
Azriel membuka matanya secara perlahan dan bisa ia rasakan basah diwajahnya dan air mata masih mengalir dari kedua matanya, Azriel menangis dalam tidurnya.
Mengusak air matanya Azriel menghela nafas, dirinya belakangan ini selalu saja tidak bisa tidur namun malam ini dirinya merasa sangat mengantuk dan jatuh tertidur begitu saja dan mengalami mimpi yang aneh namun membuat perasaannya lega sampai dirinya menangis.
Azriel bertemu Anna dalam mimpinya. Gadis itu datang dan mereka pun mengobrol banyak, dan yang paling penting dirinya sudah meminta maaf pada Anna dan Anna pun memaafkannya, semua masalah dimasa lalu mereka semuanya terselesaikan dalam mimpi itu.
Yang membuat Azriel tidak bisa berhenti tersenyum diakhir mimpinya Anna mengatakan jika gadis itu pun mencintainya.
Sedikit merasa aneh karena gadis itu hanya berani berbicara didalam mimpi namun saat dikenyataan gadis itu mengelak membuat Azriel sedikit ragu jika Anna tidak memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.
Dan lagi itu hanya sebuah mimpi, hanya bunga tidur yang biasanya hadir karena keinginan bawah sadar si pemimpi yang berarti mimpi itu hanya keinginan terbesar Azriel yang begitu ia inginkan sampai ke bawa mimpi.
Membuat Azriel menghela nafas lelah. Dirinya kembali ke kenyataan dan kenyataannya adalah Anna bahkan belum sadar dan terbangun setelah hampir satu tahun lamanya.
Ya benar satu tahun. Sudah hampir satu tahun sejak kejadian dan Anna masih dinyatakan koma dan bahkan tidak ada tanda-tanda untuk sadar dan terbangun.
Mengingatnya membuat Azriel kembali merasakan frustasi. Apalagi yang harus ia lakukan untuk membuat Anna bangun?
Dokter bilang Anna mengalami mati otak yang berarti secara tidak langsung Anna sudah meninggal namun Azriel dengan kukuh meminta dokter untuk tetap menyambungkan semua alat penunjang kehidupan untuk Anna.
Azriel pun melewati hal yang begitu menegangkan dalam hidupnya dan itu terjadi saat 3 bulan pas Anna dirawat.
Orangtua Anna datang dan mengatakan akan mengikhlaskan Anna karena dokter mengatakan Anna tidak akan bisa bangun lagi karena Anna mengalami mati otak.
Azriel yang mengetahuinya dan saat itu dirinya sedang melakukan rapat penting Azriel langsung pergi begitu saja menuju rumah sakit meninggalkan rapat pentingnya untuk menghentikan orangtua Anna yang hendak mengikhlaskan anaknya itu.
"Tunggu sebentar ibu Anna, tolong pikirkan lagi, mungkin saja masih ada harapan untuk Anna sadar"kata Azriel yang datang terlihat berantakan dengan nafas yang tersengal-sengal karena berlari itu.
Ibu Anna sendiri hanya menatap sosok Azriel dan dirinya ingat jika laki-laki dewasa dihadapannya ini adalah anak remaja yang dulu menjadi alasannya untuk selalu memaksa Anna untuk menjadi yang terbaik dan mengalahkannya.
Membuatnya teringat bagaimana kejamnya dirinya pada Anna saat Anna tidak memenuhi harapannya yang selalu kalah oleh Azriel itu, membuat wanita itu mulai menangis.
"Hiks.. Anna sudah sangat menderita selama ini, aku tidak mau lagi membuat anakku kembali merasakan penderitaan"kata ibu Anna dengan tangisannya.
Azriel terdiam mendengarnya ia sedikit tahu jika dulu Anna begitu berambisi menjadi nomor satu dan begitu ingin mengalahkannya dan itu karena orangtuanya si gadis.
Brukk.
Ibu Anna yang sedang menangis itu terkejut sendiri melihat Azriel yang berlutut menunduk memohon padanya agar tidak melepaskan alat-alat penunjang kehidupan yang ada pada Anna.
"Aku mohon tante, aku harus meminta maaf secara langsung pada Anna. Aku sudah sangat begitu bersalah dan selalu menyebabkan masalah untuknya"kata Azriel sangat putus asa bahkan mulai menangis.
"Tante aku mencintai Anna, ku mohon tolong tetap bersabar, Anna pasti bangun"
***
"Kau datang lagi tuan"sapa penjaga rumah sakit saat melihat Azriel keluar dari mobilnya.
"Ya begitulah"kata Azriel sekenanya sedikit membungkuk untuk sopan santun pada penjaga yang sudah berumur itu dan berjalan masuk.
Si penjaga sendiri hanya bisa tersenyum sendu menatap Azriel yang masuk kedalam rumah sakit itu. "Menyedihkan sekali menjadi dirimu tuan"sedihnya.
Azriel berjalan menuju tempat yang sering kali ia datangi. Tempat isolasi yang ada dirumah sakit tempatnya Anna ditempatkan, ruang isolasi yang hanya dihuni oleh Anna karena permintaan khusus Azriel. Dan tak lupa Azriel pun mengerahkan tim medis terbaik untuk merawat Anna. Azriel akan melakukan apapun untuk membuat Anna kembali bangun dan sadar.
Tap.
Berhenti melangkah kala melihat sosok yang sering kali ia juga temui setiap kali ada kesempatan dirinya datang menjenguk Anna dan orang itu ada disana.
Si dokter tulang rekan kerja sekaligus teman sekampusnya Anna, Ray.
Ray yang menyadari kedatangan Azriel pun beralih menjadi menatap Azriel setelah tadi dirinya memandang sosok Anna dibalik dinding kaca itu yang senantiasa terlihat tenang itu.
"Menyerahlah, Lo gak kasian sama Anna apa?"kata Ray melangkah menghadap Azriel.
"Anna pasti bangun"jawab Azriel langsung begitu serius.
Ray mengernyit kesal sudah sering kali Ray menyuruh laki-laki didepannya ini untuk menyerah dan merelakan namun laki-laki didepannya ini sangat bebal.
"Betapa egoisnya Lo sialan! Gak sadar hah Lo itu benar-benar membuat Anna sengsara! Bahkan disaat sekarat yang bahkan sudah mati pun kau tetap membuatnya sengsara!"kata Ray menggila dengan air mata karena saking kesalnya dan marahnya pada Azriel.
Azriel tetap diam teguh pada pendiriannya menatap serius Ray yang sudah menangis dihadapannya. "Gue tetep yakin Anna bakal bangun"
Duagh.
"Kenapa gak Lo aja yang disana sialan?!"berang Ray murka memukul Azriel begitu keras penuh emosi sebelum meninggalkan Azriel sendirian disana.
Azriel hanya diam menyentuh ujung bibirnya yang terasa amis dan nyeri karena pukulan Ray tadi melukai ujung bibirnya dan pipinya.
Tapi tidak masalah karena hal itu tidak sepadan dengan yang dialami Anna saat ini, dan Azriel tetap dengan pendiriannya yang percaya Anna akan segera bangun.
"Kamu pasti bakal bangun, kamu udah janji"gumam Azriel menyentuh dinding kaca itu menatap penuh harap pada Anna yang terbaring dibaliknya.