sebelah tangan.


Walau ragu karena melihat Azriel yang super duper cuek pada Michelle itu namun Anna tidak menyerah untuk mendoakan agar cintanya Michelle terbalaskan.


***


Mereka mengakhiri tour taman bermain mereka setelah dari toko suvenir akuarium. Merasa puas dan senang karena mereka menaiki semua wahana yang ada.


Pass card yang diberikan Jihan dan hadiah dari game di acara kemah waktu itu membuat mereka tak perlu mengantri dan bebas menaiki wahana apapun.


"Oke semuanya thanks buat hari ini"senang Jihan pada teman-temannya.


"Harusnya kita-kita gak sih yang bilang makasih ke elo"kata Saman yang memberi aba-aba untuk yang lainnya.


"Satu dua–"


"Makasih Jihan!"semua anggota kelompok Anna dengan bersamaan berterimakasih dengan sangat tulus pada Jihan.


Jihan tersenyum bahkan sampai berakting menangis terharu. "Oh my God! Gue terharu"katanya berakting mellow.


Anna hanya terkekeh melihat tingkah Jihan itu.


Mereka pun satu persatu membubarkan diri, ada yang menggunakan kendaraan pribadi masingmasing dan ada juga yang ngikut seperti saat pergi tadi.


Anna yang menggunakan kendaraan umum tentu saja langsung memesan melalui aplikasi online. Satu persatu dari mereka sepakat untuk pulang dengan siapa siapanya.


Begitu juga Michelle gadis itu yang tadi datang kemari dengan diantar kakaknya kali ini dirinya berniat pulang dengan meminta diantarkan oleh Azriel yang setahunya datang kemari sendirian menggunakan motornya.


Dirinya bahkan menolak ajakan Vanesa yang membawa mobil itu yang kata cewek itu masih ada kursi yang kosong di mobilnya.


Baru saja akan menepuk bahu dan memanggil Azriel namun lagi-lagi diabaikan dengan si laki-laki yang berjalan menuju Anna disana yang sibuk dengan ponselnya.


Sibuk dengan ponselnya Anna akan segera memesan taksi online namun terinterupsi oleh Azriel yang datang dan menyodorkan belanjaan si laki-laki dari toko suvenir itu. Boneka paus berwarna ungu dengan ukuran yang paling besar yang ada di toko suvenir tadi.


"Buat Lo"kata laki-laki itu langsung.


"Ya?"Anna dibuat syok mendengarnya. Anna kira boneka itu untuk adik atau kakak atau pun pacar Azriel itu sendiri tapi nyatanya benar-benar membuat Anna terkejut.


"Beneran?"tanya Anna ragu.


Melihat Azriel yang mengangguk serius pun dengan ragu Anna menerimanya dan tak lupa berterimakasih pada laki-laki itu.


"Pulang pake apa Lo?"pertanyaan yang lagi-lagi membuat Anna terkejut.


"Mesen taksi Anna"jawab langsung Anna.


Azriel mengangguk mengerti, dirinya tadinya ingin mengajak Anna untuk pulang bersamanya namun melihat hari semakin malam dan udara akan menjadi dingin dimalam hari apalagi menggunakan motor Azriel jadi merasa tak enak.


Azriel pun berdiri disebelah Anna menunggui gadis itu sesekali mengangguk dan mempersilahkan teman-teman mereka yang pamit pulang duluan.


Tersisa hanya Anna, Azriel dan Michelle disana. Anna pun untuk memecah keheningan bertanya mengenai Michelle yang belum pulang.


"Kamu juga nunggu taksi atau jemputan?"tanya Anna.


Michelle yang merasa kesal pada Anna karena sejak masih didalam taman bermain selalu diperhatikan Azriel sampai dibelikan sesuatu itu pun berdecak kecil menjawab pertanyaan Anna dengan tidak niat.


"Jemputan"jawab Michelle sewot.


Anna mengangguk saja tak akan mencoba mengajak berbicara Michelle lagi karena sepertinya gadis itu sedang badmood karena jemputannya lama datangnya.


Azriel yang berdiri disamping Anna yang lain melirik Michelle dengan datar, berpikir keluar juga sosok asli cewek itu.


Beberapa saat kemudian mobil online yang dipesan Anna datang duluan sebelum jemputan Michelle membuat Anna berpamitan pada Azriel dan Michelle yang sepertinya keduanya akan pulang bersama dan dengan baik hati menemaninya sampai dirinya pulang.


"Michelle Anna duluan ya, Azriel juga, makasih bonekanya"kata Anna senang berpamitan pada keduanya.


Michelle memutar mata malas dan Azriel mengangguk tersenyum tipis dan dalam hati berkata hati-hati.


Azriel melihat Michelle yang terlihat sangat kesal disana sambil menatap layar ponselnya itu.


"Kalo jemputan Lo masih lama bareng gue aja"kata Azriel dengan setengah hati karena jika dirinya meninggalkan cewek itu sendirian disini membuatnya kepikiran.


Michelle yang mendengarnya berbinar bahagia, senyumannya bahkan sangat lebar.


Tin tin.


Keduanya sontak menoleh kearah yang sama pada sebuah mobil sedan yang membunyikan klakson dan dilihat si pengemudi menurunkan kaca depan dan si pengendara memanggil nama Michelle.


"Michelle mau pulang gak?!"seru kakak Michelle disana sangat keras agar didengar adiknya disana.


Michelle memberengut kesal mengutuk sang kakak yang muncul di timing yang sangat buruk.


Dasar kakak nyebelin! Padahal gue hampir aja bisa pulang bareng Azriel, batin Michelle kesal.


Melihat jemputan si cewek sudah datang, Azriel pun dengan tak ragu pamitan dan berjalan menuju tempat motornya diparkir.


"Yaudah kalo gitu gue duluan"kata Azriel singkat berbalik meninggalkan Michelle.


***


Anna sampai dirumah saat matahari sepenuhnya telah terbenam, mengucapkan salam dan dibalas oleh orangtuanya yang ada dilantai bawah.


Sang ayah duduk menonton tv diruang tengah dan sang ibu yang terlihat sedang mencuci piring bekas makan malam mereka.


Anna menyalami mereka dengan berpikir mungkin dirinya tidak akan makan malam, karena dilihat semua makanan sudah habis lagipun dirinya tidak nafsu makan jadi tidak masalah.


Berbalik menaiki tangga tanpa pertanyaan dari orangtuanya mengenai harinya Anna berpikir dirinya akan segera mandi membersihkan dirinya karena rasanya begitu lelah.


Selesai mandi dan sembahyang Anna yang menyempatkan diri duduk di meja belajarnya dan memeriksa ponselnya memekik tertahan saat melihat banyak sekali notifikasi penarikan dari nomor rekeningnya.


Dilihat jumlah sisa uang yang ada ditabungannya semakin membuatnya syok bahkan matanya mulai memanas, jerih payahnya dalam menabung sejak masih SMP tiba-tiba hilang begitu saja.


Tabungan yang ia kumpulkan untuk masa depannya lenyap tanpa sebab.


Menyadari kartu ATM nya yang ia simpan diatas meja belajar begitu saja tidak ada disana membuat Anna langsung memeriksa kolong meja bahkan ranjang memeriksa jika saja kartu tersebut terjatuh namun tidak ada.


Menatap kosong kedepan Anna benar-benar ingin menangis rasanya.


Kresek kresek.


Melirik tembok yang menjadi penyekat antara kamarnya dan Sarah saat mendengar suara ramai dari seseorang yang seperti sedang membuka sesuatu membuat Anna menjadi berburuk sangka pada adiknya.


Berjalan keluar kamar dengan perasaan marah dan kesal dirinya pun langsung membuka pintu kamar Sarah begitu saja dengan keras dan perasaan marah dan kesalnya semakin menjadi saat dirinya yakin yang menggunakan kartu ATM nya adalah Sarah adiknya sendiri.


Disamping adiknya itu tergeletak kartu ATM miliknya itu. Merasakan jantungnya mendadak sakit saat melihat barang-barang yang sedang diunboxing oleh adiknya itu.


"Kamu pake uang kakak buat beli itu semua hah?!"teriak Anna benar-benar kesal dan sakit hati sampai rasanya dirinya ingin menangis.


"Kamu gila hah?!"jerit Anna lagi benar-benar tak tahu harus bagaimana lagi.


Sarah sendiri hanya bisa terdiam menunduk walau tidak merasa menyesal sedikitpun dirinya hanya terkejut mendengar bentakan Anna.


"Ada apa sih pulang-pulang teriak-teriak?!"kata ibu yang muncul diikuti ayah dan juga kakak dan adik bungsu Anna.


"Itu Sarah pake uang Anna buat beli itu semua!"adu Anna yang sudah menangis histeris, dirinya benar-benar putus asa, tabungannya untuk masa depannya habis karena kegilaan Sarah yang dengan gilanya menggunakan uang miliknya untuk membeli barang-barang yang diinginkannya.


Plak.


Tangis Anna mendadak berhenti dan hanya tersisa isakan yang tertahan karena dirinya di tampar oleh ayahnya.


"Gak usah lebay kamu! Gak usah di besar-besarin! Itung aja ini kamu nraktir adik kamu itu! Apa sih make nangis segala, jijik tau gak!"marah ayah pada Anna.


Anna menggigit bibir dalamnya kuat menunduk tak berani menatap ayahnya yang murka.


"Lain kali kamu gak usah pake uang kakakmu itu! Dia pelit! Minta aja ke ayah atau ke mama"kata ayah ke Sarah yang diangguki Sarah patuh.


"Nih ambil! Bawa aja sana sampe kamu mati!"kata ayah yang saking kesalnya dengan kelakuan Anna melemparkan kartu ATM milik Anna ke wajahnya.


Anna memungut kartu atm-nya itu dengan gigitannya yang semakin kuat didalam mulutnya untuk menahan tangis nya sampai ia rasakan ada rasa amis disana.


Pergi ke kamarnya dengan menunduk tak ingin melihat wajah wajah keluarganya.


Menutup pintu bahkan menguncinya Anna menjatuhkan diri ke ranjangnya dengan telungkup menangis dengan memeluk boneka pausnya untuk meredam suara tangisnya.


Menangis keras disana mengutuk dirinya sendiri yang semakin menghancurkan kehidupannya.