Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
98. Raihan Rihanna XXII Hacker



"Kapan kamu habis kontrak kak?"


"5 bulan lagi pi, kenapa ?"


"Bagaimana dengan pekerjaan yang sekarang. Katanya kakak sedang menerima tantangan ya?"


"Alhamdulillah sudah selesai Pi,ini tinggal pengujian saja."


"Emang kakak sedang melakukan pekerjaan apa,?"tanya mami.


"Kakak di tantang untuk menyelesaikan proyek baru, dengan di bantu tim yang selama ini tugasnya hanya menguji dan memperbaiki."


"Kok papi tahu,?"


"Kan papi suka makan siang bareng Radit, dari Radit papi tahu semuanya."


"Sebenarnya bukan proyek baru, tetapi proyek lama yang terbengkalai. Karena yang mengerjakan belum bisa menyempurnakan nya."


"Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam. Mari mas ikut masuk !" Terdengar suara Radit,tapi tidak tahu siapa yang di ajaknya masuk.


"Eh Raihan sini, masuk! Sekalian makan malam sini," ucap mami berdiri.


"Tidak usah Tante, kebetulan saya udah makan kok,"tolak Raihan.


"Ya udah duduk dulu mas. Mama duduk saja aku akan minta tolong bibi untuk membuat minum. Duduk mas."


"Terima kasih,"ucap Raihan.


"Sekarang dinas di mana,?"tanya papi.


"Serang om, cuma seminggu ini lagi ada kegiatan di Cijantung."


"Tadi kebetulan ketemu Mas Raihan waktu ban mobil ku bocor. Jadi aku minta tolong di atar pulang, mobil di urus pak Mamat."


"Bagaimana kabarnya orang tua,?"tanya mami.


"Ibu Alhamdulillah sehat,Tan."


"Udah nikah belum? Jangan lupa undangannya." Ucap mami bertepatan dengan ponsel ku yang berbunyi dari Randi.


"Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam,bisa ke Bandung sekarang ?"


"Ada apa?"


"Data-data perusahaan ada yang membobol."


"Kok bisa, kapan ketahuannya ?"


"Pas pulang kerja tiba-tiba komputer kantor pada eror satu persatu. It perusahaan sudah berusaha memulihkan data yang masih bisa di selamatkan." Aku mendengar semua informasi dari Randi sambil berjalan ke kamar untuk berganti pakaian. Meskipun aku sudah memakai hijab, tetapi jika di dalam rumah masih aku lepas tidak seperti mami. Yang hanya melepaskan hijab di kamar, kecuali jika penghuni rumah hanya ada kami anak-anaknya.


Saat aku turun nampak semu orang sudah tidak berada di meja makan,"Pada ke mana bik ko sepi?"


"Pada ke teras depan,?"jawab bibi sambil membereskan meja makan.


"Makasih,bik."


Nampak di depan mereka lagi ngobrol sambil menonton acara berita di televisi.


"Kakak udah rapi mau kemana,?"tanya mami waktu melihat kedatanganku.


"Ke Bandung mi, Randi meminta ku kesana sekarang."


"Tadi di telpon membahas , apa memang ?"


"Data-data penting pabrik ada yang membobol."


"Apa! Kapan terjadinya,?" tanya papi dan mami secara bersamaan.


"Kakak harus ke Bandung sekarang mi,Pi. Nanti kalau udah beres aku cerita."


"Biar Radit anterin !"


"Besok aku ada sidang Pi."


"Boleh saya anterin, Om tante."


"Tidak per,"ucapku.


"Boleh tu,"ucap mami. Aku dan mami berucap secara bersamaan.


"Mi, mas Raihan harus bekerja gak usah aneh-aneh."


"Biar dianter Raihan, perjalanan malam dan kamu mengendarai mobil sendiri. Akan membuat mamimu tidak tenang nanti," ucap papi.


"Mi sekarang baru jam 8 malam, Jakarta Bandung paling juga 2 jam."


"Yakin Lo gak ngebut,"ucap Radit.


"Ya, udah deh. Kalau berdebat semakin lama , tidak berangkat nanti. Ayo mas Raihan !" Ucapku sambil berjalan menuju garasi.


Toyota GR Supra mobil yang ku beli dari jerih payahku, selama kerja di California.


"Biar mas yang bawa," ucap Raihan saat aku hendak masuk ke bangku kemudi.


"Wiiih mantap mobil baru akhirnya keluar kadang,"ucap Radit.


"Berisik!"


"Mas ikut,aku mau nyoba mengendarai mobil yang katanya bisa ke Speed 250 Km/jam.29."


"Ayo mas gak usah di dengerin Radit. Mi,Pi kami berangkat Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


"Iya mas, hasil dari kerja keras di California."


"Yang di garasi mobil siapa saja?"


"Punya mami 2,satu kado dari Kakek satu kado dari papi. Punya papi 3, punya Radit 2 punya ku 2,ini sama satu lagi kado dari kakek nenek dari papi Pajero."


POV.Raihan


Aku hanya bisa menelan ludah ku mendengar tentang kepemilikan mobil di rumah Hana. Kulirik Hana menelepon adik kembarnya Randi. Dilihat dari interior dan kenyamanan mobil ini,aku yakin harganya tidak akan terjangkau olehku.


"Mas langsung ke sini ya mas,"ucapnya sambil menuju ke GPS yang ada di mobil.


"Oke."


"Tambah kecepatan mas ,biar cepat sampai."


"Utamakan keselamatan,"ucapku membuatnya mendengus.


"Jadi nikah sama Hany mas. Dulu aku sempat denger mas mau dijodohkan sama Hany, sebelum kita ta'aruf ?"


"Bukan di jodohkan, tapi dikenakan supaya lebih dekat."


"Ya apa lah istilahnya."


"Kan mas ta'aruf sama kamu, waktu itu." Andai kata ibu dan bapak tahu bahwa aku ta'aruf sama kamu, aku yakin bapak ibu juga tidak akan berani.


"Ya , siapa tahu berlanjut."


"Setelah mas menyelesaikan pendidikan di Batu Jajar ,memang Kapten Erlangga sempat meminta ku untuk meluluhkan adiknya."


"Itu sudah dapat lampu Hijau."


"Mereka terlalu tinggi buat mas jangkau ,Kakak dan bapak Hany atasan ku semua sedang mas cuma anak Satpam."


"Memang mereka gak tahu mas anak Satpam?"


"Mas tidak tahu."


"Gak ada yang salah dengan profesi satpam. Jangan malu dengan profesi orang tua mas."


"Mas tidak pernah malu,mas bangga punya orang tua kaya mereka."


"Adik mas,Rita kelas berapa sekarang ?"


"SMA kelas 10." Kami mengobrol banyak hal tentang kami, keluarga, pekerjaan dan hal-hal random lainnya. Sampai tidak terasa kami sampai di tujuan,"Alhamdulillah Lo sampai juga akhirnya."


"Assalamu'alaikum."


"Hehe maaf Walaikumsalam."


" Mas Raihan,ayo masuk." Aku berjalan di belakang mengekor Hana dan Randi.


"Jadi minta 2 milyar, untuk data-data yang dia curi."


" Kalau gw bisa membereskannya dapat apa ?"


"Dapat ucapan terima kasih dari seluruh karyawan gw. Serta doa semoga lekas dapat jodoh."


"Dasar ga modal, gw kesini pakai bensin. Belum sopirku mahal Lo,sopir merangkap bodyguard."


"Merangkap calon suami,ya." Ucap Randi membuat Hana terbatuk-batuk.


"Minum," ucapku.


"Tu kan siaga banget," ucap Randi sambil terkekeh.


"Hallo,gays kita dapat bantuan." Ucap Randi yang tidak di hiraukan oleh Hana.


"Maaf mas bisa geser bentar,"ucap Hana. Dengan tangan yang lincah, jari-jari Hana menari-nari di atas keyboard dengan lincah memasukan kode-kode yang aku tidak tahu. Sesekali Hana juga memerintah kepada orang-orang yang ada di situ.


Satu jam berlalu aku mendengar sorakan dan tepukkan tangan mereka, membuatku mengalihkan pandangan dari ponsel melihat kearah mereka.


"Wah mbak nya Hacker hebat, rekrut aja pak."


"Saya gak kuat bayarnya. Udah kalian bereskan semua, saya mau traktir dia dulu." Ucap Randi sambil merangkulku.


"Jadi kan istri saja, pak ."


"Mereka saudara kandung,gak usah aneh-aneh kalian." Ucap dingin om Hardi membuatku pingin ketawa.


"Mari semua, assalamu'alaikum." Ucapku sambil melangkah keluar.


"Walaikumsalam."


"Kalian mau istirahat saja di rumah Om,apa di apartemen Randi."


"Saya terserah Hana saja, tugas saya mengantar dengan selamat. Lagian dari tadi Hana juga yang kerja, jadi yang capek Hana. Sayakan cuma ngemil dan ngerokok," ucapku.


"Kalau aku yang menentukan, kita pulang sekarang."


"Jangan gila deh Han,ini jam 1 pagi lo!"


"Bagus,aku mau nyoba kecepatan mobil ku. Pasti jalan tol sepi."


"Gila Lo Han."


"Aya mas pulang."


"Hati-hati kalian jangan ngebut Han!"


"Iya Om,kami pulang dulu. Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam.(